5 research outputs found
PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MENGATASI DEGRADASI PANCASILA
PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MENGATASI DEGRADASI PANCASILATyas Mutiara Wahyuni Universitas Negeri MalangEmail: [email protected] AbstrakPada artikel ilmiah ini disajikan informasi mengenai solusi praktis penanganan masalah degradasi Pancasila di dalam masyarakat. Solusi tersebut adalah pendidikan karakter. Pendidikan karakter ini merupakan sebuah solusi yang dapat diaplikasikan ke masyarakat dengan cara sosialisasi. Hasil akhir dari pendidikan karakter ini adalah pola pikir serta moral masyarakat menjadi lebih baik yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.Kata Kunci: degradasi Pancasila, pendidikan karakter, masyarakat.Saat ini baik masyarakat maupun para pelajar banyak yang melakukan tindakan yang menyimpang dari nilai-nilai Pancasila. Hal ini terjadi karena kurangnya memahami nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Degradasi Pancasila merupakan proses kemorosotan pemahaman masyarakat umum terhadap Pancasila sehingga memicu terjadinya konflik seperti kekerasan, munculnya kelompok garis keras dan prostitusi. Aksi kekerasan terlihat seperti sesuatu yang lazim terjadi di masyarakat. Integrasi bangsa bergerak menuju arah negatif yang melahirkan keretakan dan ketegangan dalam hubungan antar komunitas, personal atau kelompok. Contohnya seperti tawuran antar pelajar, membakar mobil milik caleg, merusak properti umum, dll. Sehingga dengan timbulnya konflik seperti itulah yang bisa menimbulkan ketegangan sosial di masyarakat maupun pelajar. Kekerasan atau anarkisme memang cukup menggelisahkan masyarakat. Keragaman bangsa yang niscaya menjadi potensi konflik yang sangat besar. Masyarakat mulai kehilangan nilai-nilai pancasila yang menekankan multikulturalitas, kebhinnekaan dan nilai keadilan. Pancasila hanya menjadi hafalan masyarakat tanpa aplikasi nyata dalam kehidupan sehari-hari.Selain itu, munculnya kelompok garis keras sepeti ISIS yang kemudian bermunculan banyaknya kelompok/aliran garis keras di Indonesia. Hal tersebut sejalan dengan tujuan kelompok garis keras yaitu terjadi kerusuhan dengan menggunakan agama sebagai kedok. Kelompok ini membajak kepentingan-kepentingan agama agar bisa meraih kekuasaan. Justru, perilaku mereka yang mencoreng nilai-nilai agama menjadi buruk di mata masyarakat, apalagi mereka menggunakan cara-cara kekerasan.Prostitusi di Indonesia juga menjadi penyebab degradasi moral. Prostitusi di zaman sekarang ini tidak hanya sebagai suatu transaksi perdagangan melainkan prostitusi di perpolitikan Indonesia. Yang dimaksud dengan prostitusi perpolitikan adalah praktik jual beli jabatan dan otoritas. Masalah prostitusi yang seringkali terjadi di negara ini harus ditindak lanjuti oleh pihak berwajib dikarenakan prostitusi seksual sendiri mempunyai banyak dampak negatif, diantara lainnya adalah tersebarnya penyakit menular seperti HIV dan AIDS, rendahnya martabat pihak bersangkutan, dan degradasi moral. Namun, praktik prostitusi politik seperti korupsi dan suap-menyuap mempunyai dampak negatif dalam cakupan yang lebih besar. Banyak kasus pejabat negara berompi oranye yang membuktikan bahwa praktik kotor tersebut merugikan tidak hanya beberapa oknum, namun merugikan negara secara keseluruhan. Terlebih lagi, politik menjadi isu yang sangat sensitif untuk dibicarakan, seakan-akan masyarakat acuh oleh apa yang terjadi dalam birokrasi Indonesia sebenarnya.Kompas (4 Januari 2013) melansir informasi bahwa sepanjang 2012 setidaknya ada 104 peristiwa konflik sosial, bentrokan antarwarga merupakan pemicu konflik yang paling besar mencapai 33,6 persen. Hal ini di ungkapkan oleh Kasubdit Penanganan Konflik Sosial, Ditjen Kesbangpol, Kementerian Dalam Negeri Tri Jaladara. Dari informasi tersebut dapat dilihat bahwa degradasi Pancasila dalam masyarakat semakin banyak. Sebab masyarakat sendiri banyak yang bergerak menuju gerakan separatis dan mereka menganggap Pancasila hanya sebagai hafalan saja tapi tidak diaplikasikan secara nyata.Permasalahan ini jika tidak ditanggapi dengan serius maka dampaknya akan memperburuk moral bangsa Indonesia. Karena ideologi bangsa Indonesia sendiri adalah Pancasila. Ir. Soekarno mengatakan bahwa Pancasila adalah isi jiwa bangsa Indonesia secara turun-temurun yang sekian abad lamanya terpendam bisu oleh kebudayaan Barat, yakni Pancasila itu falsafah bangsa Indonesia. Pancasila menjadi landasan fundamental dalam kehidupan berbangsa. Pancasila juga sebagai alat pemersatu dalam hidup kerukunan bangsa, serta sebagai pandangan hidup untuk kehidupan manusia Indonesia sehari-hari. Dengan demikian, Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa harus diketahui oleh seluruh warga negara Indonesia.Falsafah adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang bersifat menyeluruh. Falsafah Pancasila dalam arti bersifat religius dan falsafah Pancasila dalam arti praktis. Pancasila bersifat religius artinya filsafat Pancasila mengenal adanya kebenaran mutlak yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus mengakui keterbatasan kemampuan manusia. Sedangkan falsafah Pancasila dalam arti praktis, digunakan sebagai pedoman hidup sehari-hari agar hidupnya dapat mencapai kebahagiaan lahir dan batin, baik dunia maupun akhirat. (1) falsafah Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, digunakan sebagai pegangan, pedoman atau petunjuk oleh bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila juga digunakan sebagai pedoman dalam memecahkan masalah di dalam negeri seperti politik, ekonomi, sosial dan budaya. Tanpa memiliki pandangan hidup maka bangsa Indonesia akan terombang-ambing dalam menghadapi persoalan yang pasti akan timbul, baik persoalan di dalam masyarakat sendiri, maupun persoalan dari bangsa-bangsa di dunia. (2) falsafah Pancasila sebagai dasar negara RI, Pancasila sebagai dasar negara harus kokoh dan kuat agar Indonesia tetap berdiri tegak dan juga harus tahan uji terhadap serangan-serangan baik secara internal maupun eksternal. Oleh karena itu, seluruh peraturan perundang-undangan RI harus sejiwa dan sejawa dengan Pancasila. Dan telah ditegaskan bahwa Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum yang ada di negara RI. (3) falsafah Pancasila sebagai jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia, Pancasila memberikan corak yang khas kepada bangsa Indonesia dan tidak dapat dipisahkan dari bangsa Indonesia, serta merupakan ciri khas yang dapat membedakan bangsa Indonesia dari bangsa yang lain. Walaupun bangsa Indonesia sejak dahulu bergaul dengan peradaban kebudayaan lain dan saat ini dipengaruhi unsur-unsur asing, namun kepribadian Indonesia tetap hidup dalam kepribadiannya sendiri.Maka berdasarkan urgensi pembahasan, diperlukan alternatif solusi yang efektif untuk meminimalisasi degradasi Pancasila. Beberapa solusi yang relevan antara lain: (1) diadakan reorientasi kepada masyarakat, (2) pemulihan kondisi keamanan dan ketertiban serta menindak tegas para pelaku gerakan separatisme, (3) saling menghormati, bermusyawarah serta melakukan rembug desa sebagai perekat bangsa. (4) keluhuran nilai pancasila yang mampu menyatukan keragaman etnik dan budaya masyarakat yang heterogen. (5) penyebaran informasi yang berlebihan serta membesar-besarkan isu terkait prostitusi, alangkah lebih baik jika media massa memberikan informasi yang lebih mendidik. Dari beberapa solusi tersebut, pendidikan karakter menjadi solusi yang diprediksikan paling efektif. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang bertujuan untuk membangun sebuah karakter seseorang untuk menjadi lebih baik dan pendidikan ini penting bagi setiap orang, yang dimana karakter tersebut lah yang akan mendominasi sifat atau identitas dari orang tersebut. Pendidikan karakter ada dua macam yaitu, pendidikan karakter internal dan pendidikan eksternal.Pendidikan karakter secara internal, didapatkan dari peran keluarga dalam mambentuk kepribadian atau karakter itu sendiri seperti peran ayah dalam keluarga, ibu, abang, dan lain sebagainya yang bisa menjadi contoh yang baik bagi karakter seseorang. Pendidikan karakter ini menjadi sangat penting karena sekitar 70% sifat dari keluarga akan manjadi contoh bagi sifat karakter orang dalam keluarga tersebut. Orang tua merupakan tameng dari pendidikan karakter tersebut, karena peran orang tua dalam mendidik anak sangat besar jika orang tuanya adalah bersifat religius maka besar kemungkinan karakter tersebut akan diturunkan kepada anaknya. Tentu orang tua akan mengajarkan hal yang identik dengan sifat dari kedua orang tuanya. Berbeda pula jika orang tuanya yang cerai maka akan berdampak pada karakter anak ataupun orang dalam keluarga tersebut, hal ini akan sangat berdampak negatif bagi karakter setiap orang dalam keluarga itu dan harus segera dihindari, jika kurang mendapatkan pendidikan karakter internal maka karakter eksternal yang harus di integritaskan.Pendidikan