1,720,961 research outputs found

    Peningkatan Keaktifan Dan Hasil Belajar IPA Melalui Metode Eksperimen Pada Peserta Didik Kelas VII H SMP MTA Gemolong Kabupaten Sragen Semester I Tahun Pelajaran 2019/2020

    Get PDF
    Abstrak : Penelitian ini dilakukan kepada peserta didik kelas VII H SMP MTA Gemolong Kabupaten Sragen Semester I Tahun Pelajaran 2019/2020. Adapun metode pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Metode eksperimen memiliki kelebihan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk memahami konsep dengan cara melakukan percobaan/ eksperimen sehingga membuat peserta didik aktif dalam pembelajaran. Peserta didik mengalami secara langsung dalam menemukan konsep sehingga dalam pembelajaran ini seakan memberi keleluasaan kepada peserta didik untuk mencari pemahamannya sendiri dengan cara mengumpulkan data, menganalisis data, membangun hipotesis, dan percobaan untuk menarik kesimpulan.  Hasil Penelitian Tindakan Kelas ini yaitu hasil rerata skor keaktifan peserta didik kondisi awal 53.13%, pada siklus I meningkat menjadi 70.00%, pada siklus II meningkat menjadi menjadi 76.25%, sehingga terjadi peningkatan sebesar 6.25%. Sedangkan rerata hasil belajar pada kondisi awal 67.19, pada Siklus I mengalami peningkatan menjadi 72.25, dan pada Siklus II Rerata menjadi 76,41, sehingga terjadi peningkatan rerata sebesar 4.16.Hasil penelitian menyatakan bahwa penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPA pada peserta didik kelas VII H SMP MTA Gemolong Kabupaten Sragen Semester I Tahun Pelajaran 2019/2020. Kata Kunci : Metode Eksperimen, Keaktifan Belajar dan Hasil Belajar

    PENGUJIAN KETAHANAN API PELAT LANTAI SANDWICH BETON – POLYSTYRENE – BETON

    Get PDF
    Abstrak Satu benda uji pelat lantai sandwich beton-polystyrene-beton dengan ukuran 3500 mm x 3600 mm dan tebal 170 mm diuji ketahanan terhadap api. Pelat beton yang dinamakan sebagai b-deck ini terdiri dari tiga lapis yaitu 30 mm pada bagian bawah terdiri dari beton semprot demikian juga dengan bagian atas tetapi dengan ketebalan 40 mm. Kedua lapisan beton ini mengapit polystyrene setebal 100 mm. Dalam arah melintang dari sisi panjang 3600 mm dipasang balok anak sebanyak 6 buah dan berjarak 600 mm satu dengan lainnya. Balok anak mempunyai tulangan tiga buah berdiameter 12 mm dengan masing-masing 2 tulangan di bawah dan satu di atas. Tulangan sengkang balok ini berdiameter 8 mm dengan jarak 150 mm dengan mutu BJ34. Balok anak mempunyai tinggi 120 mm yang tertanam dalam pelat dan tidak muncul di bawah permukaan pelat. Selimut beton di atas dan bawah polystyrene dipasang wiremesh berdiameter 3 mm dengan jarak 150 mm x 80 mm dimana jarak 80 mm dipasang dalam arah memanjang atau dalam arah 3600 mm sedangkan wiremesh melintang yang berjarak 150 mm berada dalam arah 3500 mm. Wiremesh mempunyai tegangan leleh minimum 550 MPa dan mutu beton minimum 22,5 MPa. Pelat ditempatkan pada tungku uji dengan simulasi beban tambahan berupa tumpukan karung pasir merata pada seluruh permukaan atas pelat sebesar 200 kg/m2. Pada bagian bawah yaitu sisi selimut beton 30 mm dipanaskan secara bertahap dari kondisi temperatur ambien hingga mencapai temperatur tungku rata-rata 1090oC. Tahapan pengujian ini mengikuti SNI 1741-2008 dimana pada menit ke 10 temperatur dinaikkan hingga 632oC, menit ke 70 mencapai 1006oC dan dihentikan pada menit ke 180 yaitu sebesar 1090oC. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kekakuan pelat berkurang sebesar 38% saat pembakaran berlangsung 30 menit atau mencapai 712oC dan menjadi 56% hingga terakhir pembakaran selama 180 menit. Berat sendiri pelat b-deck yang hanya 54% dari berat pelat konvensional dengan ketebalan yang sama berikut beban tambahan sebesar 200 kg/m2 memberikan defleksi maksimum sebesar 3,5 mm. Sedangkan defleksi maksimum pada akhir pembakaran adalah 60,84 mm. Hal ini menunjukkan bahwa api berpangaruh sangat signifikan pada pelat lantai ini. Hasil verifikasi dengan menggunakan perangkat lunak SAP2000 dengan model elemen shell, dengan ukuran elemen 180 mm x 175 mm, 2 titik integrasi, dengan tiga lapis pelat sesuai dengan faktual, perletakan sendi menghasilkan lendutan maksimum sebesar 73,6161 mm, sedangkan untuk tumpuan jepit memberikan defleksi maksimum sebesar 0,08882 mm. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi peletakan sangat berpengaruh pada defleksi dan hal ini bisa mensimulasi kondisi pelat di lapangan yang mempunyai kekangan dari balok disekelilingnya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pelat memenuhi persyaratan Tingkat Ketahanan Api (TKA) 180/180/160 sesuai dengan SNI 1741-2008 yaitu memenuhi stabilitas, integritas, dan insulasi. Kata kunci: SNI 1741-2008, api, polystyrene, temperatur, pelat, b-dec

