1,720,981 research outputs found

    Model Pembelajaran Active Learning Dengan Strategi Pengajuan Pertanyaan untuk Meningkatkan Kualitas Proses Pembelajaran PKn

    Full text link
    Based on the research done, in the acquisition of active learning with the strategy of asking questions as the most appropriate learning model to be used on the Civic subjects in school. The purpose of this model is for students to be able to think and think critically. In this study, the author uses descriptive-critical research with more emphasis on the power of analysis of existing sources and data by relying on existing theories and concepts to be interpreted based on the writings that lead to the discussion. The results showed that students 'confidence, teachers are more open to students, The existence of healthy competition among students in the classroom, Increasing the enthusiasm and seriousness of students, Reducing the knowledge gap between students, The students' learning spirit outside school is increasing, like the whole subjects, The emergence of creative ideas from both students and teachers in order to advance the quality of education in each school, and Increase synergy and cohesiveness between students and inter-teachers. Thus, to realize innovative learning, it can be used because "active learning model with questioning strategy" so that the learning process is not only centered on the teacher, but also the students must be actively involved in the learning process so that learning will become more meaningful

    PEMBELAJARAN MODEL HOMESTAY SEBAGAI UPAYA UNTUK MENUMBUHKAN KEPEKAAN SOSIAL PESERTA DIDIK DI TENGAH TANTANGAN GLOBAL

    No full text
    Maraknya tindak-tindak amoral seperti korupsi, tawuran, seks bebas, narkoba dan lain sebagainya menjadi sebuah indikasi bahwa negara ini tengah dilanda krisis moral. Krisis moral ini tidak memandang latar belakang tertentu baik tua muda, kaya miskin, semuanya berpotensi melakukan tindakan amoral. Kondisi ini jika dibiarkan berlarut-larut tentu akan mengancam kedaulatan suatu negara. Oleh sebab itu, perlu terobosan baru misalnya dengan mengembangkan pendidikan karakter model homestay sebagai upaya menumbuhkan kepekaan sosial ditengah tantangan global. Sasaran dari program ini adalah semua peserta didik dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Tujuannya adalah menanamkan nilai-nilai sosial masyarakat agar timbul kepekaan sosial pada diri peserta didik. Tinggal dilingkungan masyarakat tentu akan dihadapkan pada berbagai persoalan yang kompleks. Persoalan itu tentu membutuhkan 4 olah baik pikir, hati, raga, dan rasa. Keempat olah tersebut saling bersinergi untuk membentuk pribadi yang punya jiwa sosial tinggi. Jiwa sosial ini yang nantinya diharapkan menjadi wadah bagi peserta didik untuk menumbuhkan kepekaan sosial. Hal ini perlu digalakkan supaya peserta didik tanggap terhadap tantangan global

    RELOKASI MASYARAKAT MADURA DI SINGKAWANG SEBAGAI BAGIAN DARI PROSES RESOLUSI PASCA KONFLIK ETNISITAS DI KABUPATEN SAMBAS

    Full text link
    .Konflik etnisitas di Kabupaten Sambas telah menciderai semangat kebhinekaan di Indonesia. Konflik telah menyebabkanjatuhnya korban jiwa, harta benda, dan membuat salah satu pihak harus direlokasi demi meredam konflik. Upaya relokasi ini pernahdialami oleh Etnis Madura di Kota Singkawang. Tujuan kajian ini yaitu (1) Pertimbangan dasar pemilihan Singkawang sebagai tempatrelokasi ditinjau dari sisi keamanan dan politis, (2) Potensi Singkawang ditinjau dari sisi geografis dan ekonomis. Metode penelitianini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) keamanan di Singkawang sangat terjamin karena banyakdijumpai markas TNI. Selain itu, Singkawang adalah daerah pemekaran baru dari Kabupaten Sambas sehingga memungkinkanterjadinya integrasi baru. (2) Tanah Singkawang sangat baik untuk kegiatan pertanian dan peternakan. Hasil petanian sangatmendukung dalam memajukan perekonomian Singkawang. (3) Etnis Madura di Singkawang sudah mendapatkan hak-haknya sebagaiwarga negara baik di bidang politik, pendidikan, dan budaya yang menjadi indikator sudah terjalinnya integrasi antar etnis di kota ini.

    PURUN: MERAJUT EKOLOGI DAN TRADISI DI KOTA TIKAR DALAM KONTEKS IPS

    Full text link
    Purun (eleocharis dulcis) adalah sejenis tumbuhan semak yang tumbuh di daerah rawa. Tumbuhan jenis inioleh masyarakat Menang, Pedamaran, Ogan Komering Ilir (OKI) dikreasi menjadi aneka kerajinan bernilai ekonomis tinggi. Kreasi itu terdiri dari tikar, tas, dan aneka anyaman lainnya sehingga membuat daerah ini mendapat julukan sebagai Kota Tikar. Uniknya proses pembuatan aneka kerajinan tersebut dilakukan tanpa merusak alam. Alambenar-benar dijaga dan dirawat kelestariannya karena mampu memberi dampak sosial, ekonomi, dan budaya pada masyarakat setempat. Tradisi yang mampu menumbuhkan semangat gotong royong, kerjasama, dan kreativitastetap terjaga di tengah citra duta atau bandit sosial yang melekat pada orang OKI. Oleh sebab itu, diperlukan usaha merajut tradisi, melestarikan ekologi, dan merubah citra duta yang salah satunya dapat dilakukan dengan mengoptimalkan peran pendidikan melalui mata pelajaran IPS. IPS dipilih karena kajiannya membahas tentang persoalan sosial masyarakat. Realisasi tersebut dilakukan dengan (1) perencanaan pembelajaran dengan cara mengintegrasikan tradisi purun dan citra duta dengan KI KD IPS, (2) Penerapan pembelajaran melalui pendekatan scientifik disertai model pembelajaran diskusi dan karyawisata untuk mengelaborasi fenomena IPS (3) Penilaian hasil belajar IPS berdasarkan projek.Tiga langkah itu dilakukan untuk membuat pembelajaran IPS lebih menarik, bermakna, serta mampu menumbuhkan kepekaan sosial siswa

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TORNAMENTS (TGT) UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR IPS KELAS VII C SMP NEGERI 5 SLEMAN

    No full text
    Keaktifan dan hasil belajar IPS di kelas VII SMP Negeri 5 Sleman masih rendah. Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya keaktifan dan hasil belajar IPS adalah penggunaan model pembelajaran yang kurang menarik dan bervariasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan cara peningkatan keaktifan dan hasil belajar IPS dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournaments (TGT) di kelas VII C SMP Negeri 5 Sleman. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus yang masing-masing siklusnya terdiri dari tiga komponen yaitu perencanaan, tindakan dan pengamatan, dan juga refleksi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi metode. Penelitian mengunakan dua bentuk analisis data yaitu analisis kualitatif. Adapun kriteria keberhasilan tindakan dalam penelitian ini yaitu apabil rata-rata keaktifan dan hasil belajar siswa mencapai presentase 75% atau lebih. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keaktifan siswa yaitu (1) memiliki tujuan pembelajaran yang jelas, (2) pembelajaran tidak hanya menekankan aspek kognitif tetapi juga afektif, (3) pembelajaran berpusat pada siswa, dan (4) guru hanya berperan sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Cara peningkatan belajar ini tenyata terbukti bisa meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas VII C. Keaktifan belajar siswa bisa meningkat dari 64,52% menjadi 83,87%. Selain itu, cara ini juga berperan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini bisa dilihat dari adanya peningkatan hasil belajar dari 67,74% menjadi 80,65%. Berdasarkan hasil tersebut maka penerapan model kooperatif tipe TGT dapat digunakan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPS kelas VII C SMP Negeri 5 Sleman. Kata Kunci: TGT, Keaktifan, dan Hasil Belajar IP

    Pengembangan Materi Pembelajaran IPS dengan Tema Antikorupsi dalam Bentuk Komik Digital untuk Siswa Kelas VII SMP

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan dan mengetahui kelayakan serta keefektifan materi pembelajaran IPS dengan tema antikorupsi dalam bentuk komik digital untuk siswa kelas VII SMP. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang divalidasi pada tiga sekolah yaitu SMP Negeri 8 Yogyakarta, SMP Negeri 15 Yogyakarta, dan SMP Pangudiluhur 1 Yogyakarta dengan subjek penelitian siswa kelas VII. Penelitian ini terbagi menjadi tiga tahap uji coba yaitu uji coba satu-satu dengan jumlah 15 siswa, uji coba kelompok kecil 30 siswa, uji coba lapangan 90. Keefektifan komik digital yang dikembangkan dilakukan dari hasil uji coba lapangan. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar validasi ahli materi dan media, angket, dan tes dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan (1) kelayakan menurut ahli materi adalah 3,83 atau sangat tinggi dan ahli media adalah 3,57 atau sangat tinggi. (2) keefektifan pembelajaran pada aspek kognitif adalah 3,31 atau tinggi; aspek afektif untuk nilai religius adalah 3,21 atau tinggi, nilai kejujuran adalah 2,85 atau tinggi, nilai tanggung jawab adalah 2,96 atau tinggi, dan nilai kerja keras adalah 3,05 atau tinggi; aspek psikomotorik adalah 3,18 atau tinggi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengembangan komik digital antikorupsi dinyatakan layak dan efektif untuk digunakan dalam pembelajaran IPS kelas VII SMP

    CAP GO MEH SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN RESOLUSI KONFLIK DI TENGAH KERAGAMAN ETNIS KOTA SINGKAWANG

    Full text link
    Artikel ini sendiri bertujuan untuk mengkaji tiga hal yaitu (1) Bagaimanakah rekam jejak Etnis Tionghoa di Indonesia, (2)Bagaimanakah pelaksaan tradisi Cap Go Meh di Singkawang? (3) Bagaimanakah peran dari tradisi Cap Go Meh untuk menanamkanpendidikan resolusi konflik pada masyarakat?. Artikel ini dikaji dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkanbahwa (1)Kehidupan sosial masyarakat tionghoa di Indonesia telah mengalami pasang surut dari mulai dibatasi sejak keluarnya InpresNo 14 tahun 1967 yang melarang penyelenggaraan ibadah agama atau kepercayaan serta adat istiadat orang Tionghoa. Namun, padaera Presiden Abdurahman Wahid Inpres ini dihapus dan diganti dengan Keppres No 6 Tahun 2000 untuk memutihkan hak mereka.Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahkan dikeluarkan Undang-Undang No 40 Tahun 2008 yang melarang adanyadeskriminasi ras dan etnis. (2) Pelaksaan Tradisi Cap Go Meh di Singkawang dilakukan dilakukan melalui tiga acara besar yaitukegiatan Ritual Bersih Jalan di hari ke-14, Pawai Lampion di mala hari ke-15, dan Parade Tatung di hari ke-15. Kegiatan ini diikutioleh hampir semua etnis di Kota Singkawang baik sebagai pelaku parade maupun penonton acara. (3) Pelaksaan tradisi Cap Go Mehternyata dapat dijadikan sebagai media pendidikan resolusi konflik di masyarakat. Model pendidikan resolusi konflik tersebut dapatdikaji dari tiga pendekatan baik peace keeping, peace building, dan peace making. Peace keeping terlihat dari keberadaan oknum TNI,Polisi, dan tokoh lintas etnis maupun agama. Peace building terlihat dari adanya keikutsertaan dari Etnis Dayak dalam kegiatan CapGo Meh meskipun kedua etnis pernah terlibat konflik tahun 1967. Peace making terlihat dari berakhirnya kegiatan Cap Go Mehsebelum Adzan Dzuhur berkumandang. Hal ini dilakukan sebagai upaya menjaga keharmonisan antar etnis di Singkawan

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
    corecore