karakter ekternal, bisa didapatkan dibanyak tempat seperti pendidikan karakter disekolah, tempat bermain, tempat belajar bimbingan, atau bergaul bersama teman yang baik mengikuti organisasi dilingkungan sekolah dan masyarakat dan lain sebagainya. Pendidikan karakter eksternal juga penting didapatkan oleh setiap orang, karena jika mereka tidak mendapatkan pendidikan karakter secara internal maka pendidikan eksternal ini lah yang akan menjadi wadah dan sebagai tempat untuk meningkatkan kualitas karakter yang baik dari orang tersebut. Maka dari itu sangat penting untuk memilih mentor atau pembimbing yang akan mengajarkan tentang pendidikan karakter dan mengerti karakter setiap orang yang hal tersebut bisa didapatkan dalam pendidikan karakter di sekolah yang biasanya dilakukan oleh guru BK untuk merubah karakter seseorang menjadi lebih baik. Karakter seseorang yang keras maka perlu mentor atau pembimbing yang bisa meredamnya karena jika sama-sama keras tidak akan terjadi perubahan karakter orang tersebut.Pada saat sekarang ini di zaman modern bahaya globalisasi dan modernisasi sangat mempengaruhi karakter pribadi seseorang. Dimana efek dari globalisasi dapat membuat seseorang dapat cenderung ke hal yang negatif atau pun ke hal yang positif tergantung kita yang memfilternya, bila cenderung ke negatif maka perlu batasan-batasan yang bisa menghindarkan diri kita dari hal tersebut dalam konteks ini dapat dipelajari dengan menerapkan nilai-nilai pendidikan karakter. Nilai-nilai pendidikan karakter diantaranya yaitu, (1) religius: Merupakan sikap yang memegang teguh perintah agamanya dan menjauhi larangan agamanya, seraya saling menjaga kerukunan dan kesatuan antar berbeda pemeluk agama dan keyakinan; (2) Jujur: Merupakan sikap yang selalu berpegang teguh untuk menghindari keburukan dengan menjaga perkataan, perasaan dan perbuatan untuk selalu berkata dengan benar dan dapat dipercaya; (3) Toleransi: Perilaku yang cenderung menghargai perbedaan dengan mengurangi mempertajam perselisihan karena perbedaan. Perilaku ini diwujudkan dengan penerimaan atas perbedaan, dan keragaman sebagai suatu kekayaan bangsa Indonesia untuk mewujudkan fungsi toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; (4) Disiplin: Tindakan yang menjaga dan mematuhi anjuran yang baik dan menghindari dan menjauhi segala larangan yang buruk secara konsisten dan berkomitmen; (5) Kerja keras: Mencurahkan segala kemampuan dan kemauan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan sesuai hasil yang diharapkan dengan tepat waktu dan berorientasi lebih pada proses dan perkembangan daripada berorientasi pada hasil; (6) Kreatif: Selalu mencari alternatif penyelesaian suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang. Ini dilakukan untuk mengembangkan tata cara atau pemahaman terhadap suatu masalah yang sudah ada terlebih dahulu melalui pendekatan sudut pandang yang baru; (7) Mandiri: Meyakini potensi diri dan melakukan tanggung jawab yang diembannya dengan penuh percaya diri dan berkomitmen; (8) Demokratis: sikap dan tindakan yang menilai tinggi hak dan kewajiban dirinya dan orang lain dalam kedudukan yang sama. Ini dilakukan untuk memberikan pengakuan secara setara dalam hak berbangsa seraya merawat kemajemukan bangsa indonesia; (9) Rasa ingin tahu: suatu sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui apa yang dipelajarinya secara lebih mendalam dan meluas dalam berbagai aspek terkait, (10) Tanggung Jawab : Menyadari bahwa segala hal yang diperbuat oleh dirinya bukan hanya merupakan tugas dan kewajiban bagi dirinya sendiri, namun juga keluarga, lingkungan, masyarakat, negara, dan Tuhan Yang Maha Esa.Perubahan tersebut bisa terjadi dikarenakan faktor-faktor tertentu yang cenderung bisa mempengaruhi karakter dari seseorang. Karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan yang kurang baik akan menghasilkan karakter yang kurang baik pula. Dari situ lah kita berfikir bagaimana jika lingkungan disekitar buruk. Maka tentu akan berakibat negatif pula. tentu kita perlu mengatasi hal tersebut. Dengan adanya pendidikan karakter sangat berguna bagi seseorang untuk memilah mana yang baik baginya dan mana yang buruk. Dalam konteks indonesia, pendidikan karakter bangsa Indonesia telah dikembangkan sejak negeri ini berdiri, yang dimana presiden RI pertama yaitu Bapak Ir. Soekarno yang mengemukakan gagasan tentang pentingnya pembentukan karakter bangsa. Ketika itu nilai karakter yang diutamakan adalah penghargaan atas kemerdekaan, kedaulatan, dan kepercayaan pada kekuatan sendiri. Mengingat pembentukan karakter bersifat spiritual dan kontekstual, maka ia bisa berubah berdasarkan maksud dan tujuannya, dengan berbasis pada nilai dan macam-macam norma. Daftar RujukanBudiningsih, A. 2004. Pembelajaran Moral (Berpijak pada Karakteristik Siswa dan Budayanya). Jakarta : Rineka Cipta.Gunawan, H. 2012. Pendidikan Karakter, Konsep dan Implementasi. Bandung:Alfabeta.https://nasional.kompas.com/News/Nasional (online), (diunduh pada tanggal 01 Februari 2018)Kusuma, D. 2007. Pendidikan Karakter; Strategi Mendidik Anak di Zaman. Jakarta: Grasindo.Zuriah, N. 2007. Pendidikan Moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan. Jakarta: Bumi Aksara
Pengaruh Penggunaan Metode Sosiodrama Terhadap Motivasi Belajar PPKn Kelas XI di MAN 2 Malang
AbstrakSosiodrama adalah metode pembelajaran bermain peran untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial, permasalahan yang menyangkut hubungan antara manusia. Sosiodrama digunakan untuk memberikan pemahaman dan penghayatan akan masalah-masalah sosial serta mengembangkan kemampuan siswa untuk memecahkannya. Dengan menggunakan metode sosiodrama diharapkan mampu untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran PPKn.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) tingkat motivasi belajar PPKn terhadap siswa yang tidak diajar menggunakan metode sosiodrama di MAN 2 Malang; (2) tingkat motivasi belajar PPKn terhadap siswa yang diajar menggunakan metode sosiodrama di MAN 2 Malang; (3) ada/tidaknya pengaruh penggunaan metode sosiodrama terhadap motivasi belajar PPKn siswa di MAN 2 Malang.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen. Sampel diambil dari populasi siswa kelas XI yang berjumlah 100 siswa, peneliti menggunakan 100 siswa sebagai sampel. Berdasarkan desain eksperimen, siswa kelas XI dibagi menjadi dua kelas yaitu kelas kontrol dan eksperimen yang masing-masing berjumlah 50 siswa. Sumber data diperoleh dari angket. Penelitian ini menggunakan uji-t atau uji hipotesis yang akan mengungkap ada tidaknya pengaruh penggunaan metode sosiodrama terhadap motivasi belajar PPKn.Hasil penelitian menunjukkan Motivasi belajar kelas kontrol di MAN 2 Malang yaitu cukup. Hal ini dapat ditentukan dengan perolehan skor angket yakni terdapat 96% (48 siswa) memiliki motivasi belajar cukup dan 4% (2 siswa) memiliki motivasi belajar tinggi. Sedangkan hasil penelitian motivasi belajar kelas eksperimen di MAN 2 Malang yaitu tinggi. Hal ini dapat ditentukan dengan perolehan skor angket yakni terdapat 64% (32 siswa) memiliki motivasi belajar tinggi, 32% (16 siswa) memiliki motivasi belajar cukup, dan 4% (2 siswa) memiliki motivasi belajar sangat tinggi.Berdasarkan hasil analisis dari perhitungan uji hipotesis Variabel Metode Sosiodrama (X) terhadap Variabel Motivasi Belajar (Y) dapat diketahui bahwa tidak ada pengaruh penggunaan metode sosiodrama terhadap motivasi belajar PPKn kelas XI di MAN 2 Malang. Dari hasil perhitungan diketahui thitung 0,286 kemudian dikonsultasikan dengan ttabel pada taraf signifikan 0,05 = 1,684 (thitungBerdasarkan penelitian ini, peneliti memberikan saran diantaranya: (1) Bagi Sekolah, karena motivasi belajar itu sangat dibutuhkan maka guru dapat lebih meningkatkan penerapan metode pembelajaran kepada siswa di sekolah. Dengan tidak adanya pengaruh penggunaan metode sosiodrama terhadap motivasi belajar, maka guru dapat memberikan program-program yang bisa meningkatkan penggunaan metode pembelajaran; (2) Bagi Guru, guru PPKn harus lebih aktif dalam mengelola kelas agar penggunaan metode pembelajaran dengan motivasi belajar siswa meningkat; (3) Bagi prodi PPKn, hasil penelitian ini diharapkan menambah bahan pustaka/referensi dalam perkuliahan yang berhubungan dengan motivasi belajar; (4) Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan lebih mampu mengembangkan hasil penelitian ini dengan metode yang berbeda serta menambah data yang diperoleh agar hasil penelitian lebih maksimal. Hasil penelitian ini diharapkan menambah bahan pustaka/referensi dalam perkuliahan yang berhubungan dengan kedisiplinan.Kata Kunci: Sosiodrama, Motivasi Belajar, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraa
Allometric Equations for the Biomass Estimation of Calophyllum inophyllum L. in Java, Indonesia
