1,720,986 research outputs found

    Pustaka wisata budaya: perahu tradisional Nusantara

    Full text link
    Tulisan tentang "Perahu Tradisional Nusantara" bertujuan untuk mencoba membahas tentang salah satu sarana utama dalam transportasi yang telah muncul sejak jaman dahulu. Kemampuan untuk menciptakan sarana transportasi yang memadai yang dapat memecah ombak besar untuk mengarungi samudera luas telah dirintis dan dimiliki oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Hal ini merupakan suatu bukti yang dapat memupuk harga diri dan kepercayaan terhadap leluhur bangsa bahwa mereka adalah bangsa yang besar. Tulisan tentang perahu tradisional ini didorong oleh adanya berbagai data yang terkumpul selama penulis melakukan penelitian-penelitian di bidang arkeologi di berbagai tempat di Nusantara. Di samping itu fenomena dan panorama sering terlihat di pantai, di laut, di danau di sungai dan lain-lain yang memberi petunjuk bahwa perahu memegang peranan penting dalam perkembangan suatu bangsa atau etnis tertentu

    BERITA PENELITIAN ARKEOLOGI NO. 25

    Full text link

    POLA-POLA HIAS TOPENG (KEDOK), SUATU KAJIAN FUNGSIONAL

    No full text
    Pola hias kedok (topeng) di Indonesia muncul sejak masa berburu dan mengumpul makanan tingkat lanjut (epipaleolitik) (Van Heekeren, 1972). Munculnya pahatan kedok pada masa tersebut ditandai dengan bentuk-bentuk muka manusia yang digambarkan pada ceruk-ceruk gua karang

    DOLMEN'S DECORATION PATTERNS IN SUMBA, INDONESIA

    No full text
    In this article, An Introduction to a Unique Culture of Sumba, HB. Mude assumed that the first settlers of Sumba came by boat from Malaka, Singapore, Riau, Java, Bali, Sima, Rote and Sabu, under the leadership of Umbu Mandoku and his wife, Rambu Humba. To honour his wife, the island was named Humba or Sumba. Sumba consists of West and East Regency. The climate is relatively hot with short rainy season and prolonged dry period. Sumba is a typical karst region, and bordered by the alluvial plain of Melolo areas, from where the river Melolo now flows eastward

    Peninggalan tradisi megalitik di daerah Cianjur, Jawa Barat

    Full text link
    Peninggalan tradisi megalitik di daerah Cianjur terdiri dari berbagai jenis temuan yaitu: bangunan berundak, batu datar, menhir, batu pelor, lumpang batu dan lain-lain. Peninggalan ini sekarang sudah tidak lagi dikeramatkan, tetapi hanya dibiarkan begitu saja tidak terpelihara. Berdasarkan letak geografis tampaknya bangunan-bangunan megalitik di daerah Cianjur, sangat erat hubungannya dengan bangunan yang bertradisi megalitik yang ditemukan di daerah Banten Selatan (Baduy). Peninggalan dalam bentuk bangunan berundak yang ditemukan di Ciranjang, Lemahduhur, Pasirmanggu dan Gunung Padang mempunyai bentuk yang sama dengan bangunan berundak yang ditemukan di Cikeusik (Banten Selatan). Bangunan berundak yang banyak ditemukan di daerah ini merupakan bangunan berundak yang hanya dipergunakan untuk pemujaan arwah nenek moyang. Pada masa berikutnya yaitu pada masa perkembangan Islam awal di Jawa Barat, situs-situs bangunan berundak yang dianggap sebagai tempat yang strategis, dipergunakan sebagai tempat pemakaman. Hal ini dapat dilihat pada bangunan berundak di Ciranjang dan di Lemahduhur. Makam-makam yang sudah mempunyai ciriciri penguburan Islam ditemukan di atas bangunan berundak ini. Bentuk bangunan berundak di daerah Cianjur sangat berbeda dengan yang ditemukan oleh Van der Hoop di daerah Pasemah, yang berfungsi sebagai tempat penguburan. Bangunan berundak yang merupakan tempat penguburan biasanya berbentuk piramida

    Metode Penelitian Arkeologi

    Full text link
    Metode penelitian arkeologi, atau yang membahas hubungan antara teori, hipotesis, pendekatan, strategi, metode, teknik, data dan unsur-unsur data, tetapi hanya sebuah buku metode dan teknik yang diharapkan dapat berfungsi sebagai petunjuk umum bagi para peneliti arkeologi yang akan melakukan penelitian atas berbagai jenis tinggalan arkeologi dari berbagai masa, di berbagai macam situs, dan dalam kondisi keterawatannya yang berbeda. Mengingat sifatnya umum, maka buku panduan metode ini jangan diharapkan berisi semua metode dan teknik yang ada di dunia arkeologi. Sebaliknya buku ini memuat metode-metode dan teknik-tek- nik yang dikenal, serta dianggap dapat dan biasa dilakukan para peneliti di Indo- nesia pada umumnya

    TINJAUAN ARCA MEGALITIK TINGGIHARI DAN SEKITARNYA

    No full text
    Situs megalitik, Tinggihari terletak di Kabupaten Lahat (Sumatera Selatan). Daerah ini biasa disebut dengan dataran tinggi Pasemah. Peninggalan tradisi megalitik Tinggihari khususnya dan Pasemah pada umumnya sudah terkenal sejak puluhan tahun yang lalu. Para arkeolog Belanda banyak menulis tentang peninggalan ini, antara lain. Tombrink (1827).Ulmann(1850), Westenenk (1921), Van der Hoop (1932), dan lainlain. Walaupuri demikian problema tentang peninggalan ini tetap masih belum terpeeahkan dan perdebatan-perqebatan terjadi tanpa berkesudahan. Untuk pengungkapan latar belakang peninggatan ini masih perlu dilakukan penelitian sistematis, baik survei maupun ekskavasi. Dengan demikian data artefaktual maupun non artefaktual secara horisontal maupun vertikal dapat terekam, sebagai bahan pengungkapan. Daerah Pasemah saat ini menjadi lebih terkenal, karena adanya reneana pemugaran situs Tinggihari sebagai taman purbakala (archaeological-park) (Sukendar 1984)

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore