1,720,969 research outputs found
PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN MODEL DICK & CAREY MATERI TAFSIR EMANSIPATORIS DALAM UPAYA DERADIKALISASI MAHASISWA PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM DI INDONESIA
In recent decades, Indonesia has witnessed a concerning rise in radical actions, with various acts of violence frequently making headlines despite the government's efforts to foster a harmonious society. Radical groups come from diverse backgrounds, including ethnic and religious affiliations, with religious extremism often seen as the dominant force behind violent incidents. These conflicts, including those with religious motives, continue to emerge even within communities that uphold diversity and coexistence. In response, the development of an Emancipatory Tafsir Module seeks to help deradicalize students in Islamic higher education institutions by providing structured learning materials for Qur’anic Interpretation (Tafsir) courses. This initiative follows five key steps: (1) selecting the relevant course, (2) analyzing the syllabus, (3) defining clear learning objectives, (4) creating effective instructional strategies, and developing a comprehensive module. The module itself includes essential components such as a (a) concept map, (b) learning objectives, (c) lesson plans, (d) study materials, (e) summaries, (f) evaluations, and (g) references. (5) Finally, it undergoes expert review by specialists in Islamic education, Qur’anic studies, linguistics, and instructional design to ensure its effectiveness in promoting critical thinking and preventing radicalization among students.Sejumlah aksi radikal di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan intensitas yang mengkhawatirkan. Berbagai aksi radikal dan kekerasan menjadi tranding topic di tengah-tengah upaya serius pemerintah membangun tatanan masyarakat yang harmonis. Berbagai kelompok radikal memperkenalkan latar belakang mereka, mulai dari yang berwajah etnis hingga agama. Kelompok radikal agama disebut sebagai yang dominan dalam melakukan sejumlah aksi kekerasan. Peristiwa konflik horizontal berlatarbelakang agama dapat disaksikan di tengah masyarkat yang menghargai perbedaan (plurality). Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan Modul Tafsir Emansipatoris dalam upaya Deradikalisasi Mahasiswa Perguruan Tinggi Agama Islam di Indonesia, serta merancang materi untuk pembelajaran Tafsir Al-Qur’an di Perguruan Tinggi Islam dalam upaya deradikalisasi mahasiswa. Pengembangan Modul Pembelajaran Model Dick And Carey Materi Tafsir Emansipatoris dalam upaya deradikalisasi mahasiswa Perguruan Tinggi Islam di Indonesia ini dilakukan meliputi lima tahapan yaitu (1) menentukan mata kuliah yang akan dikembangkan, (2) mengidentifikasi silabus matakuliah yang akan dikembangkan, (3) mengidentifikasi tujuan pembelajaran, menulis tujuan pembelajaran, mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik mahasiswa, merumuskan tujuan pembelajaran, mengembangkan butir-butir tes, mengembangkan strategi pembelajaran, dan mengembangkan materi pembelajaran, (4) tahap penyusunan dan penulisan Modul yang mempunyai komponen pembelajaran yang meliputi komponen-komponen a) Peta Konsep b) Tujuan Pembelajaran c) Skenario Pembelajaran d) Uraian Materi e) Rangkuman f) Evaluasi, dan g) Daftar pustaka. (5) meliputi kajian ahli bidang Pendidikan Islam dan tafsir, ahli bahasaa, dan ahli desain pembelajaran
ETHNOGRAPHY OF THE SYARAHWANDAN TRADITION (Study of the Values of Islamic Education)
To achieve the educational objectives, then various approaches are used. One of the approaches is cultural approach. Such as Syarahwandan culture in Wandan society (Banda ely). This culture contains many islamic educational values, then to express the values of Islamic education contained in it, the researcher uses the theory of ethnography with qualitative descriptive method to reveal how the implementation of syarahwandan and the values of Islamic education contained in it. In this study, the researcher found that syarahwandan culture contains aqidah educational values, syari'ah educational values and akhlaq (moral) educational values, so then Syarahwandan culture can be used as a media of modern education for the wandan society (Banda Ely)Untuk mencapai