1,721,094 research outputs found

    MEMAHAMI PERBEDAAN BUDAYA SEBAGAI SARANA KONSELING LINTAS BUDAYA

    No full text
    Abstrak Manusia dalam ajaran agama diciptakan terdiri dari beragam suku dan bangsa yang kesemuanya itu ditujukan untuk saling mengenal budaya, adat istiadat, cara beribadah, cara bermuamalah dan sebagainya. Di Indonesia saja terdiri atas beragam suku yang mendiami pulau-pulau yang bertebaran di seluruh pelosok Indonesia. Belum lagi penduduk dunia yang dihuni milyaran manusia juga terdiri dari berbagai suku, bangsa, agama, dan bahasa. Kesemuanya memiliki cara pandang dan cara hidup yang berbeda antara satu dengan lainnya. Namun, tidak selamanya keragaman budaya, agama, dan bahasa dapat berjalan beriringan, adakalanya terjadi gesekan-gesekan kecil maupun besar yang apabila tidak diselesaikan akan menjadi masalah yang lebih besar. Maka dari itu konseling dibutuhkan sebagai solusi atas permasalahan yang timbul. Terlebih lagi yang dihadapi konselor terdiri dari manusia yang berbeda latar belakang budayanya. Karenanya, konselor lintas budaya harus memiliki karakteristik tertentu yakni, pertama: konselor lintas  budaya harus sadar terhadap nilai-nilai pribadi yang dimilikinya, kedua, konselor lintas budaya harus sadar terhadap karakteristik konseling secara umum, ketiga, konselor lintas budaya harus mengetahui pengaruh kesukuan, dan mereka harus mempunyai perhatian terhadap lingkungannya, keempat, konselor lintas budaya tidak boleh mendorong seseorang klien untuk memahami budayanya (nilai-nilai yang dimiliki konselor), dan kelima, konselor lintas budaya dalam melaksanakan konseling harus mempergunakan pendekatan eklektik.   Abstract UNDERSTAND THE DIFFERENCE AS A MEANS OF CROSS-CULTURAL COUNSELING. Man in the teachings of the religion created consists of various tribes and nations all of which aimed to get to know one another culture, customs, how to serve, how to scribe and etc. In Indonesia only consists of various tribes inhabiting the islands are scattered all across Indonesia. Yet the population of the world is inhabited by billions of people also consists of various tribes, nations, religion and the Bible. All of them have perspective and a different way of life with one another. But not forever cultural diversity, religion and language can walk hand in hand, rarely happened friction-swipe was big and small that when not completed will become the bigger problem. So the counseling needed as solutions to the problems that arise. Moreover faced counselors consist of people of different cultural background. Therefore, cross-cultural counselor must have certain characteristics i.e. first: cross-cultural counselor must be aware of the personal values which possesses, second, cross-cultural counselor must be aware of the characteristics of counseling in general, third, cross-cultural counselor must be aware of the influence of ethnicity and they must have attention to their surroundings, fourth, cross-cultural counselor could not encourage one client to understand the culture (The values owned counselors), and fifth cross-cultural counselor in implementing counseling must use eclectic approach

    Penentuan batas konsentrasi pembentukan buih pada surfaktan Alkil Benzen Sulfonat (ABS) dan Sodium Dedosil Sulfat (SDS).

