1,720,971 research outputs found

    PENGARUH PERBEDAAN TINGKAT DOSIS “PUPUK ORGANIK CAIR ‘BIO SUGIH’ DALAM MEDIA KULTUR TERHADAP PERTUMBUHAN POPULASI Skeletonema costatum Greville

    No full text
    Skeletonema costatum Greville merupakan salah satu jenis pakan alami dari golongan fitoplankton yang paling banyak digunakan sebagai pakan alami benur udang penaeid maupun larva ikan-ikan laut. Selain itu, alga ini mempunyai kandungan gizi yng cukup tinggi, yaitu protein 59%, lemak 8% dan karbohidrat 30%, ukurannya yang relative kecil (4 – 15 µ) sangat sesuai dengan ukuran lebar bukaan mulut larva udang stadia zoea. Skeletonema costatum Greville yang dikultur menggunakan pupuk organik cair ‘Bio Sugih” menunjukkan pertumbuhan populasi yang baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan populasi Skeletonema costatum Greville yang dikultur menggunakan pupuk organik cair ‘Bio Sugih” 1 ml/L menghasilkan jumlah sel sebesar 9.043,333,33 sel/ml yang masih lebih baik apabila menggunakan pupuk organik cair ‘Bio Sugih” dengan dosis 0,25 ml/L yang hanya menghasilkan jumlah sel sebesar 3.146.700 sel/ml.  Kata Kunci : pupuk organic cair, media kultur, Skeletonema cistatu

    MEKANISME POMPA NATRIUM KALIUM (Na+ - K+) PADA OSMOREGULASI IKAN BERTULANG SEJATI (TELEOSTEI)

    No full text
    Ikan sebagai  organism yang hidup dalam media air sangat dipengaruhi oleh tekanan osmotic tubuhnya, agar proses fisiologis di dalam tubuh berjalan normal, maka diperlukan suatu tekanan osmotic yang relative konstan. Terjadinya osmoregulasi pada ikan adalah akibat adanya gradient konsentrasi ion-ion )terutama Na+ dan K+) antara intraseluler dan ekstraseluler, sehingga melalui pompa Na+ - K+ ikan akan melakukan transport aktif ion Na+ dan K+.untuk mempertahankan konsentrasi ion dalam tubuhnya sehingga fungsi fisiologis organ-organ tubuhnya dapat berjalan normal dan transport aktif ini akan mengakibatkan terjadinya konservasi energi dalam tubuh ikan. Kata Kunci : Ikan, Osmoregulasi, Pompa Natrium-Kaliu

    PEMANFAATAN DAUN SIRIH (PIPER BETLE) UNTUK MENANGGULANGI EKTOPARASIT PADA IKAN HIAS TETRA

    No full text
    Daun sirih dapat digunakan sebagai obat alami maupun buatan karena mengandung chlavicol yang mempunyai sifat bakterasidal dan fungisidal pada bakteri dan  jamur. Selain itu daun sirih dapat menanggulangi serangan ekloparasit pada ikan hias tetra salah satunya adalah ikan tetra. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi daun sirih terhadap kelulushidupan ikan neon tetra terhadap serangang ektoparasit dan konsentrasi optimal yang diberikan sebagai pengobatan terhadap serangan ktoparasit.Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratories dengan rancangan dasar acak lengkap dan ikan uji yang digunakan adalah ikan hias tetra. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi daun sirih yang berbeda mempunyai pengaruh sangat nyeta (P (  0,01) terhadap Kelulushidupan ikan hias tetra dan padakonsentrasi  daun sirih 8,3 ppt (99,40%) paling efektif untuk mengurangi ektoparasit pada ikan hias tetra. Kata kunci : Daun Sirih, Ikan hias Tetra Ektoparasit dan Kelulushidupan

    PENGARUH PERBEDAAN PERSENTASE PENAMBAHAN MINYAK JAGUNG DALAM EMULSI KUNING TELUR TERHADAP PERTUMBUHAN LARVA IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus Burchell)