    PENGUJIAN KETAHANAN API PELAT LANTAI SANDWICH BETON – POLYSTYRENE – BETON

    Get PDF
    Abstrak Satu benda uji pelat lantai sandwich beton-polystyrene-beton dengan ukuran 3500 mm x 3600 mm dan tebal 170 mm diuji ketahanan terhadap api. Pelat beton yang dinamakan sebagai b-deck ini terdiri dari tiga lapis yaitu 30 mm pada bagian bawah terdiri dari beton semprot demikian juga dengan bagian atas tetapi dengan ketebalan 40 mm. Kedua lapisan beton ini mengapit polystyrene setebal 100 mm. Dalam arah melintang dari sisi panjang 3600 mm dipasang balok anak sebanyak 6 buah dan berjarak 600 mm satu dengan lainnya. Balok anak mempunyai tulangan tiga buah berdiameter 12 mm dengan masing-masing 2 tulangan di bawah dan satu di atas. Tulangan sengkang balok ini berdiameter 8 mm dengan jarak 150 mm dengan mutu BJ34. Balok anak mempunyai tinggi 120 mm yang tertanam dalam pelat dan tidak muncul di bawah permukaan pelat. Selimut beton di atas dan bawah polystyrene dipasang wiremesh berdiameter 3 mm dengan jarak 150 mm x 80 mm dimana jarak 80 mm dipasang dalam arah memanjang atau dalam arah 3600 mm sedangkan wiremesh melintang yang berjarak 150 mm berada dalam arah 3500 mm. Wiremesh mempunyai tegangan leleh minimum 550 MPa dan mutu beton minimum 22,5 MPa. Pelat ditempatkan pada tungku uji dengan simulasi beban tambahan berupa tumpukan karung pasir merata pada seluruh permukaan atas pelat sebesar 200 kg/m2. Pada bagian bawah yaitu sisi selimut beton 30 mm dipanaskan secara bertahap dari kondisi temperatur ambien hingga mencapai temperatur tungku rata-rata 1090oC. Tahapan pengujian ini mengikuti SNI 1741-2008 dimana pada menit ke 10 temperatur dinaikkan hingga 632oC, menit ke 70 mencapai 1006oC dan dihentikan pada menit ke 180 yaitu sebesar 1090oC. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kekakuan pelat berkurang sebesar 38% saat pembakaran berlangsung 30 menit atau mencapai 712oC dan menjadi 56% hingga terakhir pembakaran selama 180 menit. Berat sendiri pelat b-deck yang hanya 54% dari berat pelat konvensional dengan ketebalan yang sama berikut beban tambahan sebesar 200 kg/m2 memberikan defleksi maksimum sebesar 3,5 mm. Sedangkan defleksi maksimum pada akhir pembakaran adalah 60,84 mm. Hal ini menunjukkan bahwa api berpangaruh sangat signifikan pada pelat lantai ini. Hasil verifikasi dengan menggunakan perangkat lunak SAP2000 dengan model elemen shell, dengan ukuran elemen 180 mm x 175 mm, 2 titik integrasi, dengan tiga lapis pelat sesuai dengan faktual, perletakan sendi menghasilkan lendutan maksimum sebesar 73,6161 mm, sedangkan untuk tumpuan jepit memberikan defleksi maksimum sebesar 0,08882 mm. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi peletakan sangat berpengaruh pada defleksi dan hal ini bisa mensimulasi kondisi pelat di lapangan yang mempunyai kekangan dari balok disekelilingnya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pelat memenuhi persyaratan Tingkat Ketahanan Api (TKA) 180/180/160 sesuai dengan SNI 1741-2008 yaitu memenuhi stabilitas, integritas, dan insulasi. Kata kunci: SNI 1741-2008, api, polystyrene, temperatur, pelat, b-dec

    Penilaian Kondisi Visual Dan Prediksi Usia Sisa Jembatan Siliti Dengan Metode Bridge Management System: Assessment Of Visual Conditions And Prediction Of The Remaining Life Of The Siliti Bridge Using The Bridge Management System Method

    No full text
    One of the efforts in bridge maintenance is by conducting a preliminary assessment with a visual assessment. Growth in the number of vehicles each time will result in a risk of decreasing the capacity of the bridge and its age. Post-construction and maintenance is also a major requirement in infrastructure. This is often ruled out causing the bridge's function and performance to decline and ultimately cause damage. Siliti Bridge is a concrete bridge located in North Bungku Morowali, Sulawesi Tengah. This bridge gets special attention due to quite severe conditions. The purpose of the inspection on the Siliti Bridge is to get its condition visually and determine the estimated age of the remaining bridge which will be capital for further inspection. Bridge Management System (BMS) is a system of assesment to know the existing condition of each element of the bridge. The condition value of the bridge is needed to calculate its remaining life. Based on evaluations conducted in 2017, the value of the Siliti Bridge using the BMS standard is 3 (Damaged). The remaining age of the Siliti Bridge is 8 years

    Investigasi Visual Jembatan Kp. Keling A & B Menggunakan Metode Bridge Management System (BMS)

    Get PDF
    Penilaian kondisi jembatan merupakan usaha pemeliharaan jembatan untuk mempertahankan usia jembatan dan mencegah terjadinya kerusakan struktur jembatan yang berkelanjutan. jumlah kendaraan yang semakin meningkat tentu saja akan meningkatkan resiko penurunan kekuatan jembatan dan umur jembatan. Maka dari itu pemeriksaan dan penilaian kondisi jembatan merupakan hal yang sangat penting agar jembatan bekerja secara optimal. Paper ini akan dibahas tentang pemeriksaan salah satu jembatan di Provinsi Kepulauan Riau yaitu Jembatan Jembatan Kp. Keling A dan B yang mengacu pada Bridge Management System. Tujuan dari paper ini adalah untuk mengevaluasi kerusakan elemen dan struktur dari jembatan Kp. Keling A dan B sehingga dapat diperoleh gambaran kondisi dan memprediksi sisa umur jembatan. Berdasarkan investigasi visual yang telah dilakukan terhadap Jembatan Kp. Keling A dan B menujukkan bahwa jembatan mengalami beberapa kerusakan terutama pada elemen lantai kendaraan dan terdapat tulangan yang sudah terbuka di gelagar dan pilar  jembatan. Untuk meningkatkan kinerja dan mencegah kerusakan lebih lanjut maka dibutuhkan penanganan berupa rehabilitasi dan pemeliharaan rutin pada jembatan tersebut. Secara keseluruhan nilai kondisi Jembatan Kp. Keling A dan B adalah sebesar 2 sehingga prediksi sisa umur dari jembatan adalah 16 tahun. Hasil ini menunjukkan jembatan masih mampu berkinerja secara optimal hingga umur rencana

