20 research outputs found
Respons Biologis Ikan Koi, Cyprinus carpio haematopterus yang Mengkonsumsi Pakan Gel dengan Tepung Rumput Laut, Euchema cottoni sebagai Thickening Agent pada tipe Pakan yang Berbeda
Diversifikasi pemanfaatan tepung rumput laut, Euchema cottoni pada sub-sektor akuakultur berkembang dengan cepat. Tepung rumput laut telah berperan sebagai sumber nutrisi, sebagai binder (bahan perekat) pada pakan kering, dan thickeing agent (bahan pengental) pada pakan basah kultivan (hewan air yang dipelihara). Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji respons biologis ikan koi, Cyprinus carpio haematopterus yang mengkonsumsi pakan gel yang menggunakan tepung rumput laut, E. cottoni sebagai bahan pengental pada tipe pakan yang berbeda. Bahan baku utama pakan uji adalah tepung ikan, tepung kepala udang, dedak halus, minyak ikan, vitamin dan mineral mix, CMC dan tepung E.cottoni. Perlakuannya adalah pakan gel basah dengan kandungan air 60-90% (perlakuan A), pakan gel semi-basah dengan kandungan air ??30-60% (perlakuan B), pakan gel semi-kering dengan kandungan air 10-30% (perlakuan C), dan pakan gel kering dengan kandungan air ??10% (perlakuan D). Ikan uji yang digunakan adalah ikan koi dengan bobot rata-rata 15 g sebanyak 15 ekor per unit pelakuan. Parameter yang diukur adalah kelangsungan hidup, pertumbuhan dan efisiensi pakan. Berdasarkan hasil ANOVA, pengaruh perlakuan terhadap parameter yang diuji adalah non-signifkan (p ?? 0,05). Hal ini berarti bahwa tipe pakan gel yang berbeda (basah, semi-basah, semi kering, dan kering) memiliki efek yang sama terhadap kelangsungan hidup, pertumbuhan dan efisiensi pakan pada ikan koi
Tepung Rumput Laut, Euchema cottoni sebagai Thickening Agent pada tipe Pakan yang Berbeda
Diversifikasi pemanfaatan tepung rumput laut, Euchema cottoni pada sub-sektor akuakultur berkembang dengan cepat. Tepung rumput laut telah berperan sebagai sumber nutrisi, sebagai binder (bahan perekat) pada pakan kering, dan thickeing agent (bahan pengental) pada pakan basah kultivan (hewan air yang dipelihara). Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji respons biologis ikan koi, Cyprinus carpio haematopterus yang mengkonsumsi pakan gel yang menggunakan tepung rumput laut, E. cottoni sebagai bahan pengental pada tipe pakan yang berbeda. Bahan baku utama pakan uji adalah tepung ikan, tepung kepala udang, dedak halus, minyak ikan, vitamin dan mineral mix, CMC dan tepung E.cottoni. Perlakuannya adalah pakan gel basah dengan kandungan air 60-90% (perlakuan A), pakan gel semi-basah dengan kandungan air ??30-60% (perlakuan B), pakan gel semi-kering dengan kandungan air 10-30% (perlakuan C), dan pakan gel kering dengan kandungan air ??10% (perlakuan D). Ikan uji yang digunakan adalah ikan koi dengan bobot rata-rata 15 g sebanyak 15 ekor per unit pelakuan. Parameter yang diukur adalah kelangsungan hidup, pertumbuhan dan efisiensi pakan. Berdasarkan hasil ANOVA, pengaruh perlakuan terhadap parameter yang diuji adalah non-signifkan (p ?? 0,05). Hal ini berarti bahwa tipe pakan gel yang berbeda (basah, semi-basah, semi kering, dan kering) memiliki efek yang sama terhadap kelangsungan hidup, pertumbuhan dan efisiensi pakan pada ikan koi
Growth response of koi fish fed on the diet containing Euchema cottoni
ABSTRACT
Seaweed meal has been used as ingredient, binding and thickening agent in the diet. The objective of this study was to examine the biological response of Cyprinus carpio haematopterus consumed several types of gel feed using Euchema cottoni as thickening agent. Four types of diets containing different level of moisture were used i.e. 60−90% (treatment A), 30−60% (treatment B), 10−30% (treatment C), and 0.05). This findings have indicated that the different types of gel diets (wet, semi-wet, semi-dry, and dry) had similar effects on survival, growth, and feed efficiency in C. carpio haematopterus.
