1,720,957 research outputs found

    KEMAMPUAN MAHASISWA MENGEMBANGKAN MOTIF GERAK DALAM PROSES KOREOGRAFI PADA MATA KULIAH TARI PENDIDIKAN II DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SENDRATASIK FSD UNM

    Get PDF
    Penelitian evaluatif ini bertujuan menjawab masalah tentang bagaimana mahasiswa mengembangkan motif gerak dan berbagai kendala dalam mengembangkan motif gerak dalam proses koreografi pada mata kuliah Tari Pendidikan II di Prodi Pendidikan Sendratasik FSD UNM. Penelitian ini bermaksud mendeskripsikan keadaan proses pembelajaran koreografi terutama pada tahap pengembangan gerak. Sasaran penelitian ini adalah proses pembelajaran koreografi pada mata kuliah Tari Pendidikan II di Program Studi Pendidikan Sendratasik Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar. Mata kuliah tersebut berjalan di semester genap VI tahun akademik 2017/2018. Objek penelitian ini adalah mahasiswa yang mengikuti atau memprogram mata kuliah Tari Pendidikan II kelas B yang berjumlah delapan orang. Dasar penilaian dalam pengembangan gerak menggunakan 16 metode rumusan Jacqueline Smith. Hasil evaluasi menunjukan bahwa mahasiswa Program Studi Pendidikan Sendratasik angkatan 2015 kelas B yang memprogram mata kuliah Tari Pendidikan II, kurang mampu mengembangkan gerak, ratarata mahasiswa hanya mampu menerapkan 7 metode dari 16 metode yang dianjurkan. Adapun kendala meliputi : Kurangnya referensi dan perbendaharaan teknik dalam mengeksplorasi tubuh, kurangnya kepekaan intuitif pada diri mahasiswa, etos kerja kreatif mahasiswa rata-rata kurang gigih, dan waktu bimbingan yang sempit. Kata kunci: evaluasi, pengembangan motif gerak, dan koreograf

    PENANAMAN KESADARAN BUDAYA: PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN KOREOGRAFI BERBASIS BUDAYA LOKAL PADA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SENDRATASIK

    No full text
    Penelitian ini merupakan salah satu upaya penanaman kesadaran budaya lokal melalui pengembangan model pembelajaran. Mata kuliah yang dipilih adalah koreografi yang merupakan mata kuliah wajib pada Program Studi Pendidikan Sendratasik Fakultas Seni dan Desain UNM. Model pembelajaran koreografi yang dikembangkan dalam penelitian ini, didesain dengan memadukan dua model yaitu model pembelajaran Joyce & Well dengan tahap-tahap koreografi rumusan Jacqueline Smith, sedangkan tingkat kesadaran budaya yang dijadikan acuan adalah tingkat kompetensi. Permasalahan pokok penelitian ini adalah: bagaimana mewujudkan sebuah model pembelajaran koreografi yang dapat menanamkan kesadaran budaya lokal yang valid, praktis dan efektif pada Program Studi Pendidikan Sendratasik FSD UNM. Penelitian ini akan melalui langkah-langkah yang mesti ditempuh dalam menghasilkan produk model dan perangkat pendukungnya. Prosedur pengembangan model ini menggunakan prinsip ADDIE, yang dimodifikasikan dalam tiga langkah yaitu: Pendahuluan, Perancangan, dan Pengembangan. Pengembangan desain model pembelajaran juga mengacu pada ISD Model Spiderweb. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran yang dikembangkan valid, efektif dan praktis. (i) Kevalidan tercermin pada respon validator yang terdiri dari para pakar koreografi. Respon positif yang diberikan adalah penilaian bahwa model yang dikembangkan dalam penelitian ini valid yang berarti benar karena sesuai teori yang dipilih sebagai acuan; (ii) . Efektif karena model pembalajaran yang dikembangkan dalam penelitian ini telah menghasilkan 20 karya koreografi yang mencerminkan budaya lokal; dan (iii) Kepraktisan tercermin pada respon positif dari pengguna model dan mahasiswa peserta uji-coba model. Respon positif dari pengguna model menyatakan bahwa dari 40 aspek 80% praktis, sedangkan respon positif peserta uji-coba yang berjumlah 20 orang menyatakan bahwa pada tahap eksplorasi 70% praktis, tahap improvisasi 100% praktis, tahap pengembangan gerak 100% praktis, dan tahap 100% praktis. Model pembelajaran koreografi berbasis budaya lokal ini memiliki makna konstitusional karena sejalan dengan amanat konstitusi tentang pengembangan kebudayaan nasional; memiliki makna filosofis karena dijiwai oleh pemikirian mendalam tentang pengembangan identitas diri dan kepribadian peserta didik; dan memiliki makna akademis karena dikembangkan berdasar prinsip keilmuan. Kata kunci: Model pembelajaran, koreografi, dan kesadaran budaya

    Karna Tandhing

    Get PDF
    Tema garapan tari ini adalah konflik yang senantiasa tersirat dalam kata tandhing. Inti dari cerita garapan tari ini bermula dari pertemuan Karna dengan Dewi Kunthi, yakni ibunya yang juga ibu dari Arjuna. Karya tari ini menggunakan gerak tari putri gaya Yogyakarta, dengan tipe garapan tari yang digunakan adalah tipe dramatik. Iringan yang dipakai dalam karya ini adalah gending. Tata teknik pentasnya meliputi arena pentas, properti, dekor, tata sinar, tata busana, dan tata rias

    Hubungan antara pola asuh orangtua dengan penyesuaian sosial siswa kelas 1 SMKN2 Malang

    Get PDF
    INDONESIA : Keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi anak dalam mendapatkan pendidikan. Peranan pola asuh yang diterapkan orang tua mempunyai pengaruh yang cukup berarti bagi perkembangan anak sehingga pola asuh dapat dimengerti sebagai pola interaksi antara orang tua dan anak selama merawat dan mengasuh anak. Jika pola asuh yang diberikan kepada anak secara otoriter anak akan cenderung bersikap menolak diri. Jika orangtua mendidik anak dengan pola asuh demokratis anak akan sadar diri dan bertanggung jawab secara sosial. Dan jika orangtua mendidik anak dengan pola asuh permisif maka anak akan cenderung bersikap semaunya sendiri sehingga kurang mampu menjalin persahabatan. Jika anak mempunyai hubungan sosial memuaskan dengan anggota keluarga, maka anak akan menikmati sepenuhnya hubungan sosial di luar keluarga baik di sekolah, maupun dalam masyarakat. Penelitian ini membahas tentang 1). Bagaimana jenis pola asuh orangtua Siswa SMKN 2 Malang, 2). Bagaimana tingkat penyesuaian sosial Siswa SMKN 2 Malang, dan 3). Apakah ada hubungan antara pola asuh orangtua dengan penyesuaian sosial pada Siswa SMKN 2 Malang. Pola asuh adalah cara yang digunakan orangtua d alam mencoba berbagai strategi untuk mendorong anak mencapai tujuan yang diinginkan. Pola asuh orangtua ada 3 macam yaitu: 1). Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang menekankan batasan dan larangan, orangtua sangat menghargai anak -anak yang patuh terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan tidak melawan. 2). Pola asuh demokratis mendorong anak untuk bebas tetapi tetap memberikan batasan dan mengendalikan tindakan-tindakan mereka. dan 3). Pola asuh permisif adalah pola asuh yang tidak memberikan str uktur dan batasan-batasan yang tepat bagi anak-anak mereka. Penyesuaian sosial diartikan sebagai keberhasilan seseorang untuk menyesuaiakan diri terhadap orang lain pada umumnya dan terhadap kelompok pada khususnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional, dengan populasi siswa kelas 1 SMKN 2 Malang dan sampel yang diambil sebanyak 110 siswa kelas 1 SMKN 2 Malang. Dengan menggunakan teknik random. Metode pengumpulan data melalui angket. Analisis data menggunakan Analisis Variant dan Product Moment. Hasil penelitian tentang pola asuh orangtua dengan penyesuaian sosial menunjukkan bahwa 1). Jenis pola asuh orangtua siswa kelas 1 di SMKN 2 Malang, adalah pola asuh demokratis. Hal ini ditunjukkan dengan frekuensi 58 dan presentasenya sebesar 53%. 2). Tingkat penyesuaian sosial pada siswa SMKN 2 Malang berada pada kategori sedang. Hal ini ditunjukkan dengan frekuensi 41 dan presentasenya sebesar 37 %. 3). Ada hubungan yang signifikan positif antara pola asuh orangtua demokratis dengan penyesuaian sosial anak yang menunjukkan bahwa r = 0, 266 dan p = 0,005. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pola asuh demokratis maka semakin tinggi tingkat penyesuaian sosial. Sebaliknya semakin rendah tingkat pola asuh demokratis maka semakin re ndah tingkat penyesuaian sosial. Sedangkan korelasi antara pola asuh otoriter dengan penyesuaian sosial menunjukkan hasil r = -,161 dan p = 0.094. Ini menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pola asuh otoriter dengan penyesuaian sosial. Begitu juga korelasi antara pola asuh permisif dengan penyesuaian sosial menunjukkan hasil r = -,053 dan p = 0,581. Ini menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pola asuh permisif dengan penyesuaian sosial. ENGLISH : Family is the first and primer place for child in learning education. The role of care style applied by parent has very important influence for the child growth so that the care style can be interpreted as the interaction pattern between parent and child during treating and taking care of child. If the care style given to child is authoritarian, child will tend to be refusing child. If parent educates child democratically, child will be aware their self and responsible for social. If parent educates child permissively, child will tend to do whatever they want so they will be hard to make a friend. If child has satisfying social relationship with the members of family, so child will enjoy the whole social relationship outside family either in school or society. This research discusses about 1) How is the kind of care style of students parent of SMKN 2 Malang, 2) How is the social adaptation level of SMKN 2 Malang students, 3) Is there any Relationship between the care style of parent and social adaptation of SMKN 2 Malang students. The care style is the way used by parent in trying some strategies to motivate child to get the purpose wanted. There are some care types of parent, those are: 1) authoritarian care type is the care type pushing the limit and prohibition, parent rally appreciates children who obey and do not oppose to what they ask. 2) Democratic care type motivates child to be free but still gives the limit and controls their activities. And 3) Permissive care type is the care type not giving the exact structure and limit for their children. Social adaptation is meant as the success of someone in adapting with other people generally and with group especially. This research uses correlation quantitative appro ach, with the population is the 1st grade students of S MKN 2 Malang and the sample taken is 110 1st grade students of SMKN 2 Malang by suing random technique. The data collecting method is uses questioner. The data analysis uses Variant Analysis and Product Moment. The research result about the care style of parent and social adaptation shows that 1) The kind of care style of 1st grade students parent of SMKN 2 Malang is democratic care type. This is shown by the 58 frequencies and the percentage is 53%. 2) The social adaptation level of SMKN 2 Malang students is at the middle category. This is shown by the 41 frequencies and the percentage is 37%. There is significant and positive relationship between the of parent and child social adaptation which shows that r = 0,266 and p = 0,005. It shows that the higher of democratic care style, the higher the level of social adaptation. On the contrary, the lower the level of democratic care style so the lower the social adaptation level. Meanwhile the correlation between the authoritarian care style

