6 research outputs found
EVALUASI MUTU DAN TINGKAT SERANGAN JAMUR PADA KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) PASCAPANEN DI PASAR TRADISIONAL KOTA PAYAKUMBUH
Kacang tanah termasuk bahan pangan yang perlu dijamin mutunya demi terciptanya keamanan pangan bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu, jenis-jenis jamur perusak dan persentase serangannya pada kacang tanah pascapanen yang dijual di pasar tradisional Kota Payakumbuh. Biji kacang tanah yang digunakan sebanyak 5 sampel (masing-masing 1 kg). Mutu fisik biji ditentukan berdasarkan persentase butir utuh, butir keriput, butir warna lain, butir belah, butir rusak, kadar air dan kotoran biji (kemurnian biji). Pengujian jenis jamur yang menyerang dilakukan dengan menggunakan Metode Agar-agar Cawan (MAC). Hasil penelitian secara umum menunjukkan bahwa mutu kacang tanah kurang bagus dengan persentase butir utuh berkisar 20,63 - 56,11%, kadar air 6,63 - 9,81%, kemurnian biji 99,69 - 100% dan persentase biji terserang jamur sebesar 18 - 86%. Kacang tanah dengan mutu cukup baik terdapat pada sampel E dengan persentase butir utuh 56%, kadar air 6,89%, kemurnian biji 99,81% dan persentase biji terserang jamur 18%. Kacang tanah dengan mutu paling rendah terdapat pada sampel D dengan persentase butir utuh 25,62%, kadar air 6,75%, kemurnian biji 99,69% dan persentase biji terserang jamur 86%. Jamur perusak yang ditemukan terdiri dari 7 genus jamur, yaitu Aspergillus (9 jenis), Fusarium (1 jenis), Penicillium (3 jenis), Mucor (1 jenis), Rhizopus (1 jenis), Trichoderma (1 jenis), dan Chrysonilia (1 jenis), dengan rata-rata persentase serangan berturut-turut 35,2%; 10,8%; 7,2%; 1,6%; 1,2% ; 0,8%; dan 0,4%.
Kata kunci: Aspergillus, Chrysonilia, Fusarium, Mucor, Mutu kacang tanah, Pasar tradisional, Penicillium, , Rhizopus, Trichoderma
EKSPLORASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULAR (FMA) DAN PENGUJIAN EFEKTIVITASNYA TERHADAP PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG (Sclerotium rolfsii Sacc.) DAN PENINGKATAN PERTUMBUHAN KACANG TANAH.
Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) memiliki potensi sebagai agen pengendali hayati patogen tanaman dan meningkatkan pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan memperoleh isolat FMA dan untuk mendapatkan isolat FMA indigenus yang mampu menekan serangan Sclerotium rolfsii penyebab penyakit busuk pangkal batang dan meningkatkan pertumbuhan kacang tanah. Penelitian terdiri dari dua tahap, tahap 1 yaitu eksplorasi Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) Indigenus dari rizosfer tanaman kacang tanah di nagari Sawah Tangah, Kabupaten Tanah Datar (pengambilan sampel, ekstraksi, identifikasi dan perbanyakan FMA). Tahap 2 yaitu uji kemampuan FMA indigenus dalam mengendalikan S. rolfsii dan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan terdiri dari A (FMA Glomus sp-3 + S. Rolfsii), B (FMA Acaulospora sp + S. Rolfsii), C (FMA Gigaspora sp + S. Rolfsii), D (Campuran FMA Glomus sp-3, Acaulospora sp dan Gigaspora sp + S. Rolfsii), E (Tanpa pemberian FMA + S. rolfsii)/ (Kontrol). Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dengan menggunakan program Statistix 8 dan uji lanjut menggunakan uji Least Significance Different (LSD) pada taraf nyata 5%. Dari hasil penelitian ini diperoleh 3 genus FMA yaitu Glomus (3 tipe), Acaulospora (1 tipe) dan Gigaspora (1 tipe). FMA Acaulospora sp dan Gigaspora sp mampu meningkatkan ketahanan tanaman kacang tanah terhadap penyakit busuk pangkal batang (menekan insidensi dan severitas penyakit) mencapai 100% dan secara umum FMA Glomus sp-3 mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi kacang tanah.
