386 research outputs found

    MASJID PATHOK NEGORO SULTHONI SEBAGAI PUSAT AKULTURASI BUDAYA(1976-2000)

    No full text
    Masjid Pathok Negoro Sulthoni yang terletak di Plosokuning, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta penting untuk diteliti karena menyimpan keunikan akulturasi tiga budaya didalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) sejarah Masjid Pathok Negoro Sulthoni;(2) akulturasi budaya Masjid Pathok Negoro Sulthoni dilihat dari bentuk fisik bangunan, fungsi dan sistem pengurus masjid (1976-2000);(3) masjid Pathok Negoro Sulthoni sebagai pusat kegiatan masyarakat dan akulturasi budaya (1976-2000).                Skripsi ini menggunakan tahapan penelitian sejarah menurut Kuntowijoyo, terdiri dari 5 tahap, yaitu: (1) pemilihan topik yang didasari oleh kedekatan emosional dan intelektual; (2) pengumpulan sumber atau heuristik, peneliti mengumpulkan sumber dari Perpustakaan Jogja Library Center dan Perpustakaan Balai Arkeologi DIY; (3) kritik sumber, peneliti melakukan kritik ekstern dan intern; (4) interpretasi, peneliti menafsirkan fakta-fakta sejarah menjadi satu kesatuan; (5) historiografi, peneliti melakukan penulisan sejarah, dengan menyajikan semua fakta dalam bentuk tulisan sejarah.                Hasil penelitian menunjukkan: (1) berdirinya Masjid Pathok Negoro atas prakarsa dari Raja Kasultanan Yogyakarta yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Kyai Nur Iman. Masjid didirikan sebagai wujud kepemilikan pihak Kasultanan Yogyakarta untuk mempertahankan kekuasaannya; (2) bentuk fisik bangunan Masjid Pathok Negoro Sulthoni merupakan wujud dari akulturasi budaya Jawa, Hindu dan Islam. Salah satunya adalah empat tiang/soko guru yang terdapat pada Masjid Pathok Negoro Sulthoni yang menyerupai bangunan Jawa yaitu joglo. Akulturasi budaya Masjid Pathok Negoro Sulthoni pada fungsi dan sistem pengurus masjid (1976-2000) yaitu masjid menjadi pusat kegiatan, misalnya sebagai tempat musyawarah untuk penyelesaian masalah. Akulturasi budaya pada sistem pengurus masjid dapat dilihat dari Imam masjid yang mendapatkan status abdi dalem dengan gelar Raden Ngabehi dan diangkat pada tahun 1997; (3) masjid Pathok Negoro Sulthoni sebagai pusat kegiatan masyarakat dan akulturasi budaya (1976-2000) terlihat pada sistem kemasyarakatannya. Pada masyarakat Plosokuning terdapat dua golongan yaitu Plosokuning Jero dan Plosokuning Jobo. Akulturasi budaya dalam kegiatan keagamaan di Masjid Pathok Negoro Sulthoni dapat terlihat pada seringnya diadakan acara seperti slametan, sholawatan, saparan, ruwahan, dan haul yang menggabungkan tradisi Jawa, Hindu dan Islam. Kata Kunci: Pathok Negoro Sulthoni, Akulturasi Budaya, 1976-200

    Masjid Pathok Negoro Sulthoni Sebagai Pusat Akulturasi Budaya (1976-2000)

