1,720,981 research outputs found

    'Jalan Pembebasan' Edi Sunaryo

    No full text
    Melacak jejak proses kreatif pelukisEdi Sunaryo (lahir di Banyuwangi, JawaTimur, 4 September 1951), sejak iamenapakkan pilihan profesinya menjadipelukis sekitar tahun 1970-an, akanditemukan fase-fase yang menarik. Di awaikarier, karya-karyanya bersandar padakekuatan dan kemampuannya menyusungaris, bidang, warna, dan tekstur, hinggamencapai kutuhan harmoni. Dalam fase itu,ia menggulirkan semacam tema yangdicitrakan sebagai 'citra primitif; yangmengisyaratkan bagaimana gubahan tatarupa itu berdasarkan atas spirit dari duniaseni (rupa) yang arkhaik. Fase ini dilaluicukup panjang (hingga akhir 1990-an). EdiSunaryo seperti terperangkap dalam jaringjaringtata rupa yang dibangunnya sendiri

    Kolonisasi, Kota dan Kebijakan Budaya (The 6th International Conference of Asian Society of Art)

    No full text
    Setiap negara khususnya Asia memiliki kisah buram tentang kolonialisme, problematika kolonisasi, memiliki kota dengan segala persoalnnya yang berlapis, dan terkait (atau tidak) dengan kedua hal itu: memiliki kebijakan tentang kebudayaan yang kompleks. Khususnya tentang tema kota, didalamnya menyimpan keruwetan perihal pengadaan dan penataan ruang publik, penataan dan pemberdayaan kaum urban (artinya, sangat terkait dengan persoalan kolonisasi) hingga soal penanda identitas

    Re-kreasi

    No full text

    Jalan Garis Subroto SM

    No full text
    Ini sekadar catatan pendek yang bermula dari pengamatan terhadap karya-karya Subroto Sm., berikut percakapan yang menyertainya. Subroto, seorang pelukis dan dosen di Fakultas Seni Rupa, almamater yang memiliki andil besar ‘membentuk’ eksistensinya, adalah sosok yang khas; baik penampilannya, cara berpikirnya, sikapnya, dan jalan keseniannya

    Meniti ombak di era milenial (Problem di sekitar dungsi seni, dan kritik kebudayaan). Pidato ilmiah pada dies natalis ISI Yogyakarta ke XXXIV

    Full text link
    Saya meyakini, seni dan praktik seni memiliki mental disrupsi sejak berada dalam pikiran, dalam proses, hingga karya seni dilahirkan. Jika kini kita dipusingkan oleh banalitas pikiran, wacana, pasar, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan agama, maka praktik seni merupakan penawar yang ampuh, karena kemampuannya "lintas iman" serta menyodok jantung kesadaran. Percakapan seni hari ini melampaui persoalan sekadar bentuk dan ekspresi seni, tetapi terkait dengan multifungsi yang bisa diperankan. Betapa, seni kuwi ngeselke, ning ora entuk leren (berkesenian itu melelahkan, tetapi tidak boleh berhenti). Sepe1ii halnya pekerjan yang lainnya, pengalaman mengalami sungguh amat berguna untuk modal membagikan pengalaman dan pengetahuannya itu kepada banyak orang. Setiap orang, setiap seniman, seluruh akademisi berada dalam gelombang milenial dan disrupsi, yang intinya, meminjam dunia sepak bola Italia, harus bermental "joga bonito" - gaya menyerang yang indah. Harus menyerang, karena gaya bertahan dengan alasan "main aman" sudah kuno, di samping gaya bertahan adalah jauh dari semangat disrupsi

