1,721,961 research outputs found
Meneropong Personality Guru PAK Berdasarkan 2 Timotius 2:1-13
Kepribadian guru merupakan fakor terpenting bagi keberhasilan belajar siswa-siswi. ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi masa depan siswa-siswi terutama bagi siswa-siswi yang masih kecil (tingkat dasar) dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah. Penelitian ini menggunakan kajian literatur teks Alkitab dalam 2 Timotius 2:1-13 yang memuat tentang prinsip memuridkan dari Paulus kepada Timotius. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif, dengan menerapkan metode deskriptif analisis pada teks 2 Timotius 2:1-13, sehingga didapati beberapa karakteristik tentang kepribadian guru Pendidikan agama Kristen. Hasil yang ditemukan adalah kepribadian guru Pendidikan agama Kristen adalah merupakan kepribadian guru yang rela berkorban, taat, dan tekun
PERAN MANUSIA ALLAH MENURUT I TIMOTIUS 6:11-21
Kendatipun Timotius masih muda dalam memimpin jemaat di Efesus, namun Paulus tidak ragu akan hal itu. Bahkan Paulus menyebut Timotius dengan sebutan “manusia Allah.” Sebutan tersebut merupakan gelar yang paling terhormat yang menyatakan akan kepemilikan Allah atas dirinya. Gelar ini diberikan Paulus untuk membedakan Timotius dari pengajar-pengajar palsu. Sebagai pribadi yang dimiliki Allah tidak bisa dilepaskan dari pertobatan Timotius sebagai hasil pelayanan Paulus. Sebagai milik Allah, Paulus memberikan rambu-rambu mengenai apa yang tidak perlu dilakukan (dihindari) dan mana yang perlu dilakukan. Bersilat kata, dengki, fitnah, curiga, percekcokan dan cinta uang harus dijauhi karena akan menghancurkan reputasi Timotius dan pelayanannya. Sebaliknya yang harus dilakukan dengan sekuat tenaga yaitu hidup dalam keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Hal-hal tersebut tidak hanya mencerminkan karakter Paulus tetapi juga merupakan kehendak Allah sendiri. Dalam memenuhi semuanya itu, Paulus berkata bahwa hidup itu bagaikan pertandingan yang menuntut ketahanan, bukan hanya fisik tetapi juga spiritual. Dalam pertandingan tersebut Paulus berkata bahwa Timotius tidak berjuang sendiri. Tuhan yang adalah Sumber hidup akan menopang dan memberikan semangat kepada Timotius untuk dapat memenangkan pertandingan. Oleh karena itu, tidak perlu bimbang dan ragu untuk menyaksikan kebenaran kendatipun konsekuensi yang dihadapi tidaklah mudah. Paulus memberikan referensi mengenai bagaimana Kristus berani mengikrarkan ikrar yang benar di hadapan Pontius Pilatus yang adalah petinggi Romawi pada waktu itu. Paulus mengarahkan pandangan Timotius bukan kepada kesulitan pelayanan yang dialami tetapi kepada kemuliaan yang sudah disediakan Allah baginya. Lakukanlah tugas panggilanmu, jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan. Demikian juga dalam relasi dengan jemaat-jemaat yang kaya, jangan takut untuk berpesan kepada mereka supaya tidak sombong dan mengandalkan kekayaan mereka melainkan hidup dalam kebajikan/ kemurahan hati. Kekayaan yang dimiliki sekarang adalah bersifat sementara dimana ngengat dan karat dapat merusaknya dan pencuri dapat mencurinya. Ingatlah harta surgawi yang tidak fana. Kualitas kekayaan seseorang tidaklah bergantung pada seberapa banyak kekayaan yang dapat ditimbun (dimiliki) melainkan pada apa yang dapat dia berikan. Orang kaya yang hanya menimbun kekayaannya adalah orang kaya yang miskin. Tetapi orang kaya yang kaya adalah orang yang dengan kekayaannya dapat memperkaya orang lain (mendukung orang yang lemah dari segi finansial). Orang kaya yang demikian adalah orang kaya yang menyenangkan hati Tuhan. Pada akhirnya, Timotius dituntut untuk memelihara apa yang telah dia terima dari Paulus. Tidak perlu sibuk dengan perdebatan-perdebatan yang sia-sia (dalam hal ini pengajaran gnostik) atau omong kosong yang mengatasnamakan kebenaran sejati namun isinya penuh dengan racun