tujuan pendidikan maka berbagai pendekatan digunakan, salah satu pendekatan adalah dengan pendekatan budaya. Seperti Budaya Syarahwandan dalam masyarakat Wandan (Banda Ely). Budaya ini syarat dengan nilai-nilai pendidikan islam, maka untuk mengungkapkan nilai-nilai pendidikan islam yang terkandung didalamnya, penulis menggunakan teori Etnografi dengan metode kualitatif deskriptif untuk mengungkapkan bagaimana bentuk pelaksanaan syarahwandan dan bagaimana nilai-nilai pendidikan islam yang terkandung dalam syarahwandan. Dari penelitian ini ditemukan bahwa Budaya Syarahwandan mengandung NilaiNilai Pendidikan Aqidah, Nilai-Nilai Pendidikan Syari‟ah dan Nilai-Nilai Pendidikan Akhlaq. Sehingga syarahwandan ini dapat dijadikan sebagai media pendidikan modern bagi masyarakat (Wandan) Banda Ely
Pemikiran pendidikan Syed M. Naquib al-Attas dalam Buku "The Concept of Education in Islam"
Al-Attas is a prominent individual whose concepts continue to spark discussions and used as a reference in highlighting Islam as a world view in the modern era. In general, what underlies al-Attas's thinking is to summarize Muslims in various systems of life, especially in the fields of education and scientific development. As a result, al-Attas' works generally focus on restoring Islamic values as a worldview, encouraging Islamic independence from the slavery of Western civilization, and the concept of desecularization, an effort to integrate science. Therefore, al-Attas proposed several reform concepts in The Concept of Education in Islam, including the Islamization of science, namely the process of deconstructing Western human knowledge and reconstructing it into an Islamic knowledge system, as well as the concept of Islamic education which aims to create perfection. namely humans who are aware of their individuality and technical skills. The type of research used in this research is library research (penelitian kepustakaan) with the aim of finding out Naquib Al-Attas' thoughts on the concept of education in Islam.
Abstrak
Al-Attas merupakan salah satu tokoh yang gagasannya masih diperdebatkan dan dijadikan acuan dalam menyoroti Islam sebagai pandangan dunia di era modern. Secara umum, yang mendasari pemikiran al-Attas adalah kemunduran umat Islam dalam berbagai sistem kehidupan, khususnya dalam bidang pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Alhasil, karya-karya al-Attas secara umum fokus pada pemulihan nilai-nilai Islam sebagai pandangan dunia, mendorong kemandirian Islam dari perbudakan peradaban Barat, dan konsep desekularisasi, upaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, al-Attas mengajukan beberapa konsep pembaharuan dalam The Concept Of Education In Islam, antara lain Islamisasi ilmu pengetahuan, yaitu proses dekonstruksi ilmu pengetahuan Barat dan merekonstruksinya menjadi sistem pengetahuan Islam, serta konsep pendidikan Islam yang bertujuan untuk menciptakan manusia sempurna. yaitu manusia yang sadar akan individualitas dan keterampilan teknisnya. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research), dengan tujuan untuk mengetahui pemikiran Naquib Al-Attas Dalam The Concept Of Education In Islam.Al-Attas is a prominent individual whose concepts continue to spark discussions and used as a reference in highlighting Islam as a world view in the modern era. In general, what underlies al-Attas's thinking is to summarize Muslims in various systems of life, especially in the fields of education and scientific development. As a result, al-Attas' works generally focus on restoring Islamic values as a worldview, encouraging Islamic independence from the slavery of Western civilization, and the concept of desecularization, an effort to integrate science. Therefore, al-Attas proposed several reform concepts in The Concept of Education in Islam, including the Islamization of science, namely the process of deconstructing Western human knowledge and reconstructing it into an Islamic knowledge system, as well as the concept of Islamic education which aims to create perfection. namely humans who are aware of their individuality and technical skills. The type of research used in this research is library research (penelitian kepustakaan) with the aim of finding out Naquib Al-Attas' thoughts on the concept of education in Islam.
Abstrak
Al-Attas merupakan salah satu tokoh yang gagasannya masih diperdebatkan dan dijadikan acuan dalam menyoroti Islam sebagai pandangan dunia di era modern. Secara umum, yang mendasari pemikiran al-Attas adalah kemunduran umat Islam dalam berbagai sistem kehidupan, khususnya dalam bidang pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Alhasil, karya-karya al-Attas secara umum fokus pada pemulihan nilai-nilai Islam sebagai pandangan dunia, mendorong kemandirian Islam dari perbudakan peradaban Barat, dan konsep desekularisasi, upaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, al-Attas mengajukan beberapa konsep pembaharuan dalam The Concept Of Education In Islam, antara lain Islamisasi ilmu pengetahuan, yaitu proses dekonstruksi ilmu pengetahuan Barat dan merekonstruksinya menjadi sistem pengetahuan Islam, serta konsep pendidikan Islam yang bertujuan untuk menciptakan manusia sempurna. yaitu manusia yang sadar akan individualitas dan keterampilan teknisnya. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research), dengan tujuan untuk mengetahui pemikiran Naquib Al-Attas Dalam The Concept Of Education In Islam
ETNOGRAFI: TRADISI PINDAH MARGA DALAM PERNIKAHAN DI NEGERI BUANO HATUPUTIH KECAMATAN KEPULAUAN MANIPA KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT
Abstract: The purpose of this study is to explain the implementation of clan switching in the marriage customs of the people of Buano Hatuputih in Buano Hatuputih Country, Manipa Islands District, West Seram Regency. And to explain its meaning in the wedding customs of the people of Buano Hatuputih, Manipa Islands District, West Seram Regency. The type of research used is descriptive qualitative with the type of field research (field research) with the research time being carried out for one month starting from December 19, 2019 to January 19, 2020. The techniques used in this study include; observation, interviews and documentation and data analysis used is a descriptive analysis technique which is intended to describe the reality that occurs in the field. The results show that the tradition of changing clans in marriage in Buano Hatuputih Village, Manipa Islands District, West Seram Regency is a guide that gives direction and orientation to people's lives in this case is the people (male) of the Buton tribe who married people from Buano. Hatuputih in the form of rules for special actions, while the marriage process is general as regulated in Islamic law which is carried out in Buano Hatuputih Village. The meaning of marriage symbols in the customs of the people of Buano Hatuputih, Manipa Islands District, West Seram Regency, such as betel holders, rings, earrings, necklaces (gold), beauty tools (makeup), white cloth, a set of prayer tools, and a bed (mattress). and equipment) in a wedding in Buano Hatuputih Village reflects a good thing that must be done and or carried out by both men and women after the marriage is completed, because the essence of marriage is to remind each other of good relations to Allah swt and to others. man. Keywords: Tradition of Changing Clans, Marriage, Buano Hatuputih Abstrak: Tujuan dari penelitian adalah untuk menjelaskan pelaksanaan pindah marga dalam adat pernikahan masyarakat Negeri Buano Hatuputih di Negeri Buano Hatuputih Kecamatan Kepulauan Manipa Kabupaten Seram Bagian Barat. Dan untuk menjelaskan maknanya dalam adat pernikahan masyarakat Negeri Buano Hatuputih Kecamatan Kepulauan Manipa Kabupaten Seram Bagian Barat. Jenis penelitian ini yang digunkaan adalah deskriptif kualitatif dengan tipe penelitian lapangan (field reseach) dengan waktu penelitian dilakukan selama satu bulan terhitung mulai dari tanggal 19 Desember 2019 sampai dengan 19 Januari 2020. Adapun tehnik yang digunakan dalam penelitian ini antara lain; observasi, wawancara dan dokumentasi dan analisis data yang digunakan yakni teknik analisis deskriptif yang dimaksudkan untuk menggambarkan realitas yang terjadi di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi pindah marga dalam pernikahan di Desa Buano Hatuputih Kecamatan Kepulauan Manipa Kabupaten Seram Bagian Barat merupakan sebagai pedoman yang memberi arah dan orientasi terhadap hidup masyarakat dalam hal ini adlaah masyarakat (laki-laki) suku Buton yang menikah dengan masyarakat dari Negeri Buano Hatuputih berupa aturan-aturan untuk bertindak bersifat khusus, sedangkan proses penikahannya bersifat umum sebagaiman diatur dalam syariat Islam yang dilaksanakan di Desa Buano Hatuputih. Pemaknaan simbol pernikahan dalam adat masyarakat Negeri Buano Hatuputih Kecamatan Kepulauan Manipa Kabupaten Seram Bagian Barat seperti tempat sirih, cincin, anting, kalung (emas), alat-alat kecantikan (make up), kain putih, seperangkat alat sholat, dan tempat tidur (kasur dan perlengkapannya) yang ada dalam pernikahan di Desa Buano Hatuputih mencerminkan suatu kebaikan yang harus dilakukan dan atau dilaksanakan oleh pihak baik laki-laki maupun perempuan setelah pernikahan itu selesai, karena hakikat dari pernikahan adalah untuk saling mengingatkatkan akan hubungan baik kepada Allah swt maupun kepada sesama manusia
The VALUES OF PEACE EDUCATION IN YALAHATAN COMMUNITY, CENTRAL MALUKU
Conflict is a prevalent issue in Indonesia. The spread of ideologies that threaten cultural existence stems from seeds leading to physical violence and a 'culture of war'. Therefore, there is a need for studies on peace education derived from the culture of the community itself, such as in the Dusun Yalahatan community. This community exhibits unique characteristics compared to other villages, where multiple family members within a single household may adhere to different religions, yet they practice mutual tolerance. This pluralistic society is maintained within their social life. The objective of this research is to examine the implementation of peace education values within the Dusun Yalahatan community. This study employs a qualitative approach, with the subjects being members of the Dusun Yalahatan community. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation, while data analysis is conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The research findings indicate that the peace education values within the Dusun Yalahatan community include respect for others, gender equality, cooperation, as well as openness and tolerance.Conflict is a prevalent issue in Indonesia. The spread of ideologies that threaten cultural existence stems from seeds leading to physical violence and a 'culture of war'. Therefore, there is a need for studies on peace education derived from the culture of the community itself, such as in the Dusun Yalahatan community. This community exhibits unique characteristics compared to other villages, where multiple family members within a single household may adhere to different religions, yet they practice mutual tolerance. This pluralistic society is maintained within their social life. The objective of this research is to examine the implementation of peace education values within the Dusun Yalahatan community. This study employs a qualitative approach, with the subjects being members of the Dusun Yalahatan community. Data collection techniques include observation, interviews, and documentation, while data analysis is conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The research findings indicate that the peace education values within the Dusun Yalahatan community include respect for others, gender equality, cooperation, as well as openness and tolerance
Analisis Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Penggerak SMP Negeri 11 Tual
Pembelajaran agama Islam di sekolah menengah pertama menghadapi tantangan dalam mengakomodasi perbedaan belajar siswa. Dalam konteks ini, penerapan pembelajaran berdiferensiasi menjadi penting untuk memastikan pendidikan yang inklusif dan berorientasi pada pengembangan karakter siswa. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 11 Tual, termasuk langkah konkret yang diambil oleh guru-guru PAI, metode, strategi, dan alat pembelajaran yang digunakan, serta hambatan yang mungkin dihadapi dalam penerapannya. Metode penelitian ini yaitu penelitian lapangan (field research) dengan analisis deskriptif kualitatif. Adapun lokasi penelitian berada di SMP Negeri 11 Tual, Desa Ohoitahit, Kecamatan Pulau Dullah Utara, Kota Tual. Waktu penelitian dilakukan dari tanggal 17 Januari sampai dengan 17 Februari 2024. Analisis data diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi, kemudian data dianalisis menggunakan tahap reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi pendidikan agama Islam di SMPN 11 Tual telah berjalan sejak tahun 2021 yang menunjukkan adanya komitmen Kepala Sekolah beserta semua guru dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi sesuai dengan tingkat pengetahuan, bakat dan minat, serta gaya belajar murid. Selanjutnya pembelajaran berdiferensiasi dapat dikatakan berjalan dengan lancar apabila memenuhi indikator yaitu diferensiasi konten, proses, produk dan lingkungan belajar. Adapun dampak dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi pendidikan agama Islam di Sekolah Penggerak SMPN 11 Tual mencakup 3 aspek yaitu peningkatan pemahaman ajaran agama Islam, peningkatan hasil belajar murid, dan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Islamic Educational Values in the Pa’seka Manyiang Tradition
This research is a qualitative study using observation, interviews, and documentation as data collection techniques, while the data analysis involves steps of data reduction, data examination, and drawing conclusions. The findings reveal that the implementation of the Pa’seka Manyiang traditional ceremony in Negeri Tulehu aligns with Islamic teachings, although it incorporates local customs and traditions. The process consists of three stages: preparation, which includes activities such as Kumpul Basudara (gathering relatives), fundraising, and logistical arrangements; implementation, which involves delivering Hikmah Maulud (sermons), collective prayers, dhikr, and blessings upon the Prophet; and closing, which features family entertainment like Sawat dancing and site cleanup. Each stage reflects Islamic educational values, including worship values like charity, ethical values such as fostering relationships and mutual respect, devotional values like dhikr and enjoining good, and faith values like prayer and remembrance of Allah
TRADISI LOFU-LOFU DALAM PERNIKAHAN DI NEGERI YAPUTIH KECAMATAN TEHORU KABUPATEN MALUKU TENGAH: (Studi Tentang Nilai-Nilai Pendidikan Islam)
The Lofu-lofu tradition in marriage ceremonies in Yaputih is a cultural practice carried out by the people of Yaputih for decades as an effort to preserve and maintain the Lofu-lofu tradition. This tradition is practiced during marriage ceremonies and is intended to strengthen social bonds among community members. Furthermore, this tradition is preserved because it embodies Islamic educational values, which have sustained its relevance to this day. This study adopts a qualitative research methodology, employing data collection techniques such as observation, interviews, and documentation. Data analysis is conducted through the following steps: data reduction, data analysis, and conclusion drawing, with the researcher acting as the primary instrument. The findings of this study indicate that marriage ceremonies in Yaputih are conducted in accordance with Islamic teachings, while incorporating customary practices or traditions. The marriage process includes several stages: the proposal, the wedding ceremony, and the final stage, known as gulung tikar (literally "rolling the mat"). Throughout the implementation of these ceremonies, several Islamic educational values are observed, including the values of strengthening kinship (silaturahmi), charity (sedekah), mutual assistance (tolong-menolong), worship (ibadah), and respect for parents.Tradisi Lofu-lofu dalam pernikahan di negeri Yaputih merupakan suatu bentuk kebudayaan yang dilaksanakan oleh masyarakat negeri Yaputih yang telah dilakukan dari puluhan tahun yang lalu sebagai bentuk upaya untuk menjaga dan mempertahankan tradisi lofu-lofu yang telah dilakukan selama ini ketika ada pernikahan. Selain itu juga, diharapkan adanya tradisi lofu-lofu ini, dapat dijadikan sebagai sarana untuk menjalin hubungan antar sesama masyarakat dengan baik. Mengingat dalam pelaksanaan tradisi ini ada nilai-nilai pendidikan Islam yang terdapat di dalamnya sehingga tradisi ini masih dipertahankan sampai saat ini. Tipe penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data menggunakan langkah-langkah berikut: reduksi data, pengkajian data dan menarik kesimpuan. dengan menggunakan instrumen peneliti sendiri. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pelaksanaan tradisi pernikahan yang dilakukan di negeri Yaputih dilakukan sesuai dengan apa yang diperintahkan dalan ajaran Islam namun pada proses pelaksanaannya ada kebiasaan atau tradisi yang dilakukan didalamnya. Adapun proses pernikahan dilakukan dengan beberapa tahap yaitu, proses lamaran, acara pernikahan dan yang terakhir adalah gulung tikar. Dalam proses pelaksanaannya terdapat nilai-nilai pendidikan Islam yaitu nilai Silaturahmi, nilai Sedekah, nilai Saling Membantu atau Tolong-menolong, nilai Ibadah dan yang terakhir adalah nilai Menghargai kedua orang tu
- …
