248 research outputs found
Aktivitas Protease Dari Bacillus circulans Pada Media Pertumbuhan Dengan pH Tidak Terkontrol
Salah satu enzim yang telah banyak dipelajari adalah enzim protease. Jenis enzim ini merupakan enzim yang penting dari segi ekonomi karena menguasai 59% dari total penjualan enzim di dunia. Aplikasi protese telah meluas, baik pada industri pangan maupun nonpangan. Industri pangan memanfaatkan protease untuk memperbaiki tekstur, mempersingkat waktu pencampuran, dan meningkatkan volume adonan pada pembuatan roti, menjernihkan bir, mengempukkan daging, dan menggumpalkan susu. Enzim ini dapat dproduksi oleh mikroba dalam suatu media mengandung Air Rendaman Kedelai (ARK) dengan pH tidak terkontrol. Pengukuran aktivitas enzim menggunakan metode Bergmeyer dan Grassl sedangkan kadar protein ditentukan dengan metode Bradford. Hasil analisis menunjukkan bahwa Aktivitas Protease (AP) pada media Air Rendaman Kedelai dan media standar dengan pH tidak terkontrol masing-masing sebesar 0,1814 U/ml dan 0,0342 U/ml. Produksi protease pada media tersebut optimum pada pH 9,28, jam ke-56 pada fase akhir eksponensial dari fase pertumbuhan mikroba.
Perkembangan ilmu bioteknologi telah menempatkan penggunaan enzim sebagai salah satu alternatif untuk berbagai keperluan misalnya di bidang industri, pengobatan, dan analisis. Keuntungan penggunaan enzim antara lain : (1) enzim merupakan bahan alami yang tidak beracun, (2) enzim dapat mempercepat reaksi tanpa menyebabkan terbentuknya hasil reaksi yang tidak diinginkan, (3) enzim aktif
pada konsentrasi rendah, (4) kecepatan reaksi enzim dapat diatur dengan mengatur suhu, pH, dan jumlah enzim yang digunakan, (5) enzim dapat diinaktifkan jika reaksi yang diinginkan sudah diperoleh, (6) enzim merupakan senyawa alamiah yang ramah lingkungan (Suhartono, 1993). Enzim juga masih mempunyai kemampuan transformasi kimia meskipun telah terpisah dari sel (Bakhtiar, A 1991).
Salah satu enzim yang telah banyak dipelajari adalah enzim protease. Jenis enzim ini merupakan enzim yang penting dari segi ekonomi karena menguasai 59% dari total penjualan enzim di dunia (Suhartono, 1993). Aplikasi protese telah meluas, baik pada industri pangan maupun nonpangan. Industri pangan memanfaatkan protease untuk memperbaiki tekstur, mempersingkat waktu pencamuran, dan meningkatkan volume adonan pada pembuatan roti, menjernihkan bir, mengempukkan daging, resep masakan indonesia dan menggumpalkan susu. Protease pada industri non pangan digunakan antara lain dalam bidang kesehatan, fotografi, industri detergen, dan industri kulit.
Enzim ini dapat dihasilkan oleh tanaman, hewan, dan mikroba. Protease yang dihasilkan oleh mikroba sangat potensial untuk digunakan karena sumbernya yang berlimpah, produksi enzim yang cepat, biaya produksi relatif murah, dan mudah dikontrol.
Enzim mempunyai aktivitas maksimum pada kisaran pH yang disebut pH optimum, yang umumnya antara pH 4,5 sampai 8.0. Suatu enzim tertentu mempunyai kisaran pH yang sempit. Disekitar pH optimum enzim mempunyai stabilitas yang tinggi. Stabilitas enzim terhadap panas berhubungan erat dengan stabilitasnya terhadap pH, sering stabilitas terhadap panas tidak pada pH isoelektrik dari enzim. Bila pH di bawah atau di atas pH optimum, semakin jauh dari pH optimum maka enzim semakin tidak stabil dan semakin tinggi suhu maka stabilitasnya semakin menurun.
Pada penelitian ini telah diidentifikasi mikroba yang memproduksi protease dalam jumlah banyak, yaitu Bacillus circulans. Mikroba tersebut diisolasi dalam limbah padat kecap. Pemurnian dilakukan untuk memisahkan enzim tertentu dari ekstrak kasar yang masih mengandung sel mikroba dan komponen lainnya.
