1,721,117 research outputs found
METODE BEDA HINGGA DAN TEOREMA NEWTON UNTUK MENENTUKAN JUMLAH DERET
INGKASAN
Metode Beda Hingga dan Teorema Newton untuk Menentukan Jumlah
Deret. TRI MULYANI; 111820101004; 2013; 59 halaman. Jurusan Matematika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember. Dibimbing
oleh MOH. HASAN dan SLAMIN.
Pada beberapa buku teks umumnya disajikan tentang rumus jumlah suatu
deret yang bukan deret aritmatika dan bukan deret geometri dan pembaca diminta
untuk membuktikan kebenarannya dengan menggunakan induksi matematika,
diantaranya menurut Nasution et al. (1993); Purcell &Varberg (1999); Lovasz et
al. (2003) dan Rosen (2007).
Rumus umum suku ke-n suatu barisan aritmatika bertingkat dapat
ditentukan dengan mengidentifikasi selisih tetapnya menggunakan metode beda
hingga yang dikaitkan dengan fungsi polinomial dimana suku-suku suatu barisan
merupakan peta/bayangan oleh suatu pemetaan dengan domain himpunan
bilangan asli dalam urutan wajar. Jika suatu barisan mempunyai beda tetap pada
tingkat ke-k, maka ada
1k
persamaan linier yang harus diselesaikan. Untuk
menentukan rumus jumlah n suku pertama suatu deret, harus merubah deret
tersebut menjadi barisan jumlah terlebih dahulu sehingga menjadi barisan
aritmatika bertingkat satu di atasnya.
Penelitian ini meneliti bagaimana cara untuk mendapatkan rumus jumlah
suatu deret yang mempunyai aturan tertentu kemudian dibuktikan kebenarannya
dengan menggunakan induksi matematika. Penelitian ini bertujuan menemukan
metode yang lebih efisien untuk menentukan rumus jumlah n suku pertama suatu
deret yang mempunyai aturan tertentu dengan menggunakan metode beda hingga
dan teorema Newton. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif
aksiomatik
Collaborative planning for disaster resilience: the role of community engagement for flood risk management
Rapid urbanisation, fragmented governance and recurrent flooding complicates resolution of DKI Jakarta’s chronic housing shortage. The purpose of this thesis is to re-frame planning decision-making through collaborative approach to address risks of flooding and to increase community resilience. This thesis found that in spite of strong policy frameworks underlying flood risk management strategies, there are opportunities for improvement of collaboration mechanisms in decision-making processes and in implementation of plans to strengthen disaster resilience. It also potentially widens participation in dialogues regarding the effectiveness of policies and plans for flood risk management in Indonesia and across equatorial mega-cities facing similar challenges
Kontekstualisasi Hadis Hak Buruh Dalam Perspektif Hermeneutika Hassan Hanafi
ABSTRAK
Tri Mulyani (1708307014) “Kontekstualisasi Hadis Hak Buruh Dalam
Perspektif Hermeneutika Hassan Hanafi”.
Penelitian ini didasari atas fenomena yang terjadi dalam dunia kerja.
Terdapat banyak eksploitasi hak-hak buruh atau pekerja di dalamnya. Padahal
dalam Islam (hadis) memerintahkan untuk memperlakukan buruh dengan baik
seperti memberikan hak-hak mereka. Teks (hadis) tersebut dipahami secara
tekstual dan perlu juga dipahami secara kontekstual supaya hadis dapat berlaku di
sepanjang masa kapan pun dan dimana pun
Terdapat 2 poin yang menjadi rumusan masalah penelitian ini yaitu, 1)
bagaimana kualitas dan kuantitas hadis hak buruh? 2) bagaimana kontekstualisasi
hadis hak buruh perspektif hermeneutika Hassan Hanafi. Penelitian ini adalah
penelitian kepustakaan (library research) dengan metode kualitatif. Metode
Maudu‟i cara mengumpulkan hadis-hadis yang satu tema. Dalam melakukan
penelitian, peneliti meneliti pada 9 kitab hadis primer dan beberapa kitab hadis
sekunder sebagai pendukung penelitian, Mu‟jam, Tahẓīb, dan dibantu dengan
aplikasi Gawamee dan Eksiklopedia Hadis.
Hasil kajian yang diperoleh penelitian ini, peneliti mendapatkan 2 hadis
pertama tentang tidak membayar upah buruh, dan kedua tentang menunda upah
buruh. Hadis pertama, jalur yang penulis teliti berasal dari jalur Ṣahih Bukhārī,
hadis tersebut memiliki kualitas ḥasan. Hadis kedua, diriwayatkan oleh Sunan
Ibn Mājah adalah ḥasan li gairihi. Keduanya dapat digunakan sebagai ḥujjah.
