1,722,749 research outputs found

    Ragam Bahasa Ki Hadi Sugito

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah menemukan ragam bahasa Ki Hadi Sugito. Tujuan lebih jauh dari penelitian ini ialah menemukan satu metode belajar bahasa pedalangan khususnya bahasa pocapan atau antawacana yang sederhana dan komunikatif. Untuk mencapai tujuan di atas, pertama-tama peneliti akan mengidentifikasi dan mengkategorikan ragam bahasa Ki Hadi Sugito dalam Lakon Bagong Ratu, Lakon Ujung Sengara, Wahyu Widayat, dan Lakon Subali Lena. Kedua, menemukan struktur gramatikal pocapan. Ketiga menemukan pola kalimat pocapan Ki Hadi Sugito. Setelah ketiga langkah tersebut dilakukan kemudian dibuat teks pocapan sederhana hasil reduksi pocapan Ki Hadi Sugito. Teks pocapan tersebut lalu digunakan sebagai bahan ajar di kelas. Untuk menemukan struktur bahasa Ki Hadi Sugito penelitian ini akan menerapkan analisis struktural. Konsep ragam bahasa Jawa Sasangka (2004) digunakan sebagai pisau analisis dalam penelitian ini. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menyempurnakan bahan ajar mata kuliah Bahasa Pedalangan, Retorika Pedalangan, dan Dasar-dasar Pakeliran di Jurusan Pedalangan

    Ki Hadi Sugito: Guru yang tidak menggurui

    No full text
    Buku ini merupakan biografi dari dalang kenamaan dari Yogyakarta, yaitu Ki Hadi Sugito. Buku ini dibagi menjadi dua bab; bab pertama Hadi Sugito dimata sebagian orang dekatnya

    Ki Hadi Sugito: Guru yang Tidak Menggurui

    No full text
    Buku ini merupakan biografi kreatif Ki Hadi Sugito, dalang Yogyakarta yang menjadi lagendaris dan panutan dalang-dalang di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Buku ini dibuat untuk mengenang 1000 hari meninggalnya beliau. Karya bersama ini ditulis bersama oleh Hanggar Budi Prasetya, St. Sunardi, G. Budi Subanar. Siswadi, Supratignya, Timbul Haryono, Udreka, dan Djohan Salim. Data-data pengamatan ini diperoleh melalui pengamatan karya Ki Hadisugito, wawancara mendalam, dan sarasehan yang menghadirkan orang-orang dekat Ki Hadi Sugito

    RAGAM SULUKAN DARKAM ANOM SUGITO SEBUAH PROSES KREATIF SULUKAN DALAM PERTUNJUKAN WAYANG KULIT PURWA GAYA BANYUMAS

    Full text link
    ABSTRAK Skripsi ini berjudul Ragam Sulukan Darkam Anom Sugito Sebuah Proses Kreatif Sulukan Dalam Pertunjukan Wayang Kulit Purwa Gaya Banyumas. Permasalahan yang dikaji adalah: (1) Apa saja ragam sulukan yang diciptakan dalam proses kreatif sulukan Darkam Anom Sugito; (2) Bagaimana proses kreatif sulukan Darkam Anom Sugito dalam pertunjukan wayang kulit purwa gaya Banyumas. Skripsi ini bersifat kualitatif dengan menggunakan pendekatan humanistik untuk mengkaji proses kreatif Darkam Anom Sugito. Penelitian ini akan mendeskripsikan ragam suluk Darkam Anom Sugito berdasarkan ragam jenis suluk dan ragam bentuk suluk beserta kegunaannya. Teori yang digunakan untuk mengkaji proses kreatif sulukan Darkam Anom Sugito adalah teori proses kreatif dari Wallas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara terbuka, studi pustaka, observasi, dan analisa data yang berkaitan dengan sasaran penulisan. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Proses kreatif sulukan Darkam Anom Sugito berhasil melahirkan ragam suluk wayang kulit purwa gaya Banyumas. (2) Selain gaya suluk, dalam proses kreatif sulukan Darkam Anom Sugito juga melahirkan kreasi baru berupa cengkok suluk yang dihasilkan dari perpaduan antara cengkok gender dan olah vokal. Kata kunci: Ragam Suluk, Darkam Anom Sugito, Proses Kreatif, Pertunjukan Wayang Kulit Purwa Gaya Banyuma

