1,721,645 research outputs found
Pembuktian unsur-unsur pembunuhan berencana berdasarkan hukum acara pidana (studi kasus putusan pengadilan negeri Tangerang Nomor 1378/Pid.B/2005/Pn.TNG) / oleh Surachman
abstrak (A) Nama : Surachman NIM : 205992010 (B) ?Pembuktian Unsur-Unsur Pembunuhan Berencana Berdasarkan Hukum Acara Pidana (Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Tangerang Nomor 1378/PID.B/2005/PN.TNG)? (C) viii + 93 halaman + lampiran, 2006 (D) Kata kunci : Pembunuhan Berencana, visum et repertum, KHUAP (E) Isi Abstrak (F) Kejahatan dalam hukum pidana adalah perbuatan pidana yang pada pokoknya diatur dalam Buku ke II Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (selanjutnya disebut KUHP) dan dalam aturan-aturan lain di luar KUHP yang dinyatakan di dalamnya itu sebagai kejahatan. Tindak pidana yang menghilangkan nyawa orang lain merupakan suatu tindak pidana yang bersifat material, dimana akibat yang ditimbulkan yaitu akan diancam dengan hukuman pidana kurungan. Apalagi pembunuhan yang dilakukan secara berencana. Pembunuhan dengan rencana atau disingkat pembunuhan berencana adalah pembunuhan yang paling berat ancaman pidananya dari seluruh bentuk kriminalitas terhadap nyawa manusia, yang diatur dalam Pasal 340. Dalam kasus pembunuhan berencana yang dilakukan oleh Muhajar alias Abeng alias Alek bin Empung terhadap Maya atas dasar karena cintanya ditolak oleh si korban yang mengakibatkan terdakwa melakukan perbuatan pembunuhan berencana. suatu tindak pidana dapat dilakukan dengan pembuktiannya yaitu melalui keterangan dari para ahli. Dalam proses perkara proses pembuktian visum et repetum sangat penting digunakan sebagai alat bukti dalam kasus pemerkosaan dan pembunuhan. Keraguan akan kekuatan pembuktian visum et repertum tanpa alat bukti lainnya disebabkan karena di dalam KUHAP diatur mengenai prinsip minimum dari pembuktian, yaitu seperti yang termaktub di dalam Pasal 183 KUHAP yang isinya menyatakan bahwa dalam menentukan apakah terjadi tindak pidana atau tidak, hakim harus mempunyai sekurang-kurangnya dua alat bukti dan keyakinan bahwa tindak pidana tersebut telah terjadi atau tidak (G) Daftar acuan : 18 (1982 ? 2003) (H) Pembimbing : Soetan Budhi Satria Sjamsoeddin, S.H., M.Si (I) Penulis : Surachma
Retorika dakwah Ustadz Oom Surachman pada program Ta'rief wa Tafhimul Qur'an pada kajian Tafsir Asy Sya'rawi
Retorika dakwah merupakan elemen penting dalam menyampaikan pesan dakwah kepada masyarakat, terutama dalam konteks kajian Tafsir Al-Qur’an. Ustadz Oom Surachman, melalui program “Ta'rief wa Tafhimul Qur’an” menghadirkan kajian Tafsir Asy-Sya'rawi dengan pendekatan retorika yang khas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gaya bahasa Ustadz Oom Surachman Surachman pada program Ta’rief Wa Tafhimul Qur’an dalam kajian Tafsir Asy Sya’rawi, Bagaimana gaya gestur dakwah Ustadz Oom Surachman pada program Ta’rief Wa Tafhimul Qur’an dalam kajian Tafsir Asy Sya’rawi, dan Bagaimana intonasi dakwah Ustadz Oom Surachman pada program Ta’rief Wa Tafhimul Qur’an dalam kajian Tafsir Asy Sya’rawi.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis kualitatif dengan objek penelitian adalah kajian Tafsir Asy-Sya’rawi, mengkaji dan menganalisis strategi retorika yang digunakan oleh Ustadz Oom Surachman dalam menyampaikan pesan-pesan Al- Qur'an. Metode penelitian deskriptif analisis kualitatif ini digunakan untuk menggali teknik- teknik retorika, seperti penggunaan bahasa yang persuasif, analogi, dan penekanan pada nilai- nilai spiritual. Penelitian ini menggunakan teori retorika Gorys Keraf tujuan nya untuk menganalisis dengan kuat dan relevan untuk memahami dan mengevaluasi strategi retorika dakwah Ustadz Oom Surachman dalam menyampaikan Tafsir As Sya’rawi melalui program Ta’rief Wa Tafhimul Qur’an.