1,721,091 research outputs found

    Metodologi penelitian/ Thantawi

    No full text
    69 hal.: 30 cm

    DELIMA DALAM PERSPEKTIF CORAK ‘ILMI (TELA’AH KITAB TAFSIR AL-JAWAHIR THANTAWI JAUHARI)

    Get PDF
    ABSTRAK DELIMA DALAM PERSPEKTIF CORAK ‘ILMI (TELA’AH KITAB TAFSIR AL-JAWAHIR THANTAWI JAUHARI) Oleh: Nassorudin Helmi Skripsi ini membahas tentang Ar-Rumman dalam Al-Qur‟an dengan menggunakan tafsir Al-Jawahir yang ditulis oleh Thantawi Jauhari. Rumman atau buah delima merupakan salah satu tumbuhan yang Allah SWT sebutkan dalam al-Qur‟an sebanyak 3 kali. Ini menunjukan bahwa buah delima pasti mempunyai keistimewaan dan manfaat yang sangat banyak sekali. Salah satu kandungan yang terdapat dalam buah delima adalah antioksidan yang sangat tinggi, selain itu juga ada tannin, asam elagik dan flafonoid yang tak kalah penting bahwa semua zat itu sangat bermanfaat bagi manusia. Buah ini sangat dekat dengan likungan kita akan tetapi sangat sedikit orang yang mengetahui kahasiatnya. Maka dari itu penulis mengangkat judul skripsi yaitu “DELIMA DALAM PERSPEKTIF CORAK „ILMI (TELA‟AH KITAB TAFSIR AL-JAWAHIR THANTAWI JAUHARI)”. penelitian ini merupakan penelitian Library Research dan menggunakan metode analisis deskriptif dan analisis kontekstual, dengan tafsir Ilmy sebagai pisau analisis. Sumber data primer yang digunakan adalah al-Qur‟an dan tafsir Al-Jawahir. Sedangkan sumber data skunder yang penulis gunakan adalah buku-buku, jurnal, penelitian terdahulu dan media-media lain yang berkaitan dengan penelitian. Adapun hasil penelitian ini adalah Thantawi Jauhari memberikan penjelasan ayat-ayat tentang morfologi secara komprehensif. Beliau menjelaskan mengenai fungsi daun dan proses fotosintesis pada tumbuhan dalam Surah al-An‟am ayat 99. Thantawi Jauhari juga mengatakan ayat ini merupakan landasan kuat terhadap ilmu Botani. Kemudian di surah ar-Rahman Thantawi Jauhari menafsirkan bahwa delima merupakan buah-buahan sekaligud sebagai obat. Kata Kunci: Delima, ‘Ilmi, Kesehatan

    LEBAH DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN: Kajian atas Pemikiran Thantawi Jauhari

    Get PDF
    Dalam menafsirkan kata auwha, Thanthawi mengartikan sebagai ilham atau naluri yang diberikan Allah kepada lebah, kata auwha mengandung dua pengertian. Pertama; wahyu yang kita pahami yaitu wahyu Kedua; wahyu di sini memiliki pengertian ilham. Lebah juga banyak mengandung manfaat bagi manusia dan lebah juga dapat diumpamakan seperti kehidupan orang mukmin karakteristik penafsiran Thantawi Jauhari yaitu bercorak tafsirilmi dan memperlihatkan ma’na mufradat, kemudian berpindah ke arti ijmal (global) dan akhirnya penafsiran tafshili (uraian terperinci). Thanthawi Jauhari meletakan tiga pokok kebutuhan umat Islam dalam tafsirnya, yaitu: hukum, ahlak dan ilmu keajaiban alam dengan menitik beratkan kepada ilmu pengetahuan modern dan keajaiban-keajaiban seluruh ciptaan Allah swt, termasuk manusia. penafsiran Thantawi Jauhari dipengaruhi oleh rasio keilmuan sehingga dapat disimpulkan bahwa tafsir ini bercorak ilmiah (al-laun al-ilmy)

    Konsep berpikir menurut Thantawi Jauhari: Analisis kata Fakkara dan Dabbara dalam karyanya Al-Jawahir fi Tafsir Alquran Al-Karim