Kata kunci : Acaulospora, Gigaspora, Glomus, indigenu
The Effectiveness of Ginger Rhizome Extract to Inhibit the Growth of Sclerotium rolfsii in Peanut In-vitro
Sclerotium rolfsii is a fungus that causes stem rot disease in peanuts which causes losses of up to 59%. One technique of controlling the S. rolfsii is using a botanical fungicide, such as ginger (Zingiber officinale Rosc.) rhizome extract. This study aimed to determine the proper concentration of ginger rhizome extract to control S.rolfsii, the causes of stem rot, and damping-off diseases in peanut in-vitro. This study used a completely randomized design with five treatments and five replications. The treatments were arranged in the concentration of 0, 4%, 6%, 8%, and 10% by in-vitro. The data were analyzed using ANOVA, followed by an LSD of 5%. The results showed that ginger rhizome extract could suppress the growth of S. rolfsii, which causes stem rot disease in peanut plants. Ginger rhizome extract reduced the thickness of the colonies, suppressed colony expansion, reduced the wet and dry weight of the colonies, slowed the appearance of Sclerotia, and reduced the number of Sclerotia formed. The higher concentration, the higher the emphasis on S. rolfsii. Ginger rhizome extract at a concentration of 10% can inhibit colony growth by 81.63%, inhibit the formation of sclerotia by 100%, reduce the wet weight of the colony to 66.88% and the dry weight of the colony to 44.11% and inhibit the formation of Sclerotia reaching 100%
Biological Control Stem Rot Diseases (Sclerotium Rolfsii) on Peanut (Arachis hypogaea L.) using Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) Indigenous
Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) are known to have potential as biological agents controlling plant pathogens. This study aims to obtain indigenous AMF isolates that can suppress the attack of Sclerotium rolfsii which causes stem rot disease in peanut. The method used is an experimental method with a Completely Randomized Design with 5 treatments, namely A : AMF Glomus sp-3 + S. rolfsii; B: AMF Acaulospora sp + S. rolfsii; C: AMF Gigaspora sp + S. rolfsii; D: Combined AMF Glomus sp-3, Acaulospora sp, and Gigaspora sp + S. rolfsii; E: Without AMF + S. rolfsii (Control). Each treatment was repeated 5 times. The data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) using the Statistix 8 program and the Least Significance Different (LSD) test at a 5% significance level. The results showed that the isolates of Acaulospora sp and Gigaspora sp were able to increase the resistance of peanut plants to stem rot disease (suppressing the incidence and severity of the disease) reaching 100%. Keywords: Arbuscular Mycorrhizal Fungi, indigenous, salicylic acid, Sclerotium rolfsii
Identifikasi Vegetasi Gulma di Lahan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) Kelapa Sawit di Lahan Marginal
Gulma dapat menjadi faktor pembatas produksi kelapa sawit akibat terjadinya persaingan dalam memperoleh energi cahaya, air, O2, CO2, dan ruang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, komposisi dan struktur vegetasi gulma di lahan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) kelapa sawit di lahan mineral. Penelitian menggunakan metode Purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan pada 3 blok kebun pada lahan TBM, yang di dalamnya dibuat plot berbentuk persegi empat berukuran 1 x 1 m dengan jumlah petakan sebanyak 9 plot dari total 3 blok. Pada setiap plot pengamatan dilakukan identifikasi jenis, komposisi dan sturuktur vegetasi gulma dan dihitung indeks keanekaragamannya. Dari penelitian ditemukan 10 jenis gulma yang terdiri dari gulma berdaun lebar dan gulma rumputan. Komposisi gulma yang terdapat pada perkebunan kelapa sawit TBM ada10 jenis dengan jumlah individu 334. Gulma yang banyak ditemukan adalah gulma rumput torpedo (Panicum repens). Struktur vegetasi gulma yang dominan pada perkebunan kelapa sawit TBM adalah gulma rumputan Panicum repens yang memiliki nilai NJD sebesar 26,76%. Nilai indeks keanekaragaman gulma memiliki nilai 1,84 yang termasuk kedalam kategori tinggi. Gulma dapat menjadi faktor pembatas produksi kelapa sawit akibat terjadinya persaingan dalam memperoleh energi cahaya, air, O2, CO2, dan ruang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, komposisi dan struktur vegetasi gulma di lahan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) kelapa sawit di lahan mineral. Penelitian menggunakan metode Purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan pada 3 blok kebun pada lahan TBM, yang di dalamnya dibuat plot berbentuk persegi empat berukuran 1 x 1 m dengan jumlah petakan sebanyak 9 plot dari total 3 blok. Pada setiap plot pengamatan dilakukan identifikasi jenis, komposisi dan sturuktur vegetasi gulma dan dihitung indeks keanekaragamannya. Dari penelitian ditemukan 10 jenis gulma yang terdiri dari gulma berdaun lebar dan gulma rumputan. Komposisi gulma yang terdapat pada perkebunan kelapa sawit TBM ada10 jenis dengan jumlah individu 334. Gulma yang banyak ditemukan adalah gulma rumput torpedo (Panicum repens). Struktur vegetasi gulma yang dominan pada perkebunan kelapa sawit TBM adalah gulma rumputan Panicum repens yang memiliki nilai NJD sebesar 26,76%. Nilai indeks keanekaragaman gulma memiliki nilai 1,84 yang termasuk kedalam kategori tinggi.
The Potential of Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) as Biocontrol Agent Against Stem Rot Diseases Caused Sclerotium rolfsii of peanut (Arachis hypogaea L)
This study was conducted to assess the biocontrol efficacy of arbuscular mycorrhizae fungi (AM Fungi) against stem rot disease caused by Sclerotium rolfsii Sacc. in peanut. The AM Fungi can be associated with almost all types of plants. The purpose of this study was to obtain isolates of arbuscular mycorrhiza fungi (AMF) as a potential biofungisida against Sclerotium rolfsii and can characterize the mechanism of the FMA in controlling S.rolfsii (salicylic acid) on peanut plants. The AM Fungi inoculant (40 spores g-1 in concentration) was introduced to peanut seedling (25 g plant-1 ) at planting time where as Sclerotium rolfsii inoculated 30 days after planting time. The experiment was arranged in the completely randomized design (CRD), which is 7 treatment sand repeated 10 times in the greenhouse experiment. The data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) using STAT program 8 and the Tukey test at 5% significance level. The AM Fungi treatments showed significantly redused the percentage of disease severity in infected peanut plants around 34.28% - 57.15% and longer incubation period, respectively. They increased root colonization (20,00 - 46.67%) with a middle to high category. The AM Fungi C isolate (isolated from Solok county), and the A isolate (isolated from Payakumbuh city) were the best as a biocontrol against S rolfsii (57.15%), followed by isolate D (isolated from Padang Pariaman county) 54,30 %. They also increased Salicylic acid content 1,4 times (70.72 ppm) compared to control (49,59 ppm). It can be concluded that the application of AM Fungi as a biocontrol agent played an important role in plant resistance and exhibit greater potential to protect peanut plants against S. rolfsii.
 