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ustadz Oom Surachman mengaplikasikan retorika gaya bahasa klimaks, retorika gaya bahasa antiklimaks, retorika gaya bahasa paralelisme, retorika gaya bahasa antitesis, retorika gaya bahasa repetisi, retorika gaya bahasa resmi, retorika gaya bahasa tidak resmi, retorika gaya bahasa percakapan. Ustadz Oom Surachman juga di dalam dakwah nya mengaplikasikan sikap yang tenang dan gestur yang tepat membantu dalam penyampaian pesan dakwah yang lebih kuat dan berkesan, berpenampilan dan pakaian yang sopan, sederhana, dan religius yang membantu membantu kredibilitas dan kepercayaan para mustami/mad’u, dan memperkuat kesan etika dan profesionalisme dalam berkomunikasi, ekspresi dan gerakan tangan nya membantu memperkuat pesan dakwah yang disampaikan dan meningkatkan efektivitas komunikasi secara keseluruhan, pandangan mata menunjukkan kemampuan untuk menjangkau dan terhubung dengan mustami/mad’u untuk memastikan pesan dakwah dapat diterima dengan baik dan salah satu kunci dalam berkomunikasi. Intonasi yang digunakan Ustadz Oom Surachman dalam berdakwah terkadang menggunakan nada rendah, sedang, tinggi, keteraturan dalam peletakan suku kata, tata kalimat, dan bunyi yang digunakan oleh Ustadz Oom Surachman terkadang cepat dan lambat tergantung situasi penjelasan dakwah yang sedang Ustadz Oom Surachman jelaskan kepada para mustami/mad’u, terkadang ketika Ustadz Oom Surachman sedang berdakwah, beliau menggunakan suara keras dan lembut ketika terdapat ada point yang penting di dalam materi dakwah nya, membangun emosi, menjaga perhatian para mustami/mad’u, keteraturan jeda yang digunakan oleh Ustadz Oom Surachman pada dakwah nya supaya para mustami/mad’u dapat memahami kalimat dan pesan yang disampaikan
Recherches archéologiques franco-indonésiennes à Bukit Hasang, Barus, Sumatra-Nord
Perret Daniel, Surachman Heddy. Recherches archéologiques franco-indonésiennes à Bukit Hasang, Barus, Sumatra-Nord. In: Bulletin de l'Ecole française d'Extrême-Orient. Tome 89, 2002. pp. 344-350
Kota Cina : un site d’habitat dans le détroit de Malacca (fin XIe-déb. XIVe s.)
Perret Daniel, Surachman Heddy. Kota Cina : un site d’habitat dans le détroit de Malacca (fin XIe-déb. XIVe s.). In: Comptes rendus des séances de l'Académie des Inscriptions et Belles-Lettres, 161e année, N. 1, 2017. pp. 9-19
SIMBOL DALAM KUMPULAN PUISI SERIBU KEKUPU KARYA SURACHMAN RADEA MAMA
Tujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan blank symbol, natural symbol, dan private symbol dalam kumpulan puisi Seribu Kekupu karya Surachman Radea Maman. Pisau bedah dalam penelitian ini menggunakan teori semiotik, yakni teori yang membahas tentang tanda dan petandanya (signifie dan signified). Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik analisis secara deskriptif karena yang dihadapi dalam penelitian berupa data tentang simbol dalam kumpulan puisi Seribu Kekupu karya Surachman Radea Maman. Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa simbol-simbol dalam kumpulan puisi Seribu Kekupu karya Surachman Radea Maman ini, hampir pada semua judul larik terdapat sajak-sajak yang menyimbolkan sesuatu yang lain. Hal tersebut terlihat pada (1) blank symbol, misalnya: mati suri, julukan manjamu, muara cinta, maha penentu, asuhan hati, kulit baja, juita, dll.; (2) natural symbol, misalnya: tinggi ujung rumput liar, dedaun tak harum atau dedaur igau, melukiskan warna langit begitu selesai hujan, dll.; (3) private symbol, misalnya: lubang kecil seperti pintu rumah merpati, hingga keujung arah buana, pada muara rahim bumi yang perawan, mengerti satuhari diri semadi, dll
- …
