56 research outputs found
Model Pembelajaran Active Learning Dengan Strategi Pengajuan Pertanyaan untuk Meningkatkan Kualitas Proses Pembelajaran PKn
Based on the research done, in the acquisition of active learning with the strategy of asking questions as the most appropriate learning model to be used on the Civic subjects in school. The purpose of this model is for students to be able to think and think critically. In this study, the author uses descriptive-critical research with more emphasis on the power of analysis of existing sources and data by relying on existing theories and concepts to be interpreted based on the writings that lead to the discussion. The results showed that students 'confidence, teachers are more open to students, The existence of healthy competition among students in the classroom, Increasing the enthusiasm and seriousness of students, Reducing the knowledge gap between students, The students' learning spirit outside school is increasing, like the whole subjects, The emergence of creative ideas from both students and teachers in order to advance the quality of education in each school, and Increase synergy and cohesiveness between students and inter-teachers. Thus, to realize innovative learning, it can be used because "active learning model with questioning strategy" so that the learning process is not only centered on the teacher, but also the students must be actively involved in the learning process so that learning will become more meaningful
PEMBELAJARAN MODEL HOMESTAY SEBAGAI UPAYA UNTUK MENUMBUHKAN KEPEKAAN SOSIAL PESERTA DIDIK DI TENGAH TANTANGAN GLOBAL
Maraknya tindak-tindak amoral seperti korupsi, tawuran, seks bebas, narkoba dan lain sebagainya menjadi sebuah indikasi bahwa negara ini tengah dilanda krisis moral. Krisis moral ini tidak memandang latar belakang tertentu baik tua muda, kaya miskin, semuanya berpotensi melakukan tindakan amoral. Kondisi ini jika dibiarkan berlarut-larut tentu akan mengancam kedaulatan suatu negara. Oleh sebab itu, perlu terobosan baru misalnya dengan mengembangkan pendidikan karakter model homestay sebagai upaya menumbuhkan kepekaan sosial ditengah tantangan global. Sasaran dari program ini adalah semua peserta didik dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Tujuannya adalah menanamkan nilai-nilai sosial masyarakat agar timbul kepekaan sosial pada diri peserta didik. Tinggal dilingkungan masyarakat tentu akan dihadapkan pada berbagai persoalan yang kompleks. Persoalan itu tentu membutuhkan 4 olah baik pikir, hati, raga, dan rasa. Keempat olah tersebut saling bersinergi untuk membentuk pribadi yang punya jiwa sosial tinggi. Jiwa sosial ini yang nantinya diharapkan menjadi wadah bagi peserta didik untuk menumbuhkan kepekaan sosial. Hal ini perlu digalakkan supaya peserta didik tanggap terhadap tantangan global
RELOKASI MASYARAKAT MADURA DI SINGKAWANG SEBAGAI BAGIAN DARI PROSES RESOLUSI PASCA KONFLIK ETNISITAS DI KABUPATEN SAMBAS
.Konflik etnisitas di Kabupaten Sambas telah menciderai semangat kebhinekaan di Indonesia. Konflik telah menyebabkanjatuhnya korban jiwa, harta benda, dan membuat salah satu pihak harus direlokasi demi meredam konflik. Upaya relokasi ini pernahdialami oleh Etnis Madura di Kota Singkawang. Tujuan kajian ini yaitu (1) Pertimbangan dasar pemilihan Singkawang sebagai tempatrelokasi ditinjau dari sisi keamanan dan politis, (2) Potensi Singkawang ditinjau dari sisi geografis dan ekonomis. Metode penelitianini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) keamanan di Singkawang sangat terjamin karena banyakdijumpai markas TNI. Selain itu, Singkawang adalah daerah pemekaran baru dari Kabupaten Sambas sehingga memungkinkanterjadinya integrasi baru. (2) Tanah Singkawang sangat baik untuk kegiatan pertanian dan peternakan. Hasil petanian sangatmendukung dalam memajukan perekonomian Singkawang. (3) Etnis Madura di Singkawang sudah mendapatkan hak-haknya sebagaiwarga negara baik di bidang politik, pendidikan, dan budaya yang menjadi indikator sudah terjalinnya integrasi antar etnis di kota ini.