Tinjauan Yuridis tentang Penetapan Sanksi terhadap Tindak Pidana Insider Trading (Studi kasus PT. Perusahaan Gas Negara tahun 2007). / oleh Timotius Roni Suryo Wibowo
abstrak A.Nama (NIM) :Timotius Roni Suryo Wibowo (205060123) B. Judul Skripsi : ?Tinjauan Yuridis tentang Penetapan Sanksi terhadap Tindak Pidana Insider Trading (Studi kasus PT. Perusahaan Gas Negara tahun 2007).? C.Halaman : ix + 63 + 10 + 1990 D. Kata Kunci : Penetapan Sanksi, Insider Trading E. Isi : Informasi merupakan elemen penting dalam dunia pasar modal karena harga saham sangat dipengaruhi oleh semua informasi yang tersedia secara langsung. Ketidaktersediaan persamaan akses atas informasi yang tersedia diantara investor akan merusak kepercayaan di bidang pasar modal. Bentuk penyalahgunaan informasi disebut Insider Trading dengan memanfaatkan informasi yang dimiliki orang dalam demi meraih keuntungan pribadi. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal mengatur bahwa pelanggaran terhadap Insider Trading diancam dengan Pidana Penjara Maksimal 10 tahun dan denda administratif sebanyak Rp5.000.000.000(lima milyar rupiah) namun dalam kasus Insider Trading di PT.PGN para pelaku hanya dikenai sanksi administratif. Bagaimana tinjauan yuridis mengenai tindak pidana Insider Trading yang terjadi dalam PT.PGN? Penulis meneliti masalah tersebut menggunakan Metode Penelitian Hukum normatif dan diperkuat dengan data wawancara. Bapepam-Lk memiliki kewenangan menjatuhkan sanksi administratif sesuai yang diatur dalam Undang-Undang, pemeriksaan yang dilakukan oleh Bapepam-Lk dilakukan secara tertutup pun menyulitkan bagi pihak yang diperiksa karena tidak didampingi oleh penasehat hukum sehingga pembelaan diri yang dilakukan tidak maksimal. Penjatuhan sanksi administratif kurang tepat karena tidak sesuai dengan amanat Pasal 104 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal yang menetapkan bahwa pelanggaran terhadap Insider Trading diancam dengan hukuman penjara dan denda. Bapepam-Lk kiranya lebih terbuka kepada masyarakat dan bukan hanya menuangkan segala hasil kegiatannya ke dalam dokumen yang dirangkum dan diumumkan kepada masyarakat terutama menyangkut produk hukum berupa sanksi yang dikeluarkan Bapepam-Lk tanpa disertai alasan dan pertimbangan dijatuhkannya putusan serta perlu adanya revisi UUPM dikarenakan belum ada batasan normatif dimana sebuah perbuatan dapat dijatuhi sanksi administratif atau pidana. F. Daftar Acuan : 18 (1990 ? 2009) G. Pembimbing : Metty Rachmawati S.H., M.H. H. Penulis : Timotius Roni Suryo Wibow
Meneropong Personality Guru PAK Berdasarkan 2 Timotius 2:1-13
Kepribadian guru merupakan fakor terpenting bagi keberhasilan belajar siswa-siswi. ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi masa depan siswa-siswi terutama bagi siswa-siswi yang masih kecil (tingkat dasar) dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah. Penelitian ini menggunakan kajian literatur teks Alkitab dalam 2 Timotius 2:1-13 yang memuat tentang prinsip memuridkan dari Paulus kepada Timotius. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif, dengan menerapkan metode deskriptif analisis pada teks 2 Timotius 2:1-13, sehingga didapati beberapa karakteristik tentang kepribadian guru Pendidikan agama Kristen. Hasil yang ditemukan adalah kepribadian guru Pendidikan agama Kristen adalah merupakan kepribadian guru yang rela berkorban, taat, dan tekun