Supaya hadis dapat diaplikasikan masa kini, perlunya kontekstualisasi hadis.
Tentunya harus dikaji dengan integrasi keilmuan salah satunya adalah
hermeneutika Hassan Hanafi yang mencangkup 3 langkah yaitu: 1) kritik historis,
2) kritik eidetis, 3) kritik praksis. Kontekstualisasi hadis Nabi mengenai hak upah
buruh tidak hanya membicarkan hak upah saja. Seperti yang dialami Rasulullah
Saw ketika menjadi karyawan Sayyidah Khodijah yang memperlakukan Rasul
ketika menjadi karyawannya atau buruhnya dengan baik. Teks hadis yang
berbunyi a‟ṭū al-ajīro ajrohu (bayarlah upah pekerja) mempunyai makna beberapa
hak yang harus didapatkan Buruh dengan tujuan melindungi dan mensejahterakan
kaum buruh di antaranya: Hak mendapatkan kesempatan pelatihan, hak upah yang
layak, hak mendapatkan upah tepat waktu, hak istirahat, hak jaminan sosial ,hak
pesangon, hak mendapatkan pekerjaan, hak berserikat, hak cuti menstruasi, hamil,
melahirkan, menyusui, hak libur, hak melaksanakan ibadah, dan hak tunjangan.
Kata Kunci: Hadis, Hak Upah, Buruh, Hermeneutika Hassan Hanafi
METODE BEDA HINGGA DAN TEOREMA NEWTON UNTUK MENENTUKAN JUMLAH DERET
RINGKASAN
Metode Beda Hingga dan Teorema Newton untuk Menentukan Jumlah
Deret. TRI MULYANI; 111820101004; 2013; 59 halaman. Jurusan Matematika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember. Dibimbing
oleh MOH. HASAN dan SLAMIN.
Pada beberapa buku teks umumnya disajikan tentang rumus jumlah suatu
deret yang bukan deret aritmatika dan bukan deret geometri dan pembaca diminta
untuk membuktikan kebenarannya dengan menggunakan induksi matematika,
diantaranya menurut Nasution et al. (1993); Purcell &Varberg (1999); Lovasz et
al. (2003) dan Rosen (2007).
Rumus umum suku ke-n suatu barisan aritmatika bertingkat dapat
ditentukan dengan mengidentifikasi selisih tetapnya menggunakan metode beda
hingga yang dikaitkan dengan fungsi polinomial dimana suku-suku suatu barisan
merupakan peta/bayangan oleh suatu pemetaan dengan domain himpunan
bilangan asli dalam urutan wajar. Jika suatu barisan mempunyai beda tetap pada
tingkat ke-k, maka ada
1k
persamaan linier yang harus diselesaikan. Untuk
menentukan rumus jumlah n suku pertama suatu deret, harus merubah deret
tersebut menjadi barisan jumlah terlebih dahulu sehingga menjadi barisan
aritmatika bertingkat satu di atasnya.
Penelitian ini meneliti bagaimana cara untuk mendapatkan rumus jumlah
suatu deret yang mempunyai aturan tertentu kemudian dibuktikan kebenarannya
dengan menggunakan induksi matematika. Penelitian ini bertujuan menemukan
metode yang lebih efisien untuk menentukan rumus jumlah n suku pertama suatu
deret yang mempunyai aturan tertentu dengan menggunakan metode beda hingga
dan teorema Newton. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif
aksiomatik.
vii
Hasil penelitian berdasarkan skema kerangka berpikir, untuk mendapatkan
rumus jumlah n suku pertama suatu deret dengan langkah-langkah sebagai
berikut.
(1) Deret Aritmatika: (a) dibuat tabel beda hingga; (b) disubtitusikan ke
teorema Newton; (c) diintegralkan.
(2) Deret Geometri: (a) menentukan rumus suku ke-n; (b) diintegralkan.
(3) Deret yang diketahui rumus suku ke-n nya: (a) nyatakan rumus suku ke-n
dengan menggunakan polinomial faktorial; (b) diintegralkan.
(4) Rumus yang diperoleh dibuktikan dengan menggunakan induksi
matematika.
Metode beda hingga dan teorema Newton dapat dimanfaatkan untuk
menentukan rumus jumlah n suku pertama suatu deret yang mempunyai aturan
tertentu, dengan cara: (1) dibuat tabel beda hingga; (2) data yang diperoleh dari
tabel beda hingga disubtitusikan ke teorema Newton untuk mendapatkan
S
didapatkan dengan mengintegralkan
n
viii
U
. Metode ini lebih efisien yang dapat
diukur dari banyaknya langkah dan operasi yang digunakan yaitu lebih pendek
Re-framing planning decision-making : increasing flood resilience in Jakarta
Purpose – Rapid urbanisation, fragmented governance and recurrent flooding complicates resolution of DKI Jakarta’s chronic housing shortage. Failure to effectively implement planning decisionmaking processes poses potential human rights violations. Contemporary planning policy requires the relocation of households living in floodplains within fifteen metres of DKI Jakarta’s main watercourses; further constraining land availability and potentially requiring increased densification.\ud
The purpose of this paper is to re-frame planning decision-making to address risks of flooding and to increase community resilience.\ud
\ud
Design/methodology/approach – This paper presents a preliminary scoping study for a technologically enhanced participatory planning method, incorporating synthesis of existing information on urbanisation, governance, and flood risk management in Jakarta.\ud
\ud
Findings – Responsibility for flood risk management in DKI Jakarta is fragmented both within and across administrative boundaries. Decision-making is further complicated by: limited availability of land use data; uncertainty as to the delineated extent of watercourses, floodplains, and flood modelling; unclear risk and liability for infrastructure investments; and technical literacy of both public and government participants.\ud
\ud
Practical implications – This research provides information to facilitate consultation with government entities tasked with re-framing planning processes to increase public participation.\ud
\ud
Social implications – Reduction in risk exposure amongst DKI Jakarta’s most vulnerable populations addresses issues of social justice
JARGON PENGGUNA KOSMETIK PADA AKUN @beauthingy DI TWITTER: TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK
Annisa Tri Mulyani, 1710723018 “Jargon Pengguna Kosmetik pada Akun @beauthingy di Twitter: Tinjauan Sosiolinguistik”. Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Padang. Pembimbing I, Dr. Aslinda, M.Hum., dan Pembimbing II, Sonezza Ladyanna, S.S., M.A.
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini yaitu (1) Apa saja jargon yang digunakan oleh pengguna kosmetik pada akun @beauthingy di Twitter? dan (2) Apa saja faktor situasional yang memengaruhi penggunaan jargon pada akun @beauthingy di Twitter?. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menjelaskan jargon yang digunakan oleh pengguna kosmetik pada akun @beauthingy di Twitter serta menjelaskan faktor situasional yang memengaruhi penggunaan jargon oleh pengguna kosmetik pada akun @beauthingy di Twitter.
Metode dan teknik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode dan teknik penelitian yang dikemukakan oleh Sudaryanto. Terdapat 3 tahap dalam metode dan teknik penelitian yang digunakan, yaitu (1) tahap penyediaan data, (2) tahap analisis data, (3) dan tahap penyajian hasil analisis data. Pada tahap penyediaan data, digunakan metode simak dengan dua teknik, yaitu teknik dasar dan teknik lanjutan. Teknik dasar yang digunakan adalah teknik sadap, sementara teknik lanjutannya ialah teknik Simak Bebas Libat Cakap (SBLC), teknik catat dan wawancara. Pada tahap penyediaan data, digunakan metode padan. Metode padan yang digunakan ialah metode padan referensial dan translasional. Teknik dasar yang digunakan adalah teknik Pilah Unsur Penentu (PUP) dan teknik lanjutannya adalah teknik Hubung Banding Membedakan (HBB). Pada penyajian hasil analisis data, digunakan metode penyajian informal.
Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan jargon-jargon yang digunakan oleh pengguna kosmetik pada akun @beauthingy di Twitter. Jargon-jargon tersebut yaitu: baking, dempul, t zone, skintone, undertone, abu-abu, waterline, foundie, cakey, patchy, primer, dupe, cekit-cekit, muka badak, BO, two way cake, concealer, cushion, setting sprey, dosa-dosa, liptint, lipgloss, dewy, touch up, pigmented, racun, coverage, outer v, smokey eyes, tightline, ashy, hit pan, contouring, cut crease, dan bronzer. Faktor situasional yang memengaruhi penggunaan jargon pada akun @beauthingy di Twitter yaitu: (1) siapa yang berbicara, (2) kepada siapa, (3) kapan, (4) di mana, dan (5) mengenai masalah apa.
Kata Kunci : jargon, pengguna kosmetik, akun @beauthing
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPS Sejarah dengan Metode Diskusi Terbimbing dalam Pokok Bahasan Perserikatan Bangsa-Bangsa Pada Siswa Kelas VI SD Margosari Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang Tahun Pelajaran 2005 / 2006
Tri Mulyani. 2006. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar IPS Sejarah dengan
Metode Diskusi Terbimbing dalam Pokok Bahasan Perserikatan Bangsa-Bangsa
Pada Siswa Kelas VI SD Margosari Kecamatan Semarang Barat Kota
Semarang Tahun Pelajaran 2005 / 2006, Skripsi Jurusan Sejarah FIS UNNES,
63 halaman.
Kata Kunci : IPS Sejarah, Metode Diskusi
Dalam rangka meningkatkan hasil pembelajaran sejarah kiranya
diperlukan penggunaan metode diskusi yang dibimbing langsung oleh guru
secara lebih mendalam. Sebab dengan diskusi akan diperoleh pemahaman yang
mendalam serta kejadian-kejadian yang lebih luas lagi. Bahkan nilai-nilai apa
yang dapat dipetik oleh para siswa dalam peristiwa tersebut juga dicapai dengan
baik. Sebab belajar sejarah pada hakekatnya adalah belajar dari pengalaman
masa lampau untuk kepentingan sekarang.
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah : bagaimana hasil belajar IPS Sejarah siswa kelas VI SD Margosari pada
pokok bahasan Perserikatan Bangsa-Bangsa Kecamatan Semarang Barat tahun
pelajaran 2005 / 2006, bagaimana prosedur pelaksanan pembelajaran metode
diskusi terbimbing dapat secara efektif meningkatkan hasil belajar IPS Sejarah
dalam pokok. Permasalahan di atas, tujuan penelitian ini adalah :Untuk
menjelaskan upaya peningkatan hasil belajar IPS Sejarah dalam pokok bahasan
Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui metode diskusi terbimbing pada Siswa
Kelas VI SD Margosari Kecamatan Semarang Barat tahun pelajaran
2005/2006, Untuk mengetahui efektivitas penggunaan metode diskusi
terbimbing dalam meningkatkan hasil belajar IPS Sejarah dalam pokok bahasan
Perserikatan Bangsa – Bangsa pada siswa kelas VI SD Margosari Kecamatan
Semarang Barat tahun pelajaran 2005/2006
Penelitian ini dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut Subyek yang
digunakan seluruh siswa kelas VI SD Margosari berjumlah 39 siswa, Subyek
penelitian dikenai tiga tahap yaitu :tahap awal, sebelum dikenai metode diskusi
terbimbing (metode ceramah), dilakukan tes awal untuk mengetahui hasil
belajar, tahap kedua, pada tahap ini dalam proses belajar mengajar digunakan
metode, diskusi tetapi belum sempurna, setelah itu dilakukan tes tahap kedua,
Tahap ketiga, pada tahap ini menggunakan metode diskusi terbimbing, selesai
proses belajar mengajar dilakukan post test, Pengamatan perilaku dan keaktifan
siswa saat melaksanakan diskusi terbimbing.
Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPS Sejarah siswa
kelas VI SD Margosari pada pokok bahasan Perserikatan Bangsa-Bangsa
Kecamatan Semarang Barat menunjukkan hasil yang cukup baik, yaitu sebesar
81. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar yang semula di bawah
angka ketuntasan, dapat meningkat bahkan melebihi angka ketuntasan sebesar
81, 17
Community engagement for disaster resilience : flood risk management in Jakarta, Indonesia
Understanding dynamics of interactions between community groups and government agencies is crucial to improve community resilience for flood risk reduction through effective community engagement strategies. Overall, a variety of approaches are available, however they are limited in their application. Based on research of a case study in Kampung Melayu Village in Jakarta, further complexity in engaging community emerges in planning policy which requires the relocation of households living in floodplains. This complexity arises in decision-making processes due to barriers to communication. This obstacle highlights the need for a simplified approach for an effective flood risk management which will be further explored in this paper. \ud
\ud
Qualitative analyses will be undertaken following semi-structured interviews conducted with key actors within government agencies, non-governmental organisations (NGOs), and representatives of communities. The analyses involve investigation of barriers and constraints on community engagement in flood risk management, particularly relevant to collaboration mechanism, perception of risk, and technical literacy to flood risk. These analyses result in potential redirection of community consultation strategies to lead to a more effective collaboration among stakeholders in the decision-making processes. As a result, greater effectiveness in plan implementation of flood risk management potentially improves disaster resilience in the future
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