    No full text
    Masjid Pathok Negoro Sulthoni yang terletak di Plosokuning, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta penting untuk diteliti karena menyimpan keunikan akulturasi tiga budaya didalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) sejarah Masjid Pathok Negoro Sulthoni;(2) akulturasi budaya Masjid Pathok Negoro Sulthoni dilihat dari bentuk fisik bangunan, fungsi dan sistem pengurus masjid (1976-2000);(3) masjid Pathok Negoro Sulthoni sebagai pusat kegiatan masyarakat dan akulturasi budaya (1976-2000). Skripsi ini menggunakan tahapan penelitian sejarah menurut Kuntowijoyo, terdiri dari 5 tahap, yaitu: (1) pemilihan topik yang didasari oleh kedekatan emosional dan intelektual; (2) pengumpulan sumber atau heuristik, peneliti mengumpulkan sumber dari Perpustakaan Jogja Library Center dan Perpustakaan Balai Arkeologi DIY; (3) kritik sumber, peneliti melakukan kritik ekstern dan intern; (4) interpretasi, peneliti menafsirkan fakta-fakta sejarah menjadi satu kesatuan; (5) historiografi, peneliti melakukan penulisan sejarah, dengan menyajikan semua fakta dalam bentuk tulisan sejarah. Hasil penelitian menunjukkan: (1) berdirinya Masjid Pathok Negoro atas prakarsa dari Raja Kasultanan Yogyakarta yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Kyai Nur Iman. Masjid didirikan sebagai wujud kepemilikan pihak Kasultanan Yogyakarta untuk mempertahankan kekuasaannya; (2) bentuk fisik bangunan Masjid Pathok Negoro Sulthoni merupakan wujud dari akulturasi budaya Jawa, Hindu dan Islam. Salah satunya adalah empat tiang/soko guru yang terdapat pada Masjid Pathok Negoro Sulthoni yang menyerupai bangunan Jawa yaitu joglo. Akulturasi budaya Masjid Pathok Negoro Sulthoni pada fungsi dan sistem pengurus masjid (1976-2000) yaitu masjid menjadi pusat kegiatan, misalnya sebagai tempat musyawarah untuk penyelesaian masalah. Akulturasi budaya pada sistem pengurus masjid dapat dilihat dari Imam masjid yang mendapatkan status abdi dalem dengan gelar Raden Ngabehi dan diangkat pada tahun 1997; (3) masjid Pathok Negoro Sulthoni sebagai pusat kegiatan masyarakat dan akulturasi budaya (1976-2000) terlihat pada sistem kemasyarakatannya. Pada masyarakat Plosokuning terdapat dua golongan yaitu Plosokuning Jero dan Plosokuning Jobo. Akulturasi budaya dalam kegiatan keagamaan di Masjid Pathok Negoro Sulthoni dapat terlihat pada seringnya diadakan acara seperti slametan, sholawatan, saparan, ruwahan, dan haul yang menggabungkan tradisi Jawa, Hindu dan Islam. Kata Kunci: Pathok Negoro Sulthoni, Akulturasi Budaya, 1976-200

    AMBANG TRANSISI SAKRAL DAN PROFAN (Studi Kolam Masjid Sulthoni Plosokuning Yogyakarta)

    No full text
    Masjid Pathok Negoro Sulthoni Plosokuning Yogyakarta adalah warisan peradaban Mataram Islam khususnya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Masjid ini berdiri sejak pemerintahan Hamengkubuwana I dan masih menjaga bentuk aslinya. Salah satu bukti ke-otentikan Masjid Sulthoni Plosokuning sebagai Masjid Pathok Negoro adalah dengan adanya kolam yang mengitari serambi masjid. Kolam tersebut merupakan sebuah sarana untuk membersihkan kaki ketika jamaah hendak masuk masjid. Kolam pada Masjid Sulthoni terletak di depan mengitari serambi masjid, dengan kedalaman kurang lebih tiga meter. Sampai saat ini kolam tersebut masih digunakan oleh beberapa jamaah untuk bersuci. Penelitian berjudul “Ambang Transisi Sakral dan Profan: Studi Kolam Masjid Sultoni Plosokuning Yogyakarta” ini dilakukan untuk menjawab dua rumusan masalah , yaitu pertama, Bagaimana dualitas ruang religius dalam konteks Masjid Sulthoni Plosokuning Yogyakarta? Kedua, Apa makna kolam bagi jamaah Masjid Sulthoni Plosokuning dalam konteks sakral dan profan? Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan penelusuran data melalui interview, observasi partisipatif, dan pencarian dokumen terkait. Dari data tersebut kemudian diseleksi dan dianalisis menggunakan teori sakral dan profan, Mircea Eliade, yang melihat bahwa agama adalah sebuah sistem yang timbol dari sesuatu yang disakralkan. Mircea Eliade melihat bahwa dalam pandangan manusia religius terdapat dualitas ruang dan waktu, yakni yang sakral dan yang profan. Dari penelitian yang telah dilakukan ruangan masjid adalah ruangan sakral, bangunan masjid berbeda dengan tempat tempat yang bersifat non religius atau tempat tempat netral. Hadirnya Allah (Yang Kudus) dalam umat Islam termanifestasikan dalam ide masjid sebagai rumah Allah. Masjid Sulthoni Plosokuning Yogyakarta adalah representasi dari kesucian, tempat tinggal Yang Ilahi umat Islam dapat berjumpa secara simbolik dimana dan berkomunikasi secara transenden. Implementasi dari keberadaan kolam adalah gambaran mengenai alam. Pengambaran parit parit kolam adalah pengambaran wilayah samudera, sehingga orang yang akan masuk masjid dalam keadaan bersih karena telah mengarungi samudera, perjalanan memasuki masjid sebagai tempat suci diibaratkan kembalinya seseorang dari keburukan, kesalahan, kepada kebaikan. Selain itu juga kembalinya seseorang dari urusan urusan duniawi yang telah diusahakan, dan berserah diri kepada Yang Kudus. Instrumen kolam yang mengitari serambi Masjid Sulthoni Plosokuning ditujukan untuk menunjang sakralitas masjid. Kolam yang mengitari serambi Masjid Sulthoni menjadi transisi dua realitas ruang manusia religius yang sakral dan yang profan

    PERAN ORANG TUA DALAM MENGEMBANGKAN RESILIENSI PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK SULTHONI PLOSOKUNING

    No full text
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya dua dari empat belas anak kelompok B1 di TK Sulthoni Plosokuning yang kemampuan resiliensinya kurang berkembang secara maksimal. Dalam hal ini, anak masih belum percaya pada kemampuan yang ia miliki. Seperti, saat guru memberikan tugas-tugas dari kegiatan pembelajaran anak merasa tidak percaya pada kemampuannya. Dimana anak berkata tidak bisa mengerjakan tugas kegiatan sebelum mencobanya terlebih dahulu. Hal tersebut dikarenakan pada saat pandemi kegiatan aktivitas belajar anak seringkali dikerjakan oleh orang tuanya yang seharusnya dikerjakan oleh anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) peran orang tua dalam mengembangkan resiliensi pada anak usia 5-6 tahun di TK Sulthoni Plosokuning; (2) faktor penghambat dan pendukung peran orang tua dalam mengembangkan resiliensi pada anak usia 5-6 tahun di TK Sulthoni Plosokuning. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai bulan Juni 2022 yang bertempat di TK Sulthoni Plosokuning pada anak kelompok B1. Subjek penelitian ini adalah kepala sekolah, guru kelompok B1, serta tujuh wali murid kelompok B1 di TK Sulthoni Plosokuning. Teknik pengumpulan data dilaksanakan dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data, menyajikan data dan menarik kesimpulan. Sedangkan uji keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi sumber. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa (1) Orang tua berperan sebagai pendidik, teman, motivator, konselor, dan panutan (2) faktor penghambat seperti, keadaan mood anak, kesibukan orang tua, dan kurangnya pemahaman orang tua. Sedangkan faktor pendukungnya seperti, ketersediaan waktu bersama serta adanya kerjasama yang baik antara kedua orang tua.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya dua dari empat belas anak kelompok B1 di TK Sulthoni Plosokuning yang kemampuan resiliensinya kurang berkembang secara maksimal. Dalam hal ini, anak masih belum percaya pada kemampuan yang ia miliki. Seperti, saat guru memberikan tugas-tugas dari kegiatan pembelajaran anak merasa tidak percaya pada kemampuannya. Dimana anak berkata tidak bisa mengerjakan tugas kegiatan sebelum mencobanya terlebih dahulu. Hal tersebut dikarenakan pada saat pandemi kegiatan aktivitas belajar anak seringkali dikerjakan oleh orang tuanya yang seharusnya dikerjakan oleh anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) peran orang tua dalam mengembangkan resiliensi pada anak usia 5-6 tahun di TK Sulthoni Plosokuning; (2) faktor penghambat dan pendukung peran orang tua dalam mengembangkan resiliensi pada anak usia 5-6 tahun di TK Sulthoni Plosokuning. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai bulan Juni 2022 yang bertempat di TK Sulthoni Plosokuning pada anak kelompok B1. Subjek penelitian ini adalah kepala sekolah, guru kelompok B1, serta tujuh wali murid kelompok B1 di TK Sulthoni Plosokuning. Teknik pengumpulan data dilaksanakan dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data, menyajikan data dan menarik kesimpulan. Sedangkan uji keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi sumber. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa (1) Orang tua berperan sebagai pendidik, teman, motivator, konselor, dan panutan (2) faktor penghambat seperti, keadaan mood anak, kesibukan orang tua, dan kurangnya pemahaman orang tua. Sedangkan faktor pendukungnya seperti, ketersediaan waktu bersama serta adanya kerjasama yang baik antara kedua orang tua

    PERAN MODAL SOSIAL DALAM STRATEGI PERBAIKAN MUTU PENDIDIKAN DI TAMAN KANAK-KANAK (TK) SULTHONI KECAMATAN NGAGLIK, KABUPATEN SLEMAN, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Strategi perbaikan mutu pendidikan di TK Sulthoni; (2) Modal sosial yang dimiliki TK Sulthoni; (3) Peran modal sosial dalam strategi perbaikan mutu pendidikan di TK Sulthoni; (4) Faktor penghambat dan faktor pendukung peran modal sosial dalam strategi perbaikan mutu pendidikan di TK Sulthoni. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di TK Sulthoni. Subjek penelitian ini yaitu Kepala Sekolah dan guru TK Sulthoni. Objek penelitian ini mengenai peran modal sosial dalam strategi perbaikan mutu pendidikan di TK Sulthoni. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Strategi perbaikan mutu pendidikan di TK Sulthoni dapat dilihat dari tiga cakupan yakni input, proses, dan output. Tiap cakupan memiliki fokus yakni, input berfokus pada input secara fisik dan nonfisik, proses berfokus pada SDM (sumber daya manusia) dan pelayanan, serta output berfokus pada prestasi dan lulusan. Strategi yang terkandung di dalamnya bersifat top-down, bottom-up¸dan komprehensif; (2) Modal sosial yang ditemukan di TK Sulthoni meliputi kepercayaan, norma, kerjasama, jaringan, partisipasi, dan komitmen; (3) Peran modal sosial yang terdiri dari kepercayaan, norma, kerjasama, jaringan, partisipasi, dan komitmen mendukung dalam penerapan strategi perbaikan mutu pendidikan di TK Sulthoni; (4) Faktor penghambat peran modal sosial dalam strategi perbaikan mutu pendidikan di TK Sulthoni yaitu manajemen waktu yang kurang maksimal, kurangnya SDM untuk tenaga administrasi, dan pemahaman masyarakat yang masih kurang tentang pendidikan anak usia dini. Sedangkan faktor pendukungnya adalah komitmen yang tinggi, komunikasi yang baik, profesionalitas kerja, dan adanya program-program unggulan TK Sulthoni

    Metode Ceramah KH. Ali Sulthoni dalam pengajian rutin di Masjid Darul Muttaqien Jegulo-Soko-Tuban.

    No full text
    KH. Ali Sulthoni adalah seorang pendakwah yang terkenal didesa Jegulo, karena kemampuannya dalam menyampaikan pesan dakwah. penelitian ini di tujukan untuk menjawab rumusan masalah secara deskriptif terkait metode ceramah yang meliputi teknik pembukaan, teknik penyampaian, dan teknik penutupan ceramah.Metode dalam penelitian ini menggunakan jenis kualitatif-deskriptif. Peneliti melakukan pengamatan terhadap tiga video ceramah dengan sub bab (topik) yang berkelanjutan. Hasil dari penelitian ini, KH.Ali Sulthoni berdasarkan teori Herbert V. Prochnow menggunakan teknik pembukaan introduction Pribadi namun tidak sering digunakan hanya saja kita temui pada awal diadakannya ceramah dan untuk selanjutnya meneruskan topik pada minggu yang lalu. Sedangkan untuk teknik penyampaian ceramah yakni dengan menggunakan variasi tanya jawab dan sedikit humor, tetap merujuk pada kitab Nasoihul Ibad, KH. Ali Sulthoni menutup ceramah dengan menyampaikan Kembali pesan yang penting lalu disambung dengan gaya penutupan ceramahnya sendiri seperti, istigfar, sholawat nabi serta bacaan muhasabah diri kepada Allah SWT.Peneliti berharap untuk penelitian yang akan mendatang dapat meneliti terkait pengaruh ceramah KH. Ali Sulthoni dalam pengajian rutin, terutama kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan pendampingan dalam memahami ilmu tentang Agama Islam