    Full text link
    Larva ikan lele yang dihasilkan dari kegiatan pembenihan memerlukan pakan yang sesuai dengan fase hidupnya. Larva ini memerlukan pakan dariluar tubuh ketika cadangan kuning telur pada tubuhnya habis. Oleh karena itu, pemberian pakan dari luar mutlak diperlukan untuk kelangsungan. Salah satu alternative pakan yang bisa diberikan adalah emulsi kuning telur sebab kuning telur mengandung nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan larva ikan lele. Menurut Khairuman dan Amri (2002), pakan berbentuk cairan atau emulsi baik juga diberikan kepada ikan dalam fase larva. Pakan yang berbentuk emulsi contohnya emulsi yang terbuat dari kuning telur ayam. Sedangkan emulsi kuning telur yang diperkaya dengan minyak jagung selain dapat menimbulkan bau yang enak pada pakan juga akan meningkatkan kualitas pakan yang dapat mendukung pertumbuhan ikan yang optimal (Djajasewaka, 1990). Penggunaan minyak jagung sebagai bahan pengkaya emulsi kuning telur digunakan sebab minyak jagung mengandung asam lijoleat sebesar 56.3% (Sy\tiv\ckney, 1990) serta mempunyai titik cair rendah yaitu 17.0 – 20.0oC (Djajasewaka, 1990). Minyak jagung mengandung asam-asam lemak essensial (asam lemak oleat, asam lemak linoleat dan asam lemak linolenat) yang dapat meningkatkan pertumbuhan ikan melalui pembentukan hormone pertumbuhan. Oleh karena itu, penambahan minyak jagung menjadi suatu yang bisa dipertimbangkan dalam pemberian pakan larva ikan lele dumbo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan minyak jagung dengan persentase berbeda pada emulsi kuning telur terhadap pertumbuhan larva ikan lele dumbo serta untuk mengetahui respon pertumbuhan ikan lele dumbo terhadap persentase penambahan minyak jagung dalam emulsi kuning telur. Kata Kunci : Minyak, jagung, kuning telur, lele dumb

    The Influence of Different Curcuma zanthorrhiza Dosage To The Growth and Survival Rate Of Nile Tilapia (Oreochromis niloticus)

    Full text link
    The research was held in 14th July  – 20th August 2018. Located in Brackish water Laboratory, Fisheries Faculty of Pekalongan University. The aim of this research is to find out the impact of curcuma to increase the growth and survival rate of Nile Tilapia. The treatment that be implemented was extending dosage of curcuma flour (gram)  in 1 kg of artificial  fish feed, such as followed : treatment A 0 ml ( control), B  9 g  of curcuma, C 12 g  curcuma and D 15 g curcuma. The method used was the Completely Randomized Design Method consisting of 4 treatments and 3 replications. The result which had given from the research was treatment D showed the highest growth.  The average of weight of fish which can be reached by every treatment A, B, C, D as described 3,31 g, 4,77 g, 6,8 g, and 8.04 g, The analysis of result showed that all treatments have different effects for growth of fish. The water quality during the research such as temperature between 27-290 C, pH revolve 7,1-7,3 and the salinity was 16-17 ppt which mean all parameters was supported to fish growth

    PENGARUH KOMBINASI TEPUNG IKAN DAN TEPUNG JEROAN BANDENG YANG BERBEDA PADA PAKAN BUATAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN DAN PERTUMBUHAN JUVENIL UDANG WINDU (Penaeus monodon)

    Full text link
    AbstrakKomponen  biaya produksi terbesar yang diserap oleh pakan, adalah  50-70 %  dari total biaya produks.i Bahan baku  tepung jeroan bandeng  diharapkan dapat  menekan  biaya produksi  dan limbah jeroan bandeng sebagai salah satu bahan alternaif dalam pembuatan pakan. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode eksperimen laboratorium menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan masing-masing dengan 3 ulangan. Masing-masing perlakuan menggunakan  kombinasi tepung jeroan bandeng  dan tepung ikan. Perlakuan A (0% ; 60%), B (20% ; 40%), C (40% ; 20%) dan D (60% ; 0%).  Pakan diberikan sebanyak 4 kali sehari yaitu pada pukul 08.00, 13.00, 17.00 dan 23.00 sebanyak 8% dari bobot biomassa udang.  Materi yang digunakan adalah juvenile udang windu dengan rata-rata bobot biomasa  0,75-1,29  g.  Juvenil udang dipelihara dengan kepadatan 30 ekor dalam ember dengan volume air 30 L dan salinitas 25 ppt. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan buatan berbentuk crumble dengan kombinasi persentase tepung jeroan bandeng dan tepung ikan  yang berbeda berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap RGR, EPP, dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap PER, tapi tidak berpengaruh nyata (P˃0,05) terhadap SR juvenile udang windu. Perlakuan B memberikan pertumbuhan relatif tertinggi yaitu 4,90%/hari. Nilai rasio efesiansi protein dan efisiensi pemanfaatan pakan tertinggi diperoleh dari perlakuan B sebesar 1,69 dan 56,96%. Kelulushidupan udang windu berkisar antara 83,33-87,78%. Kisaran kualitas air masih dalam kondosi yang layak untuk media budidaya udang windu. Berdasarkan penelitian dapat dwasimpulkan bahwa penggunaan substitusi 20% tepung jeroan bandeng dalam pakan buatan memberikan pertumbuhan dan kelulushidupan udang windu terbaik. Kata Kunci: Tepung Jeroan Bandeng, Penaeus monodon, Efisiensi Pakan, Pertumbuhan, Kelulushidupan.*) Corresponding Author [email protected] AbstractTotal production cost component of 50-70% was absorbed by the food. Accordingly, to reduce the cost of tiger shrimp production to try of waste utilization as an material alternative for feed substitution. The experiment method was used completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replicates each. Treatment has different ratio Innards flour (%) and Fish flour (%). Treatment A (0% : 60%), B (20% : 40%), C (40% : 20%) and D (60% : 0%). The Feed given 4 times a day which was at 08.00, 13.00 17.00 and 23:00 as much as 8% of the weight of the shrimp biomass. The material used juvenile tiger shrimp with an average weight of 0.75 - 1.29 g biomass. Juvenile tiger shrimp maintained at a density of 30 head in a bucket of water with a volume of 30 L and salinity 30 ppt. The results showed that the artificial feeding crumble-shaped with a different substitution milkfish innards flour has a high significantly (P<0.01) on the RGR, EPP, and the PER had significantly effect (P<0.05), and but had no significantly effect (P˃0.05) on SR juvenile shrimp. Value of relative growth rate was highest in treatment B 4.90%/day. The best of protein efficiency ratio and feeding efficiency was obtained in treatment B 1.69 and 56.96%. Survival rate ranged of tiger shrimp between 83.33 - 87.78%. Range of water quality was still in decent condition for shrimp cultivation media. Based on the research, it could be concluded that using substitution of 20% innards milk fish flour in the feed artificial provides the best growth and survival rate of shrimp. Keywords: Innards Milkfish Flour, Penaeus monodon, feed  efficiency, growt , survival rate

    PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN MANGROVE (Rhizophora mucronata) DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN BANDENG (Chanos chanos)

    Full text link
    The purpose of this study was to identify the effect of giving Rhizophora mucronata mangrove leaf extract at different doses and to get the best dose in increasing the growth of milkfish. The research method was a completely randomized design with 4 treatments and 3 replications. The treatments used were: A, (control feed dose), B (administration of mangrove leaf extract at a dose of 1.5 mg/kg feed), C (administration of mangrove leaf extract at a dose of 1.7 mg/kg feed), D administration of mangrove leaf extract at a dose of 1.9 mg/kg of feed). The results showed that the highest growth rate was obtained in treatment C with a dose of 1.7 mg/kg of feed mangrove leaf extract, with an increase in biomass of 2.39 gr while feeding was carried out for 30 days and weighing was carried out on the last day. The lowest growth was obtained in treatment A with control feed doses resulting in average growth of 1.5 gr. Survival during the study results obtained 100% with a growth F value greater than F table 1% and 5%. The range of water temperature during the study was between 30°C, the water pH ranged from 7.5-8.1, DO ranged from 4.2 to 4.5 ppm and the water salinity during the study was 15-20 ppt. The result of statistical analysis showed that the treatments has significant influence to the growth of fish with F count greater than F table. Key words : Milkfish, Rhizophora mucronata Mangrove Leaf Extract, Growt

    Peningkatan Pertumbuhan dan Efisiensi Pemanfaatan Pakan Ikan Nila Salin (Oreochromis niloticus) dengan Penggunaan Ekstrak Terong Asam (Solanum ferox L.)

    Full text link
    Ikan nila salin (O. Niloticus) merupakan komoditas perikanan yang saat ini banyak dibudidayakan masyarakat di Indonesia. Upaya untuk meningkatkan produksi ikan nila salin adalah penggunaan prebiotik ekstrak terong asam dalam pakan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh penggunaan ekstrak terong asam dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan, dan efisiensi pemanfaatan pakan ikan nila salin serta untuk mengetahui dosis ekstrak terong asam dalam pakan yang memberikan pertumbuhan dan efisiensi pemanfaatan pakan terbaik. Metode yang digunakan adalah metoda eksperimen laboratorium berdasarkan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Sebagai perlakuan adalah dosis penggunaan ekstrak terong asam dalam pakan buatan, yaitu B (10 ml/kg pakan), C (20 ml/kg pakan), D (30 ml/kg pakan) dan E (40 ml/kg pakan), dan A (0 ml/kg pakan), sebagai kontrol. Pakan diberikan 3 kali sehari sebesar 5% dari biomassa ikan per hari. Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan nila salin berukuran sekitar 3 ± 0.55 cm, berat individu 0.05 ± 0.63 g. Ikan uji ini ditebar dengan kepadatan 1ekor per l kedalam wadah  yang berisi air 5 L, dengan salinitas 20 ppt. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah pertumbuhan dan efisiensi pemanfaatan pakan ikan nila salin. Data dianalisis menggunakan analisis ragam dan digunakan Uji Tukey untuk mengetahui dosis ekstrak terong asam dalam pakan yang paling efektif untuk meningkatkan pertumbuhan. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan ekstrak terong asam dengan dosis berbeda berpengaruh sangat nyata (P≤0.05) terhadap pertumbuhan dan efisiensi pemanfaatan pakan ikan nila salin. Pertumbuhan dan efisiensi pemanfaatan pakan ikan nila salin tertinggi diperoleh pada perlakuan dosis pemberian ekstrak terong asam sebesar 30 ml/kg pakan.Kata kunci: Efisiensi Pakan, Ekstrak Terong Asam, Nila Salin, Pertumbuhan

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore