1,720,965 research outputs found

    Penciptaan Teater; Pemberontakan Sisyfus dan Pengadilan Dewa

    Full text link
    Penciptaan Teater "Pembcrontakan Sisyfus dan Pengadilan Dewa" (PSdPD) adalah upaya penulis dalam merespon maraknya aksi bunuh diri di Indonesia. Dalam naskal1 PSdPD, cerita Sisyufus dikemas dalam scbuah doogengan oleh tokoh Pak Dalang yang scdang memberikan motivasi kepada orang-orang yang hendak melakukan bunuh diri. Lakon PSdPD ini memiliki keunikan tcrsendiri karena dalam pengadegannya mcnghadirkan gaya teater kontemporer Indonesia dan gaya klasik barat secara beriringan dalam satu pementasan. Gaya !cater kontemporer Indonesia yang dimaksud adalah terjadi pada adegan bunuh diri yang hcndak dilakkan oleh tokoh orang-orang di Indonesia, scdangkan gaya klasik barat akan hadir dalam dongengan yang dibawakan tokoh Pak Da lang dan mengisahkan perjalanan hidup Sisyfus dengan Jatar Yunani kuno. Penciptaan teatcr PSdPD ini bcrtujuan untuk mentransformasikan realitas da l am kehidupan nyata di Indonesia dan sebuah mitos dalam bentuk pcmen tasan teater. Rcalitas yang dimaksud adalah masalah bunuhdiri yang dikorelasikan dengan semanga t Sisyfus dalam mitologi Yunani kuno. Cara tersebut diharapkan dapat membantu pcnu lis dalam mentransformasikan wujud dan kontcks dari kenyataan dan mitos kc dalam pcrtunjukan !eater. Selain itu, pcnciptaan ini juga berupaya menciptakan wama baru dengan mengkolaborasikan gaya klasik barat dengan bentuk tcatcr kontcmporer Indonesia, sehingga keduanya dapat hadtr secara bersamaan. pendekatan yang digunakan dnlam pertunjukan ini adalah teori interteks. Teori ini bersumber pada aliran dalam strukturalisme perancis yang dipcngaruhi oleh pemikiran Jaques Derrida, yang selanjutnya dikembangkan olch Julia Kristeva. mitos Sisyfus yang ditu lis oleh Albert Camus dalam bukunya Tlte Myth Of SisyjitS dijadika n contoh tcladan, dan kerangka. Milos tersebut dijadikan hipogram sedangka n pertunjukan PSdPD adalah tcks transformasinya

    Penciptaan karya teater monolog end game

    No full text
    Puncak eksistensi seorang aktor adalah ketika bermain teater dengan pertunjukan monolog karena dalam bermain monolog seorang akator di tuntut berakting sekaligus menjadi sutradara bagi dirinya dan harus mampu menafsirkan konsep budaya dan merancang wujud artistiknya. Tujuan penciptaan yaitu menguraikan idiom-idiom tetare tradisi longser dengan idiom-idiom teater barat untuk menghasilkan bentuk baru melalui naskah teater. dengan memasukkan struktur longser dalam pertunjukan monolog end game menjadi interkulturalisme dapat menghasilkan bentuk yang menarik , unik dan memperkaya khazanah teater Indonesia

    Pemberontakan Sisyfus

    No full text
    Naskah drama pemberontakan sisyfus adalah upaya penciptaan dalam merespon fenomena bunuh diri di Indonesia. Dengan menggabungkan dua kehidupan sosial yang berbeda antara kehidupan di Indonesia dengan sebuah mitologi Yunani menjadikan karya ini sebagai naskah drama yang beraliran surealisme. Tujuan penciptaan ini, menciptakan naskah yang mampu mempertemukan dua dunia yang berbeda antara kehidupan sisifus dengan realita kehidupan masyarakat Indonesia, serta menghasilkan naskah kontekstual dan memerkaya dokumentasi drama Indonesia

    Karma Di Ladang Kurusetra : Penciptaan Teater

    No full text
    Tujuan dari penciptaan ini adalah 1. mencari kemungkinan lain dalam menafsirkan lakon Mahabaratha dengan menghadirkan kisah puncaknya yaitu Bharatayudha, 2. Menciptakan Ronggeng Lakon dengan menampilkan idiom seni tradisi Sunda ke dalam kisah Bharatayudha yang memiliki latar budaya asli India. 3. Menghadikan tokoh-tokoh besar dalam lakon Mahabharata sebagai untuk dapat menauladani dari sifat-sifatnya yang terpuji

    Ronggeng Lakon Karma Di Ladang Kurusetra

    No full text
    Karma Di Ladang Kurusetra adalah pertunjukan teater yang akan merefleksikan para penontonnya untuk kembali merenung akan peran hidupnya di dunia fana ini. Seberapa banyakkah kebaikan yang telah diperbuat dan seberapa besarkah kebatilan yang telah ditanamkan dalam kehidupan ini. Mungkinkah setiap bencana yang selalu muncul di sekitar kita adalah juga akibat sumbangsih perbuatan buruk yang bertumpuk? Gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, wabah penyakit dan segala yang melanda bangsa ini telah membuat manusia Indonesia hidup dalam bayangan ketakutan yang mencekam. Berangkat dari pemikiran itu perlu kiranya upaya gerakan penyadaran tentang kedekatan manusia kepada sang pencipta dari berbagai tokoh lapisan masyarakat tidak terkecuali para seniman akademis.Tujuan dari penciptaan ini adalah, pertama, Mencari kemungkinan lain dalam menafsirkan lakon Mahabharatha dengan menghadirkan kisah puncaknya yaitu Barathayudha. Kedua, Menciptakan Ronggeng Lakon dengan menampilkan idiom seni tradisi Sunda kedalam kisah Bharatayudha yang memiliki latar budaya asli India. Dan ketiga, Menghadirkan tokoh-tokoh besar dalam lakon Mahabharata sebagai pelajaran untuk dapat manauladani dari sifat-sifatnya yang terpuji.Proses penciptaan Karma Di Ladang Kurusetra ditempuh melalui beberapa tahapan dan metode kerja seperti yang dikemukakan Patrice Pavis. Tahapan ini diawali dengan menyeleksi cerita-cerita yang ada dalam kisah Mahabharata untuk diwujudkan menjadi sebuah teks drama. Selanjutnya dilakukan berbagai macam persiapan untuk merealisasikan teks drama tersebut menjadi teks pertunjukan teater

    PENCIPTAAN TEATER BERDASARKAN KASUS MONEY POLITIC PADA PEMILU LEGISLATIF DI INDONESIA

    Full text link
    Abstrak: Legislatif Celeng merupakan hasil dari proses perancangan dan peciptaan karya naskah dan konsep pertunjukan teater. Kerja kreatif ini merupakan suatu kritik terhadap perilaku jahat para calon anggota legislatif yang menggunakan politik uang untuk menjadi seorang dewan. Penciptaan naskah dan karya teater ini merupakan kritik politik, dan bagian dari ikhtiar penyadaran bahaya money politic dalam bentuk kesenian. Metode psikologi seni Graham Wallas (1926) digunakan dalam proses penyusunan perancangan ini. Tahapan proses berfikir kreatif Wallas membantu penciptaan naskah drama beserta perancangan teater yang berjudul Legislatif Celeng. Tokoh-tokoh, plot naskah, dan semua material pelengkap dipadukan sehingga menghasilkan sebuah karya yang sesuai dengan kebutuhan pertunjukan. Kata kunci: penciptaan teater, politik uang, kritik politik, naskah drama Abstract: Legislatif Celeng is the result of designing and creation of theatre performance. This creative work is a criticism of the evil behavior of legislative council  candidate who use money politics to become a council. The creation of the script and theatrical work constitutes political critics, and an effort to raise awareness of the dangers of money politics in the form of art. Graham Wallas’ (1926) Art of Thought was used in the process of preparing this design. Stages of Wallas's creative thinking process helped in the creation of theatre scripts along with the theater design entitled Legislatif Celeng. Characters, script plots, and all supplementary materials are combined to produce a work that suits the performance needs. Key words: theatre creation, money politics, political criticism, drama pla

    Gojeg Lesung: Pengembangan Seni Gejog Lesung Hasil Penyuluhan Seni Teater di Desa Sabdodadi, Bantul, Yogyakarta

    Full text link
    Gojeg Lesung pengembangan dari seni Gejog Lesung merupakan strategi mempromosikan Desa Sabdodadi dalam aktivitasnya di bidang seni budaya. Penyuluhan seni ini bertujuan untuk: (1) meningkatkan kualitas kelompok teater Sanggar Kolingin menjadi kelompok kesenian yang mandiri dan lebih diterima di tengah masyarakat; (2) memberikan pemahaman yang tepat bagi masyarakat tentang arti pentingnya seni-budaya lokal sebagai penyeimbang masuknya budaya asing; (3) melestarikan dan menumbuhkan minat terhadap seni dan budaya lokal; dan (4) membangun kebersamaan dan menciptakan kreativitas masyarakat setempat. Metode yang digunakan dalam penyuluhan seni ini melalui tiga tahapan, yakni penanaman konsep, penanaman minat, dan penanaman bakat. Hasil yang dicapai dari penyuluhan seni ini telah melahirkan kreasi baru seni pertunjukan bernama Gojeg Lesung dalam genre teater rakyat yang memiliki struktur pertunjukan: tetalu, bubuka, tarian komedi, lakon, dan penutup. Peran serta pemerintah dan institusi seni diperlukan dalam kelanjutan penyuluhan seni ini karena masyarakat setempat membutuhkan ruang pentas untuk melanjutkan eksistensinya memasyarakatkan seni Gojeg Lesung

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
    corecore