38 research outputs found
TINGKAT SERANGAN PENYAKIT VSD (Oncobasidium theobromae ) PADA LIMA KLON KAKAO DI DUSUN LAWANI KABUPATEN LUWU TIMUR
Vascular Streak Dieback (VSD) yang disebabkan oleh cendawan Oncobasidium theobromae adalah salah satu penyakit penting pada tanama kakao. Percobaan ini bertujuan untuk: (1) mengetahui tingkat serangan VSD pada beberapa klon kakao lokal, (2) mengetahui beberapa metode untuk mencegah penyakit VSD dipertanaman. Percobaan ini berlokasi di pertanaman kakao di dusun Lawani, Kab. Luwu Timur, pada bulan Maret - April 2017 Percobaan ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Pengamatan tingkat serangan VSD pada lima klon kakao lokal pada lahan 1 ha dengan 1000 populasi tanaman kakao. Penentuan pohon sampel setiap klon dilakukan secara diangonal dengan lima pohon sampel setiap titik diagonal. Pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan perhitungan tingkat serangan VSD pada tanaman kakao. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Hasil percobaan menunjukkan bahwa tingkat serangan VSD tertinggi pada klon MCC 02 dan terendah pada klon M05. Tingkat ketahanan 5 klon kakao berturut - turut adalah M-05, BB-01, MCC-01, THR, MCC 02.
 
Tingkat Serangan Hama Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella Snellen ) pada Lima Klon Kakao Lokal
Salah satu penyebab turunnya produksi dan produktivitas kakao nasional disebabkan serangan hama penggerek buah kakao (PBK), Conopomorpha cramerella (Snellen). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui daya tahan klon kakao lokal terhadap serangan hama PBK , (2) Mengetahui beberapa metode untuk mencegah hama PBK dipertanaman. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Luas lahan adalah 1 ha untuk 2 lokasi yang berbeda. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan cara area sampling.Penentuan pohon sampel setiap klon dilakukan secara diangonal dengan lima pohon sampel setiap titik diagonal. Pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan perhitungan tingkat kerusakan buah kakao oleh PBK. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat serangan hama PBK tergolong sedang. Klon yang paling tahah adalah klon MCC 02 (8%) dan klon yang paling rentan adalah klon BB (16 %).Beberapa cara pengendalian yang dilakukan berupa pemangkasan, pemupukan,panen teratur dan sanitas
IDENTIFIKASI CENDAWAN PADA BIJI KAKAO KERING DITINGKAT PETANI
Rendahnya kualitas biji kakao diakibatkan oleh proses penanganan pasca panen yang tidak optimal ditingkat petani sehingga berbagai jenis kerusakan yang dapat timbul pada biji kakao. Salah satunya adalah beberapa jenis cendawan yang dapat menyerang biji kakao pascapanen. Hal ini akan berpengaruh terhadap nilai jual biji kakao. Antisipasi kerusakan perlu dilakukan penanganan untuk meminimalisir tingkat kerusakan biji kakao. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui jenis - jenis cendawan yang menyerang dan karakteristik biji kakao kering yang terserang cendawan. Percobaan ini dilakukan pada bulan Mei–Agustus 2018. Pengambilan sampel dilakukan pada 3 wilayah (Bone, Soppeng dan Luwu) Provinsi Sulawesi-Selatan. Metode percobaan secara deskriptif dengan pengamatan secara langsung pada biji kakao, isolasi cendawan menggunakan media DG 18 dan Identifikasi cendawan berdasarkan Pitt and Hocking (1997). Hasil percobaan menunjukkan bahwa jenis cendawan yang ditemukan adalah Aspergillus sp., Penicillium sp. dan Fusarium spp
PEMBERDAYAAN PETANI DALAM PENGGUNAAN AGENS HAYATI UNTUK PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT SAYUR DI KAB. ENREKANG
Penggunaan agens hayati sangat memungkinkan untuk diterapkan bagi petani sayur dataran tinggi karena mikroba antagonis mudah dikembangkan dengan media dari limbah pertanian, mudah diaplikasikan, dan biayanya jauh lebih murah dibandingkan dengan pestisida sintetik. Melalui program pemberdayaan masyarakat ini akan mengedukasi petani tentang pengembangan agens hayati dalam skala petani untuk mengurangi penggunaan pestisida sintetik. Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi petani sayur yang mandiri dalam pengendalian hama penyakit tanaman, meningkatkan keterampilan petani dalam produksi agens hayati, menerapkan teknologi produksi dan aplikasi agens hayati skala petani di pertanaman sayur. Metode pelaksanaan kegiatan ini adalah Penyuluhan, Pelatihan, Demonstrasi Pendampingan dan pembinaan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa petani sangat antusias belajar dan mempraktekan cara produksi dan aplikasi agens hayati dipertanaman sayuran. Petani telah dapat memperbanyak agens hayati dengan media kompos kemudian diaplikasikan langsung ke pertanaman
PERBANDINGAN PENGGUNAAN PUPUK CAIR URIN KAMBING DENGAN PUPUK NPK MAJEMUK TERHADAP PRODUKSI TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao. L)
Survei Pertumbuhan dan produksi tanaman kakao terhadap pengunaan pupuk cair urin kambing dengan penggunaan NPK majemuk bertujuan mengetahui perbandingan pengunaan pupuk cair urin kambing dengan pupuk padat NPK majemuk yang digunakan petani dalam upaya meningkatkan produksi tanaman kakaonya. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode Purposive sampling, yaitu memilih secara sengaja petani yang menggunakan pupuk urin kambing dan NPK majemuk. Cara pengambilan sampel yaitu melakukan wawancara pada petani yang menggunakan pupuk urin dan pupuk NPK majemuk. Jumlah Petani sampel ada 6 orang (3 orang menggunakan pupuk urin kambing, 3 orang yang menggunakan pupuk NPK majemuk). Selain teknik wawancara, dilakukan survei lokasi untuk melihat secara langsung pertanaman kakao yang menggunakan ke dua pupuk tersebut dengan melihat berat biji per buah kakao dan bobot buah kakao. Hasil yang diperoleh menunjukkan petani yang menggunakan pupuk cair urin kambing produksi buah kakao lebih meningkat dengan jumlah biji dalam buah lebih banyak, bobot biji lebih berat, dibandingkan dengan petani yang menggunakan Pupuk NPK majemuk.