    EVALUASI KONDISI DAN PERHITUNGAN UMUR SISA JEMBATAN TELUK DALAM KEPULAUAN RIAU BERDASARKAN METODE BRIDGE MANAGEMENT SYSTEM 1992

    Get PDF
    Provinsi Kepulauan Riau merupakan salah satu provinsi di Pulau Sumatera yang berada di bawah kewenangan Balai Pelaksana Jalan Nasional IV Jambi. Jumlah jembatan pada ruas jalan nasional yang dimilik oleh Provinsi Kepulauan Riau adalah sebanyak 53 unit dengan total panjang jembatan 4.008,1 meter. Kondisi jembatan di Provinsi Kepulauan Riau pada data Buku Informasi Statistik Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Tahun 2015 mengalami banyak kerusakan ringan dengan persentase total sebanyak 37,74%. Sangat penting untuk menjaga jembatan dengan tepat. Dengan demikian Bridge Management System. Penelitian ini dilakukan pada jembatan Teluk Dalam di Pulau Bintan pada ruas jalan Kangka- Sialang. Evaluasi dilakukan berdasarkan BMS 1992 untuk mengetahui nilai kondisi dan umur sisa jembatan. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan terhadap Jembatan Teluk Dalam didapatkan Nilai Kondisi (NK) sebesar 3 yang berarti rusak. Umur sisa yang dimiliki jembatan ini adalah 8,722 tahun. Kata Kunci: Bridge Management System, umur sisa, teluk dalam

    PENILAIAN KONDISI, SOLUSI PENANGANAN, DAN PREDIKSI UMUR SISA JEMBATAN WAY KENDAWAI I BANDAR LAMPUNG MENGGUNAKAN BRIDGE MANAGEMENT SYSTEM (BMS)

    Get PDF
    Jembatan merupakan salah satu bagian terpenting dalam sarana transportasi khusus nya pada suatu jaringan jalan. Apabila jembatan mengalami kerusakan, maka akan sangat mempengaruhi sarana transportasi dan distribusi didaerah tersebut. Demi mencegah hal tersebut, maka diperlukan upaya preventif berupa pemeriksaan jembatan. Kegiatan pemeriksaan jembatan dilaksanakan dibawah sistem manajemen jembatan atau Bridge Management System (BMS). BMS merupakan sistem yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga dan terintegrasi dengan Sistem Informasi Manajemen Jembatan (SIMJ) yang berfungsi mengatur secara sistematis kegiatan pemeriksaan, rencana dan program, dan perencanaan teknis sampai pada pelaksanaan dan pemeliharaan jembatan.Penelitian jembatan ini adalah pada Jembatan Way Kendawai I Bandar Lampung. Data kondisi jembatan di dapat berdasarkan pengamatan dan pemeriksaan langsung di lapangan. Kondisi jembatan dinilai berdasarkan 5 kategori nilai, yaitu ditinjau berdasarkan struktur, kerusakan, kekuatan, kuantitas, fungsi dan pengaruh.. Berdasarkan penilaian kondisi, skrinning teknis serta analisis penanganan per element struktur jembatan, Jembatan Way Kendawai memiliki nilai 2 (Jembatan/elemen mengalami kerusakan yang memerlukan pemantauan dan pemeliharaan berkala) dan beberapa perkuatan pada abutment dan bagian sayap jembatan. Adapun prediksi sisa umur Jembatan Way Kendawai I yang didapatkan berdasarkan hasil investigasi nilai kondisi jembatan adalah 18,89 Tahun

    Penilaian Kondisi Visual dan Prediksi Sisa Umur Jembatan Way Gedau Lampung dengan Metode Bridge Management System