Reliable data on CO2 quantification is increasingly important to quantify the climate benefits of forest landscape restoration and international commitments, such as the Warsaw REDD+ Framework and Nationally Determined Contributions under the Paris Agreement. Calophyllum inophyllum L. (nyamplung as a local name or tamanu tree for the commercial name) is an increasingly popular tree species in forest landscape restoration and bioenergy production for a variety of reasons. In this paper, we present allometric equations for aboveground biomass (AGB), belowground biomass (BGB), and total above- and belowground biomass (TABGB) predictions of C. inophyllum L. Data collection was carried out twice (2017 and 2021) from 40 trees in Java, Indonesia. Allometric equations using the natural logarithm of diameter at breast height (lnDBH) and ln height (lnH) for biomass prediction qualified the model’s fit with statistical significance at 95% of the confidence interval for AGB, BGB, and TABGB predictions. The results showed that the linear models using both lnDBH and lnH were well fit and accurate. However, the model with lnDBH is more precise than the model using lnH. Using lnDBH as a predictor, the R2 values were 0.923, 0.945, and 0.932, and MAPE were 24.7, 37.0, and 25.8 for AGB, BGB, and TABGB, respectively. Using lnH as a predictor, the R2 values were 0.887, 0.918, and 0.898 and MAPE were 37.4, 49.0, and 39.8 for AGB, BGB, and TABGB, respectively. Consequently, the driven allometric equations can help accurate biomass quantification for carbon-trading schemes of C. inophyllum L
Plurality In Academic Tradition: The Case of Lecturers? Educational Background at the Graduate School Syarif Hidayatullah State Islamic University (UIN) Jakarta from 1982-2014
This book initially was a research which is completed and
submitted to the Graduate School Syarif Hidayatullah State Islamic
University (UIN) Jakarta, as a partial fulfillment of the requirements for
the degree of Master of Islamic Education.
The idea of the book originated primarily from a reality that
diversity occurs in all educational levels. For the UIN cases, the
phenomena of diversity can be noticed from its academic community;
whether it comes from different social or religious organizations,
educational background, cultural or ethnicity, countries or even
religions. Hence, as a unique institution which produces a distinct
tradition of Islamic studies, the UIN provide lecturers with different
scholarly tradition; either graduated from the Eastern, Western or local
universities.
To that end, I performed a research and focused merely on
lecturers? educational background to understand further how they dealt
with differences, in particular concerning the impact on students? work. I
presumed that lecturers struggled with internal conflicts since the
background has different educational tradition. The Western, Eastern
and local educational traditions have been explored further in this book
chapter to help readers understand these different entities respectively.
By exploring the notion of collaboration which closely related
with conflict resolution, I ended up with a conclusion that the East-West
tension nowadays have been melted, although not entirely. I argued that
lecturers? collaboration not only can be traced through the intrapersonal
or interpersonal aspects. The need to combined those two levels with an
additional aspect, the epistemological dimension; become substantial.
This statement can be verified since the epistemological dimension of
lecturers? educational background becomes the basis on both side to
work collaboratively. This general finding indicated that two salient
factors that support the process of lecturers? collaboration, including
their background as a pesantren graduates and their participation to
promote the Indonesian Islam. By having a team-work, they construct
the idea to promote the moderate culture amid academic community.
With this finding, I reaffirm a general statement which declared the
Graduate School UIN Jakarta as a smelting place. My hope that these
findings will give a positive contribution on discussion toward research
on East-West relationship, diversity and equity, lecturers? collaboration,
and professional communities. In view of that, I realized that this research to some degree is a
collaboration of so many people whom I cannot mention their names one
by one proportionally in this acknowledgment. For this reason, I would
like to express my sincere thanks and gratitude to all of people who have
assisted me in completing my study and in particular in finishing this
research.