Perilaku Hidup Sehat: Memahami Pesan Pastoral Paulus Kepada Timotius Menurut 1 Timotius 5:23
Kesehatan adalah kebutuhan. Ini tak dapat disangkal karena pada umumnya orang-orang pasti ingin sehat dalam hidup yang dijalani sehingga dengan berbagai cara membiasakan diri dalam gaya hidup sehat. Kesakitan dan penyakit pasti menjadi momok yang ditakuti untuk dialami karena banyaknya resiko dan penderitaan yang akan teralami jikalau ada dalam kondisi yang tidak sehat. Realita ini membawa peneliti untuk mengkaji mengenai gaya hidup sehat dalam kaitannya dengan minuman beralkohol dengan menyoroti teks alkitab dari 1 Timotius 5:23 dalam pastoral Paulus kepada Timotius menurut bingkai teologi kesehatan. Penelitian ini dibangun dengan metode kualitatif pendekatan deskriptif. Metode tafsir historis dan naratif digunakan oleh peneliti dalam membantu membedah teks yang diangkat dalam penelitian ini kemudian dikontraskan dengan konteks dan perkembangan masa kini. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa mengonsumsi minuman beralkohol bukan hanya berbicara pada batas takaran saja tetapi dengan tujuan untuk kesehatan. Orang kristen harus bekhikmat dalam menganggapi perilaku meminum minuman beralkohol yang hanya diperlukan untuk kesehatan tubuh
INTEGRITAS HAMBA TUHAN MENURUT 1 TIMOTIUS 4:11-16
Integritas yaitu suatu keadaan dimana seorang hamba Tuhan dapat dipercaya karena antara perkataan yang dikeluarkan dan tindakan memiliki kesamaan. Integritas seorang hamba Tuhan harus terlihat nyata dalam kehidupan pelayanannya dan kehidupan pribadi karena keduanya itu akan memberikan dampak pada kekelalan yaitu keselamatan kekal. Sebagai seorang gembala yang masih sangat muda, rasul Paulus memberikan beberapa nasehat agar dapat menjadi hamba Tuhan yang memiliki integritas. Untuk menjadi hamba Tuhan yang berintegritas maka ada beberapa nasehat yang harus dilakukan berkenaan dengan kehidupan umum dan kehidupan pribadi. Tiga hal yang utama yang harus dilakukan oleh Timotius berkenaan dengan kehidupan umum yaitu memberikan pengajaran yang sehat, memelihara rasa hormat dan memiliki keseimbangan dalam pelayanan. Jemaat akan tetap memilki rasa hormat apabila Timotius senantiasa menjadi teladan kepada jemaat dalam perkataan, tingkah laku, kasih, iman dan kemurnian atau kesucian hidup. Selanjutnya yang dimaksudkan dengan keseimbangan dalam pelayanan yaitu Timotius tetap tekun dalam membaca Firman Tuhan, pemberian nasehat dan pengajaran Firman Tuhan. Dalam kaitannya dengan pribadinya, Timotius harus menggunakan karunia yang sudah diberikan Tuhan kepadanya. Selain itu, memiliki komitmen untuk taat melakukan segala sesuatu yang udah diajarkan oleh rasul Paulus. Akibat dari melakukan hal-hal tersebut yaitu, Timotius akan menyelamatkan dirinya sendiri dan setiap jemaat yang dilayani
MAKNA 1 TIMOTIUS 4:12 DAN PENERAPANNYA BAGI GENERASI Z
Penelitian ini tentang kajian biblika terhadap teks 1 Timotius 4:12 untuk selanjutnya diterapkan ke dalam kehidupan praktis Generasi Z
Prinsip Relasi Paulus-Timotius dalam Kepemimpinan di Gereja dan Implikasinya bagi Relasi Hamba Tuhan Senior-Junior Masa Kini: Sebuah Eksposisi terhadap 1 dan 2 Timotius.
