1,720,976 research outputs found
Pengembangan Pariwisata Kenjeran Berbasis Potensi Maritim
Industri pariwisata berbasis maritim saat ini menjadi kebutuhan daerah dan kota untuk pengembangan kawasan pariwisata, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai edukasi mengenalkan maritim kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi karakteristik pariwisata, potensi maritim, dan menentukan arahan pengembangan pariwisata. Metode penelitian yang di gunakan deskriptif kualitatif dan kuantitatif, dengan teknik analisis hierarki proses (AHP). Hasil penelitian menunjukkan karakteristik pariwisata yang ada di Pantai Kenjeran dilihat dari fasilitas sarana prasarana lingkungan sudah tersedia, namun perlu di tambahkan beberapa sarana prasarana seperti toilet, mushola, dan bak sampah di beberapa titik yang saat ini sudah mengalamim kerusakan. Potensi maritim yang ada berupa jenis biota laut, hasil produksi tangkapan laut, dan teknologi alat tangkap ikan. Arahan pengembangan kegiatan pariwisata berbasis maritim dengan skala prioritas 1 sebesar 58,2% jenis biota laut, 39,8% hasil produksi tangkapan ikan, dan 54,1% teknologi alat tangkap ikan. Skala prioritas 2 sebesar 41,8% jenis biota laut, 60,2% hasil produksi tangkapan ikan, dan 45,9% teknologi alat tangkap ikan. Dengan demikian arahan kebijakan yang direkomendasikan adalah penyediaan laboratorium biota laut dan kegiatan peningkatan alat teknologi tangkap ikan bagi para nelayan
PENGEMBANGAN EKONOMI KAWASAN PESISIR SEDATI BERBASIS MINAPOLITAN: Action Plan; Kawasan Pesisir; Minapolitan; Pengembangan Ekonomi; loqation-quotien
Kecamatan Sedati merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Sidoarjo yang dalam perencanaanya dijadikan sebagai kawasan strategis. Kawasan strategis merupakan kawasan yang di dalamnya berlangsung kegiatan dan mempunyai pengaruh besar terhadap tata ruang di wilayah sekitarnya, kegiatan lain di bidang yang sejenis dan kegiatan di bidang lainnya, dan atau peningkatan kesejahteraan masyarakat. Secara umum mayoritas penduduk bekerja sebagai petani, swasta dan nelayan. Potensi ekonomi yang ada adalah basil pertanian, perikanan dan pertambakan, sehingga diperlukan konsep dan strategi untuk mengembangkannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi ekonomi, mengoptimalkan dan meningkatkan peran sektor perikanan tangkap maupun budidaya dalamrangka mendukung pengembangan konsep minapolitan di Kecamatan Sedati. Metode penelitian yang digmaJam adalah survey data sekunder dan survey data primer. Alat analisis yang digmakan adalah analisa deskriptif kualitatif dan analisis potensi ekonomi unggulan dengan metode loqation-quotien (LQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan konsep regionalisasi kawasan dan hasil analisa potensi ekonomi dengan metode loqation-quotien (LQ) diperoleh Kecamatan Sedati merupakan Kecamatan pusat pertumbuhan (growth pole) dengan konsep pengembangan minapolitan dan kawasan pariwisata baik untuk wilayahnya sendiri maupun sebagai hinterland kawasan lainnya. Berdasarkan potensi unggulan dan potensi strategis lokasi, Kecamatan Sedati memiliki nilai LQ sebesar 1,69 sehingga besarnya nilai LQ tersebut harus dikembangkan potensinya. Sedangkan konsep pengembangan kawasan pesisir berbasis minapolitan dapat dilakukan secara bertahap berdasarkan indikasi program yang telah direncanakan
DAMPAK LUMPUR LAPINDO TERHADAP KUALITAS LINGKUNGAN PESISIR SIDOARJO DALAM RANGKA MEWUJUDKAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