First of all, I would like express my deepest gratitude to the
Graduate School, which delivers to the Rector of UIN Jakarta, Prof. Dr.
Dede Rosyada, MA; the Director of the Graduate School, Prof. Masykuri
Abdillah, MA; and to both Chairpersons of Doctoral and Master degree,
Prof. Didin Saepudin, MA and JM Muslimin, PhD. My deepest gratitude
also delivers to my thesis supervisor, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA
whose sharp criticism and insightful comments have made this work
much better that I could predict before. The choice of the Graduate
School as the focus of this study also owes much to his constructive
comments on my earlier proposal. Thanks to share the idea and
encourage me during every phase of my study.
My deepest appreciation also goes to all my lecturers who have
shared their knowledge and experiences during their lectures and
personal conversation with me. I owe much to Prof. Dr. Azyumardi Azra,
MA; Prof. Suwito, MA; Prof. Iik Arifin Mansurnoor, MA; Prof. M. Atho
Mudzhar, MSPD; Prof. Huzaemah Tahido Yanggo, MA; Prof. Yunan
Yusuf, MA; Prof. Zainun Kamaluddin Fakih, MA; Prof. Abuddin Nata,
MA; Prof. Abdul Mujib, MA; Prof. Murodi, MA; Fuad Jabali, PhD;
Yusuf Rahman, PhD; Muhammad Zuhdi, PhD; Dr. Abd. Chair; Ahmad
Luthfi Fathullah, MA; Asep Saepudin Jahar, PhD; Ayang Utriza Yakin,
PhD; Ahmad Dardiri, MA; Suparto, PhD; Usep Abdul Matin, PhD; Dr.
Gazi, MA. I also like to extend my gratitude to Prof. Quraish Shihab,
MA; Prof. A. Malik Fadjar, MA; Prof. Ahmad Aziz Dahlan, MA; Prof.
Zaitunah Subhan, MA; Prof. Yunasril Ali, MA; Prof. Nasaruddin Umar,
MA; Prof. Husni Rahim, MA; Bambang Suryadi, PhD; Yeni Ratna
Yuningsih, PhD; Nurlena Rifa?i, PhD; Didin Syafrudin, PhD; Din Wahid,
PhD; Ali Munhanif, PhD; and other lecturers. Their patience, feedback,
and comments were remarkable in guiding my study. To have had the
opportunity to learn from each of them is my privilege.
My deepest gratitude also goes to Dr. Shirley Baker from Alliant
University, California, USA; Prof. Dr. Margareth Gfrerer from DAAD
Scholarship Program, Germany; and Prof. Andi Faisal Bakti, MA; who
taught me the way to create a good academic writing. Although in this
study the author is still a beginner, yet this thesis become the first work
which developed in English language. I am grateful to them for allow me to join in their classes as a Master student representative among the
Doctoral candidates of the Graduate School in which I learned so much.
In addition, I would like to give my sincere thanks and
appreciation to PPIM UIN Jakarta. Special thanks deliver to the
directors: Saiful Umam, PhD; Dadi Darmadi, PhD; and Ismatu Ropi,
PhD; who provide lots of events related with the research on Islamic
Studies, such as seminars, conferences and even references in which I
collected the materials needed for writing this thesis. Other thankfulness
delivers to STFI Sadra with similar events in Islamic philosophy. Special
thanks go to Pak Dani Nur Fajar and Kak Rintis Mulya; who always
inform and delivers invitations for those events. By participating those
events I gain lots of information to enhance my knowledge in Islamic
studies.
Not less importantly, I also owe much to Bu Zulfa Indira
Wahyuni, M.Psi; as the secretary of my thesis supervisor. Thanks for
facilitate and arrange schedules for my meeting with the professor. I also
owe much to the Research Library of the Graduate School, from which I
collected the materials needed for writing this thesis. Special thanks to
Bu Alfida, Pak Imron and Mas Rofiq. Furthermore, the completion of
this study would not be possible without support and help from members
of the Graduate School. I am really indebted to Mas Arief, Mas Adam,
Kak Vhemmy, Kak Ima, Kak Nisa, Kak Haula Noor, Kak Windy, Pak
Nanang, Mas Jayadi, Mas Ikin, Mas Tony, Pak Anin, Mpok Siti, Pak
Rodian, Pak Muhali, Pak Opih, Pak Teguh, Pak Zul, Pak Nisan, Pak
Odang, Pak Rojalih (alm.), and other members of the Graduate School.