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    PERHITUNGAN DANA PENSIUN DENGAN METODE ATTAINED AGE NORMAL PADA TINGKAT SUKU BUNGA MODEL VASICEK (Studi Kasus: Guru Honorer Sekolah Dasar Kecamatan Bunut Hilir)

    Get PDF
    Program dana pensiun merupakan salah satu bentuk perencanaan masa depan bagi karyawan ketika pensiun karena adanya jaminan hari tua. Penelitian ini menggunakan metode Attained Age Normal yang merupakan metode perhitungan di mana nilai sekarang manfaat pensiun peserta dialokasikan antara usia peserta pada tanggal perhitungan hingga usia pensiun normal. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perhitungan nilai sekarang dari manfaat pensiun (PVFB) yang dibayarkan pihak program pensiun kepada peserta di masa mendatang dan iuran normal (NC) yang dibayarkan peserta kepada pihak program pensiun dengan metode Attained Age Normal pada tingkat suku bunga model Vasicek yang bersifat fluktuatif. Langkah awal analisis dimulai dengan mengestimasi parameter model Vasicek dengan metode Maximum Likelihood Estimator (MLE), kemudian mencari nilai anuitas hidup, fungsi manfaat, dan iuran normal. Data yang digunakan adalah data guru honorer di Sekolah Dasar, Kecamatan Bunut Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, berjenis kelamin Laki-laki, mulai bekerja pada usia 24, 34, dan 36 tahun, dengan usia saat ini 28, 37 dan 39 tahun. Gaji pokok tetap sebesar Rp1.000.000,- per bulan. Tingkat suku bunga Vasicek yang digunakan adalah 4,63%, 5,83%, dan 6,18%.  Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa nilai PVFB dan NC cenderung mengalami penurunan seiring bertambahnya usia masuk. Selain itu, semakin besar tingkat suku bunga yang digunakan maka nilai PVFB dan NC semakin kecil, sehingga nilai PVFB yang dibayarkan pihak program pensiun kepada peserta lebih kecil, begitu pula iuran normal yang dibayarkan peserta. Kata Kunci: Pensiun, Attained Age Normal, Vasice

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Get PDF
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods
    corecore