Keywords: gel feed, Cyprinus carpio haematopterus, diet type, growth, feed efficiency
ABSTRAK
Tepung rumput laut telah dapat digunakan sebagai bahan baku binder (bahan perekat), dan thickening agent (bahan pengental). Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji respons biologis ikan koi, Cyprinus carpio haematopterus yang mengkonsumsi beberapa tipe pakan gel yang menggunakan tepung rumput laut, Euchema cottoni sebagai bahan pengental pakan. Bahan baku utama pakan uji adalah tepung ikan, tepung kepala udang, dedak halus, minyak ikan, vitamin dan mineral mix, carboxymethil cellulose (CMC), serta tepung E. cottoni. Empat macam pakan digunakan dalam penelitian ini, yaitu pakan gel basah dengan kandungan air 60−90% (perlakuan A), pakan gel semibasah dengan kandungan air 30−60% (perlakuan B), pakan gel semikering dengan kandungan air 10−30% (perlakuan C), dan pakan gel kering dengan kandungan air 0,05). Hal ini berarti bahwa tipe pakan gel yang berbeda (basah, semibasah, semikering, dan kering) memiliki efek yang sama terhadap kelangsungan hidup, pertumbuhan dan efisiensi pakan pada ikan koi.
Kata kunci: pakan gel, Cyprinus carpio haematopterus, tipe pakan, pertumbuhan, efisiensi pakan
Perubahan Jaringan Hati ikan Pari Kembang Dasyatis kuhlii akibat Logam Berat Merkuri (Hg)
Ikan Pari Kembang Dasyatis kuhlii sebagai organisme dasar perairan mengalami banyak akumulasi bahan pencemar di perairan yang mengendap ke bawah. Penelitian ini dilakukan untuk melihat perubahan jaringan hati yang disebabkan oleh cemaran Merkuri (Hg). Dilakukan pada 5 bak, yaitu bak A sebagai kontrol, bak B dengan konsentrasi 0.025 ppm, bak C dengan konsentrasi 0.05 ppm, bak C dengan konsentrasi 0.1 ppm dan bak D dengan konsentrasi 0.2 ppm. Hasilnya adalah beberapa perubahan berupa kerusakan jaringan hati atrophy, cloudy swelling, vacuola degeneration bahkan necrosis atau jaringan hati sudah mengalami kematian. Kerusakan-kerusakan tersebut dapat menurunkan bahkan menghilangkan fungsi hati sebagai penyerap racun dan dapat mengakibatkan kematian. Ikan yang mengkonsumsi merkuri tidak mampu menguraikannya, sehingga apabila ikan tersebut dikonsumsi oleh manusia, maka masih membahayakan bagi manusia karena dapat mengalami keracunan merkuri (hydrargyria atau mercurialism) yang akan mempengaruhi penglihatan, pendengaran, pengucapan bahkan dapat menimbulkan kematia
Perubahan Jaringan Hati Ikan Pari Kembang ( DASYATISKUHLI) Akibat Merkuri (HG)
Blue Spotted Ray (Dasyatis kuhlii) as the demersal organisms has a lot of accumulation of pollutants in the water that settles to the bottom. This study was conducted to look at the liver tissue alteration of Blue Spotted Ray caused by contamination of mercury (Hg). Performed on 5 tanks. Tank A as a control, tank B with concentration 0.025 ppm, tank C with concentration of 0.05 ppm, tank D with concentration 0.1 ppm and tanks E with concentration 0.2 ppm. The result is alteration on the liver tissue in the form of atrophy, cloudy swelling, vacuolization degeneration and even necrosis or death of liver tissue already. The alteration can reduce and eveneliminate the function of the liver as a toxin absorbent and can lead to death
PENGARUH HORMON ECDYSON TERHADAP SINTASAN DAN PERIODE MOULTING PADA LARVA KEPITING BAKAU Scylla olivacea
Kepiting Bakau Scylla olivacea merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Kendala yang dihadapi dalam kegiatan perbenihan kepiting bakau adalah masih tingginya tingkat mortalitas. Tujuan penelitan untuk mengevaluasi pengaruh hormon ecdyson terhadap sintasan dan periode moulting pada larva kepiting bakau Scylla olivacea. Penelitian dilakukan di Unit Stasiun Pembenihan Kepiting Maranak Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Hewan uji berupa larva kepiting bakau Scylla spp. stadia zoea. Pakan uji dalam penelitian berupa rotifer dan Artemia yang dilakukan pengkayaan dengan hormon ecdyson. Wadah penelitian berupa akuarium 110 L berjumlah 12 buah yang diisi dengan air sebanyak 100 L, air bersalinitas 28-30 ppt dengan kepadatan larva sebanyak 50 ekor/L. Perlakuan yang diuji adalah berbagai dosis hormon ecdyson dalam pakan, yakni A= 0 mg/L; B= 0,5 mg/L; C= 1 mg/L; dan D= 1,5 mg/L; dengan tiga kali ulangan. Parameter yang diukur adalah sintasan dan periode moulting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis hormon ecdyson memberikan pengaruh yang baik terhadap sintasan dan periode moulting larva kepiting bakau.Mud crab, Scylla olivacea is one of highly valued and sought-after fishery commodities. Despite its high economic value, mud crab culture still faces a problem in producing high-quality seed which is high mortality rate post-spawning. The study aim was to evaluate the effect of the Ecdyson hormone on the survival rate and molting period of the mud crab larvae. The study was conducted at the Maranak Crab Seedling, BRPBAP3 Maros, South Sulawesi Province. The trial used mud crabs larvae that were in zoea stage. The trial feed was given in the form of Rotifer and Artemia enriched with the Ecdyson hormone. Twelve 110-liter aquaria were filled with 100 L of 28-30 ppt of seawater. The stocking density of mud crab seed was 50 larvae/L. The treatments consisted different doses of Ecdyson hormone in the feed, i.e. A= 0 mg/L, B= 0.5 mg/L, C= 1 mg/L, and D= 1.5 mg/L, with three replications for each treatment. The parameters measured were survival rate and molting period. The results showed that the treatment of Ecdyson hormone doses gave a good effect on the survival rate and molting period of mud crab larvae.</jats:p
Teknologi Aquaponik Tanaman Tomat dan Ikan Nila pada Tiga Jenis Media Tanam dan Frekuensi Pemupukan
Kebutuhan akan sayur dan ikan yang aman dan sehat untuk dikonsumsi oleh masyarakat meningkat seiring dengan meningkatnya pertambahan penduduk sedangkan produksi produk pertanian semakin rendah karena keterbatasan lahan, tingginya biaya produksi, dan kurangnya tenaga kerja di bidang pertanian. Makanya penggunaan lahan terbatas masih diupayakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, salah satunya adalah teknik aquaponik yang merupakan sistem terpadu yang memadukan sayur dan ikan di lahan terbatas yang ramah lingkungan. Penelitian ini, bertujuan untuk mengetahui jenis media tanam dan frekuensi pemupukkan yang terbaik bagi pertumbuhan dan hasil tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) dan ikan nila (Oreochromis sp). Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terpisah (RPT). Petak utama yaitu jenis media tanam terdiri atas 3 taraf: krikil ; arang dan krikil + arang. Anak petak yaitu frekuensi pemupukan terdiri dari 3 taraf yaitu :tanpa nutrisi (Nutrisi dari kolam ikan); pemberian nutrisi per 3 hari dan pemberian nutrisi per 5 hari dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis media tanam arang dengan pemberian nutrisi per 3 hari memberikan hasil terbaik terhadap parameter bobot buah pertanaman yaitu 125,56; dan perlakuan media arang tanpa nutrisi (m2p0) pada parameter tingkat kelangsungan hidup ikan sebesar 99,11%. Perlakuan jenis media arang menghasilkan jumlah buah tanaman sebesar 20,67. Frekuensi pemupukan dengan pemberian nutrisi per 3 hari, memberikan tanaman tertinggi yaitu 100, 49 cm.
Kata kunci: akuaponik, tomat, media tanam, pemupukan, ikan nil
Effect of Power Pump and Nozzle Diameter Microbubble Generator to Increase Oxygen Concentration in Aquaculture
Various types of microbubble generators for use in aquaculture facilities for aeration. The aeration system is essential for high-density shrimp cultivation. However, there is a blockage in the microbubble generator aeration system, and generally, aeration at high densities requires considerable electrical power. In this study, modifications were made to various diameter nozzles and various pump power for microbubble generators. This research was conducted to determine the best microbubble by comparing the nozzle diameter and pump power. To achieve this goal, three diameter nozzles are combined with three different powers with an airflow rate of 2.5 LPM. The best combination of 32.5 mm nozzle diameter and 160-watt pump power. Produce bubbles ranging from 5.6 – 82 μm, with an increased oxygen concentration time of 60 minutes
STUDY DETAIL ENGINEERING DESIGN ( DED ) BANGUNAN GEDUNG HOTEL SHEO DI BANDUNG
Abstract: Study Author's Engineering Detail Design at PT. Buff Buana Kriyasa. PT.ini has tested the Hotel Sheo Building on Monday-Saturday 11 to March 16, 2019 which was witnessed by Hotel Technicians. With the aim of planning, testing, and measuring the feasibility of hotels in the city of Bandung. For example, the author planned this one of them at the Sheo Hotel, including the Condition of Buildings, Rooms, Guest Rooms, BaseCame, Hotel Pages, Regions and Land strength. So that the establishment of hotels can be relied upon, and become an attraction for guests who come to the Hotel. So that hotels in the city of Bandung become an inn, a meeting event, which can satisfy the visitors. Besides that it is a hotel that is included as a favorite, with its territory in a strategic area, and has the strength of a sturdy and attractive building. So there is no need to worry. Therefore, the author will describe the Hotel planning problem by conducting tests including taking Profometer, Hammer Test, and Ultrasonic Pulse Velocity. Herewith, the author will describe the results of the tests that present the objectives, the results of field testing. So that interested parties and contributors are satisfied and helpful about the planning. For the smooth running of this work and also the opportunity given, the author is very useful to support the path of planning the Hotel Building in Bandung Keywords: Detail Engineering, Hotel Sheo, Ultrasonic Pulse Velocity. Abstrak: Study Detail Engineering Desaign Penulis lakukan di PT.Sangga Buana Kriyasa. PT.ini telah melakukan pengujian Gedung Hotel Sheo pada hari Senin-Sabtu 11 s/d 16 Maret 2019 yang disaksikan oleh Teknisi Hotel. Dengan tujuan untuk merecanakan, mengetes, dan mengukur kelayakan dari Hotel yang ada di Kota Bandung. Sebagai contoh Penulis melakukan perencanaan ini salah satunya pada Hotel Sheo, meliputi Kondisi Bangunan, Ruangan, Kamar Tamu, BaseCame, Halaman Hotel, Wilayah dan kekuatan Tanah. Supaya pendirian Hotel dapat diandalkan, dan menjadi daya tarik untuk para Tamu yang datang ke Hotel tersebut. Sehingga Hotel di Kota Bandung menjadi sebuah penginapan, acara pertemuan, yang dapat memuaskan para pengunjungnya. Disamping itu merupakan Hotel yang termasuk favorit, dengan wilayahnya ada di wilayah Strategis, serta mempunyai kekuatan Bangunan Gedung yang Kokoh dan menarik. Sehingga tidak perlu dikhawatirkan Maka dari itu Penulis akan menguraikan tentang masalah perencanaan Hotel tersebut dengan melakukan Pengujian meliputi pengambilan Profometer, Hammer Test, dan Ultrasonic Pulse Velocity. Bersama ini Penulis akan menguraikan hasil pengujian tersebut yang menyajikan tujuan, hasil pengujian lapangan. Sehingga pihak yang berkepentingan dan berkontribusi merasa puas dan membantu tentang perencanaan tersebut.untuk kelancaran pekerjaan ini dan juga kesempatan yang diberikan, kepada Penulis sangat bermanfaat untuk mendukukung jalannya perencanaan Bangunan Gedung Hotel yang ada di Kota Bandung. Kata Kunci : Detail Engineering, Hotel Sheo, Ultrasonic Pulse Velocit
TEKNIK PENYINARAN RADIASI EKSTERNA PADA KASUS MELANOMA MALIGNA POST OPERASI DIGITI 1 DI UNIT RADIOTERAPI INSTALASI RADIOLOGI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA
Malignant melanoma is a skin malignancy originating from melanocyte cells; these cells are still able to form melanin. Patient positioning and use of fixation tools are very important, in general, fixation tools are used sandback and ropes. At Radiotherapy Installation Unit Dr. RSUP Sardjito Yogyakarta fixation equipment used is a thermoplastic 3 point mask which is modified to 2 points. The purpose of this study was to find out how the procedure of external radiation irradiation technique in the case of postoperative malignant melanoma was screened at Radiotherapy Installation Unit Dr. RSUP 1. Sardjito Yogyakarta and the reason for the use of thermoplastic masks in the case of external radiation irradiation techniques in the case of postoperative malignant melanoma in the 1st Radiotherapy Installation Unit of Dr. RSUP Sardjito YogyakartaThe type of research carried out by the author is a type of qualitative research with a case study approach, the authors conducted observations, in-depth interviews and documented data on the technique of external radiation irradiation in the case of the 1st postoperative malignant melanoma in the Radiology Installation Unit Dr. RSUP Sardjito Yogyakarta. Analysis of data by means of the reduction phase, data coutation, and then concluded.The results showed that the technique of external radiation irradiation in the case of postoperative malignant melanoma was screened 1 in the Radiology Installation Unit of Dr. RSUP Sardjito Yogyakarta uses 2D technique with two AP / PA fields with 100 cm source skin distance, determination of irradiation parameters through several stages, namely: physical examination by radiation oncology specialist, 2D simulator planning, dose calculation in TPS with 2D technique, external radiation irradiation in the irradiation room, a total dose of 50 Gy with a fraction of 2Gy per day for 25 times irradiation. The reason for using thermoplastic masks in this case is because thermoplastic masks are fixation devices that can best follow the contours of the patient's body and which are individual. Thermoplastic masks are also a facility provided by Dr. RSUP Sardjito to patients. The use of this mask fixation is better, so that the fixed hand can be more attached and the mobilization of the hand is reduced. Aside from being a fixation tool the use of thermoplastics is also one of the efforts for patient comfort, cosmetic value and making the position of the object more consistent during irradiation so that there is no shift or movemen
