1,720,960 research outputs found

    MULTIKULTURALISME SEBAGAI REALITA DALAM DAKWAH

    No full text
    Multiculturalism can be regarded as the attitude and treatment based on equality and equality to the reality of a plural. Multiculturalism is a bid as a way out of exclusivism, obstinacy and rigidity of attitudes towards others. On the other hand, da’wa as a process of introduction and implementation of Islamic values are challenged to more schools against these developments. This is because the success of da’wa certainly can not be separated from its intensity with the times. Where it requires proper da’wa strategies. Strategy of da’wah (bi al-kitabah, bil lisan, bil hal) would still be relevant enough to be applied in the era of multiculturalism, which becomes important is how the development and implementation so that not only the religious doctrine but rather to social issues.   Multikulturalisme bisa dikatakan sebagai sikap dan perlakuan berdasarkan persamaan dan kesederajatan terhadap realitas plural dan keberbagaian. Multikulturalisme adalah sebuah tawaran sebagai jalan keluar dari eksklusivisme, kebebalan dan kekakuan sikap terhadap yang lain. Disisi lain dakwah sebagai sebuah proses pengenalan dan penanaman nilai-nilai Islam ditantang untuk lebih paham terhadap perkembangan tersebut. Hal ini dikarenakan keberhasilan dakwah tentunya tidak bisa dilepaskan dari intensitasnya mengikuti perkembangan zaman. Di mana hal tersebut menuntut adanya strategi dakwah yang tepat. Strategi dakwah (bi al-kitabah, bi al-lisan, bi al-hal) kiranya masih cukup relevan untuk diterapkan pada era multikulturalisme, yang menjadi penting adalah bagaimana pengembangannya serta implementasinya supaya tidak hanya mengenai doktrin keagamaan melainkan lebih ke persoalan sosial

    Desain Pesan Komunikasi Politik Perspektif Islam di Era 4.0

    No full text
    Pesan sebagai sebuah produk dari komunikator memiliki peranan penting dalam menentukan tingkat keberhasilannya dalam mencapai sebuah tujuan. Apalagi jika pesan tersebu merupakan pesan politik, dimana pesan tersebut berarti isi yang mempunyai kekuatan di dalam mengontruksi realitas, komunikator, serta politik. Oleh karena itu pesan politik tentunya tidak bisa bersifat spontan atau incidental melainkan harus dirumuskan sedemikan rupa sehingga sesuai dengan tujuan. Guna menunjang keberhasilan tersebut sebelum konsen ke pesan, paling tidak juga harus bisa menempatkan dan memfungsikan unsur komunikasi politik dengan baik. Hal ini akan mempermudah peran dan fungsi pesan dan tata unsur-unsur komunikasi politik yang lain. Langkah selanjutnya media sebagai suatu alat untuk penyebaran pesan juga tidak bisa dianggap remeh, terlepas dari pesan politik berupa retorika, propaganda, iklan politik, maupun kampanye. Untuk itulah guna menempatkan pesan sesuai dengan fungsinya secara baik maka memerlukan tahapan dalam menyusunnya, baik pesan verbal maupun non verbal. Tahapan tersebut meliputi, memproduksi tema dan materi yang sesuai dengan kondisi dan situasi khalayak. Setelah itu di dalam mempengaruhi khalayak pesan tersebut diharapkan harus mampu membangkitkan perhatian. Oleh karena itu isi pesan ini perlu berdasar pada nilai Islam sebagai upaya untuk menyampaikan pesan politik yang hakiki. Prinsip-prinsip tersebut ialah Qashash/Naba al Haq, A’mar ma’ruf nahyi munkar, Hikmah, Tabayyun,Mauizhah hasanah dan Layin

    Strategi Komunikasi Fundraising Organisasi Kemasyarakatan

    No full text
    Fundraising is an activity to influence the community, both individuals and organizations to distribute funds or assistance both materially and non-material. Some funders currently still use sporadic and traditional methods so that fundraising often fails. This research is a library research. It aims to collect theories related to social organization fundraising strategies. Information data obtained by using literature searches, books, documentation, journals or other research results related to the object of research. Data analysis uses content analysis, namely drawing conclusions from the data that has been obtained by finding the core message of the theory objectively and systematically. The results of the study explained that there were three strategic social organization fundraising strategies, namely First; Communication strategy in fundamental must be directed at creating effective communication. Of course by fulfilling the communication elements as described above .. Second; Through rational and effective considerations, faundraising is directed at appropriate programs and according to community needs so that donors are willing to give donations. Third; It is hoped that Community Organizations will be able to diversify programs and methods of raising funds to attract potential donors more broadly and optimally. The organization should take a different and unique approach with the uniqueness of each organization. He can choose to use the right model, for example, face to face, direct mail, special events, and campaigns

    Komunikasi organisasi (studi analisis strategi komunikasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Banyumas sebagai upaya mewujudkan Khilafah Islamiyah)

    No full text
    Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif analitis. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh asumsi bahwa komunikasi organisasi dalam hal strategi komunikasi merupakan sebuah keharusan bagi setiap organisasi guna mewujudkan tujuan bersama. Hal ini dikarenakan komunikasi dalam organisasi memiliki empat fungsi informatif, regulatif, persuasif dan integratif. Diantara organisasi yang cukup intens dalam menerapkan komunikasi organisasi dan strategi komunikasi ialah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Komunikasi organisasi diperlukan oleh HTI guna melakukan penyampaian pesan kepada komunikan dalam hal dakwah. Sementara itu sarana dakwah yang mesti ditempuh oleh HTI adalah dengan menjadikan Indonesia sebagai negera Islam atau khilafah Islamiyah. Melalui penelitian ini, peneliti berharap dapat menemukan gambaran komunikasi HTI dan praktik dari strategi komunikasi HTI. Ini penting untuk ditemukan karena, melalui pengetahuan dari hasil penelitian ini, peneliti dapat merumuskan bagaimana komunikasi organisasi dan strategi komunikasi yang tepat dalam dakwah di era modern. HTI yang peneliti maksud pada penelitian ini adalah HTI Banyumas. Komunikasi HTI yang bersifat instruktif secara umum memberi peluang bagi peneliti untuk melihat komunikasi organisasi dan strategi komunikasi HTI secara umum hanya dengan melalui HTI Banyumas. Dari hasil penelitian yang dilakukan komunikasi organisasi HTI Banyumas menggunakan dua model yaitu komunikasi internal sebagai bentuk instruksi dan koordinasi sehingga secara struktur memungkinkan terjadinya komunikasi ke atas, komunikasi ke bawah, komunikasi horizontal, komunikasi diagonal. Selanjutnya ialah komunikasi eksternal guna hubungan dengan masyarakat, periklanan, promosi dan survaei konsumen yang keseluruhannya untuk melakukan publikasi. Adapun pola yang digunakan iala pola instruktif, diplomasi, propaganda dan controlling, sedang gaya komunikasinya menggunakan gaya struktural dan kultural. Sedangkan di dalam melakukan strategi komunikasi sebagai upaya mewujudkan khilafah Islamiyah HTI Banyumas dilakukan dalam bentuk turunan kegiatan dari tahapan dakwahnya. Tahapan tersebut meliputi tahap kaderisasi, tahap interaski dan tahap pengambil alihan kekuasaan. Langkah turunan tersebut ialah dengan melakukan komunikasi terhadap komunikan yang dikelasifikasi menjadi enam yaitu; anggota, pelajar, mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, pemerintah dan masyarakat umum. Adapun pelaksanaan komunikasinya ialah dengan berbagai macam kegiatan yang disiapkan secara terprogram dan insidental serta berdasarkan instruksi dari DPP HTI meliputi diskusi, Halaqoh Islam dan Peradaban, Kegiatan Rajaban, Training, Workshop, Aksi, Gelaran Pustaka dan lain sebagainya. Media komunikasi yang digunakan meliputi media cetak dan media elektronik