 
Konservasi Kupu-kupu Papilio demoleus Linn. (Lepidoptera: Papilionidae) dengan Teknologi Makanan Buatan
The purpose of the research is to study and increase of lime butterfly (Papilio demoleus L.) population used artificial diets, then avoid endangered species status of butterfly in nature. For the future, result of research giving more information about mass rearing techniques of P. demoleus butterflies using artificial diet. P. demoleus larvae and pupae were collected from pomelo (Citrus maxima L.) in the yard of communities in the Pattunuang Resort, Maros district, South Sulawesi. The pomelo leaves as the main food source of P. demoleus larvae taken from the farm around Bontomate\u27ne village, Pangkep district, South Sulawesi. The experimental activities were conducted in the Pest Laboratory, Pests and Plant Diseases Department, Faculty of Agriculture, Hasanuddin University from February to April 2019. The treatment for P. demoleus larvae were: P0 = fresh pomelo leaves (control); P1 = 35% red bean flour + 35% pomelo leaves + 30% vitamin, water agar, and other ingredients; P2 = 25% red bean flour + 25% soybean flour + 25% pomelo leaves + 25% vitamin, water agar, and other ingredients. Ten 2nd instar of P. demoleus larvae were placed in the plastic containers (diameter = 8 cm, height = 6 cm) covered with gauze, respectively. The fresh pomelo leaves given in whole form, while artificial diet in gel form given as much as 5 g for each larvae in the container. Every day the container was cleaned from food and larvae faeces. The experiments were arranged in Randomized Block Design with four treatments and ten replications. The result was showed P0 is the highest number increasing body weight of P. demoleus larvae. The second highest result increasing P. demoleus body weight was showed by P2 since 2nd instar (0.74 g) until four instar (0.87 g). Observation body length of P. demoleus, P0 was showed the highest number increasing the parameter. The second highest result of body length was showed at P2 started 2nd instar (0.24 cm) through four instar (1.72 cm). Findings at sex ratio and survival, P0 was showed the highest number adult of P. demoleus (8 individual), P2 (3 individual) and P1 (1 individual), respectively. The highest sex ratio of female P. demoleus resulted by P0 (3 individual), P2 (1 individual), respectively. The conclusion is : P2 made from red bean flour + soy bean flour + leaves of pomelo increasing body weight and length of P. demoleus larvae. P1 (red bean flour + leaves of pomelo) treatment was showed the lowest number in development of P. demoleus.
Pemberdayaan Masyarakat Tani dalam Input Teknologi Agribisnis Cabe di Kab. Tanatoraja
Musim panen cabai yang menyebabkan harga cabai sangat murah oleh karena itu petani membutuhkan teknologi penanganan pasca panen cabai. Peningkatan nilai jual produk cabai dapat ditingkatkan dengan mengolah cabai segar menjadi bubuk. Program ini sangat memungkinkan untuk diterapkan bagi petani cabai karena Cabai yang dikembangkan adalah sistem budidaya ramah cabai lokal. Teknologinya mudah diterapkan, penggunaan alat sederhana dan biaya lebih murah. Melalui program ini telah mengedukasi petani tentang pentingnya input teknologi agribisnis dalam pengolahan komersial cabai skala petani sebagai sumber pendapatan tambahan. Program ini bertujuan untuk memberdayakan petani secara mandiri dalam penanganan pasca panen cabai dan pengolahan yang bernilai jual, meningkatkan keterampilan petani dalam produksi cabai bubuk, menerapkan pengembangan teknologi agribisnis cabai. Demonstrasi dan Pengembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 5 petani perempuan terampil dalam pengolahan cabai segar menjadi cabai bubuk, pengemasan dan pemasaran.Musim panen cabai yang menyebabkan harga cabai sangat murah oleh karena itu petani membutuhkan teknologi penanganan pasca panen cabai. Peningkatan nilai jual produk cabai dapat ditingkatkan dengan mengolah cabai segar menjadi bubuk. Program ini sangat memungkinkan untuk diterapkan bagi petani cabai karena Cabai yang dikembangkan adalah sistem budidaya ramah cabai lokal. Teknologinya mudah diterapkan, penggunaan alat sederhana dan biaya lebih murah. Melalui program ini telah mengedukasi petani tentang pentingnya input teknologi agribisnis dalam pengolahan komersial cabai skala petani sebagai sumber pendapatan tambahan. Program ini bertujuan untuk memberdayakan petani secara mandiri dalam penanganan pasca panen cabai dan pengolahan yang bernilai jual, meningkatkan keterampilan petani dalam produksi cabai bubuk, menerapkan pengembangan teknologi agribisnis cabai. Demonstrasi dan Pengembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 5 petani perempuan terampil dalam pengolahan cabai segar menjadi cabai bubuk, pengemasan dan pemasaran
EVALUASI MODEL PENGERINGAN LAPISAN TIPIS JAGUNG (ZEA MAYS L) VARIETAS BIMA 18 DAN BIMA 16
Drying is one of the most important things done in the post-harvest process. This research aims to determine the pattern of decreasing water content in hybrid corn varieties Bima 18 and Bima 16, as well as to obtain an appropriate mathematical model of thin layer drying. The method used is the trial fitting method with the Newton Model, Henderson and Pabis Model, Page Model, Midilli et al. Model, and the two-term exponential model. Drying of thin layers of hybrid corn Bima 18 and Bima 16 at temperatures of 40°C and 50°C showed an exponential pattern. The most suitable corn drying model for the Bima 18 and Bima 16 varieties and at temperatures of 40°C and 50°C is the Midilli et.al model and the two-term exponential model. Awm2-4e of 40°C is R2=0.9986 and the Bima 16 variety has R2=0.9961, while the Two Term Exponential model value for the Bima 18 variety at a temperature of 50° is R2 = 0.9988 and the Bima 16 variety has R2 = 0.9938
PENERAPAN TEKNOLOGI PASCAPANEN UNTUK MENINGKATKAN NILAI JUAL CABAI DI TANATORAJA
Cabai adalah komoditi unggulan yang memiliki nilai jual yang cenderung stabil. Penumpukan buah cabai saat musim panen akan mengakibatkan buah cepat busuk karena karakteristik buah cabai memiliki kandungan air yang tinggi. Cabai yang mudah rusak menyebabkan fluktuasi harga sangat tinggi, begitu pula dengan kelebihan produksi pada saat panen raya mengakibatkan harga akan turun drastis. Oleh karena itu, dibutuhkan ilmu pengetahuan dalam penanganan pascapanen cabai agar cabai bernilai jual tinggi, baik dalam bentuk buah cabai segar maupun dalam bentuk cabai olahan. Melalui penanganan pascapanen yang baik dan benar produk pertanian dapat bertahan lama, serta memudahkan pendistribusian dan memperluas pemasaran. Program ini telah diterapkan teknologi pascapanen cabai di tingkat petani. Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi petani cabai dalam pengelolaan cabai segar, meningkatkan keterampilan petani dalam produksi cabai bubuk, dan aplikasi pengemasan yang berlabel. Metode pelaksanaan kegiatan ini adalah penyuluhan, demonstrasi dan pendampingan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa terdapat 5 wanita tani yang terampil dalam mengemas buah cabai segar dan mengolah menjadi cabai bubuk dalam kemasan yang menarik. Mitra telah menerapkan introduksi teknologi pascapanen dalam menghasilkan cabai bubuk. Untuk pemasaran dilakukan proses pendampingan, khususnya mengenal pasar sasaran dalam penjualan cabai bubuk
PERKECAMBAHAN, PERAKARAN DAN PERTUMBUHAN HIPOKOTIL BENIH KOPI ARABIKA VARIETAS CATUAI PADA APLIKASI BERBAGAI KONSENTRASI GIBERELLIN ACID (GA3)
The mass propagation of coffee plants requires seeds with high-viability characterized by good germination and germination growth. One way to increase the viability of coffee seeds is the provision of Gibberellic acid (GA3). This study aims to determine the effect of several concentrations of GA3 on the viability of Catuai variety of Arabica coffee. The experiment used a completely randomized design (CRD). Treatment with Control and 5 levels of GA3 concentration, namely 0 (Control), 100, 200, 300, 400 and 500 ppm respectively where coffee seeds were soaked for 24 hours before being germinated. The results showed that the concentrations of 300 and 200 ppm GA3 showed the best results for germination percentage and rate Germination, however, did not appear to have a significant effect on the root and hypocotyl length