Relasi antarmanusia pada umumnya, baik secara personal maupun komunal tidak pernah terlepas dari muatan kepentingan, perselisihan, penguasaan, permusuhan, dan penindasan. Kasih dan berempati seperti lapisan tipis yang tidak mampu menjaga relasi harmonis secara permanen. Oleh karena hal itu, maka di setiap bidang kehidupan yang melibatkan manusia dalam relasi dengan sesamanya, potensi terjadinya konflik akan selalu mungkin. Para hamba Tuhan sebagai bagian dari komunitas manusia juga tidak terlepas dari konflik. Tidak jarang konflik yang terjadi berujung pada perpecahan gereja. Bila ditelaah lebih lanjut konflik ini terjadi dalam relasi hamba Tuhan senior-junior, penyebabnya antara lain: karena senior sebagai pemimpin tidak membangun relasi yang seharusnya dengan junior, demikian juga sebaliknya dengan junior. Oleh karena itu pentingnya pemahaman akan sebuah relasi yang benar yaitu: relasi yang dibangun dalam bentuk pemuridan dan pembimbingan dari seorang senior dan pemimpin di gereja.
Berdasarkan pemahaman akan pentingnya sebuah relasi dalam bentuk pemuridan dan pembimbingan oleh seorang pemimpin bagi rekan-rekan yang dipimpinnya, maka penulis dalam skripsi ini memfokuskan penelitian pada prinsip relasi pemuridan dan kepemimpinan yang dilakukan Paulus kepada Timotius menurut surat 1 dan 2 Timotius. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implikasi relasi pemuridan dan kepemimpinan Paulus kepada Timotius bagi relasi hamba Tuhan senior-junior. Metode yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode deskriptif dengan penelitian lapangan, dan metode eksposisi. Selain itu penulis akan menggunakan beberapa sumber kepustakaan yang akan disejajarkan dengan prinsip-prinsip pemuridan dan kepemimpinan Paulus kepada Timotius, untuk mendapatkan hasil yang lebih relevan dan aplikatif bagi pembaca.
Setelah melakukan penelitian terhadap prinsip relasi pemuridan dan kepemimpinan yang dilakukan Paulus kepada Timotius, penulis mendapati tiga peran yang dapat dilakukan senior dan pemimpin demi membangun relasi senior-junior yang baik, yaitu: pertama, relasi senior-junior sebagai guru dan murid, kedua, relasi senior-junior seperti bapak dan anak, ketiga,relasi senior-junior seperti rekan dan sahabat. Apabila senior-junior dapat menjalankan pola relasi seperti ini, maka diharapkan akan tercipta sebuah pelayanan yang saling membangun bagi Kristus
Kepribadian Guru Kristen Dalam Perspektif 1 Timotius 4:11-16
Talizaro Tafonao, Christian Teacher Personality in Perspective of 1 Timothy 4: 11-16. One important indicator that must be known by Christian teachers is to have a good personality. Trough this research, author describes the Christian Teacher Personality in Perspective of 1 Timothy 4: 11-16. Authors used qualitative research methods in doing study of the text 1 Timothy 4: 11-16 to analyze the Bible\u27s point of view of the personality of Christian teachers. The results of these research analysis are: First, Being in words. Based on this text , Timothy was instructed to be an ensamples in words, both of personal conversations with several people and those delivered in public. Second, ensamples in Love. This love refers to love between humans and between human and God. God desired all human to love one another, with agape love, because the other third love, named storge, philo and eros will properly function if it is based on agape love. Third, ensamples in holiness. Holy and pure life needs to be developed and struggled for because God has delivered and saved. Holiness means clean, free from sin, sacred etc Thus, the successful of a Christian Religion teacher is having a personality with Bible truth as guidance. Talizaro Tafonao, Kepribadian Guru Kristen Dalam Perspektif 1 Timotius 4:11-16. Salah satu indikator penting yang harus diketahui oleh guru Kristen adalah memiliki kepribadian yang baik. Dari karya tulis ini, penulis mendreskripsikan Kepribadian Guru Kristen Dalam Perspektif 1 Timotius 4:11-16. Dalam menemukan jawaban penelitian ini maka penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melakukan kajian terhadap teks 1 Timotius 4:11-16 untuk menganalisis pandangan Alkitab tentang kepribadian guru Kristen. Setelah penulis melakukan kajian terhadap teks tersebut di atas, maka adapun hasil analisisnya adalah: Pertama, Keteladanan dalam perkataan. Dalam hubungannya dengan konteks ini, Timotius diperintahkan untuk menjadi teladan dalam perkataan, baik yang ia sampaikan secara pribadi kepada beberapa orang maupun yang disampaikan di depan umum. Kedua, Keteladan Dalam Kasih. Kasih ini dinyatakan pada sesama manusia dan kepada Tuhan. Allah menghendaki agar manusia saling mengasihi satu dengan yang lain, dengan kasih agape, sebab ketiga kasih, yakni storge, philo dan eros hanya dapat berfungsi dan terjalin dengan baik sebagaimana mestinya jika didasari oleh kasih agape. Ketiga, Teladan Dalam Kesucian. Hidup suci dan murni perlu dikembangkan dan diperjuangkan karena Tuhan yang telah membebaskan dan menyelamatkan. Jadi kesucian adalah bersih, bebas dari dosa, keramat dan lain-lain. Dengan demikian, keberhasilan seorang guru Agama Kristen harus memiliki kepribadian sesuai dengan kebenaran Alkitab
Analisis Tentang Belum Dikuasainya Barang Bukti Berupa Paket Narkotika Jenis Shabu Golongan I Bukan Tanaman Yang Beratnya Melebihi 5 (Lima) Gram Sebagai Tindak Pidana Narkotika (Studi Kasus Putusan No. 1672 K/Pid.Sus/2012)/ oleh Richard Timotius
abstrak (A)Nama/NIM : Richard Timotius /205100209 (B) Judul Skripsi: Analisis Tentang Belum Dikuasainya Barang Bukti Berupa Paket Narkotika Jenis Shabu Golongan I Bukan Tanaman Yang Beratnya Melebihi 5 (Lima) Gram Sebagai Tindak Pidana Narkotika (Studi Kasus Putusan No. 1672 K/Pid.Sus/2012)?.(C)Halaman : vii + 85 + 4 daftar pustaka + lampiran; 2015 (D)Kata Kunci : Belum dikuasainya barang bukti, tindak pidana narkotika, Putusan Mahkamah Agung. (E)Isi: Konstitusi menegaskan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. Sebagai negara hukum, maka bagi setiap pelanggar peraturan hukum akan dikenakan sanksi sesuai dengan tingkat perbuatannya. Menarik untuk diteliti dalam penulisan ini adalah tentang dasar pertimbangan hakim yang memutus perkara dengan minim bukti dan hanya berdasarkan keterangan seorang saksi yang dijadikan sebagai acuan untuk menjerat terdakwa padahal belum dikuasainya barang bukti berupa paket narkotika jenis shabu golongan I bukan tanaman yang beratnya melebihi 5 (lima) gram sebagai tindak pidana narkotika. Sehingga timbul permasalahan apakah pertimbangan hakim sudah tepat dalam menetapkan terdakwa sebagai pelaku tindak pidana narkotika atas kiriman paket yang belum dikuasai? Metode yang digunakan metode hukum normatif dengan didukung data wawancara. Berdasarkan analisis bahwa putusan hakim dalam pertimbangannya tidak tepat karena terdapat kejanggalan-kejanggalan yaitu didasarkan dengan seorang saksi dan minim bukti. Hendaknya dilakukan upaya peninjauan kembali atas putusan hakim yang dinilai tidak adil bagi terdakwa. (F)Daftar acuan : 37, (1983-2014) (G)Dosen Pembimbing : Soetan Budhi Satria, S.H., M.H. (H) Penulis : Richard Timotiu
- …