My gratitude goes next to Yayasan Al-Mas?udiyah, Sukabumi. I
would like to express my heartfelt gratitude to all the asa>ti>dh and santris
at the Pesantren Miftahul Huda Al-Mas?udiyah, Rindu Alam, Sukabumi.
A place where I was raised and educated with the religious sciences. A
place with a tranquility which stimulate me to learn more about ad-di>n
and pursue further for a higher degree in learning. My deepest gratitude
delivers to Abah Didi (KH. Syeikh Ibnu Mas?ud Rd. Didi Djajadinata);
Drs. Ade Suwardi Mufti Al-Huda; Ibu Hetty Munigar; H. Abdulrohman;
Drs. KH. Mustafidin Ahmad; Ust. H. Abdul Madjid, SM, MM.Pd (alm.);
Ust. H. Rahmat Saleh, S.Ag.
In particular, to my former college, STAI Al-Mas?udiyah; as a
place for me to express my notion in which I dedicated with. The
completion of this study would not be possible without the support from
the member of this institution. I would like to express my sincere
appreciation and thanks to Ust. H. Ahmad Bisri Musthafa, MA; Ust. Dr.
Ahmad Izzan, MA; Ust. Ade Djuanda, M.Ag (alm.); Ust. Drs. Soheh Abdurahman, M.Pd; Ibu Euis Andriani, M.Pd; Ust. Hoerudin, MA; Ust.
Zarqoni Heryanto, SE; Ust. Ariza Ajiwinata, SHI; Umi Khaeratunnisak,
S.Ag; Ust. Yudi Ruswandi, S.Pd.I; Ust. Asep Rijwan Suhendi, S.Pd.I;
Ust. Entis Sutisna, SHI; and other academic staff and lecturers. Other
thankfulness also delivers to Pesantren Al-Bayyinah, Muara Sanding,
Garut; as the first place at Indonesia that introduced to my family and
stayed before transferal to Sukabumi. My deepest gratitude delivers to
Abah Anwar (KH. Anwar Musaddad); Abah Yusuf (KH. Yusuf
Tauzirie); and to their family KH. Cecep Abdul Halim, Lc and Ibu Hj.
Lilis Nurjanah. My gratitude also delivers to Jemaah Salam Singapore
and Jemaah Al-Kautsar Batam; specially for mama Haslinda, uncle
Jailani, uncle Hamzah, uncle Jamaludin, and to all jemaahs. Thanks to
become my family in this world and the next. Their support and pray
from the beginning to the end of my study was extraordinary.
My thanks also deliver to my tutors and friends in the foreign
languages: to Mr. Harris, Herr Sonny, Yusuf Altuntas abi, Ibrahim
Terzioglu abi, Mr. Arthur Gubaydullin, Monsieur Abdelaziz Abbaci, Mr.
Abo Bakr Chalifa Amtar Ali, Simona Sienkiewicz, Jameela Musorma,
Farzona Saidova, Siti Maleekah, Siti Jannah. To my classmates, from the
Doctoral candidates in the year 2014/2015: Bu Rosdiana, Bu Rubiyanah,
Bu Yuke, Bu Suryani, Bu Nikmah, Bu Husnul, Bu Nisa, Bu Yanti, Pak
Mahmud, Pak Ayyub, Pak Hanafi, Pak Farhan, Pak Marsaid, Pak
Fauzani, Pak Afwan, Ust. Azmi, Pak Yoyo, Pak Udin, Pak Isa, Pak
Uksan, Ust. Istikhori, Pak Yusri, Pak Wari, Pak Pendeta (Hannas), Pak
Budi, Pak Fauzani, Pak Asep, Pak Syam, Pak Ayatullah, Pak Mujahid,
Pak Iman, Pak Julian, Dahrul Abi, Mas Sofi, Abg Zakaria, Abg
Zulfarizal. To my classmates from Master candidates in the year
2014/2015: Liana, Nurul, Mbk Izzah, Meta, Bu Zuraida, Bu Junaidah,
Zulfa, Arliana, Kak Khalilah, Syifa Abla, Mbk Yuni, Abg Sahlan, Abg
Amir, Abg Akmal, Bro Oka, Bro Nawir, Bro Tamam, Abg Harahap, Bro
Alwi, Bro Fauzan, Ust. Hizbullah, Bro Fawzi, Ust. Atho, Ust. Yunal,
Ust. Daud, A Anwar, A Komar, Bg Afif, Ust. Aziz, Bg Alfiandri, Bg
Zulkifli, Bro Imam, Ust. Sirojuddin, Bg Luthfi, Ust. Anang, and the
others. To my friends in the women quite room (WQR): Bu Nurlaila, Bu
Ainal, Bu Fadhlina, Bu Ida Musdafia, Kak Deffi, Unni Yeni, Kak Roza,
Bu Wulan, Kak Rifqy, Mutiara. Also other friends whom I recognized:
Pak Ali Halidin, Pak Idrianto Faishal, Pak Paulus Tasik Galle, Pak
Appriliantoni, Pak Daminto, Pak Yahya Agil, Pak Saparudin, Mas Adzan
Noor, Bu Any Widayatsari, Kak Wina Tresna Rahayu, Bu Umi Kulsum,
Bu Nuraini, Kak Ngainurrahmah, Abg Zain, Bro Yudril, Bro Fadhil, Bro
Hafidz, A Sansan, Mas Ainun, Kak Dewi Sutrisna, Kak Sonia, Abg Ikhwan, Bg Iwan, Bro Rof?il, Abg Mas?adi, Teh Rika, Vhya, Hasna, A
Fahmi, Bu Ipah, Bro Rama, Bro Adit, Mas Adeni, and other friends
whom I cannot mention their names one by one proportionally. Special
thanks to all of them who has helped me differently formulate my ideas
and enjoy the difficult time I had to face during the completion of my
study in Jakarta.
Not less importantly, also to those who act as my teacher and
friends: Pak Mu?min, Ust. Anshor, Pak Umar, Mr. Iksan, Pak Irawan,
Pak Hasan, Pak Zulfis, Pak Umar Syam, Pak Irvani, Pak Amir, Pak Asep
Saepulloh, Romo Gregorius Soetomo, Abg Irham; whose valuable
criticism and comments have helped me shape the focus of my study.
Also to Buya Ihsan Ahmad and to my Libyan friend?s, Bro Othman
Eltalis; who helped me to read and retranslate by using an appropriate
Arabic language for the abstract of this thesis. Thanks for taking the
time amid the bustle of activities. Thanks for the kindness and
encouragement.
To the one and my only sister, Masayu Fatimah Azzahrah Bte
Masagos Zainudin, I owe you many things for your sincere support and
help during the completion of this study. Thanks for having a great
discussion about our study while keep on accompany my loneliness in
Jakarta. Thanks to become the best sister and I promise to spend my
time more with you again after finishing the writing.
Above all, my deepest respect and gratitude go to my big family
at Singapore, the family of Masagos and Ibrahim. The most importantly
to my parent, Masagos Zainudin Bin Masagos Mohamad and Selina Bte
Ibrahim who always motivate with their loves and pray for my life. Their
decision to put me and my sister to learn and lives more at Sukabumi is
the best selection to gain more worthy life provision. Both affection for
us is one of the sublime realities of worldly life, therefore, filial gratitude
to them is a most urgent and tireless duty. Thanks for sacrifice your life
for both of us. Jazakalla>h ah}san al-jaza>?!
All praise is due to the Lord, the Almighty, who gives the
breath, the strength ? in truth everything ? to this humble servant. He
indeed, who taught me and assisted me in this life journey.
Alh}amdulilla>hi h}amdan kathi>ra>
A Chronicle of Indonesia’s Forest Management: A Long Step towards Environmental Sustainability and Community Welfare
Indonesia is the largest archipelagic country in the world, with 17,000 islands of varying sizes and elevations, from lowlands to very high mountains, stretching more than 5000 km eastward from Sabang in Aceh to Merauke in Papua. Although occupying only 1.3% of the world’s land area, Indonesia possesses the third-largest rainforest and the second-highest level of biodiversity, with very high species diversity and endemism. However, during the last two decades, Indonesia has been known as a country with a high level of deforestation, a producer of smoke from burning forests and land, and a producer of carbon emissions. The aim of this paper is to review the environmental history and the long process of Indonesian forest management towards achieving environmental sustainability and community welfare. To do this, we analyze the milestones of Indonesian forest management history, present and future challenges, and provide strategic recommendations toward a viable Sustainable Forest Management (SFM) system. Our review showed that the history of forestry management in Indonesia has evolved through a long process, especially related to contestation over the control of natural resources and supporting policies and regulations. During the process, many efforts have been applied to reduce the deforestation rate, such as a moratorium on permitting primary natural forest and peat land, land rehabilitation and soil conservation, environmental protection, and other significant regulations. Therefore, these efforts should be maintained and improved continuously in the future due to their significant positive impacts on a variety of forest areas toward the achievement of viable SFM. Finally, we conclude that the Indonesian government has struggled to formulate sustainable forest management policies that balance economic, ecological, and social needs, among others, through developing and implementing social forestry instruments, developing and implementing human resource capacity, increasing community literacy, strengthening forest governance by eliminating ambiguity and overlapping regulations, simplification of bureaucracy, revitalization of traditional wisdom, and fair law enforcement