    Get PDF
    Skripsi ini membahas tentang konsep berpikir menurut Thantawi Jauhari dengan menganalisis kata fakkara dan dabbara dalam karyanya Al-Jawahir fi Tafsir Alquran Al-Karim. Alquran secara jelas mengandung perintah untuk berpikir yang dijelaskan di beberapa ayat. Thantawi Jauhari menafsirkan ayat-ayat berpikir dengan menggunakan pendekatan sains, merincikan ayat-ayat kauniyah dengan menggunakan data-data ilmiah yang berbeda dari Tafsir-tafsir pada masa sebelumnya. Sehingga penulis tertarik untuk mengkaji kitab Al-Jawahir fi Tafsir Alquran Al-Karim dari aspek penafsiranya terhadap ayat-ayat berpikir khususnya pada kata fakkara dan dabbara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui metodologi penafsiran Thantawi Jauhari, mengetahui penafsiranya terhadap kosakata fakkara dan dabbara, serta mengetahui perbandingan makna kata fakkara dan dabbara dalam Tafsirnya Al-Jawahir fi Tafsir Alquran Al-Karim yang dari keseluruhanya akan terbentuk konsep berpikir menurut Thantawi Jauhari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yang mengarah kepada penjelasan deskriptif analisis yakni dengan mengklasifikasikan makna dan perbandingan kata fakkara dan dabbara untuk selanjutnya diuraikan dan dianalisis implikasinya terhadap konsep berpikir. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui riset kepustakaan. Untuk mengetahui konsep berpikir menurut Thantawi Jauhari dalam penafsiranya, terkhusus dalam makna kata fakkara dan dabbara, skripsi ini memberikan kerangka teori dengan bermula pada konsep umum tentang berpikir menurut para ahli, mulai dari definisi, objek berpikir, hingga macam-macam berpikir. Kemudian menjelaskan konsep berpikir dalam Alquran dengan menggunakan kitab mu’jam mufahrosy li al-fadzil Quran karangan Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, barulah kemudian menjelaskan mengenai konsep berpikir konsep berpikir menurut Thantawi Jauhari secara utuh. Penjelasan terfokus pada penafsiran Thantawi Jauhari terhadap makna dan perbandingan kata fakkara dan dabbara yang melahirkan sebuah konsep berpikir. Hasil penelitian ini, diketahui bahwa konsep berpikir menurut Thantawi Jauhari adalah bahwa kesempurnaan berpikir terhadap kandungan Alquran menuntun manusia berpikir tentang kejadian nyata di alam raya baik di langit maupun di bumi, supaya manusia meyakini akan keberadaan Allah yang begitu nyata dan menjadikan manusia semakin dekat dengan Sang Penciptanya

    IMPLEMENTASI CORAK ILMI PADA PENAFSIRAN SURAT YASIN AYAT 80 (STUDI MUQARAN TAFSIR AR-RAZI DAN THANTAWI JAWHARI)

    Get PDF
    ABSTRAK Skripsi ini membahas mengenai implementasi corak ilmi pada penafsiran surat Yasin ayat 80 (studi muqaran Tafsir al-Razi dan al-Jawahir Thantawi Jawhari). Di kalangan mufassir, perbedaan pendapat menjadi sunnatullah dan tidak dilarang selama pendapat mereka tidak bertentangan dengan menggunakan kaidah-kaidah dasar tafsir yang telah ditetapkan. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan mengantar ulama-ulama Islam kepada perbedaan pandangan terhadap perkembangan tafsir ilmi. Skripsi ini menjelaskan bagai mana al-Razi dan Thantawi menafsirkan satu ayat yang sama dengan penafsiran yang berbeda. Dalam skripsi ini hanya terdapat satu ayat yaitu ayat 80 surat Yasin yang menjadi objek pengkajian. Penelitian ini bersifat penelitian kepustakaan (library research) dan metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi muqaran. Data-data yang terkait dengan studi ini dikumpulkan melalui studi pustaka dengan pendekatan analisis data kualitatif. Penelitian ini disajikan dengan teknis analisis deskriptif, yaitu dengan merujuk pada al-Qur‟an sebagai data primer dan buku-buku literatur yang berkaitan sebagai data sekunder. Adapun hasil penelitian ini adalah Fakhruddin al-Razi dan Thantawi Jawhari memiliki pandangan yang berbeda mengenai teori dan kaidah yang digunakan dalam menafsirkan surat Yasin ayat 80 yaitu al-Razi cenderung menafsirkan ayat ini sebagai amsal atau perumpamaan dan tidak banyak uraian ilminya, merupakan perumpamaan bagi seorang manusia yang terdiri dari jasad yang fisik dan ruh metafisik meliputi jasad. Menurut al-Razi ruh ini seperti energi panas yang terus menyala meskipun manusia tidak mengetahui bagaimana bentuk dari energi panas yang ada dalam diri manusia. Thantawi Jawhari menafsirkan surat Yasin ayat 80 ini yaitu pohon hijau yang bisa mengeluarkan api melalui proses fotosintesis yang terjadi pada tumbuhan. Allah memiliki kemampuan yang tidak terbatas, masalah partikel badan manusia yang terpencar sangat mudah untuk dikumpulkan, dan manusia bisa dihidupkan kembali. Sebagaimana Allah berkuasa untuk menghidupkan kembali manusia yang telah mati pada saat hari kebangkitan, api yang muncul dari metode perapian kayu bakar juga atas izin-Nya. Kata Kunci : Corak ilmi, al-Qur‟an, muqaran, al-Razi, Thantawi Jawhari

    PERBANDINGAN KONSEP RIBA DAN BUNGA BANK MENURUT YUSUF QARADHAWI DAN MUHAMMAD SAYYID THANTAWI SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PERBANKAN SYARIAH

    Get PDF
    Banks exist to be the power of human economy. Problems arise related to the banking system which has narrowed to interest, it has become a controversial topic of discussion. This led to differences of opinion among contemporary scholars such as Yusuf Qaradhâwi and Muhammad Sayyid Thantawi. This difference in opinion regarding the status of interest can affect public interest in conducting transactions with banks. The purpose of this study is to analyze the legal status of bank interest according to Yusuf Qaradhâwi and Muhammad Sayyid Thantawi and to find out its impact on the market share of Islamic banking in Indonesia. The research method used is a qualitative method with literature study. Based on the research results, the law of interest according to Muhammad Syyid Thantawi is not a prohibited riba. The istinbâth ahkam method used by Thantawi in determining the status of bank interest is Al-Qur'an, hadith, qiyas, and mashlahah mursalah. According to Yusuf Qaradhâwi, the law of interest is the same as usury. The istinbâth ahkam method used by Yusuf Qaradhâwi in determining the status of interest is Al-Qur'an, hadith, Ijma 'ulama, qiyas, and fiqh rules. Thantawi's thinking has implications for the paradigm of public thinking that the Islamic financial industry still tends to be conventional. Qradhawi's Opinion This needs to be supported considering the large number of Muslims in Indonesia, this is expected to change the paradigm of thinking of the public to conduct transactions with Islamic banks, as to increase the market share of Islamic banking in Indonesia. Keywords : Riba, Interst, Yusuf Yusuf Qaradhâwi, Muhammad Sayyid Thantawi and Market Share

    KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM DALAM AL-QURAN STUDI KOMPERATIF ANTARA THANTAWI JAUHARU DENGAN BUYA HAMKA

    Get PDF
    Abstrak Penelitian ini dilatar belakangi dengan adanya permaslahan Ayat-Ayat Konservasi Sumber Daya Alam Prespektif Thantawi Jauhari Dan Buya Hamka. Permsalahan yang dia angkat dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah penafsiran Perspektif Thantawi Jauhari dan Buya Hamka Dalam Ayat Sumber Daya Alam dan Bagaimna cara kita dalam mengkonsversi sumber daya alam dalam kehidupan Kita, Tujuan dari penelitia ini adalah untuk Mengetahui penafsiran Perspektif Thantawi Jauhari dan Buya Hamka Dalam Ayat Konservesi Sumber Daya Alam dan Mengetahui pentingnya cara mengkonsversi sumber daya alam dalam kehidupan Manusia, metode yang di gunakan dalam penelitian ini mengunakan metode kualitatif, dengan menggunakan jenis penelitian Riset kepustakaan (library research) dan kajiannya disajikan secara deskriptif dan analitis. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitain ini yakni deskriptif, analisis dan interpretasi. Setelah melihat dari semua pembahasan di atas maka peneliti menyimpulkan bahwasanya Sumber Daya Alam secara signifikan dengan upaya-upaya pelaksanaan pengelolaan sesuai dengan konsep konservasi dalam Islam yang diawali dengan menjaga, kestabilan atmosfer, menjaga kestabilan rantai dan jejaring makanan, menjaga siklus hidrologi, melakukan reboisasi dan menjaga kesuburan lahan, dan juga melindungi kawasan konservasi khusus. Upaya yang bisa dilakukan untuk mendukung upaya konservasi adalah dengan melahirkan kebijakan dari pemerintah tentang konservasi dengan menyeiringkan visi dan misi konservasi yang diharapkan akan mampu mengubah pola pikir masyarakat dengan mengintegrasikan melalui pendidikan formal maupun informal membangun kesadaran mulai dini sesuai dengan penafsiran yang dilakukan oleh Thanwi Jauhari dan Buya Hamka dalam Ayat-Ayat Konservasi Sumber Daya Alam yang telah di paparkan di atas tadi. Kata kunci : Ayat-Ayat, Sumber daya Alam, Thantawi Jauhari, Buya Hamk

