1,720,964 research outputs found

    Tan Thiam Kwie : Celah-Celah Kehidupan Sang Maestro Pendidik Musik Tiga Zaman

    No full text
    Buku ini lebih spesifik membahas tentang seorang figur violinist dan guru musik bernamaTan Thiam Kwie, dan belum pernah ada yang menulis tentang tokoh tersebut. Tema ini menarik untuk dikupas karena Tan Thiam Kwie tergolong sebagai violinist tiga zaman adn satu-satunya guru privat musik instrumen violin keturunan Tionghoa. Tan Thiam kwie juga mempunyai prestasi dan dedikasi tinggi terhadap profesinya baik sebagai violinist ataupun sebagai guru musik. Kontribusinya dalam bidang pengajaran praktek bermain violin, memberikan pengetahuan dasar bermain violin yang baik dan benar pada aank-anak maupun orang dewasa sangatlah besar. Buku ini perlu dibaca oleh mahasiswa musik sebagai referensi yang penting dalam menyajikan potret dari sebuah kehidupan musikal di Yogyakarta

    “Menari” dengan trompet: apresiasi musikal dalam iringan Tari Keraton Yogyakarta

    No full text
    Penulisan buku ini didasarkan dari disertasi yang dilakukan oleh penulis pada Program S-3 Studi Doktoral, PPS ISI Yogyakartadengah judul Apropriasi Musikal Dalam Iringan Tari Keraton Yogyakarta. Buku ini membahas perihal proses perjumpaan budaya, khusunya budaya musik gamelan Jawa dengan budaya musik Eropa. Kasus yang diangkat adalah gendhing gati, sebuah repertoire gamelan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pengiring tari Bedhaya yang menyertakan alat musik Eropa, terompet dan tambur. Dari persepektif apropriasi budaya, penambahan ansambel musik Eropa ke dalam iringan tari Jawa untuk mengiringi tari keraton dilatari oleh modernisasi yang terjadi pada awal abad ke-20 yang melanda keraton. Sultan sebagai pemegang kekuasaan artistik mempunyai otoritas artistik dalam menciptakan gaya penampilan seni pertunjukan keraton. Penambahan ansambel musik Eropa dalam iringan tari juga merupakan dampak dari kekuasaan artistik tersebut. Apropriasi budaya dilakukan Sultan untuk menunjukkan kekayaan budaya baik budaya sendiri maupun hasil campuran budaya lokal-asing yang diakui sebagai budaya keraton

    Biografi maestro violin tiga zaman Tan Thiam Kwie sebagai tokoh pendidik musik barat di Yogyakarta

    No full text
    Tan Thiam Kwie adalah salah satu figur maestro violin dan tokoh pendidik musik barat di Yogyakarta sejak masa Hindia Belanda. Sebagai salah satu pendiri SMIND pada tahun 1950-an, yakni sebuah lembaga pendidikan musik barat paling awal di Indonesia, peranannya dalam pengajaran praktek violin sangat berpengaruh pada kemajuan para siswanya, hal ini terbukti dari sekian banyak siswanya ada beberapa di antara mereka menjadi musisi besar yang mempunyai reputasi internasional. Penghargaan-penghargaan yang pernah diterimanya merupakan bukti bahwa ia telah banyak menyumbangkan tenaga dan pemikirannya demi kemajuan pendidikan musik barat di Yogyakarta

    Apropriasi Musikal Dalam Iringan Tari Keraton Yogyakarta

    No full text
    Tujuan penelitian ini untuk memahami fenomena apropriasi musikal ansambel musik Eropa dan gamelan Jawa pada iringan tari di Keraton Yogyakarta, khususnya pada permainan komposisi gendhing gati mardawa, gati raja, serta gendhinggendhing iringan beksan lawung ageng yang terdiri dari: gendhing ron ing tawang, rog-rog asem dan bima kurda. Berawal dari pengalaman masa kanak, remaja, hingga dewasa, menjadi stimuli munculnya gagasan penelitian ini. Pengalaman sering mendengarkan, menyaksikan dan sebagai pelaku dari pertunjukan tari yang diiringi gamelan Jawa ditambah dengan ansambel musik Eropa, mendorong rasa ingin tahu tentang fenomena apropriasi musikal pada penambahan ansambel musik Eropa dan gamelan Jawa untuk iringan tari Keraton Yogyakarta. Untuk menganalisis fenomena terjadinya apropriasi musikal ansambel musik Eropa dan iringan tari Jawa, salah satu konsep dari teori pasca kolonial yakni konsep apropriasi budaya digunakan untuk menginvestigasi masalah penelitian ini. Apropriasi budaya merupakan tindakan mengambil atau menam-bahkan unsur budaya asing ke dalam budaya lain kemudian diakui sebagai budaya sendiri. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus (case study). Secara spesifik penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus eksploratori. Langkah yang dilakukan dalam pengumpulan data melalui tahapantahapan penelitian sebagai berikut: observasi, wawancara, dokumentasi melalui perekamanbunyi hasil permainan ansambel musik Eropa dan gamelan Jawa, kemudian dilakukan transkripsi untuk keperluan membaca notasi gamelan bagi para pemain musik yang memainkan instrumenmesik Eropa pada saat memainkan notasi bersama dengan pengrawit. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa apropriasi budaya dalam konteks musikal merupakan bentuk apropriasi musikal antara gamelan Jawa dan ansambel musik Eropa untuk mengiringi tari Jawayang posisinya tidak sama. Ansambel musik Eropa mengikuti struktur gendhing Jawa memainkan melodi gamelan iringan tari. Relasi kuasa bunyi antara gamelan Jawa dan ansambel musik Eropa, cita rasa bunyi ansambel musik Eropa ditundukkan oleh cita rasa bunyi gamelan Jawa. Posisi gamelan Jawa lebih diutamakan daripada ansambel musik Eropa untuk memainkan gendhing gati mardawa, gati raja serta gendhing ron ing tawang, rog-rog asem, dan bima kurda

    Instrumen musik tradisi Barat dalam iringan tari dan upacara protokoler Kraton Yogyakarta

    No full text
    Penulisan ini mengkaji tentang segi historis, mauknya pengaruh instrumen musik tradisi Barat dalam iringan tari (beksan) atara lain: beksan lawung, , kapang-kapang bedhaya, serta srimpi di Kraton Kasultanan Yogyakarta. Tujuan dari penulisan ini adalah memberikan informasi tertulis & deskripsi secara kronologis pengaruh asing dalam tradisi seni pertunjukan Keraton yang perwujudannya nampak di dalam iringan tari (beksan) dengan iringan instrumen gamelan & instrumen musik tradisi Barat

    Penyusunan rancangan mata kuliah nama mata kuliah kondakting orkestra : laporan pengembangan bahan ajar daring

    No full text
    Mata Kuliah Kondakting Orkestra merupakan Mata Kuliah wajib ditempuh untuk mahasiswa Semester VII di Program Studi Pendidikan Musik. Materi Kuliah Kondakting Orkestra ini dirancang untuk diberikan kepada mahasiswa sebagai pengetahuan dan pemahaman serta penerapan keterampilan memimpin orkestra yang dapat berguna sebagai bekal keilmuan seorang calon sarjana pendidikan musik agar dapat melakukan proses kreatif dan pengembangan musikal sebagai media pembelajaran musik

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Music Acculturation in Rhythm of kapang-kapang Bedhaya and Srimpi Dance in the Keraton of Yogyakarta (A Case Study)

    Get PDF
    The research’s aim is to notice the music acculturation in the rhythm of female dance of Bedhaya and Srimpi dances in the Kingdom of Yogyakarta on the line-movement on-to the stage or leaving it (kapang-kapang). Besides, the research is going to discuss a West music instrument acculturation phenomenon with Javanese Traditional Gamelan Orchestra on the rhythm of female dance of Bedhaya and Srimpi dances that are still exist nowadays. The case study is focus on the usage of some West music instrument such as drum (percussion section), woodwind (woodwind section), brass-wind (brass-wind section), and stringed (stringed section) in the rhythm of the dances which are being mentioned above. The method which is being used first is by doing the quality data analysis. The result of the research are two mainly findings; those are 1) the inclusion of various elements of the palace ceremonial ritual by The Netherlands Indies government which were the impact of the European Colonization in the island of Java, especially in Yogyakarta; it has made a mentally structure of the people of Yogyakarta that would have created culture capitalized and which are being used in the context of Yogyakarta as the city of culture. 2) European military music for marching is being the inspiration of the palace to create Gendhing Mars which is being used as the rhythm in the marching movements of female dancers (kapang-kapang) together along with the ensemble of Javanese Traditional Gamelan Orchestra and the European music instruments which are being played in one sound (unisono)

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
    corecore