    Membaca dunia widayat

    No full text

    Filantropi Kemanusiaan Sebagai Praktik Seni

    No full text
    Merebaknya pandemi virus korona atau Covid-19, menimbulkan krisis global yang menimpa seluruh aspek kehidupan. Bermula dari krisis kesehatan, kemudian krisis ekonomi, sosial, politik, kebudayaan, selanjutnya menjadi efek domino yang berujung pada krisis kemanusiaan. Virus ini sejak pertama kali berjangkit di Wuhan, Provinsi Hubaei, China sekitar akhir 2019 (di Indonesia diumumkan oleh Presiden Joko Widodo, 2 Maret 2020), hingga kini sudah berdampak global secara radikal. Globalisasi dengan kecepatan spirit, maju, disertai selebrasi yang ditandai dengan kedekatan, kebersamaan, kini berbalik arah menjadi lokal, melambat, mundur, jarak fisik dan jarak sosial (physical distancing & social distancing); ditambah dengan membangun kesadaran untuk melakukan adaptasi baru dalam kerangka kenormalan baru. Negara dengan aparatusnya, segera turun tangan melalui sejumlah aturan seperti: kesulitan sosial perubahan besar, isolasi diri, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengenakan masker, dan lainnya, sebagai “tata krama” baru dalam bekerja dan bersosialisasi. Aspek yang segera terasa dalam waktu cepat adalah macetnya aktivitas – sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, kesenian – dan salah satu dampaknya adalah krisis ekonomi. Dalam wujud yang paling nyata adalah: krisis pangan, krisis daya beli, dan krisis sosial. Situasi ini memanggil inisiatif dan peran-peran dari anggota masyarakat untuk turun tangan, salah satunya adalah para seniman. Mereka segera bergerak cepat mengambil peran pragmatis sekitar “kebutuhan dasar”. Bagi masyarakat ekonomi bawah adalah kebutuhan preventif berupa masker dan pangan; bagi tenaga medis (perawat dan dokter) sebagai garda depan dan benteng pertahanan berupa masker, alat pelindung diri (APD). Bentuk aksinya seperti “Dapur Aksi Berbagi”, “Dapur Aksi Tetandur” (Bambang Paningron Astiaji), “Aksi Nasi Bungkus” (Teguh Ostenrik), “Konser Daring Didi Kempot”, “Pentas Wayang Kulit, Melukis Penggalangan Dana” (Ki Seno Nugroho dan Nasirun), dan “Panen Apa Hari Ini” (Anang Saptoto). Tindakan mereka berada dalam ranah filantropi kemanusiaan. Dalam perspektif seni kontemporer, agenda aksi kemanusiaan mereka itu dapat dikategorikan sebagai praktik seni. Penelitian ini bersifat deskriptif; mengamati dan mencatat dengan saksama berbagai tindakan filantropi para seniman itu, dan menguraikan peristiwa-peristiwa tersebut, kemudian menjawab mengapa dapat dimasukkan sebagai praktik seni

    Kuratorial: Hulu Hilir Ekosistem Seni

    No full text
    Buku ini bertolak dari pengalaman lapangan yang saya alami, sejak sekitar awal 1990-an, saya memasuki ranah pekerjaan kurasi, dan semakin terperosok jauh ke dalam. Artinya, sudah sekitar 30 tahun, jika dihitung sampai 2020, saya terlibat aktif pada kerja-kerja kuratorial, baik skala nasional maupun internasional. Pengalaman itu saya mulai sejak diminta, baik oleh pemilik galeri maupun seniman, untuk membuat pengantar berbagai pameran yang diselenggarakan. Sejak saat itu, pekerjaan kurasi dan menyusun kuratorial terus tanpa henti, termasuk menjadi kurator untuk Biennale Jogja, Jakarta Biennale, Sumatra Biennale, dan Bali Biennale, dan sejumlah pameran luar negeri (Singapura, Malaysia, China, Kamboja, Bangladesh). Kemudian dalam dua periode berbeda menjadi kurator di Galeri Nasional Indonesia (pada 1998-2006, kemudian pada 2013-sekarang). Bagi saya, semua itu pengalaman yang amat berharga, antara lain dapat terus belajar memahami aspek isu, display, presentasi, wacana, komunikasi dengan seniman, komunikasi dengan publik, dan kerumitan tata kelola (manajemen) seni.

    Made volume II

    No full text
    corecore