Penelitian selanjutnya adalah mempelajari aktivitas protease Air Rendaman Kedelai pada pH yang tidak terkontrol dari Bacillus circulans. Melalui penelitian ini diharapkan akan memberikan informasi mengenai pH optimum enzim protease dari Bacillus circulans
Identifikasi Pewarna Sintetis Pada Produk Pangan Yang Beredar di Jakarta dan Ciputat
Warna merupakan faktor yang dapat digunakan sebagai indikator kesegaran atau kematangan suatuproduk. Warna merupakan daya tarik terbesar untuk menikmati aroma makanan. Warna dalammakanan dapat meningkatkan penerimaan konsumen tentang sebuah produk. Namun, penggunaanpewarna sintetis harus dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku karena dapat merugikankesehatan. Oleh karena itu perlu dilakukan monitoring pewarna sintetis berbagai produk makananyang dikonsumsi oleh masyarakat. Metode analisis kualitatif yang digunakan adalah kromatografikertas. Sementara analisis kuantitatif menggunakan spektrofotometer UV-VIS. Pewarna sintetis yangterkandung dalam sebagian besar sampel yang dianalisis adalah pewarna yang memungkinkanpenggunaannya untuk makanan oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI seperti sunset yellow, ponceau4R, tartrazine, dan carmoisin. Namun sampel krupuk pati mengandung zat yag dilarang yaituRhodamin B dengan konsentrasi 2,1892 ppm. Sampel mengandung zat pewarna campuran dari duaatau tiga jenis warna tunggal seperti es limun botol/orange (Amaranth,Tartrazine dan KuningFCF/Sunset Yellow) dan sampel permen merah (Ponceau 4R, Kuning FCF). Namun sebagian besarberupa pewarna tunggal. Pewarna sintetik yang ada dalam sampel permen kuning sebesar 22,642ppm dan 9,0119 ppm pada mie basah
Endophytic Colletrotrichum spp. from Cinchona calisaya wedd. and it’s potential quinine production as antibacterial and antimalaria
Analisis kandungan pewarna sintesis pada produk pangan di wilayah Jakarta dan Ciputat
Buku yang menjelaskan kandungan pewarna sintetis pada produk pangan khususnya di wilayah Jakarta dan Ciputa
Biokimia : dasar-dasar biomolekul dan konsep metabolisme
Buku ini dititikberatkan pada pengetahuan mengenai dasar-dasar biokimia dan metabolismenya. Pembahasan tersebut dibuat dalam 21 bab yang membahas tentang Pengantar dan Filsafat Biokimia, Biomolekul dan Organel Sel, Air dan Buffer, Karbohidrat, Lipid, Asam Amino dan Protein, Enzim dan Koenzim, Inhibitor Enzim, Asam Nukleat, serta Hormon. Kemudian, dilanjutkan dengan materi metabolisme antara lain Pengantar Metabolisme, Siklus ATP dan Bioenergetika Sel, Rantai Respirasi dan Fosforilasi Oksidatif, Glikolisis, Glukoneogenesis, Metabolisme Glikogen, Siklus Asam Sitrat, Metabolisme Lipid, Metabolisme Protein dan Asam Amino, Metabolisme Purin dan Pirimidin, serta Integrasi Metabolisme
BIOKIMIA: DASAR-DASAR BIOMOLEKUL DAN KONSEP METABOLISME
BIOKIMIA INI DISIAPKAN KHUSUS BAGI PARA MAHASISWA PADA PROGRAM STUDI YANG RELEVAN SERTA MEREKA YANG BERMINAT MENGETAHUI TENTANG PROSES KIMIA YANG TERJADI DALAM TUBUH MAKHLUK HIDUP.VIII, 158 p: 24 cm
Studi aktivitas antidiabetes ekstrak daun namnam (Cynometra cauliflora) secara in vitro dan in vivo pada tikus Sprague Dawley
Diabetes Melitus (DM) dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu DM tipe 1 dan DM tipe 2. DM tipe 1 adalah DM yang disebabkan oleh kurangnya produksi hormon insulin oleh organ pankreas. Diabetes Melitus tipe 2 (DMT2) adalah suatu penyakit metabolisme yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang tinggi, resistensi insulin dan beberapa komplikasi sistemik. DMT2 ini menyumbang sebagian besar data penderita Diabetes Melitus (DM) yaitu mencapai 90-95% dari keseluruhan populasi penderita diabetes yang terkait dengan pola makan/gaya hidup. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya untuk menanggulanginya. Upaya tersebut dilakukan diantaranya melalui pencarian berbagai alternatif pengobatan dengan bahan alam. Pada penelitian ini diajukan Ekstrak Daun Namnam (EMDN) (Cynometra cauliflora) merupakan tanaman yang tumbuh di berbagai daerah di Indonesia dan potensial sebagai antidiabetes karena memiliki senyawa bioaktif diantaranya flavonoid dan turunannya. Namun eksplorasi kemampuan bioaktif tanaman ini masih sangat minim ditemukan. Sebagai langkah awal untuk mengetahui senyawa bioaktif dalam EMDN difraksinasi dan diidentifikasi mengunakan Fourier Transform Infrared/FTIR dan Liquid Chromatography Mass Spectrometry/LCMS ESI. Hasil pengujian terhadap fraksi n-butanol EMDN menunjukkan adanya kandungan flavonoid diantaranya fraxetin dan oenin (pada ekstrak n-butanol) dan narigenin, malvidin, cyanidin, epigallocathecin gallate dan apigenin pada ekstrak Fraksi I kromatografi kolom yang diduga berperan sebagai antidiabetes.
Kemampuan EMDN sebagai antidiabetes diuji baik secara in vitro maupun in vivo. Pengujian secara in vitro dilakukan melalui evaluasi kemampuan EMDN sebagai penghambat α-glukosidase, dan sebagai pemacu asupan penyerapan glukosa ke dalam sel diafragma tikus. Pengujian in vivo menggunakan tikus Sprague Dawley yang diinduksi oleh diet tinggi lemak dan sukrosa 30% untuk mendapatkan kondisi DMT2 dengan mengukur parameter kadar glukosa darah, trigliserida, glikogen dan insulin. Hasil analisis menunjukkan bahwa EMDN memiliki kemampuan menurunkan kadar glukosa darah sebesar 23 – 34%, menurunkan kadar trigliserida sebesar 13 – 30%, menaikkan kandungan glikogen hati sebesar 68 – 96%. Selain itu EMDN mampu meningkatkan penyerapan glukosa secara in vitro sebesar 92,19 ± 9,74 mg/dL/30 menit pada konsentrasi EMDN 450 mg/dL serta menghambat α-glukosidase untuk EMDN dengan IC50 sebesar sebesar 5,59 μg/mL dan aktivitasnya meningkat pada fraksinasi cair-cair pada pelarut n-butanol IC50 sebesar 1,84 μg/mL. Dengan demikian daun tanaman namnam (Cynometra cauliflora) memiliki kemampuan sebagai antidiabetes secara umum dan khususnya untuk Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2)
- …