Kabupaten Sidoarjo memiliki pantai di wilayah timur sepanjang sekitar 27 km yang melintasi Kecamatan Sedati, Buduran, Sidoarjo, Porong dan Jabon. Bencana lumpur Sidoarjo yang terjadi pada tahun 2006 telah berdampak luas bagi kehidupan masyarakat di pantai wilayah timur tersebut, baik dari segi sosial ekonomi masyarakat, kondisi lingkungan pesisir, kegiata n usaha maupun kegiatan transportasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisa bagaimana kondisi kualitas lingkungan yang ada di pesisir Sidoarjo akibat adanya lumpur lapindo. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan melakukan surve data sekunder dan data primer kepada masyarakat pesisir yang menjadi responden terpilih. Analisis yang digunakan adalah analisa deskriptif dan analisa uji kualitas air dan tanah yang berdampak pada potensi hasil perikanan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan terhadap kondisi sosial secara psikologis dan kondisi ekonomi secara umum. Secara sosial dan ekonomi, saat ini pemerintah dan pihak perusahaan sudah memberikan solusi dalam hal ini adalah ganti rugi. Namun kebijakan tersebut masih bersifat sepihak artinya antar korban masih terjadi ketimpangan atas biaya ganti rugi yang diberikan oleh pemerintah dan pihak perusahaan, sehingga masih sering terjadi demonstrasi diantara korban atas ketimpangan tersebut. Sedangkan ha sil analisa kualitas lingkungan dengan uji laboratorium kualitas air dan tanah menunjukkan bahwa adanya bencana lumpur lapindo tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kegiatan perikanan tambak, hal ini ditunjukkan dengan hasil produksi perikanan tambak dari tahun 2006 sampai 2010 mengalami kenaikan
IDENTIFIKASI SEKTOR EKONOMI BASIS (UNGGULAN) DAN HIERARKI PUSAT PELAYANAN BERDASARKAN TINGKAT KEMAMPUAN FASILITAS DALAM RANGKA PENGEMBANGAN WILAYAH (STUDI KECAMATAN KASIMAN DAN KECAMATAN PADANGAN KABUPATEN BOJONEGORO)
Sesuai dengan kebijaksanaan pembangunan tingkat nasional dalam UU No. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang bahwa kawasan perbatasan merupakan kawasan strategis dan diprioritaskan pembangunannya secara nasional. Kebijaksanaan pembangunan daerah Kabupaten Bojonegoro ditetapkan untuk mengarahkan pembangunan daerah untuk tercapainya keseimbangan dalam hal tingkat kemakmuran antar SWP. Dalam rangka mencapai keseimbangan pembangunan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sektor ekonomi basis (unggulan) dan hierarki pusat pelayanan berdasarkan tingkat kemampuan fasilitas kecamatan.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan alat analisis (LQ) Location Quotient, (SSPS) Shift-Share Proportionality Shift, kombinasi LQ dengan SSPS. Kedua alat analisis ini diperoleh gambaran komoditi unggulan dengan klasifikasi tipe 1, 2, 3, dan 4 di masing-masing kecamatan pada wilayah studi. Sedangkan untuk mengetahui kemampuan kecamatan dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat digunakan alat analisis Scalogram. Hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa Kecamatan yang memiliki klasifikasi tipe 1 adalah Kecamatan Padangan, artinya bahwa Kecamatan ini memiliki komoditi unggulan yang mampu memenuhi kebutuhan daerahnya dan daerah lain, karena komoditi ini memiliki pertumbuhan yang cepat di tingkat kecamatan. Sedangkan klasifikasi tipe 2 adalah Kecamatan Kasiman, artinya bahwa Kecamatan ini memiliki komoditi unggulan yang mampu memenuhi kebutuhan daerahnya dan daerah lain, tetapi komoditi ini memiliki pertumbuhan yang relatif lambat di tingkat kecamatan. Sedangkan berdasarkan hasil perhitungan analisis scalogram dapat diketahui bahwa kecamatan yang mempunyai fasilitas terlengkap adalah kecamatan yang memiliki peringkat 1 dari keseluruhan fasilitas kecamatan adalah Kecamatan Kasiman, yang mana kecamatan ini memiliki fasilitas kesehatan dan fasilitas ekonomi terlengkap dibanding dengan kecamatan lain. Kemudian Kecamatan Padangan memiliki peringkat 2 dari keseluruhan unit fasilitas kecamatan yaitu fasilitas kesehatan dan fasilitas pendidikan paling lengkap dibanding dengan kecamatan lainnya
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
STUDI PENGEMBANGAN POTENSI OBJEK WISATA ANYAR MANGROVE (WAM) DI KELURAHAN GUNUNG ANYAR TAMBAK SURABAYA
Kelurahan Gunung Anyar Tambak merupakan salah satu Kelurahan di KecamatanGunung Anyar Kota Surabaya yang terdapat objek wisata yang di beri nama Wisata AnyarMangrove (WAM). Metode penelitian yang digunakan dalam studi pengembangan potensi objekwisata anyar mangrove (WAM) adalah metode penelitian deskriptif kualitatif dan metode analisishirarki proses (AHP), dengan melakukan pengamatan secara langsung, penyebaran kuisioner danwawancara. Dalam penelitian ini analisis AHP digunakan sebagai penentuan konseppengembangan objek wisata WAM di Kelurahan Gunung Anyar Tambak Surabaya. Penelitian inimenghasilkan arahan kebijakan mengenai konsep pengembangan potensi objek wisata WAMagar dapat dikembangkan. Objek wisata WAM memiliki potensi alam berupa pemandangan yangindah dan alami, berbagai jenis fauna dan flora seperti burung-burung dan hutan mangrove.Arahan kebijakan yang dirumuskan menunjukan bahwa konsep pengembangan potensi wisataWAM agar meningkatkan daya tarik wisata, sehingga dapat meningkatkan penghasilanmasyarakat setempat, meningkatkan kualitas hutan mangrove sehingga tetap terjaga, selainberwisata, bisa menjadi tempat pendidikan/penelitian. Dengan dukungan dari pemerintah danperan serta masyarakat setempat. Karakter Objek Wisata Anyar Mangrove (WAM) termasukdalam jenis wisata lokal yang memiliki potensi alam yang indah dan alami, pemandangan yangindah, dan terdapat berbagai jenis fauna dan flora. Pemanfaatan lahan pada kawasan objekwisata WAM merupakan kawasan konservasi managrove, tambak ikan, dan perumahan. Jumlahwisatawan yang berkunjung ke objek wisata WAM merupakan wisatawan lokal dengan tujuanrekreasi atau bersantai, tetapi masih dalam jumlah yang sedikit. Sarana dan prasarana wisataserta akses jalan masih dalam kondisi kurang baik. Objek wisata WAM memiliki banyak potensiyang perlu di kembangkan, selain itu melakukan promosi tentang potensi wisaata yang ada untukmenarik daya tarik wisatawan
STUDI PENATAAN SARANA PRASARANA TEMPAT PELELANGAN IKAN (TPI) JUANDA BERBASIS CLUSTER
Coastal and marine areas is one of the natural resources that have the nature of a complex, dynamic, and unique because of the influence of the two ecosystems, the oceans andterrestrial ecosystems. Sidoarjo has great potential in the development of the fisheries sector, onein the District Sedati, Gisik Cemandi village. Cemandi Gisik village has the potential local-scalefish auction place. The purpose of the study is to identify the Fish Auction Infrastructures Juanda,and create a concept of structuring infrastructure cluster-based TPI. The method used isdescriptive qualitative method and arrangement of the design concept. Analytical techniques usedwere interviews and observation techniques in the study area. The analysis showed that thearrangement of the TPI-based cluster, can be carried out if the following Regulation of MaritimeFisheries and Affairs 10 / MEN / 2004, relating to facilities and infrastructure. Existing facilities andinfrastructure in the corresponding Regulation of the Minister of Marine Fisheries and Affairs ofIndonesia No. 10 / MEN / 2004 include boat docks, fishing boats, places of worship and toilet,while the infrastructure is not in accordance with the regulation of the Minister of Marine Affairsand Fisheries 10 / MEN / 2004 include building TPI, TPI management office, and fishing gear.Thus, TPI infrastructure that is in conformity with the Regulation of the Minister of Marine Fisheriesand Affairs of Indonesia No. 10 / MEN / 2004 keep being maintained and adjusted in accordancewith the design concept of the arrangement of this research
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
