61 research outputs found

    PERBANDINGAN KONSEP DASAR PENDIDIKAN ANTARA DEWEY DAN ASY-SYAIBANI

    No full text
    This writing tries to compare between the concept of education brought by Dewey, as a modern western educator and asy-Syaibani as an Islamic educator. Both have different background and basic foundation when they formulate the basic concept of education. Therefore, there are some substantial differents and similarity between them. In general, both thoughts can be used to develop the education in Indonesia

    Konsep Munasabah dan Signifikasinya Dalam Penafsiran Al-Qur'an

    No full text
    Artikel ini membahas konsep munasabah dan signifikansinya dalam penafsiran Al-Qur’an. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena yang terkait dengan konsep munasabah dalam tafsir Al-Qur'an dengan menggunakan studi literatur kepustakan(library research). Munasabah merupakan konsep kunci dalam penafsiran Al-Qur'an yang berfungsi untuk menghubungkan keterkaitan antar ayat, sehingga memungkinkan penafsir menggali makna yang lebih dalam dan akurat. Dapat disimpulkan bahwa melalui pemahaman munasabah, penafsir dapat mengidentifikasi berbagai jenis keterkaitan, seperti tematik, retorika, dan kontekstual, yang membantu mengurangi kesalahpahaman dan memperkuat koherensi ajaran. Banyak penafsir juga menekankan bahwa prinsip munasabah sangat relevan dalam menghadapi tantangan zaman modern. Misalnya, penafsiran yang responsif terhadap isu-isu sosial, politik, dan ekonomi saat ini diperlukan agar ajaran Al-Qur'an dapat diterapkan secara efektif dalam konteks yang berubah

    Kompetensi guru menurut imam al-Ghazali

    No full text
    Kajian ini akan mendedahkan pandangan Imam Al-Ghaz?l? mengenai kompetensi guru. Pandangan beliau mengenai kompetensi guru sering dikesan bercorak tasawuf yang mementingkan kompetensi morality, tetapi apakah beliau menafikan kompetensi profesionaliti dan sosial guru? Pada sisi lain, pandangan al-Ghazali mengenai guru merupakan pandangan klasik, sebab beliau hidup di era klasik. Sehubungan dengan ini, muncul pertanyaan baru apakah pandangan al-Ghazali mengenai komptensi guru masih relevan dan bermanfaat bagi peningkatan kompetensi guru semasa? Untuk menjawab dua permasalahan tersebut, maka akan digunapakai pendekatan falsafah (philosophical approach) dan pendekatan sejarah (historical approach) serta kaedah analisis yang terdiri daripada analisis kandungan (content analysis), sintesis dan reflektif. Manakala sumber datanya terdiri dari sumber primer dan sumber sekunder. Hasil kajian ini dapat dirumuskan bahawa1) pandangan al-Ghazali mengenai kompetensi guru mencakupprofesionaliti, moraliti dan sosial. Semua komptensi ini mesti menyatu dalam pribadi guru. 2) Pandangan al-Ghazali mengenai kompetensi guru masih relevan dan bermanfaat bagi pengembangan kompetensi guru semasa samada yang berhubungkait dengan pengembangan kompetensi professionaliti, moraliti mahupun kompetensi sosialnya. Semua kompetensi ini masih perlu dipertahankan dan dibina dalam jiwa setiap guru

    KODE ETIK PENDIDIK MENURUT IBNU JAMAAH

    No full text
    This study - through content and descriptive analyses - seeks to explore Ibn Jama'ah thought about his ethical code educators in Tazkirah al-Sami'. To that end, the book Tazkirah al-Sami' will be discussed in depth. The study obtained that the code of ethics educators in Tazkirah al-Sami' generally consists of three categories, namely; The first, code of personal ethics educator, consists of 12 chapters sequentially explain the relationship between educator and God (verse 3); glorify science (3 verses); ascetic (4 verses); the use of science (paragraph 2); away from the action and place reprehensible (fourth paragraph); implement and support the symbols of religion (4th paragraph); maintaining practice sunnat (4 verses); norms of social interaction (paragraph 13); purify themselves of bad moral character and cultivate commendable (second paragraph); the deepening of knowledge (paragraph 6); learn from the juniors (second paragraph); and write (4 verses). Second, the code of ethics educators in teaching, which consists of twelve chapters sequentially explained about: preparation before teaching (3rd paragraph), praying and teaching behavior (paragraph 7), classroom management (paragraph 5), the initial act of teaching (4 verses ), hierarchy and transfer of knowledge (paragraph 6), voice teacher and an opportunity to ask (third paragraph), the function of discussion in Majlis (fourth paragraph), the role of educators in the discussion (paragraph 3); fair, intelligent and fair (paragraph 6), an appreciation of non-regular students (second paragraph), the cover learning (6 verses) and professional (third paragraph). Third, codes of conduct interaction with the student teachers, which consists of fourteen chapters, each associated with; the purpose of teaching (verse 9); directing learning objectives (3 verses); motivator (paragraph 6); treat students like their own children (4 verses); attention to student ability and openness delivery of science (4 verses); earnest and convincing (fourth paragraph); ability test (paragraph 5); reward, motivation and learning groups (paragraph 3); the intensity and scale of learning priorities (paragraph 3); learning resources (paragraph 4); to be fair and considerate (4 verses); monitoring and warning (paragraph 5); moral and material support (paragraph 6); humble and meek (fourth paragraph)

    Peer Review-Book Editor-Hukum Adat Perkawinan dalam Masyarakat Aceh Tinjauan Antropologi dan Sosiologi Hukum

    No full text
    Buku ini membahas tentang pelaksanaan hukum adat perkawinan dalam masyarakat Aceh. Pendekatan yang digunakan adalah perspektif antropologi dan sosiologi hukum. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa hukum perkawinan dalam masyarakat di Indonesia, bukan hanya persoalan sah dan tidaknya suatu perkawinan menurut agama dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, akan tetapi sangat erat kaitannya dengan hukum-hukum adat di suatu daerah. Bisa saja perkawinan yang sudah sah secara hukum Islam dan sistem hukum perundang-undangan Indonesia, akan tetapi masih belum sah menurut hukum adat setempat. Hal ini disebabkan kuatnya norma adat yang mengaturnya. Fakta keberlakuan hukum adat hampir terjadi di seluruh Indonesia, tidak terkecuali dalam masyarakat Aceh. Acara perkawinan bisa saja batal dilaksanakan apabila ada persyaratan adat yang tidak bisa dipenuhi. Sebagai contoh sederhana dalam adat berbalas pantun, suatu resepsi perkawinan bisa ditunda hanya karena salah satu pihak pengantin tidak bisa membalas pantun. Contoh-contoh sederhana ini bisa berkembang luas dengan berbagai aturan hukum adat perkawinan lainnya. Hukum adat perkawinan di Aceh pada umumnya diwarisi secara turun temurun, dan ada juga berasal dari provinsi luar Aceh, seperti dari pulau Jawa. Hukum adat ini ada sifatnya bisa diterima secara hukum Islam, dan ada juga yang bertentangan dengan hukum Islam. Pertentangan ini pada umumnya dikarenakan terindikasikan praktek syirik dan kurafat di dalamnya. Fenomena di atas akan dibahas lebih lanjut dalam buku ini, berdasarkan hasil wawancara dan temuan-temuan di lapangan. Sehingga akan menghasilkan pemahaman menyeluruh tentang perkembangan antropologi dan sosiologi hukum dalam masyarakat Aceh

    KREATIVITAS KEPALA MADRASAH DALAM PEMASARAN PENDIDIKAN DI MIN 1 BENER MERIAH

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bentuk kreativitas kepala madrasah, dan langkah langkah strategis pemasaran pendidikan di MIN 1 Bener Meriah. Kajian ini merupakan kajian kualitatif dengan menggunakan wawancara observasi dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data, selanjutnya data dianalisis dengan tematik dengan tahapan memahami data, menyusun kode dan mencari tema. Subjek penelitian yang digunakan adalah kepala madrasah, dua (2) guru, serta enam (6) siswa. Hasil penelitian menemukan tiga (3) bentuk kreativitas dalam memasarkan pendidikan di MIN 1 Bener Meriah yaitu kombinasi, kepala madrasah masih melanjutkan beberapa ide dari kepala madrasah yang terdahulu kemudian ditambah dengan ide-idenya saat ini, eksplorasi kepala sekolah menyalurkan ide-ide untuk kemajuan sekolah, dan transformasional ide-ide baru yang cetuskan oleh kepala madrasah yang diwujudkan dalam bentuk nyata. Selanjutnya langkah strategis dalam pemasaran pendidikan di MIN 1 Bener Meriah yaitu: (1) Identifikasi pasar dengan cara kepala madrasah melakukan analisis pasar dan menyesuaikan keinginan dengan perkembangan zaman serta kebutuhan konsumen, (2) segmentasi pasar dan positioning, yaitu kepala madrasah melakukan pengelompokan pembeli dengan beberapa kreteria, (3) diferensiasi product, dilihat dari kualitas output, (4) pelayanan sekolah, yaitu stategi yang mempengaruhi persepsi kualitas orang tua murid terhadap sekolah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa jika kepala madrasah memiliki kreativitas yang bagus maka pemasaran pendidikan akan berjalan dengan baik pula