    Full text link
    Surfaktan merupakan komponen utama dalam detergen. Semakin banyak orang menggunakan detergen sebagai bahan pencuci maka semakin banyak buih yang ditimbulkan dan terbuang ke lingkungan sehingga menimbulkan pencernaran air. Untuk memonitor keberadaan surfaktan dalam limbali detergen maka dicobakan alat generator foam dan sensor sehingga dapat ditentukan Batas konsentrasi pembentukan built pada surfaktan ABS dan SDS, pengaruh konsentrasi ion Mg, Ca dan pengaruh pH terhadap built yang ditimbulkan olch surfaktan ABS dan pengaruh konsentrasi ion Mg terhadap SDS. Larutan surfaktan dimasukkan dalam generator foam dan dialiri udara selama 30 detik. Built yang terbentuk di deteksi dengan alat sensor kemudian buih didiamkan selama satu jam dan diukur tinggi buih yang terbentuk dari permukaan larutan surfaktan sampai puncak built yang terbentuk. Larutan surfaktan ABS mulai terbentuk buih pada konsentrasi 50 ppm dan surfaktan SDS pada konsentrasi 125 ppm. Pada surfaktan ABS built semakin banyak dengan kenaikan konsentrasi ion Mg, Ca dan pada suasana basa. Sedang pada surfaktan SDS built semakin banyak dengan kenaikan konsentrasi Mg. Surfactant is the important component in detergent. The more people use detergent as washing agent the more foam produced so that it result in water pollution. To monitor the existence of surfactant in detergent waste, a generator foam and sensor instrument were used so that the limit concentration of foam production of ABS and SDS could be determined and so the affect of Mg, Ca and pH to ABS, and Mm to SDS. Surfactant solution were poured into generator foam and airted for about 30 seconds. Foam produced was detected by the sensor instrument after that the foam was allowed to stand in one hour and the foam high 'was measured from the surface of solution to top point of the foam. ABS surfactant begin to produce foam at 50 ppm and SDS at 125 ppm. In ABS surfactant the foam produced was increased Mg, Ca concentration increased and the bases condition. In SDS surfactant it was increased as Mg concentration increase. 111 This document is Undip Institutional Repository Collection. The author(s) or copyright owner(s) agree that UNDIP-IR may, withou

    MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN BERMAIN BALOK ASESORIS PADA ANAK USIA DINI KELOMPOK B DI PPT SEKAR ARUM KELURAHAN TAMBAKREJO KECAMATAN SIMOKERTO SURABAYA

    Full text link
    Pada anak usia dini, seperti diyakini bahwa setiap anak memiliki potensi, dan tugas pendidik adalah menyediakan sarana dan prasarana, memberikan rangsangan melalui lingkungan yang mendukung agar anak mengeksplorasi kemampuan dan kreativitasnya saat bermain, mengekspresikan dirinya secara kreatif dan merasa dihargai. Proses mengembangkan kreativitas sangat penting, karena dengan dorongan internal maupun eksternal yang mendorong anak melakukan kegiatan kreatif dan mengekspresikan kreativitasnya Kemampuan motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan ketrampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata, tangan, saraf. Motorik halus ini dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan secara rutin seperi bermain menyusun balok asesoris. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan implementasi dengan aplikasi bermain aksesoris balok untuk meningkatkan motorik halus kelompok usia 3-4 tahun di PPT Sekar Arum Surabaya. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh guru di kelas melalui refleksi diri, dengan tujuan meningkatkan kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar anak meningkat. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di PPT Sekar Arum Surabaya dengan 2 siklus yang setiap siklusnya dilakukan melalui 2 kali pertemuan. Hasil penelitian Peningkatan kemampuan motorik halus setelah aplikasi bermain balok asesoris di PPT Sekar Arum dari siklus I dan siklus II adalah 22,2% Dalam siklus I hasil peningkatan kemampuan motorik halus anak setelah penerapan kegiatan bermain balok asesoris di PPT Sekar Arum mendapatkan rata-rata 61,13% dan Pada siklus II memeproleh nilai rata-rata 83,33% ,Guru dalam menjelaskan bermain balok asesoris untuk mengajak anak interaktif dan menstimulasi motorik halus anak, Sebagian besar anak sangat antusias dalam bermain balok asesoris, untuk anak dengan skor terendah karena anak masih malu dan kurang fokus dalam bermain balok asesoris. Dapat disimpulkan bahwa aplikasi bermain balok asesoris dapat meningkatkan motorik halus pada kelompok usia 3-4 tahun PPT Sekar Arum Surabaya. guru dapat menggunakan berbagai metode yang bervariasi melalui berbagai rangsangan sebagai cara untuk memotivasi anak dalam belajar sehingga anak lebih termotivasi dan hasil belajar akan lebih optimal