    No full text
    Abstrak Jembatan merupakan prasarana yang erat kaitannya dengan sistem jaringan jalan karena jika terjadi kerusakan pada jembatan, maka lalu lintas akan terganggu. Oleh sebab itu pemeriksaan dan penilaian kondisi jembatan sangat penting dilakukan untuk memantau dan menjaga kinerja jembatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kerusakan elemen dan struktur Jembatan Way Gedau sehingga dapat diperoleh gambaran kondisi dan prediksi sisa umur jembatan. Pemeriksaan inventarisasi dan pemeriksaan detail Jembatan Way Gedau dilaksanakan tahun 2017 menggunakan metode BMS yang telah menjadi rujukan umum pemeriksaan jembatan di Indonesia. Pengolahan data survei dilakukan untuk menentukan nilai kondisi. Sisa umur jembatan diestiamsi dari hasil nilai kondisi dengan menggunakan persamaan yang dikembangkan Bina Marga. Hasil analisa menujukkan bahwa jembatan mengalami beberapa kerusakan terutama pada elemen lantai dan bangunan bawah jembatan sehingga dibutuhkan pemeliharaan rutin dan penanganan sementara. Prediksi sisa umur Jembatan Way Gedau adalah 18,89 tahun dengan nilai kondisi jembatan secara keseluruhan sebesar 2 yang berarti jembatan masuk dalam kategori rusak ringan. Hasil ini menunjukkan bahwa perlu dilakukan pencegahan dan perbaikan berupa penambaan pada lapis permukaan yang berlubang dan pembuatan bronjong di sekitar abutment. Perbaikan tersebut dapat menjadi salah satu upaya menjaga kinerja jembatan tetap optimal hingga umur rencana. Kata-kata Kunci: BMS, jembatan, nilai kondisi, Way Gedau Lampung Abstract   Bridges are infrastructure that is closely related to the road network system because if there is damage to the bridge, traffic will be disrupted. Therefore, checking and assessing the condition of the bridge is very important to monitor and mantain bridge performance. The purpose of this research is to identify damaged elements and structures of the Way Gedau Bridge so that a description of the condition and prediction of the remaining life of the bridge can be obtained. Inventory checks and detailed checks on the Way Gedau Bridge were carried out in 2017 using the BMS method which has become the general reference for bridge inspection in Indonesia. Survey data processing is carried out to determine the value of the condition. The remaining life of the bridge is estimated from the results of the condition values using the equation developed by Bina Marga. The results of the analysis show that the bridge has suffered several damages, especially on the floor elements and under the bridge, so that it requires routine maintenance and temporary handling. The prediction for the remaining life of the Way Gedau Bridge is 18.89 years with a value of the overall condition of the bridge of 2, which means that the condition of the bridge is in the lightly damaged category. These results indicate that it is necessary to prevent and repair by patching on the perforated surface layer and making gabions around the abutment. This repair can be an effort to keep the bridge perform optimally until the design life. Keywords: BMS, condition value, bridge, Way Gedau LampungJembatan merupakan prasarana yang erat kaitannya dengan sistem jaringan jalan karena jika terjadi kerusakan pada jembatan, maka lalu lintas akan terganggu. Oleh sebab itu pemeriksaan dan penilaian kondisi jembatan merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga jembatan agar berkinerja secara optimal. Tujuan dari kegiatan ini adalah mengidentifikasi kerusakan elemen dan struktur Jembatan Way Gedau sehingga dapat diperoleh gambaran kondisi dan memprediksi sisa umur jembatan. Pemeriksaan inventarisasi dan pemeriksaan detail Jembatan Way Gedau dilaksanakan tahun 2017 menggunakan metode BMS yang telah menjadi rujukan umum pemeriksaan jembatan di Indonesia. Dari data tersebut dilakukan pengolahan data untuk menentukan nilai kondisi. Selanjutnya nilai kondisi digunakan untuk memprediksi sisa umur jembatan dengan persamaan yang dikembangkan oleh Bina Marga. Hasil analisa menujukkan bahwa jembatan mengalami beberapa kerusakan terutama pada elemen lantai jembatan dan bangunan bawah jembatan sehingga dibutuhkan pemeliharaan rutin dan penanganan sementara. Prediksi sisa umur Jembatan Way Gedau adalah 18,89 tahun dengan nilai kondisi jembatan secara keseluruhan sebesar 2 yang berarti kondisi jembatan masuk dalam kategori rusak ringan. Hasil ini menunjukkan bahwa perlu dilakukan pencegahan dan perbaikan terhadap kerusakan elemen yang telah teridentifikasi untuk menjaga kinerja jembatan secara optimal hingga akhir umur rencana

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore