1,720,957 research outputs found
Eksplorasi Fenomena Waktu Sebagai Objek Penciptaan Seni Video
The debate on the speed of time (travel time, the length of the process, working time) has been going on since time immemorial and continues to this day. At this time the meaning of the word quickly in human life not only be the size of an improvement, but it is also considered to be a measure for better circumstances. Around us, the conditions under which it can be said that the central human race by speed. Most of the time of the human life cycle of time spent on a job that runs in a high-tempo pace. Things like that make a man trapped inside a rhythm acceleration. Slow follow the changes are considered outdated. Not fast also believed would make the economic benefits will be slightly reduced. Instead, speed is believed to be able to make financial gains accrue and be used as an indicator of the progress of human life. That is, human life would be considered better if he is able to more quickly than any other human. Through research and phenomenological theory approach the author tries to trace the phenomenon of time. The rhythm of life of modern man feels faster tempo is the main focus. Anxiety that the authors feel the phenomenon push to make it into a work of video art. This video art is a medium of expression that is at once the author tries to explore the phenomenon of modern human life time which more quickly than before. Hopefully, this work could be stand as a contemplation media of the meaning of time for the audience.
Keywords: time, fast, phenomenon, phenomenology,expressio
PENGAMBILAN GAMBAR KOMPOSISI SEPERTIGA BIDANG DALAM FILM DAMAR KURUNG MASMUNDARI
The idea of this research, Damar Kurung Masmundari, is how Masmundari's struggle to preserve arts tradition in Gresik by using third composition visual field expository documentary. Duration of this documentary movie is 26 minutes and showing a reconstruction of Masmundari as an artist Damar Kurung. The benefit is to show the proportion and composition of subject and object trough the rule of thirds.In addition, this research shows the point of interest of Damar Kurung proportion to attract the audience. The rule of thirds technique is used because subject in Damar Kurung Masmundari movie showed focused as well as symmetries being a point of interest.
Keywords : documentary,expository,Damar Kurung, Masmundari,and exploratio
OBJEKTIFIKASI DIRI TUBUH DAN EGO DIRI DALAM FOTO KONSEPTUAL
Objektifikasi merupakan cara untuk membendakan suatu hal yang seharusnya bukan
objek, yang seringkali pada praktek umumnya tidak disadari baik oleh mereka yang menjadi
objek maupun yang membuatnya menjadi objek. Tubuh manusia yang muncul dalam
gambaran fotografis di kehidupan modern, menjadi satu contoh yang tepat bagaimana
ketidaksadaran kolektif terhadap praktek objektifikasi tersebut dilakukan dan diproduksi
secara terus menerus. Ketidaksadaran ini, akan berdampak pada ketidakmampuan manusia
untuk mengontrol dan menguasai, serta pada perspektif yang lain juga akan membangun
representasi negatif atas tubuh dan dirinya sendiri. Dalam karya ini ketidak sadaran kolektif
diakomodir oleh ego yang kemudian menjadi kesadaran personal, dimana kesadaran
personal akan dikonsepsi dalam bingkai foto.
Penelitian artistik ini tertarik untuk melakukan penyelidikan yang mendalam
terhadap perilaku-perilaku ketidaksadaran atas objektifikasi tersebut, terutama yang
berkaitan dengan tubuh dan diri manusia, untuk kemudian dieksplorasi dan dijadikan
sebagai ide serta landasan penciptaan karya fotografi. Pilihan pendekatan untuk
merealisasikan gagasan tersebut, akan menggunakan fotografi konseptual yang menekankan
pada ekspresi atau konteks interpretasi pribadi dari seniman foto atas suatu fenomena
sebagai dasar ide maupun gagasan utama dalam penciptaan karya seni fotografinya
GAMBAR PITUTUR PUNAKAWAN SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN VIDEO KANAL TUNGGAL
Perkembangan teknologi yang cepat membuat dunia menjadi tidak memiliki batasbatas
wilayah yang nyata. Penyebaran informasi terjadi dengan sangat cepat dan mudah.
Masyarakat moderen di segala usia, hampir sebagian besar memiliki peralatan yang
memungkinkan mereka dapat terhubung secara langsung dengan informasi, hiburan dan
pengetahuan yang bersumber dari mana saja. Sebagai akibatnya, benturan nilai-nilai lokal
dengan nilai-nilai asing atau dari luar tak dapat terhindarkan.
Peribahasa Jawa yang sering muncul melalui gambar pitutur punakawan (Semar,
Gareng, Petruk, dan Bagong) dalam lukisan kaca memiliki nilai-nilai luhur yang berguna bagi
pembentukan karakter, khususnya bagi masyarakat Jawa. Gambar pitutur pada lazimnya
berisi tentang anjuran dan larangan dalam hidup. Ilustrasi video dari gambar pitutur yang ada,
dibuat dengan teknik chroma key (green screen) sebagai metode penciptaan yang digunakan
untuk perwujudannya. Sebagai hasilnya, video kanal tunggal yang merupakan
ilustrasi gambar pitutur dapat digunakan sebagai medium penyebaran nilai-nilai luhur
budaya Jawa di era milenial saat ini
Waktu Yang Dilipat, Waktu Yang Bergegas
Perdebatan mengenai kecepatan waktu (waktu tempuh, lamanya proses,
waktu kerja) telah berlangsung sejak dahulu kala dan terus berlangsung hingga
saat ini. Pada saat ini arti kata cepat di dalam kehidupan manusia tidak hanya
menjadi ukuran sebuah kemajuan, tetapi ia juga dianggap menjadi sebuah ukuran
untuk keadaan yang lebih baik. Di sekitar penulis, kondisi pada saat ini bisa
dikatakan bahwa manusia tengah berpacu dan dimabuk kecepatan. Sebagian besar
waktu hidup manusia dihabiskan untuk sebuah siklus waktu kerja yang berjalan
dalam kecepatan tempo tinggi. Keadaan seperti itu membuat manusia
terperangkap di dalam irama percepatannya. Lambat mengikuti perubahan
dianggap ketinggalan jaman. Tidak cepat juga diyakini akan membuat keuntungan
secara ekonomi akan menjadi sedikit berkurang. Sebaliknya, kecepatan diyakini
dapat membuat keuntungan finansial bertambah dan dijadikan sebagai salah satu
indikator kemajuan hidup manusia. Artinya, hidup manusia akan dianggap lebih
baik jika ia mampu lebih cepat dari manusia yang lain.
Melalui riset dan menggunakan pendekatan teori fenomenologi penulis
mencoba menelusuri fenomena waktu. Irama kehidupan manusia moderen yang
temponya dirasa semakin cepat adalah fokus utamanya. Kegelisahan yang penulis
rasakan terhadap fenomena tersebut mendorong untuk mewujudkannya menjadi
karya seni video.
Karya seni video ini adalah media ekspresi penulis yang sekaligus
mencoba untuk mengeksplorasi fenomena waktu kehidupan manusia moderen
yang semakin cepat. Harapannya, karya ini bisa menjadi media kontemplasi
pemaknaan waktu bagi penikmatnya
PENDAMPINGAN PRODUKSI DAN KAMPANYE FILM PENGURANGAN RISIKO BENCANA TSUNAMI DI DESA SIDOHARJO, KABUPATEN PACITAN (KELOMPOK)
Bentuk geografis Kabupaten Pacitan yang berbentuk mangkok, dengan
pegunungan karst yang mengelilingi pusat kota serta batasan luarnya yang langsung
berseberangan dengan samudera Hindia, seolah pisau bermata ganda. Letak geografis
Kabupaten Pacitan memberikan keuntungan berupa melimpahnya keindahan alam
yang potensial untuk dikelola sebagai tempat pariwisata, namun di sisi lain,
berhadapan langsung dengan samudera yang berada di jalur pertemuan lempeng
samudera dengan lempeng benua, membuat wilayah Kabupaten Pacitan mendapatkan
ancaman bencana alam berupa gempa bumi serta gelombang tsunami.
Penyebaran pengetahuan dan informasi yang memadai atas potensi bahaya
bencana alam tsunami yang dihadapi oleh masyarakat di sekitar Teluk Teleng serta
tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi risiko bencana alam tsunami, perlu
mendapatkan perhatian serius dan dilakukan secara terus menerus. Pelatihan produksi
dan kampanye film dengan metode partisipatif tentang pengurangan risiko bencana
tsunami kepada warga masyarakat di sekitar Teluk Teleng, Desa Sidoharjo,
Kabupaten Pacitan perlu dilakukan untuk menjaga terciptanya kesadaran serta
kewaspadaan kolektif dari masyarakat, terhadap risiko bahaya tsunami dan sebagai
perwujudan dari usaha untuk mengurangi dampak dari bencana alam tersebut.
Kata kunci: tsunami, pengurangan risiko bencana, produksi film, partisipatif
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