    Penanaman Nilai Religius Dalam Membentuk Karakter Siswa

    Full text link
    The internalization of character values ​​in the learning process in schools is still a problem, because it is seen as not being able to form religious characters. The number of problems such as students involved in brawls, criminal acts, disturbing friends, lack of concern for the environment, and lack of courtesy to teachers. So it is necessary to internalize religious values, one of which is related to the formation of religious attitudes. Students have a strong caring spirit and can carry out what religion has ordered. This study aims to analyze the strategy of internalizing religious values ​​at MTs Munawaroh. There are two things that are the focus of the research, namely (1) religious values ​​developed in PAI learning, (2) strategies for internalizing religious values ​​in PAI learning. This research uses a qualitative approach with descriptive qualitative research. Data collection techniques by observation, interviews, and documentation. Data analysis techniques with data reduction, display them to draw conclusions. As for checking the validity of the data using data triangulation which includes triangulation of data sources and triangulation of methods. The results of this study are (1) the religious values ​​developed at MTs Munawaroh, namely faith, taqwa, sincerity and patience. (2) The strategy for internalizing religious values ​​by MTs Munawaroh is introduction, appreciation, deepening, habituation and experienc

    MANAJEMEN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS LITERASI DI SEKOLAH DASAR

    No full text
    pendidikan karakter, pembelajaran, berbasis literas

    PEMBELAJARAN MENULIS PANTUN DENGAN MODEL MAKE A MATCH DI SEKOLAH DASAR

    Full text link
    Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) kendala, dan (4) solusi dalam pembelajaran menulis pantun dengan model Make A Match siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Polokarto 03 Kabupaten Sukoharjo. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang terfokus pada pembelajaran Bahasa Indonesia menulis pantun dengan model Make A Match siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Polokarto 03 Kabupaten Sukoharjo selama Januari-Juni 2017. Subjek penelitian adalah siswa dan guru kelas IV Sekolah Dasar Negeri Polokarto 03. Data penelitian berupa hasil wawan cara, observasi dan analisis dokumen.  Sumber data berupa dokumen, narasumber, dan tempat peristiwa. Teknik pengumpulan data menggunakan  teknik wawancara mendalam, observasi, eknik analisis dokumen. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive dengan validasi data menggunakan triangulasi sumber dan metode. Metode analisis data menggunakan metode analisis interaktif. Hasil penelitian sebagai berikut. (1) Perencanaan pembelajaran menulis pantun siswa kelas IV SD Negeri Polokarto 03 Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo dapat dikatakan dengan baik. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan persiapan yang dilakukan yaitu membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berdasarkan kurikulum/silabus. (2) Pelaksanaan pembelajaran menulis pantun dengan menggunakan model Make A Match dapat dikatakan berjalan dengan baik.  Hal ini dapat dilihat dari kinerja guru dan siswa. (3)  Kendala yang dihadapi dalam pembelajan menulis pantun dengan menggunakan model Make A Match adalah: (a) belum ada kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran pada pertemuan pertama, dan  (b) keterampilan siswa menyusun pantun sesuai tema belum optimal. (4) Solusi menghadapi kendala dalam pembelajaran menulis pantun dengan menggunakan model Make A Match dapat dikatakan baik sehingga pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan

    Pengaruh fasilitas kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) terhadap perilaku konsumtif nasabah Bank Muamalat Indonesia Cabang Palangka Raya

    Full text link
    Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana pengaruh fasilitas kartu anjungan tunai mandiri ATM terhadap perilaku konsumtif nasabah Bank Muamalat Indonesia Cabang Palangka Raya? Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh fasilitas kartu anjungan tunai mandiri ATM terhadap perilaku konsumtif nasabah Bank Muamalat Indonesia Cabang Palangka Raya dengan teknik analisis Korelasi Product Moment (r) menggunakan program SPSS 21.0. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif sehingga dalam pengumpulan datanya penulis menggunakan teknik observasi dan kuesioner/angket. Dari hasil uji coba instrumen yang dilakukan pada 25 orang responden diperoleh 9 item pertayaan variabel fasilitas kartu anjungan tunai mandiri ATM dan variabel perilaku konsumtif yang valid agar dapat memenuhi kreteria digunakan dalam pengumpulan data penelitian, dengan tingkat reabilitas 0,659 berada kreteria “kuat“. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh nasabah Bank Muamalat Indonesia Cabang Palangka Raya yang menggunakan fasilitas kartu anjungan tunai mandiri ATM yang berjumlah 10.000. sedangkan sampel dalam penelitian ini berjumlah 100 responden menggunakan teknik Random Sampling dengan cara pengambilan sampel, yaitu dengan melakukan survei kepada setiap nasabah yang dijumpai pada di lokasi mesin ATM dan otlet/pusat perbelanjaan seperti hipermart dan toko-toko yang pembayarannya menggunakan mesin EDC. Hasil penelitian menunjukan bahwa, fasilitas kartu anjungan tunai mandiri memiliki pengaruh dengan tingkat hubungan berada pada kategori “kuat“ terhadap perilaku konsumtif, hal ini berdasarkan hasil koefesin korelasi product moment yaitu sebesar 0,659 Kemudian besarnya kontribusi fasilitas anjungan tunai mandiri (ATM) terhadap perilaku konsumtif sebesar 43,4% dan sisanya 56,6 % dipengaruhi oleh faktor lainya. Sedangkan untuk uji hipotesis diperoleh nilai Sig. sebesar 0,000 artinya terbukti bahwa fasilitas kartu anjungan tunai mandiri (ATM) mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap perilaku konsumtif

    Lumpur Lapindo Dan Psikologis Anak

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh keharmonisan keluarga korban lumpur Lapindo terhadap psikologis anak, (2) mengetahui pengaruh hubungan sosial kemasyarakatan terhadap perkembangan psikologis anak, (3) mengetahui pengaruh peranan pemerintah terhadap perkembangan psikologis anak, (4) mengetahui pengaruh kepribadian anak terhadap perkembangan psikologis anak, (5) Mengetahui pengaruh keharmonisan keluarga, hubungan sosial kemasyarakatan, dan peranan pemerintah terhadap perkembangan psikologis anak korban Lapindo melalui kepribadian anak di Tanggulangin Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan mixed methods. Penelitian ini menggunakan analisis statistik melalui analisis regresi multivariat, juga dilakukan eksplorasi dan narasi pada perkembangan psikologis anak akibat lumpur Lapindo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) faktor yang berperan dalam pencapaian perkembangan psikologis anak dampak musibah lumpur, yaitu faktor kepribadian. Kepribadian memiliki kontribusi yang paling besar dan bermakna dalam mencapai perkembangan psikologis anak yaitu sebesar 9, 021 %, (2) kepribadian anak merupakan faktor yang paling banyak berperan dalam perkembangan berpikir, perkembangan kecerdasan, perkembangan bahasa, perkembangan kepribadian, dan perkembangan jiwa agama anak. Anak yang psikologisnya berkembang adalah pembelajar mandiri, kesadaran dan kemampuan belajarnya tinggi sehingga mereka belajar dan berusaha sendiri untuk mencapai prestasi tanpa harus di minta oleh orang lain, (3) peran pemerintah mempunyai hubungan dengan perkembangan psikologis anak akibat lumpur Lapindo. Psikologis anak meningkat kalau dukungan dari pemerintah baik, sebaliknya semakin berkurang peran pemerintah maka psikologis anak berkuran

    Internalisasi Nilai-Nilai Religius dalam Membentuk Karakter Siswa

    Full text link
    The internalization of character values ​​in the learning process in schools is still a problem, because it is seen as not being able to form religious characters. The number of problems such as students involved in brawls, criminal acts, disturbing friends, lack of concern for the environment, and lack of courtesy to teachers. So it is necessary to internalize religious values, one of which is related to the formation of religious attitudes. Students have a strong caring spirit and can carry out what religion has ordered. This study aims to analyze the strategy of internalizing religious values ​​at MTs Munawaroh. There are two things that are the focus of the research, namely (1) religious values ​​developed in PAI learning, (2) strategies for internalizing religious values ​​in PAI learning. This research uses a qualitative approach with descriptive qualitative research. Data collection techniques by observation, interviews, and documentation. Data analysis techniques with data reduction, display them to draw conclusions. As for checking the validity of the data using data triangulation which includes triangulation of data sources and triangulation of methods.       The results of this study are (1) the religious values ​​developed at MTs Munawaroh, namely faith, taqwa, sincerity and patience. (2) The strategy for internalizing religious values ​​by MTs Munawaroh is introduction, appreciation, deepening, habituation and experience
    corecore