    PERAN MODAL SOSIAL DALAM STRATEGI PERBAIKAN MUTU PENDIDIKAN DI TAMAN KANAK-KANAK (TK) SULTHONI KECAMATAN NGAGLIK, KABUPATEN SLEMAN, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

    No full text
    AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi perbaikan mutu pendidikan, modal sosial,peran modal sosial dalam strategi mutu pendidikan serta faktor penghambat dan pendukungnya di TKSulthoni.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh dengan cara observasi, wawancara,dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yaitu, pengumpulan, reduksi,penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data melalui triangulasi sumber dan teknik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Strategi perbaikan mutu pendidikan di TK sulthoni dilihatdari tiga cakupan yakni input, proses, dan output. Tiap cakupan memiliki fokus yakni, input berfokus padainput secara fisik dan non fisik, proses berfokus pada SDM (sumber daya manusia) dan pelayanan, sertaoutput berfokus pada prestasai dan lulusan. Strategi yang terkandung didalamnya bersifat top-down, bottomup¸dan komperhensif; (2) Modal sosial yang ditemukan di TK Sulthoni meliputi kepercayaan, norma,kerjasama, jaringan, partisipasi, dan komitmen; (3) Peran modal sosial yang terdiri dari kepercayaan, norma,kerjasama, jaringan, partisipasi, dan komitmen mendukung dalam penerapan strategi perbaikan mutupendidikan di TK Sulthoni; (4) Faktor penghambat peran modal sosial dalam strategi perbaikan mutupendidikan di TK Sulthoni yaitu: manajemen waktu yang kurang maksimal, tenaga administrasi, danpemahaman masyarakat yang masih kurang tentang pendidikan anak usia dini. Sedangkan faktorpendukungnya adalah komitmen yang tinggi, komunikasi yang baik, profesionalitas kerja, dan adanyaprogram unggulan TK Sulthoni.Kata kunci: Modal Sosial, Strategi Mutu Pendidika

    Dinamika Akulturasi Arsitektur Pada Masjid Sulthoni Plosokuning di Sleman, Yogyakarta

    No full text
    Fenomena yang terjadi saat ini banyak bangunan peninggalan yang dipengaruhi oleh budaya pendatang yang dibongkar tanpa diperhatikan nilai-nilai budaya yang terkandung didalamnya. Untuk itu telaah tentang arsitektur yang berlatar-belakang bangunan peninggalan perlu diteliti lebih mendalam berdasarkan elemen-elemen pelingkupnya. Uraian elemen bangunan menjadi penting agar mendapatkan esensi dasar dari karakter bangunan tersebut. Masjid Sulthoni Plosokuning di Sleman Yogyakarta merupakan salah satu bangunan yang telah mendapatkan pengaruh akulturasi budaya Hindu. Masjid ini merupakan salah satu objek yang patut untuk diteliti keunikannya, apakah pengaruh-pengaruh yang terjadi pada proses akulturasi budaya dan arsitektur dan apa saja filosofi dan konsep yang mendasari pada bangunan masjid ini.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap sejauh mana terjadinya akulturasi arsitektur antara fungsi masjid dengan ragam budaya dan arsitektur Jawa dan Hindu dengan cara melakukan sintesis dengan menelusuri sejauh mana arsitektur masjid ini dipengaruhi oleh unsur budaya dan arsitektur tersebut.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif, analitik dan interpretatif, dengan menggunakan teori archetypes, ordering principle dan teori budaya – arsitektur tradisional Jawa dan Hindu, dengan demikian teori dan metodologi yang digunakan dapat mengungkap fenomena arsitektur melalui penelusuran wujud akulturasi dari aspek fungsi, bentuk dan maknanya melalui filosofi tata ruang, kesakralan, dan pengaruh budaya yang terjadi pada bangunan masjid.Dari penelusuran yang dilakukan akan dapat membuktikan bahwa Masjid Sulthoni Plosokuning di Sleman Yogyakarta ini merupakan ekspresi akulturasi antara budaya Jawa dan Hindu melalui konsep konsepnya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai rujukan bagi kasus studi yang serupa di beberapa kawasan lainnya serta dapat menyumbangkan pengetahuan teori akulturasi arsitektur pada aspek fungsi, bentuk dan maknanya secara berkesinambungan.Kata kunci : dinamika akulturasi, arsitektur, masji

    UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL HURUF MENGGUNAKAN MEDIA KARTU KATA DI TK SULTHONI NGAGLIK SLEMAN

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengenal huruf dengan menggunakan media kartu kata pada anak kelompok A di TK Sulthoni Ngaglik Sleman. Kemampuan mengenal huruf yang ditingkatkan ialah menyebutkan huruf, menunjukkan huruf, dan menghubungkan huruf. Penelitian ini dilakukan karena adanya permasalahan dalam mengenal huruf di kelompok A. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan guru kelas. Subjek penelitian ini sebanyak 24 anak. Obyek penelitian dalam penelitian ini adalah peningkatan kemampuan mengenal huruf menggunakan media kartu kata. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu instrumen observasi daftar cek (check List).Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik deskriptif kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan mengenal huruf anak kelompok A di TK Sulthoni Ngaglik Sleman dapat ditingkatkan menggunakan media kartu kata dalam proses pembelajaran permainan tebak huruf pada kartu kata dengan cara masing-masing anak membawa/memegang kartu kata secara langsung dan memainkannya sesuai instruksi guru yaitu menyebutkan huruf, menunjukkan huruf, dan menghubungkan huruf. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan kemampuan mengenal huruf yaitu pada kondisi awal sebesar 29,2% meningkat pada Siklus I menjadi 58,3% , dan Siklus II meningkat sebesar 83,3%. Kata kunci : kemampuan mengenal huruf, media kartu kata , T

    PENDIDIKAN AKHLAK BAGI ANAK USIA DINI (3 SAMPAI 6 TAHUN) DI LINGKUNGAN KELUARGA MENURUT IMAM ALGHAZALI

    No full text
    MOHAMAD SULTHONI, 1410110064 Pendidikan Akhlak bagi Anak Usia Dini (3 Sampai 6 Tahun) di Lingkungan Keluarga menurut Imam Al-Ghazali. Pendidikan ini memiliki latar belakang bahwa pendidikan akhlak merupakan wahana pembinaan manusia menuju sosok paripurna yang berakhlak terpuji, bermoral baik, serta tentu saja beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Pendidikan akhlak dalam hal ini sangat penting untuk ditanamkan sejak dini terutama dalam melibatkan anak-anak sebagai benih bangsa yang diharapkan berkecambah, menjadi tunas dan akhirnya hadir sebagai sosok utuh yang memberi sumbangsi yang berarti. Hasil penelitian ini diharapkan akan dapat membantu para pengajar atau pendidik dan orang tua dalam menerapkan metode yang tepat dan sesuai perkembangan anak mengajarkan dan mengarahkan anak dalam masalah akhlak atau budi pekertinya. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research), dengan obyek penelitian yaitu berasal dari sumber-sumber berupa buku-buku, kitab dan sebagainya yang berhubungan dengan pendidikan akhlak pada anak usia dini 3 sampai 6 tahun di lingkungan menurut imam Al-Ghazali. Sedangkan analisis data menggunakan analisis isi (content analysis), yang mana merupakan telaah sistematis mengenai catatan atau dokumen-dokumen sebagai sumber data. Dengan fokus kajian yang dibahas dalam penelitian ini adalah Pendidikan akhlak pada anak usia 3 sampai 6 tahun di lingkungan keluarga dalam perspektif islam menurut imam Al-Ghazali. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa imam Al-Ghazali menekankan pada orang tua untuk mendidik anaknya sejak usia dini. Karena kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak yahudi, majusi dan nasrani, Materi pendidikan akhlak Menurut imam Al-Ghazali dalam pendidikan akhlak usia dini, Imam Al-Ghazali sangat mementingkan ilmu-ilmu yang berkaitan erat dengan agama ataupun akhlak. sedangkan metode pendidikan akhlak pada anak usia 3 sampai 6 tahun khususnya menurut imam Al-Ghazali adalah dengan menggunakan metode keteladan, kebiasaan, kisah dan hukuman atau ganjaran
    corecore