    Sabar dalam Perspektif Al-Qur’an; Eksplorasi Nilai Sabar dalam Menuntut Ilmu

    No full text
    One of the keys to students' success in studying is to prioritize a patient attitude in facing all existing obstacles. This discussion aims to explore the values ​​of patience in the Qur'an, especially in seeking knowledge. This research was carried out by examining the verses of the Qur'an relating to patience, then studying the meaning and interpretation of these verses and looking for references related to the topic of discussion and articles relevant to the concept of patience in seeking knowledge, both in books written by scholars and works written by Muslim scholars. This discussion uses literature study, where research result taken from the text of the verses of the Qur'an is then linked to the research objectives to be obtained, namely the concept of patience in the Qur'an in seeking knowledge. The existing research result is analyzed in such a way using descriptive analysis techniques. and then interpreted in the conclusion discussion. The research results show that patience is a very important thing for students to have in the demands of knowledge. A student must develop a patient attitude in learning, because patience is the key to success, patience also gets huge rewards as promised by Allah SWT. Furthermore, students must be able to stay for a long time to complete one science study. There are several ways that students can develop a patient attitude in studying, including increasing self-awareness, sharpening emotional intelligence, preventing desires and momentary pleasures, maintaining responses, harmonizing thoughts and actions and increasing spirituality within oneself

    Accelerated Learning: Antara Idealitas dan Realitas

    No full text
    One model that aims to accelerate the learning process is the accelerated learning model. This learning model, with its unique principles, aims to achieve better learning outcomes in a shorter period of time. However, it turns out that the accelerated learning model does not work well. The education system in Indonesia allows for large class sizes, with about forty students per class. With the varying conditions of the students, the accelerated learning model will have different consequences, both positive and negative. Therefore, in order to understand the psychological impact of this model on students during the learning process, this research needs to be conducted. This study is a qualitative research that uses a critical analytical approach and aims to critique the accelerated learning model. The data used consists of open-ended questionnaires and relevant literature. This study focuses on the psychological implications of the accelerated learning model on students. Based on the research findings, it is known that the positive impact of the model is that students will feel motivated and confident in completing additional tasks. However, the negative impact is that it can lead academically high-achieving students to not appreciate their lower-performing peers and create jealousy among them. Abstrak Salah satu model yang bertujuan untuk mempercepat proses pembelajaran adalah model accelerated learning. Model pembelajaran ini dengan prinsip-prinsipnya yang unik bertujuan untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik dalam waktu yang lebih singkat. Ternyata model accelerated learning tidak berjalan dengan baik. Sistem pembelajaran di Indonesia memungkinkan rombongan belajar, atau jumlah siswa per kelas, sekitar empat puluh siswa. Dengan kondisi siswa yang bervariatif, model accelerated learning akan memiliki konsekuensi yang berbeda, baik positif maupun negatif. Oleh karena itu, untuk mengetahui dampak psikologis model tersebut terhadap siswa dalam proses pembelajaran, penelitian ini harus dilakukan. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan analitis kritis dan bertujuan untuk mengkritik model accelerated learning. Data yang digunakan adalah angket terbuka dan literatur terkait. Penelitian ini berfokus pada implikasi psikologis model accelerated learning terhadap siswa. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa dampak positif model tersebut adalah siswa akan merasa termotivasi dan percaya diri untuk menyelesaikan tugas-tugas tambahan. Namun, dampak negatifnya adalah membuat siswa yang kemampuan akademisnya tinggi tidak menghargai teman yang lebih rendah dan menimbulkan kecemburuan di antara mereka. &nbsp

    Membumikan Pendidikan Akhlak Mulia Anak Usia Dini

    No full text
    Dalam konsep pendidikan Islam, proses pendidikan manusia, terutama berkaitan dengan nilai-nilai Islami (akhlak karimah atau akhlak mulia) merupakan hal pertama dan utama dalam agama. Dalam pedoman kehidupan Muslim (Alquran dan Sunnah) terdapat ajaran-ajaran yang berkaitan dengan keluhuran budi dan pesan-pesan mengenai akhlak Rasulullah sebagai uswatun hasanah. Buku ini memberikan wawasan tentang pendidikan akhlak kepada anak usia dini
    corecore