    Kedudukan hukum bunga bank menurut Yusuf Al-Qaradhawi dan Sayyid Thantawi

    Get PDF
    Semua kalangan ulama sepakat bahwa riba adalah haram (dilarang). Yusuf Al-Qaradhawi mengatakan bunga bank yang diambil oleh penabung di bank adalah riba yang diharamkan, sedangkan Sayyid Thantawi mengatakan bunga yang tersebut tidak termasuk riba selagi saling menguntungkan dan atas dasar suka sama suka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Dalil yang digunakan Yusuf Al - Qaradhawi dan Sayyid Thantawi tentang bunga bank; 2) Metode istinbath yang digunakan Yusuf Qardhawi dan Sayyid Thantawi tentang; 3) Persamaan dan Perbedaan pendapat Yusuf Qardhawi dan Sayyid Thantawi tentang bunga bank. Penelitian ini berangkat dari pemikiran bahwa perbedaan pendapat dikalangan ulama (Ikhtilaf) tentang suatu masalah dimungkinkan karena perbedaan penggunaan dalil baik dalam Al-Quran dan Sunnah, perbedaan dalam memahami dalil Al-Quran dan sunnah, juga perbedaan penggunaan metode istinbath hukum, perbedaan dalam menanggapi kaidah ushul, dan perbedaan pendapat tersebut karena bedanya domisili atau rikhlah ilmiah ulama. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (Liberary Reseach) yakni menggunakan sumber data primer dan sekunder, metode yang di gunakan adalah deskriptif-analitis, yaitu digunkan untuk menggambarkan dan memaparkan tentang bunga bank. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: 1) Dalil yang digunakan Yusuf Al-Qaradhawi yaitu surat Al-Baqarah ayat 278-279 2, dan Hadits Riwayat Imam Muslim r.a , dan Sayyid Thantawi berangkat dari surat An-Nisa ayat 86, dan Hadits Riwayat Imam Bukhori no 01 dan Imam Muslim no 1907. 2) Metode yang digunakan Yusuf Al-Qaradhawi menggunakan Al-Qawa’id as-Syarriyyah Al-Kulliyah, mempercayai dan mempertimbangkan maqasid syari’ah dalam perumusan hukum Islam.; sedangkan Sayyid Thantawi menggunakan metode maslahah yang dipentingkan dari pada nas yang bertujuan menjaga maqasid syari’ah darruriyat yang mu’tabarah mengenai bunga bank; 3) Persamaanya pada titik ukur tentang keharaman riba, yang mana bunga bank itu riba (haram). Sedangkan perbedaanya yaitu Yusuf Al-Qaradhawi mengharamkan seseorang mengambil atau membayar bunga bank karna sebab : a) Bunga tersebut haram dan riba sebagaimana Al-Baqarah ayat 278-279; b) Harta tersebut tidak layak untuk dizakati. Sedangkan menurut Sayyid Thantawi membolehkan bunga yang ditentukan oleh bank untuk nasabah karna sebab: a) Jika diberi penghormatan balaslah penghormatan itu dengan yang lebih; b) Selagi transaksi itu dilakukan secara adil, jujur dan adanya ijab Kabul serta tidak mengandung unsur monopoli; c) Keuntungan untuk bank dan untuk kemajuan perekonomian suatu negara
    corecore