1,720,977 research outputs found

    Fraksinasi Urikase Hati Kambing Menggunakan Ammonium Sulfat dengan Variasi Waktu Pengendapan

    No full text
    Asam urat merupakan produk akhir dari proses metabolisme purin yang tidak dapat didegradasi lebih lanjut oleh tubuh manusia karena tidak adanya aktivitas enzim urikolitik. Hal ini mengakibatkan tubuh manusia cenderung mengalami penumpukan asam urat yang mengakibatkan hiperurisemia. Permasalahan hiperurisemia dapat diatasi dengan terapi urikolitik dengan menggunakan urikase yang berasal dari sumber lain sebagai agen urikolitik. Penelitian ini menggunakan sampel hati kambing sebagai sumber urikase yang diawali dengan proses ekstraksi. Ekstrak kasar urikase yang diperoleh kemudian dilakukan fraksinasi menggunakan ammonium sulfat 0-20% dan 20-40% dengan variasi waktu pengendapan 12, 16, 20, dan 24 jam guna memperoleh nilai aktivitas enzim yang optimum. Ekstrak kasar urikase memiliki nilai aktivitas spesifik terbesar pada proses ekstraksi pertama yaitu sebesar 0,00106 U/mg. Nilai total protein yang diperoleh dari proses fraksinasi baik menggunakan ammonium sulfat 0-20% maupun 20-40% menunjukkan kecenderungan yang sama pada lama waktu pengendapan yang diterapkan dimana semakin lama waktu pengendapan menghasilkan nilai total protein yang semakin tinggi. Nilai aktivitas spesifik dari kedua proses fraksinasi menunjukkan nilai optimum pada variasi waktu pengendapan 16 jam yakni 0,02014 U/mg dan 0,00183 U/mg Efektivitas fraksinasi pada penelitian ini dapat dilihat berdasarkan nilai yield dan faktor purifikasi. Proses fraksinasi menggunakan ammonium sulfat 0-20% efektif pada variasi waktu pengendapan 16 jam dengan persen yield sebesar 284,3% dan kemurnian 18,9 kali dari ekstrak kasar enzim, sedangkan untuk proses fraksinasi menggunakan ammonium sulfat 20-40% juga efektif pada variasi waktu pengendapan 16 jam dengan persen yield sebesar 104,0% dan kemurnian 1,7 kali ekstrak kasar enzim. Hasil ini mengindikasikan bahwa proses fraksinasi urikase hati kambing menggunakan ammonium sulfat efektif pada proses fraksinasi 0-20% dengan lama waktu pengendapan 16 jam. Nilai total protein yang diperoleh pada proses fraksinasi menggunakan ammonium sulfat 0-20% lebih rendah dibandingkan dengan nilai total protein pada proses fraksinasi menggunakan ammonium sulfat 20-40%, sebaliknya nilai aktivitas total dan aktivitas spesifik urikase pada proses fraksinasi menggunakan ammonium sulfat 0-20% lebih tinggi dibandingkan dengan nilai total protein pada proses fraksinasi menggunakan ammonium sulfat 20-40%. Nilai aktivitas spesifik urikase optimum yang diperoleh pada penelitian ini sebesar 0,02014 U/mg

    ANALISIS KADAR PROTEIN TERLARUT HASIL FERMENTASI DAUN KEDELAI EDAMAME (Glycine max (L.) Merr) OLEH Aspergillus niger L. DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG KEDELAI

    No full text
    Fermentasi daun kedelai edamame dengan penambahan tepung kedelai dilakukan selama 0, 2, 4, 6, 8 dan 10 hari dengan menggunakan inokulum dari PDA miring yang berumur 4 hari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan protein terlarut pada daun kedelai edamame setelah difermentasi dengan A. niger dan penambahan tepung. Kadar protein terlarut ini dianalisis dengan metode Bradford. Semakin lama proses fermentasi berlangsung, maka kandungan protein terlarut daun kedelai edamame mengalami peningkatan dengan fase optimal pada hari ke-8. Namun, pada hari ke-10 protein terlarutnya mengalami penurunan. Kadar protein terlarut yang terbentuk pada proses fermentasi selama 0, 2, 4, 6, 8 dan 10 hari tersebut mempunyai nilai rata-rata berturut-turut sebesar: 3, 5.93, 9.58, 15, 21.65, 20.55 mg/g pada perlakuan sedangkan pada kontrol adalah 1.71, 1.77, 3.92, 6.52, 12.08, 11.60 mg/g. Peningkatan kadar protein terlarut ini diduga karena adanya penambahan tepung kedelai pada proses fermentasi yang dapat menyebabkan peningkatan aktivitas A. niger dalam mendegradasi senyawa komplek menjadi senyawa yang lebih sederhana dan adanya penurunan pada hari ke-10 tersebut diduga karena adanya proses fermentasi berlebihan (over fermented)

    Optimasi Kecepatan Sentrifugasi dan pH pada Ekstraksi Enzim Urikase dari Hati Kambing

    No full text
    Asam urat merupakan produk akhir yang dihasilkan dari metabolisme purin. Manusia tidak memiiki enzim yang mampu memecah asam urat sehingga asam urat dapat mengalami akumulasi. Akumulasi asam urat pada bagian tubuh tertentu dapat menyebabkan penyakit. Permasalahan ini dapat diatasi dengan terapi urikolitik dengan memanfaatkan aktivitas enzim urikase. Pada penelitian ini enzim urikase diperoleh dari hati kambing dengan mengoptimasikan kecepatan sentrifugasi dan pH pada tahap ekstraksi. Tujuan optimasi tersebut agar mendapatkan urikase dalam jumlah yang maksimal selama ekstraksi. Optimasi kecepatan sentrifugasi dilakukan pada kecepatan 7.000, 9.000, 11.000, 13.000 dan 15.000 rpm, sedangkan optimasi pH ekstraksi dilakukan pada pH 6, 7, 8, 9, 10 dan 11. Optimasi dikatakan optimum apabila menghasilkan aktivitas spesifik tertinggi. Ekstrak kasar (crude enzim) yang diperoleh dari masing-masing perlakuan akan dilakukan uji aktivitas enzim dan uji kadar protein. Berdasarkan hasil yang diperoleh, peningkatan kecepatan sentrifugasi dapat meningkatkan aktivitas total dan spesifik urikase. Akan tetapi, pada kecepatan 13.000 dan 15.000 rpm perbedaan aktivitas total maupun spesifik tidak signifikan sehingga kecepatan 13.000 rpm dinilai lebih ideal dan dianggap sebagai kecepatan sentrifugasi maksimum. Aktivitas total dan spesifik yang dihasilkan pada kecepatan 13.000 rpm berturut-turut 0,0189 U/mL dan 0,0048 U/mg. Hasil optimasi pH ekstraksi menunjukkan bahwa pH optimum untuk ekstraksi urikase adalah pH 8. Aktivitas total dan spesifik tertinggi dicapai pada pH tersebut. pH hasil optimasi ini mendekati pH optimum dari urikase yaitu pH 8,5. Nilai aktivitas total dan spesifik pada pH 8 yaitu 0,085 U/mL dan 0,0121 U/mg. Aktivitas spesifik crude enzim dari hati kambing pada pH 8 ini lebih renda

    KEMAMPUAN TUMBUH ISOLAT Azotobacter TERHADAP BERBAGAI pH MEDIA

    No full text
    Hasil penelitian terhadap 20 isolat yang diidentifikasi morfologi berdasarkan kunci identifikasi Cappucino dan Sherman (1996), menunjukkan bahwa Az 11 memiliki kemiripan dengan Azotobacter macrocytogenes, sedangkan isolat yang lain mirip dengan Azotobacter macrocytogenes. Isolat Az 4, Az 9, dan Az 19 memiliki kemiripan dengan Azotobacter macrocytogenes tetapi memiliki fluoresens biru. Az 11 mampu tumbuh pada pH 4 sampai pH 8 dengan pola pertumbuhan yang sama yaitu terus meningkat dari inkubasi 24 sampai 42 jam selanjutnya menurun sampai jam ke-48. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada pH 6 dengan jumlah sel tertinggi pada jam ke-24 dengan jumlah sel 3,3 x 108 CFU/ ml. Berbeda dengan Az 11, Az 16 pada pH 4 sampai pH 12 menunjukkan pola pertumbuhan mendatar sampai jam ke-18, selanjutnya jumlah sel menurun sampai jam ke-48. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada pH 8 yang dicapai pada jam ke-18 dengan jumlah sel 1,54 x 1011 CFU/ml. Isolat Az 19 merupakan Azotobacter yang mirip dengan Az 16 kecuali warna flouresens. Az 19 memiliki pola pertumbuhan yang mendatar pada pH 2 sampai pH 10. Pertumbuhan tertinggi pada pH 6 dengan jumlah sel 8,3 x 105 dicapai pada jam ke 6. Hasil penelitian secara umum dapat diketahui bahwa isolat Az 11, Az 16 dan Az 19 memiliki pertumbuhan optimum pada pH netral (pH 6). Hal ini sesuai dengan habitat asal tiga isolat Azotobacter yang memiliki rata-rata pH 6,7

    ANALISIS KADAR SERAT KASAR HASIL FERMENTASI DAUN KEDELAI EDAMAME (Glycyne max (L) Merril) OLEH Aspergillus niger

    No full text
    Daun edamame dapat dimanfaatkan sebagai media pertumbuhan Aspergillus niger. Lama fermentasi tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kadar serat kasar daun kedelai edamame hasil fermentasi oleh A. niger. Kadar serat kasar yang diperoleh dari hasil fermentasi daun kedelai edamame pada beberapa lama waktu fermentasi menunjukkan pola yang fluktuatif, kandungan serat kasar terendah diperoleh pada fermentasi hari ke 4, yaitu 14,45%

    Using Lignosellulose Waste as a Xylanase Production Media of Mold Isolated from Rice Straw of Coastal-field

    Get PDF
    Hemicellulose is one of lignocellulose waste component, so that xylanase is one of importance enzyme of lignocellulose waste biodegradation. Molds as main decomposer lignosellulose waste has enzyme activities higher than yeast and bacteria. The aim of the research is to find mold that have xylanolitic activity using lignocellulose waste as media production. The research consist of isolations and screening mols from coastal-field of watu Ulo Jember, xylanase production using lignocellulose waste and idntification of mold which has the highes xylanase activity. A total of 66 molds isolated from rice straw in coastal-field of Watu Ulo Jember. There were screened for their xylanase activity. In semiquantitatively screen on Oat Spelt Xylan plate, the result showed that 62 have xilanolytic activities. Based on clearing zone production, isolates ESW A1 (3.2), ESW A5 (3.1), ESW C 16 (3.26), ESW D4 (3.0) and ESW D15 (3.21) have xilanase activity index higher than others. Furthermore, quantitative analysis using wheat bran, rice straw and baggase in basic salt Mandel’s modification media showed that xylanase activity of isolate ESW D4 was higher on rice straw 3% as substrate production with activity 2.66 U/mL. Isolate ESW D4 identified as Aspergillus foetidus so that called as Aspergillus foetidus ESW D4. Keywords: rice straw, coastal-field, Aspergillus foetidus ESW-

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
    corecore