177 research outputs found
Preferensi dan Pengaruh Jenis Makanan Terhadap Pertumbuhan Larva Croccidolomia binotalis Zell.
Croccidolomia binotalis Zell. merupakan hama tanaman Cruciferace. Ketertarikan hama ini terhadap cruciferace karena rangsangan nutritif maupun non nutritif. Pilihan inang akan menentukan pertumbuhan, perkembangan dan aktifitas normal hama. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan berupa pemberian jenis makanan daun kubis berkrop, daun kubis bunga dan daun kubis Cina. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan uji lanjut dengan DNMRT pada taraf nyatal 5 % . Hasil penelitian menunjukkan bahwa Croccidolomia binotalis Zell. mempunyai preferensi makanan yang lebih tinggi pada daun kubis bunga daripada kubis krop dan kubis Cina. Ketiga daun kubis yang diberikan tidak menghambat pertumbuhan dan aktifitas normal larva C. binotalis Zell. Rata-rata luas daun yang dimakan larva berpengaruh terhadap pertambahan berat rata-rata larva sedangkan rata-rata berat daun yang dikonsumsi tidak berpengaruh terhadap pertambahan berat larva C. binotalis Zell
reaksi penangkapan energi dan reaksi fiksasi karbon sebagai istilah alternatif pengganti reaksi gelap dan terang dalam proses fotosintesis
dua istilah gelap dan terang dalam proses fotosintesis seringkali menimbulkan salah persepsi dalam proses pembelajaran. Istilah ini muncul karena dua tahapan proses fotosintesis yaitu reaksi terang (karena memerlukan cahaya) dan reaksi gelap (tidak memerlukan cahaya tetapi memerlukan karbon dioksida). Untuk menghindari persepsi yang salah maka ada istilah alternatif yang dapat digunakan yaitu Reaksi penangkapan energi ( the energy capturing reaktion) untuk mengganti reaksi terang. Proses ini diawali dengan penangkapan foton oleh pigmen sebagai antena, dan reaksi fiksasi carbon (the fixation of carbon reaction) sebagai istilah pengganti untuk reaksi gelap. Dua istilah ini menggambarkan proses reaksi yang terjadi pada fotosintesis
TINJAUAN HUKUM LINGKUNGAN DAN HUKUM KEHUTANAN TERHADAP KERUSAKAN HUTAN DAN LINGKUNGAN PADA IZIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU (IUPHHK-HA) DALAM HUTAN ALAM PADA HUTAN PRODUKSI
ABSTRACTThe focal point of this research is to highlight the policy of the Government of the Republic of Indonesia since the New Order era in issuing forestry decisions in the form of Forest Forest Protection Permit (HPH) or Timber Forest Product Utilization Permit in Natural Forest (IUPHHK-HA now) Governments, Local Governments, and forest communities, knowing the very happy IUPHHK-HA activities due to the failure of the forestry environment, types of activities and how to recover damage to the forestry environment. Include constraints and barriers - what unit units, efforts are being made to overcome these obstacles and barriers, and appropriate forms of accountability for forest damage offenders and environmental degradation, as well as the terms and conditions that must be met by IUPHHK-HA legally and legally produced timber products in accordance with the Law and other applicable provisions.The method used is the empirical juridical approach that is the approach done by looking at existing practices in the field. This is done in a straightforward way in the field. In relation to this research with empirical juridical research methods, the authors conducted a study of primary data in the field of environmental management and implementation, on the types of IUPHK-HA activities that often cause environmental damage, the impact of these activities as well as ways - forest destruction recovery, explosive solutions, the efforts made by the Timber Forest Product Utilization Permit (Plantation Forest) in the Natural Forest in Production Forest of PT. Triwiraasta Bharata in West Kutai district of East Kalimantan Province, and a form of accountability for plasma companies undertaking lessons in the forestry environment.The results of this study and study provide an overview of Timber Forest Product Utilization Permit in Natural Forest (IUPHHK-HA) in accordance with its permit are logs, for legal and legal log products in accordance with applicable laws and regulations, the requirements are not small and the time and process is long enough. Unlike some people who imagine that the logging business is the easiest and the fastest because he immediately cuts and sales. Perhaps the assumption that there is a targeted truth is a culprit of illegal loggers or liar pemarakong.The current condition provides an overview divided into the form of IUPHHK-HA which is included in severe and full conditions. There are several things that cause it to happen, among others: forestry regulations are increasingly tight, often fickle, burdensome and get a high price; increasing legal uncertainty and business uncertainty caused by reform euphoria affecting customary land claims, customary rights, ancestral forest claims without a legal basis; reducing standing conditions due to uncontrolled illegal logging behaviors that have occurred in the last 15 (fifteen) years, overlapping of mining land spent in forested areas, international pressures exploiting the issue of forest and environmental degradation.Law Number 41 Year 1999 on Forestry, Law Number 32 Year 2009 on Environmental Protection and Management, Law Number 18 Year 2013 on Prevention and Eradication of Forest Degradation, Instruments and Highlights with correct field application and capable in implementing mandate for the Protection of deforestation and the environment, perhaps only what needs to be improved actually in enforcement and enforcemen
Tingkah Laku Makan Sapi Madura Jantan yang Diberi Pakan dengan Level Berbeda (Eating Behaviour of Madura Catlle with Different Feeding Level).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkah laku makan sapi Madura jantan yang diberi pakan dengan level (kuantitas) yang berbeda. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-Oktober 2013 di kandang Laboratorium Produksi Ternak Potong dan Perah Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.
Materi yang digunakan adalah 12 ekor sapi madura jantan umur 1,5-2 tahun dan bobot awal 128-165 kg, dengan rata-rata 143,41 kg ± 10,21 kg (CV=7,11%). Pakan yang diberikan rumput gajah sebanyak 30% dan konsentrat 70% yang terdiri dari bekatul, Wheat pollard gandum, bungkil kedelai dan gaplek dengan kandungan PK 13% dan TDN 58,86%. Rancangan percobaan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Dengan perlakuan (T1 level 1,8% BK; T2 level 2,7% BK; T3 level 3,6% BK) dari bobot badan. Parameter yang diamati yaitu waktu makan, ruminasi, berdiri, berbaring dan jumlah kunyah. Parameter pendukung yang lain yaitu konsumsi BK pakan, pertambahan bobot badan harian (PBBH), frekuensi minum, urinasi, defekasi dan bobot feses. Data hasil penelitian diolah dengan uji F. Jika terdapat perbedaan yang signifikan, dilanjutkan dengan uji Duncan’s New Multiple Range Test.
Hasil penelitian menunjukkan konsumsi BK total berbeda sangat nyata (P0,05). Kesimpulan dari penelitian ini dapat diketahui adanya perbedaan nyata pada tingkah laku makan sapi Madura jantan yang diberi pakan dengan level berbeda. Perlakuan T2 menunujukkan hasil yang paling baik.
vi
KATA PENGANTAR
Sapi Madura merupakan plasma nutfah lokal Indonesia yang berpotensi untuk dikembangkan. Produktivitas ternak dipengaruhi oleh pakan. Pemberian pakan dapat diberikan dengan level yang berbeda tergantung kebutuhan dan fase pertumbuhan ternak. Jumlah pakan yang dikonsumsi dapat mempengaruhi tingkah laku makan sapi.
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayat-Nya, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini ditulis sebagai syarat untuk kelulusan pada Program Studi S1 Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang. Skripsi ini ditulis berdasarkan serangkaian kegiatan penelitian yang dilaksanakan di Kandang dan Laboratorium Produksi Ternak Potong dan Perah Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang pada bulan Juli-Oktober 2013.
Serangkaian kegiatan mulai dari penelitian sampai pada tahap penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik karena adanya bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih banyak kepada Prof. Ir. Agung Purnomoadi, M.Sc., Ph.D. dan Ir. Sularno Dartosukarno sebagai dosen pembimbing yang telah memberika bimbingan, arahan, nasehat, dorongan semangat dan waktunya kepada penulis selama penelitian berlangsung dan sampai peyusunan skripsi ini. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada Sri Mulyani S.Pt., M.P. dan Agung Subrata S.Pt., M.P. selaku dosen wali yang telah memberikan nasihatnya dan bimbingan akademik selama ini. Penulis mengucapkan terimakasi
Pengaruh Lama Waktu Makan Akuisisi dan Lama Waktu Makan Inokulasi Vektor Terhadap Penularan Virus Tanaman
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penularan CMV oleh Myzus persicae dan SMV oleh Aphys glycines. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu makan akuisisi Myzus persicae dan Aphys glycines berpengaruh terhadap kecepatan munculnya gejala penyakit virus pada tanaman uji. Sedangkan lama waktu makan inokulasi Myzus persicae tidak berpengaruh terhadap munculnya gejala penyakit CMV pada tanaman cabe. Sedangkan lama waktu makan inokulasi Aphys glycines berpengaruh terhadap kecepatan munculnya SMV pada tanaman kedelai. Kecepatan munculnya gejala penyakit virus pada tanaman uji tidak hanya dipengaruhi oleh lama waktu makan akuisis dan waktu makan inokulasi, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti jenis kultivar tanaman, strain virus, waktu infeksi dan suhu
reaksi penangkapan energi dan reaksi fiksasi karbon sebagai istilah alternatif pengganti reaksi gelap dan terang dalam proses fotosintesis
dua istilah gelap dan terang dalam proses fotosintesis seringkali menimbulkan salah persepsi dalam proses pembelajaran. Istilah ini muncul karena dua tahapan proses fotosintesis yaitu reaksi terang (karena memerlukan cahaya) dan reaksi gelap (tidak memerlukan cahaya tetapi memerlukan karbon dioksida). Untuk menghindari persepsi yang salah maka ada istilah alternatif yang dapat digunakan yaitu Reaksi penangkapan energi ( the energy capturing reaktion) untuk mengganti reaksi terang. Proses ini diawali dengan penangkapan foton oleh pigmen sebagai antena, dan reaksi fiksasi carbon (the fixation of carbon reaction) sebagai istilah pengganti untuk reaksi gelap. Dua istilah ini menggambarkan proses reaksi yang terjadi pada fotosintesis
Pemanfaatan Entomopatogenik Fungi Lokal untuk menjaga Kwalitas Sayuran Organik Brastagi
Tujuan penelitian adalah untuk memanfaatkan potensi fungi entomopatogen yang ada disekitar lahan tanaman sayuran Brastagi dalam pengendalian hama-hama yang menyerang sayur, sehingga bisa digunakan menjaga kwalitas sayuran organic. Metode yang digunakan adalah eksplorasi jamur dengan umpan larva serangga Tenebrio molitor,identifikasi makroskopik terhadap jamur yang ditemukan serta mendeskripsikan manfaat fungi-fungi tersebut dalam perananya sebagai pengendalian hama terpadu secara hayati. Pada tahap lanjut jamur-jamur tersebut dapat dikembangkan untuk diaplikasikan di lapangan sehingga petani bisa mengendalikan hama sayuran tanpa penggunaan pestisida
Pemanfaatan Entomopatogenik Fungi Lokal untuk menjaga Kwalitas Sayuran Organik Brastagi
Tujuan penelitian adalah untuk memanfaatkan potensi fungi entomopatogen yang ada disekitar lahan tanaman sayuran Brastagi dalam pengendalian hama-hama yang menyerang sayur, sehingga bisa digunakan menjaga kwalitas sayuran organic. Metode yang digunakan adalah eksplorasi jamur dengan umpan larva serangga Tenebrio molitor,identifikasi makroskopik terhadap jamur yang ditemukan serta mendeskripsikan manfaat fungi-fungi tersebut dalam perananya sebagai pengendalian hama terpadu secara hayati. Pada tahap lanjut jamur-jamur tersebut dapat dikembangkan untuk diaplikasikan di lapangan sehingga petani bisa mengendalikan hama sayuran tanpa penggunaan pestisida
Pendidikan Kewarganegaraan Menuju Masyarakat Beretika, Bermoral, dan Berwibawa
Pada masyarakat di belahan dunia manapun, terdapat nilai-nilai dasar perilaku yang secara umum diakui sebagai norma yang harus dipatuhi, selain peraturan atau norma hukum. Norma tersebut biasa disebut dg Etika. Etika dalam arti sempit sering dipahami masyarakat sebagai sopan santun. Sedangkan etika secara umum/luas adalah suatu norma atau aturan yang dipakai sebagai pedoman dalam berperilaku di masyarakat bagi seseorang terkait dengan sifat baik dan buruk. Etika merupakan suatu ilmu tentang kesusilaan dan perilaku manusia di dalam pergaulannya dengan sesama yang menyangkut prinsip dan aturan tentang tingkah laku serta budi pekerti yang benar.
Dengan kata lain, etika adalah kewajiban dan tanggungjawab moral setiap orang dalam berperilaku di masyarakat.
Etika yang dianggap mulai luntur diantaranya norma-norma kesopanan yang lambat laun terasa berkurang dibandingkan dengan jaman beberapa dasawarsa yang lalu, sebagai contoh, dulu saat kita bertemu yag lebih tua, secara spontan kita akan menundukkan kepala kita sebagai tanda hormat. Sekarang norma-norma lambat laun mulai berkurang, kalau tidak bisa dikatakan hilang. Pergeseran tersebut sebenarnya tidak bisa disimpulkan sebagai penurunan kualitas etika, di Indonesia sendiri etika bermasyarakat merupakan aturan tidak tertulis yang terdapat/melekat pada ajaran agama, adat istiadat, budaya daerah yang sangat beragam.
Pada jenjang jenjang pendidikan sekolahpun, etika tidak diajarkan secara khusus, tapi melekat pada beberapa mata pelajaran.
Seharusnya tanpa perlu diajarkan, etika sudah menjadi jati diri pada probadi manusia yang beragama yang hidup di tengah keluarga dan di tengah masyarakat, tanpa harus mempelajari norma-norma apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan.
Moralitas merupakan suatu usaha untuk membimbing tindakan seseorang dengan akal, secara khusus menjelaskan bahwa ajaran moral adalah ajaran-ajaran, wejangan- wejangan, khotbah-khotbah, patokan-patokan, kumpulan peraturan dan ketetapan baik lisan atau tertulis, tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak agar menjadi manusia yang baik.
Permasalahan moralitas yang tercermin dalam perilaku-perilaku yang kurang sesuai dengan nilai-nilai moral, misalnya seks bebas, pemakaian narkoba, budaya hedonisme, dan gaya berpakaian yang tidak sepantasnya. Perilaku ini bisa diakibatkan oleh budaya barat yang tidak disaring dengan baik sehingga semuanya diserap oleh sebagian generasi muda. Generasi muda memang sering memiliki keinginan untuk mencoba, tanpa memikirkan resiko dari perbuatan tersebut. Jika generasi muda dibiarkan saja dalam kondisi seperti ini, maka ke depannya kemajuan bangsa akan terhambat karena genersi muda adalah generasi penerus bangsa.
Melalui buku karangan ini diharapkan perilaku pelajar, masyarakat, dan pejabat yang didasarkan pada nilai-nilai serta Kode Etik dan Kode Perilaku diharapkan bisa mewujudkan Manusia yang bersih, berwibawa, dan bertanggung jawab pada bangsa dan negara. Terima kasih
- …