PURUN: MERAJUT EKOLOGI DAN TRADISI DI KOTA TIKAR DALAM KONTEKS IPS
Purun (eleocharis dulcis) adalah sejenis tumbuhan semak yang tumbuh di daerah rawa. Tumbuhan jenis inioleh masyarakat Menang, Pedamaran, Ogan Komering Ilir (OKI) dikreasi menjadi aneka kerajinan bernilai ekonomis tinggi. Kreasi itu terdiri dari tikar, tas, dan aneka anyaman lainnya sehingga membuat daerah ini mendapat julukan sebagai Kota Tikar. Uniknya proses pembuatan aneka kerajinan tersebut dilakukan tanpa merusak alam. Alambenar-benar dijaga dan dirawat kelestariannya karena mampu memberi dampak sosial, ekonomi, dan budaya pada masyarakat setempat. Tradisi yang mampu menumbuhkan semangat gotong royong, kerjasama, dan kreativitastetap terjaga di tengah citra duta atau bandit sosial yang melekat pada orang OKI. Oleh sebab itu, diperlukan usaha merajut tradisi, melestarikan ekologi, dan merubah citra duta yang salah satunya dapat dilakukan dengan mengoptimalkan peran pendidikan melalui mata pelajaran IPS. IPS dipilih karena kajiannya membahas tentang persoalan sosial masyarakat. Realisasi tersebut dilakukan dengan (1) perencanaan pembelajaran dengan cara mengintegrasikan tradisi purun dan citra duta dengan KI KD IPS, (2) Penerapan pembelajaran melalui pendekatan scientifik disertai model pembelajaran diskusi dan karyawisata untuk mengelaborasi fenomena IPS (3) Penilaian hasil belajar IPS berdasarkan projek.Tiga langkah itu dilakukan untuk membuat pembelajaran IPS lebih menarik, bermakna, serta mampu menumbuhkan kepekaan sosial siswa
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TORNAMENTS (TGT) UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR IPS KELAS VII C SMP NEGERI 5 SLEMAN
Keaktifan dan hasil belajar IPS di kelas VII SMP Negeri 5 Sleman masih rendah. Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya keaktifan dan hasil belajar IPS adalah penggunaan model pembelajaran yang kurang menarik dan bervariasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan cara peningkatan keaktifan dan hasil belajar IPS dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournaments (TGT) di kelas VII C SMP Negeri 5 Sleman.
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus yang masing-masing siklusnya terdiri dari tiga komponen yaitu perencanaan, tindakan dan pengamatan, dan juga refleksi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, tes, dokumentasi, dan catatan lapangan. Keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi metode. Penelitian mengunakan dua bentuk analisis data yaitu analisis kualitatif. Adapun kriteria keberhasilan tindakan dalam penelitian ini yaitu apabil rata-rata keaktifan dan hasil belajar siswa mencapai presentase 75% atau lebih.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keaktifan siswa yaitu (1) memiliki tujuan pembelajaran yang jelas, (2) pembelajaran tidak hanya menekankan aspek kognitif tetapi juga afektif, (3) pembelajaran berpusat pada siswa, dan (4) guru hanya berperan sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Cara peningkatan belajar ini tenyata terbukti bisa meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas VII C. Keaktifan belajar siswa bisa meningkat dari 64,52% menjadi 83,87%. Selain itu, cara ini juga berperan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini bisa dilihat dari adanya peningkatan hasil belajar dari 67,74% menjadi 80,65%. Berdasarkan hasil tersebut maka penerapan model kooperatif tipe TGT dapat digunakan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPS kelas VII C SMP Negeri 5 Sleman.
Kata Kunci: TGT, Keaktifan, dan Hasil Belajar IP
Pengembangan Materi Pembelajaran IPS dengan Tema Antikorupsi dalam Bentuk Komik Digital untuk Siswa Kelas VII SMP
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan dan mengetahui kelayakan serta keefektifan materi pembelajaran IPS dengan tema antikorupsi dalam bentuk komik digital untuk siswa kelas VII SMP.
Penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang divalidasi pada tiga sekolah yaitu SMP Negeri 8 Yogyakarta, SMP Negeri 15 Yogyakarta, dan SMP Pangudiluhur 1 Yogyakarta dengan subjek penelitian siswa kelas VII. Penelitian ini terbagi menjadi tiga tahap uji coba yaitu uji coba satu-satu dengan jumlah 15 siswa, uji coba kelompok kecil 30 siswa, uji coba lapangan 90. Keefektifan komik digital yang dikembangkan dilakukan dari hasil uji coba lapangan. Teknik pengumpulan data menggunakan lembar validasi ahli materi dan media, angket, dan tes dianalisis menggunakan statistik deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan (1) kelayakan menurut ahli materi adalah 3,83 atau sangat tinggi dan ahli media adalah 3,57 atau sangat tinggi. (2) keefektifan pembelajaran pada aspek kognitif adalah 3,31 atau tinggi; aspek afektif untuk nilai religius adalah 3,21 atau tinggi, nilai kejujuran adalah 2,85 atau tinggi, nilai tanggung jawab adalah 2,96 atau tinggi, dan nilai kerja keras adalah 3,05 atau tinggi; aspek psikomotorik adalah 3,18 atau tinggi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengembangan komik digital antikorupsi dinyatakan layak dan efektif untuk digunakan dalam pembelajaran IPS kelas VII SMP
PENGEMBANGAN MODEL RESOLUSI KONFLIK (MRK) UNTUK MEMPERKUAT INTEGRASI ANTAR ETNIS (IAE) DI KOTA SINGKAWANG
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya tingkat kerawanan konflik yang dialami oleh masyarakat multi etnis di Kota Singkawang. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan (1) gambaran konflik yang terjadi di masyarakat serta tindakan resolusi yang telah dilakukan sebagai sumber belajar IPS, (2) mengembangkan Model Resolusi Konflik untuk Memperkuat Integrasi Antar Etnis (MRK-IAE), dan (3) mengetahui efektivitas model MRK-IAE yang telah dikembangkan. Metode yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (R & D). Penelitian dilakukan di lima SMP di Kota Singkawang dengan subjek penelitiannya adalah siswa dan guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Masyarakat Kota Singkawang secara historis mengalami beberapa kali konflik sosial horizontal antar etnis, namun mampu melakukan upaya resolusi konflik dengan baik. Realitas konflik dan upaya resolusi konflik di masyarakat dapat dijadikan sumber belajar IPS untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. (2) Model MRK-IAE memiliki enam sintaks yaitu: menggali fakta-fakta konflik, internalisasi nilai resolusi konflik, mengenalkan pengetahuan tentang konflik, simulasi resolusi konflik, penguatan integrasi sosial, dan evaluasi pelaksanaan resolusi konflik. (3) Model MRK-IAE terbukti efektif meningkatkan pengetahuan dimana siswa di kelas eksperimen mendapatkan skor yang lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Model juga berkontriusi untuk mengasah sikap serta keterampilan resolusi konflik pada diri siswa.
Kata Kunci: Konflik, Resolusi Konflik, Model MKR-IAE, dan Pembelajaran IPS.
This research is motivated by the high level of conflict vulnerability experienced by multi-ethnic communities in Singkawang City. This study aims to explain (1) the description of conflicts that occur in the community and the actions that have been taken as a source of social studies learning, (2) develop a Conflict Resolution Model to Strengthen Inter Ethnic Integration (CRM-IEI), and (3) determine the effectiveness of the CRM-IEI model which has been developed. The method used is research and development or (R & D). The research was conducted at five junior high schools in Singkawang City with the research subjects being students and teachers. The results showed that (1) the people of Singkawang City historically experienced several horizontal social conflicts between ethnicities, but were able to make conflict resolution efforts well. The reality of conflict and conflict resolution efforts in the community can be used as social studies learning resources to create meaningful learning for students. (2) The CRM-IEI model has six syntaxes, namely: recording conflict facts, internalizing conflict resolution values, introducing knowledge about conflict, conflict resolution, strengthening social integration, and evaluating conflict resolution. (3) The CRM-IEI model is proven to be effective in increasing knowledge where students in the experimental class get a higher score than the control class. The model also contributes to sharpening attitudes and conflict resolution skills in students.
Keywords: Conflict, Conflict Resolution, CRM-IEI Model, and Social Studies Learning
CAP GO MEH SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN RESOLUSI KONFLIK DI TENGAH KERAGAMAN ETNIS KOTA SINGKAWANG
Artikel ini sendiri bertujuan untuk mengkaji tiga hal yaitu (1) Bagaimanakah rekam jejak Etnis Tionghoa di Indonesia, (2)Bagaimanakah pelaksaan tradisi Cap Go Meh di Singkawang? (3) Bagaimanakah peran dari tradisi Cap Go Meh untuk menanamkanpendidikan resolusi konflik pada masyarakat?. Artikel ini dikaji dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkanbahwa (1)Kehidupan sosial masyarakat tionghoa di Indonesia telah mengalami pasang surut dari mulai dibatasi sejak keluarnya InpresNo 14 tahun 1967 yang melarang penyelenggaraan ibadah agama atau kepercayaan serta adat istiadat orang Tionghoa. Namun, padaera Presiden Abdurahman Wahid Inpres ini dihapus dan diganti dengan Keppres No 6 Tahun 2000 untuk memutihkan hak mereka.Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahkan dikeluarkan Undang-Undang No 40 Tahun 2008 yang melarang adanyadeskriminasi ras dan etnis. (2) Pelaksaan Tradisi Cap Go Meh di Singkawang dilakukan dilakukan melalui tiga acara besar yaitukegiatan Ritual Bersih Jalan di hari ke-14, Pawai Lampion di mala hari ke-15, dan Parade Tatung di hari ke-15. Kegiatan ini diikutioleh hampir semua etnis di Kota Singkawang baik sebagai pelaku parade maupun penonton acara. (3) Pelaksaan tradisi Cap Go Mehternyata dapat dijadikan sebagai media pendidikan resolusi konflik di masyarakat. Model pendidikan resolusi konflik tersebut dapatdikaji dari tiga pendekatan baik peace keeping, peace building, dan peace making. Peace keeping terlihat dari keberadaan oknum TNI,Polisi, dan tokoh lintas etnis maupun agama. Peace building terlihat dari adanya keikutsertaan dari Etnis Dayak dalam kegiatan CapGo Meh meskipun kedua etnis pernah terlibat konflik tahun 1967. Peace making terlihat dari berakhirnya kegiatan Cap Go Mehsebelum Adzan Dzuhur berkumandang. Hal ini dilakukan sebagai upaya menjaga keharmonisan antar etnis di Singkawan
KONTESTASI ETNIS DI KANCAH POLITIK
Kota multikultural sangat identik dengan Singkawang. Kondisi ini terlihat data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2004 yang mengatkan bahwa 40,38% warganya adalah Etnis Tionghoa, 36,72% Melayu, 7,26% Dayak, 5,69% Madura, dan 15,64% lainnya. Pakta demografi yang beragam ini tentu dapat menjadi awal munculnya kontestasi antar etnis. Kajian ini dilakukan untuk menganalisis potensi kontestasi politik di Singkawang. Secara umum analisis yang dilakukan bersifat studi literatur. Tahun 2009 lalu Kota Singkawang melakukan pemilihan Anggota DPRD melalui mekanisme pemilihan umum kepala daerah (pemilukada). Adapun jumlah posisi yang diperebutkan mencapai 30 kursi. Berdasarkan analisis literatur diketahui bahwa 30 anggota DPRD yang terpilih berasal dari suku yang berbeda. Setelah dilakukan pengkajian ternyata 30% adalah Etnis Tionghoa, 27% Melayu, 20% Dayak, 7% Madura, Jawa, dan Batak serta 3% Tambi. Berdasarkan data ini maka dapat disimpulkan bahwa persentase etnis berkorelasi dengan keterwakilan etnis pada Pemilukada Kota Singkawang.KATA KUNCI: kontestasi, etnis, dan Singkawang ETHNIC CONTESTATION IN POLITICAL SCOPEABSTRACTMulticultural city is very synonymous with Singkawang. This condition is seen from the Central Bureau of Statistics (BPS) data in 2004 which states that 40.38% of its citizens are ethnic Chinese, 36.72% Malays, 7.26% Dayak, 5.69% Madura, and 15.64% others. This diverse demographic pact can certainly be the beginning of ethnic contestation. This review was conducted to analyze the potential for political contestation in Singkawang. In general, the analysis conducted is literature study. In 2009, Kota Singkawang elected DPRD members through the election mechanism of regional head (Pemilukada). The number of contested positions reached 30 seats. Based on the literature analysis it is known that 30 elected DPRD members are from different tribes. After the assessment, 30% were ethnic Chinese, 27% Malays, 20% Dayak, 7% Madurese, Javanese, and Batak and 3% Tambi. Based on this data, it can be concluded that ethnic percentage correlates with ethnic representation in Pemilukada Kota Singkawang
MEMBANGUN KEPEMIMPINAN BERBASIS NILAI-NILAI PANCASILA DALAM PERSPEKTIF MASYARAKAT MULTIKULTURAL
Pemimpin organisasi di Indonesia apapun jenisnya harus dilandasi pada nilai-nilai pancasila sebagai landasan falsafah negera. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengkaji kepemimpinan berdasarkan nilai-nilai luhur pancasila. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah studi literatur dengan menganalisis dan menggali data dari berbagai sumber relevan. Nilai pancasila jika dikaitkan dengan organisasi harus didasarkan pada (1) nilai dasar, (2) nilai instrumental, dan (3) nilai praktis. Nilai kepemimpinan juga dapat dilakukan pada lembaga dengan mengembangkan nilai (1) transendensi, (2) humanisasi, (3) kebhinekaan, liberasi, dan (5) keadilan. Kelima pilar nilai pancasila tersebut sejatinya dapat menjadi ruh kepemimipinan yang ditampilkan oleh ketua suatu organisasi dalam memimpin.<br />Kata Kunci: Kepemimpinan, Nilai, Multikultural</jats:p
- …