    Meta-Analisis Penelitian Dosen Prodi KPI Tahun 2001-2023

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren, tema, dan kontribusi penelitian yang telah dilakukan oleh dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) selama periode 2001-2023. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah meta-analisis, dengan mengumpulkan, mengklasifikasikan, dan mengevaluasi berbagai publikasi akademik yang dihasilkan dalam rentang waktu tersebut. Data diperoleh dari jurnal terindeks nasional dan internasional, prosiding seminar, serta laporan penelitian institusional. Hasil analisis menunjukkan bahwa penelitian dalam bidang KPI mengalami perkembangan signifikan, dengan tema dominan meliputi dakwah digital, media Islam, komunikasi lintas budaya, serta etika komunikasi dalam perspektif Islam. Selain itu, penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan penggunaan metode penelitian kualitatif dan pendekatan interdisipliner dalam kajian KPI. Studi ini memberikan wawasan tentang arah penelitian KPI ke depan dan implikasi akademik serta praktis bagi perkembangan ilmu komunikasi Isla

    Community Empowerment Strategy as an Effort to Achieve Food Security Through Melon Picking Agrotourism

    No full text
    Background: Food security is a crucial issue in Indonesia. Kebocoran Village, Banyumas, is developing melon-picking agrotourism as an innovative solution to address food security challenges and improve community well-being. Aims: This study aims to analyze the community empowerment strategies implemented by the Mina Pisang Farmers Group through the melon picking agrotourism program. Methods: This research is a field study using a descriptive qualitative approach. Primary data was obtained through interviews with farmer groups and village government officials. Data collection techniques used were observation, interviews, and documentation. Result: The integrated empowerment strategy uses the 5P approach (Enabling, Strengthening, Protecting, Supporting, and Maintaining). Enabling includes land access and melon cultivation training. Empowerment is carried out through technical training to increase farmer capacity. Conclusion: The Mina Pisang Farmers Group's 5P-based empowerment strategy has been successfully implemented. This program significantly strengthens village food security through land optimization, food diversification (melons), and simultaneously improves community welfare in a sustainable manner

    Gender Representation in Da’wah Programs on RRI Purwokerto

    Full text link
    This article examines gender representation in the Islamic da’wah program on Radio Republik Indonesia (RRI) Purwokerto. The study employs a descriptive-qualitative method, using Norman Fairclough’s discourse analysis approach. Fairclough’s model consists of three levels of analysis: text analysis, discourse practice, and sociocultural practice. The text analysis in this study focuses on the event format and the materials from the guest speakers. Discourse practice analysis looks at how texts are produced and consumed, while sociocultural practice analysis addresses three aspects: situational, institutional, and social. The research findings reveal that gender representation in Islamic da’wah/religious programs on radio in Purwokerto still reflects gender inequality. This inequality can be observed through Fairclough’s three levels of discourse analysis. At the text level, some guest speakers continue to present a mindset that positions men in a superior role compared to women. RRI has not yet provided a space for the ongoing transformation of ideas about equality, such as issues related to early marriage, human trafficking, and so on. The themes discussed mainly focus on morals, jurisprudence, and worship. At the discourse practice level, the guest speakers and broadcasters involved are predominantly male. At the sociocultural practice level, the study shows that the gender representation in da’wah programs at RRI Purwokerto reflects an unequal gender construction in the broader society. This research recommends that radio managers provide more opportunities for female guest speakers and incorporate themes on gender justice

    Gus Baha's online preaching culture in Islam and media ethnography perspectives

    Full text link
    Islam in media communication, examining its representation on platforms such as Instagram. The emergence of media ethnography, particularly in the context of digital media, and its relevance in studying diverse cultural artifacts, including Islamic content. The purpose of this study is to explain in general the principles and relationship between ethnographic media and Islamic cultural phenomena portrayed. As a research methodology, media ethnographic views all elements that are important in the digital world. Because communication can be interpreted with various symbols or symbols. Symbols can be in verbal and non-verbal forms, including Islamic ones. K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim's ngaji online program is the case focused on in this study. The results first show that the principles of media ethnography in the online world can facilitate the interaction process. Second, in the context of virtual communication, media ethnography methods encourage the creation of effects on society, so that it can influence people’s culture and communication behavior in the virtual world. Third, Gus Baha, through his ngaji online, exemplifies the attitudes and behaviors of pesantren and Javanese culture, through the kitab kuning and Javanese language represented in his lectures. Fourth, the characteristics of his da'wah represent exactly the soul of Ki Ageng Suryomentaram

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore