1,721,344 research outputs found
TINJAUAN MUSIKAL KARAWITAN PAKELIRAN WAYANG GOLEK DALANG KI SUPADI DARI DESA KARANGJAMBU
Penelitian ini membicarakan masalah musikalitas karawitan yang terdapat pada pakeliran wayang golek Ki Supadi dari Desa Karangjambu, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Pembicaraannya dititikberatkan pada unsur-unsur musikalitas karawitan pakeliran wayang golek Ki Supadi melalui pendekatan konsep-konsep Karawitan Jawa, yaitu meliputi masalah laras, irama, patet, ricikan, gending, bentuk gending, sulukan, dan garap.
Karawitan pakeliran wayang golek Ki Supadi ini mempunyai ciri khas tersendiri yang saat sekarang tidak dimiliki oleh dalang-dalang lain di daerah Purbalingga. Di dalamnya disebutkan bahwa ciri khas itu terletak pada penggunaan vokabuer gending, sulukan, dan penggunaan ricikan saron barung yang untuk mendukung sajian sulukan. Di dalam pakeliran wayang golek Ki Supadi digunakan gending-gending dari tiga daerah gaya, yaitu Gaya Banyumas, Gaya Tegal (Pekalongan), dan Gaya wetanan (Surakarta dan Yogyakarta).
Tulisan ini juga memaparkan masalah struktur karawitan pakeliran wayang golek Ki Supadi, yaitu sebuah susunan yang menyangkut urut-urutan sajian gending dan sulukan dalam pergelaran wayang golek Ki Supadi semalam suntuk. Penerapan sajian gending dan sulukan ini dimulai dari sajian gending talu sampai tancep kayon yang dibagi menjadi tiga patet, yaitu nem, patet sanga, dan patet manyura.
Untuk melengkapi tulisan ini di dalamnya diwarnai pula hal-hal melatarbelakangi timbulnya gaya pakeliran wayang golek Ki Supadi di daerah Purbalingga. Proses pembentukan kesenimanan Ki Supadi itu ditentukan oleh beberapa aspek dan keterlibatannya dalam pergelaran wayang golek. Ki Supadi sendiri adalah seorang dalang keturunan dari dalang wayang golek dari Tegal yang dahulunya berasal dari Pemalang. Pedalangan golek itu, setelah sampai pada Ki Supadi mengalami perubahan, terutama pada karawitannya berupa penambahan dan penggantian gending serta ricikan yang digunakan. Proses pengumpulan data pada laporan penelitian ini melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka
ESTETIKA PERTUNJUKAN WAYANG GOLEK MENAK PURBALINGGA LAKON KENDHIT BRAYUNG GUGUR SAJIAN KI SUPADI HADIMIHARDJO
Penelitian berjudul "Estetika Pertunjukan Wayang Golek Menak Purbalingga Lakon Kendhit Brayung Gugur Sajian Ki Supadi Hadimihardjo" ini bertujuan untuk menjawab permasalahan tentang: (1) Bagaimana bentuk pertunjukan wayang golek menak Purbalingga Lakon Kendhit Brayung Gugur sajian Ki Supadi Hadimihardjo, dan (2) Bagaimana estetika pertunjukan wayang golek menak Purbalingga Lakon Kendhit Brayung Gugur sajian Ki Supadi Hadimihardjo.
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan model analisis kualitatif. Permasalahan pertama dikaji menggunakan teori dan konsep struktur pertunjukan wayang dalam Pathokan Pedalangan Gagrag Banyumas yang diterbitkan oleh Senawangi, yang dipadukan dengan teori struktur dramatik lakon wayang yang dikemukakan oleh Soediro Satoto. Adapun untuk mengungkap estetika yang terkandung di dalam pertunjukan wayang golek menak Purbalingga tersebut menggunakan konsep estetika mendhalungan yang dikemukakan oleh Bagong Pujiono. Data-data penelitian didapat melaluiobservasi, studi pustaka, dan wawancara.
Hasil penelitian ini menunjukkan keunikan pertunjukan wayang golek menak Purbalingga Lakon Kendhit Brayung Gugur sajian Ki Supadi Hadimihardjo, ditemukan bahwa strukturlakontersusun dari pathet nem, yakni jejer kapisan Negara Koparman, kondhur kedhatonan, paseban jaba, budhalan, jejer Tegal Kepanasan, candhakan Patih Jalandara, perang kembang, dan candhakan Prabu Malangsemirang. Pada bagian pathet sanga, yakni jejer Pertapan Nabi Khidir, candhakan Gunung Waja,dan perang pathet sanga. Adapun pada pathet menyuri, yakni jejer pathet manyuri Negara Koparman, candhakan menyuri, perang menyuri, perang tandhing, dan jejer pungkasan Negara Koparman. Adapun estetika pada pertunjukan wayang golek menak Purbalingga Lakon Kendhit Brayung Gugur sajian Ki Supadi Hadimihardjo dapat dilihat dari keberhasilan dalang dalam membangun suasana gathuk, runtut, jebles manjing, dan cucutyang tercermin dalam beberapa adegan.
Kata Kunci: bentuk, estetika, wayang golek, Kendhit Brayung gugu
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
KESANTUNAN BERBAHASA PADA TUTURAN TENAGA MEDIS DAN PASIEN DI PUSKESMAS MUARA BANGKAHULU KOTA BENGKULU
ABSTRAK
Rea Utami. 2022. Kesantunan Berbahasa Pada Tuturan Tenaga
Medis dan Pasien di Puskesmas Muara bangkahulu Kota
Bengkulu. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Jurusan
Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Bengkulu. Pembimbing l Drs. Supadi, M. Hum. dan
Pembimbing ll Dr. Irma Diani, M. Hum.
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan realisasi
kesantunan berbahasa pada tuturan perawat dan pasien di Puskesmas
Muara Bangkahulu Kota Bengkulu. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode deskriptif. Teknik pengumpulan data
dilakukan dengan teknik observasi, teknik rekam, dan teknik catat. Hasil
dari penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut, yang terdiri dari enam
maksim. Maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim
penghargaan, maksim kerendahan hati, maksim kemufaktan, dan maksim
kesimpatian. Berdasarkan rinciannya yaitu terdiri atas 12 maksim
kebijaksanaan, 4 maksim kedermawaanan, 7 maksim penghargaan, 2
maksim kesederhanaan, 14 maksim kemufakatan, dan 10 maksim
kesimpatian. Maka dapat disimpulkan dari data yang ditemukan sebanyak
49 data bahwa tuturan tenaga medis dan pasien di Puskesmas Muara
Bangkahulu Kota Bengkulu sudah termasuk menggunakan bahasa yang
santun.
Kata Kunci: Kesantunan Berbahasa, Tenaga Medis dan Pasien,
Puskesmas Muara Bangkahulu
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
KESANTUNAN BERBAHASA MELAYU BENGKULU PADA MASYARAKAT PESISIR PANTAI ZAKAT KELURAHAN BAJAK KECAMATAN TELUK SEGARA KOTA BENGKULU
Kesantunan Berbahasa Melayu Bengkulu pada Masyarakat Pesisir Pantai Zakat Kelurahan Bajak Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu : Kajian Prgamatik. Skripsi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Bengkulu, dengan pembimbing (1) Dr. Dian Eka Chandra W., M.Pd., dan pembimbing (II) Drs. Supadi, M.Hum. Permasalahan yang dibahas adalah bagaimanakah kesantunan berbahasa dalam percakapan masyarakat pesisir Pantai Zakat dan bagaimanakah jenis-jenis kesantunan dalam percakapan masyarakat pesisir Pantai Zakat. Tujuan yang dicapai dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan kesantunan berbahasa dalam percakapan masyarakat pesisir Pantai Zakat di Kelurahan Bajak Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu dan mengetahui jenis-jenis kesantunan berbahasa pada percakapan masyarakat pesisir Pantai Zakat di Kelurahan Bajak Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, teknik rekaman, dan teknik wawancara. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan tahaptahap (1) transkripsi data, (2) identifikasi data, (3) reduksi data, (4) klasifikasi data, dan (5) interpretasi data. Berdasarkan hasil penelitian, penulis memperoleh gambaran bahwa kesantunan berbahasa Melayu Bengkulu pada masyarakat pesisir Pantai Zakat yang terjadi di Pantai Zakat, DAM Pantai Zakat, rumah-rumah warga di Kelurahan Bajak, kelompok arisan RT 05, dan warung-warung di Kelurahan Bajak terdapat dua jenis kesantunan, yaitu kesantunan positif dan kesantunan negatif. Kesantunan positif diperoleh sembilan (9) tuturan santun dengan memberikan pertanyaan atau meminta alasan, tiga (3) tuturan santun dengan mencari persetujuan dengan topik yang umum atau mengulang sebagian atau seluruh ujaran mitra tutur (penutur), satu (1) tuturan santun memberikan tawaran atau janji, satu (1) tuturan santun menyatakan paham atau mengerti akan keinginan mitra tutur (penutur), dua (2) tuturan santun membesarbesarkan perhatian, persetujuan, dan simpati kepada mitra tutur, dua (2) tuturan santun mengintensfikan perhatian penutur dengan mendramatisasikan peristiwa atau fakta. Selanjutnya, untuk kesantunan negatif, hanya terdapat: tiga (3) tuturan santun meminimalkan paksaan dan satu (1) tuturan santun menunjukkan keoptimisan
The integrated inventory and production planning for time-varying demand process / Siti Suzlin Supadi
In the literature, integrated inventory model has received a lot of attention.
Most previous works on this topic have been based on the assumption
of constant demand rate. However this assumption is not reliable in reality;
it is either increasing or decreasing with time.
In this thesis, we considered the model which consists of a single vendor
who manage the production and deliver to a single buyer with a linearly
decreasing demand rate over a finite time horizon. Costs are attached to
manufacturing set up, the delivery of a shipment and stockholding at the
vendor and buyer. The objective is to determine the number of shipments
and size of those shipments which minimize the total system cost - assuming
the vendor and buyer collaborate and find a way of sharing the consequent
benefits.
We begin this thesis with the integrated inventory policy for shipping a
vendor’s final production batch to a single buyer under linearly decreasing
demand. The first case considered here is the holding cost at the vendor is less
than at the buyer. We solve this model with equal shipment sizes policy, equal
shipment periods policy and unequal shipment sizes and unequal shipment
periods policy.
Then, we develop a mathematical model when the unit holding cost is higher at the vendor rather than at the buyer (consignment stock problem).
For this case, we also consider equal shipment sizes policy, equal shipment
periods policy, and unequal shipment sizes and unequal shipment periods as
in the previous case policy.
It is followed by an integrated inventory model with n production batches
which consists of the final batch at the end of the production cycle. This
model also considers the case of the buyer’s holding cost being greater than
the vendor’s and vice versa. We consider this model with equal cycle time
and unequal cycle time for both policies. We show the solution procedure
when the shipment sizes are equal and when they are unequal.
We solve all the models in this thesis using Microsoft Excel Solver and
illustrate all the policies with numerical examples and sensitivity analysis.
Then we make some comparison of the model. Lastly we end the thesis with
conclusion and some recommendations for further research
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