    Belajar Pocapan dari Ki Hadi Sugito

    Full text link
    This paper discusses the application of the method of learning puppetry, especially Pocapan language (dialogue with puppet characters’). This method is produced by first examining Ki Hadi Sugito’s pocapan in three plays, namely Bagong Ratu, Ujung Sengara, and Wahyu Widayat. Ki Hadi Sugito’s wayang performance was chosen as a model with language considerations produced by Ki Hadi Sugito, simple and communicative. From the results of the study, a simpler text was created. This text is then used as teaching material in class. The text used as this teaching material does not mean limiting students but instead provides opportunities to be developed by students, according to their respective abilities. Tulisan ini membicarakan penerapan metode belajar bahasa pedalangan khususnya bahasa pocapan (‘mendialogkan tokoh-tokoh wayang’). Metode ini dihasilkan dengan terlebih dahulu meneliti pocapan Ki Hadi Sugito dalam tiga lakon yaitu Bagong Ratu, Ujung Sengara, dan Wahyu Widayat. Pergelaran wayang versi Ki Hadi Sugito dipilih sebagai model dengan pertimbangan bahasa yang diproduksi Ki Hadi Sugito sederhana dan komunikatif. Dari hasil penelitian tersebut dibuatlah sebuah teks pocapan yang lebih sederhana. Teks ini kemudian digunakan sebagai bahan ajar di kelas. Teks yang digunakan sebagai bahan ajar ini tidak berarti membatasi mahasiswa tetapi justru memberi peluang untuk dikembangkan oleh mahasiswa, sesuai dengan kemampuan masing-masing

    “Kartisampéka” Trigantalpati dalam Lakon Wayang Gandamana Tundhung Ki Hadi Sugito (“Kartisampéka” Trigantalpati in Gandamana Tundhung Shadow Puppet Play Performance by Ki Hadi Sugito)

    Full text link
    AbstractThis paper aimed to examine kartisampéka Trigantalpati in the Gandamana Tundhung play performed by Ki Hadi Sugito. Kartisampéka is an act of deluding others subtly and not automatically visible to other people (sinamun sinamudana). Kartisampéka has a negative connotation because the actions carried out are aimed at harming others. The data analysis was carried out by using descriptive analytical method. This study succeeded in finding kartisampéka as a sub-theme of the Gandamana Tundhung play performed by Ki Hadi Sugito. The kartisampéka concept which attached to the Trigantalpati character was used to build the plot for the Gandamana Tundhung play performed by Ki Hadi Sugito. AbstrakTulisan ini bertujuan mengkaji kartisampéka Trigantalpati dalam lakon Gandamana Tundhung Ki Hadi Sugito. Kartisampéka ialah perbuatan memperdaya orang lain secara halus dan tidak serta merta dapat dilihat oleh orang lain (sinamun sinamudana). Kartisampéka mengandung konotasi negatif, karena perbuatan yang dilakukan bertujuan mencelakakan orang lain. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif analitis. Kajian ini berhasil menemukan kartisampéka sebagai sub-tema dari lakon Gandamana Tundhung Ki Hadi Sugito. Konsep kartisampéka yang dilekatkan pada tokoh Trigantalpati digunakan untuk membangun plot lakon Gandamana Tundhung Ki Hadi Sugito

    Manajemen operasional/ Sugito

    No full text
    ix, 190 hal.: ill.; 23 cm

    Manajemen operasional/ Sugito

    No full text
    ix, 190 hal.: ill.; 23 cm

    Manajemen operasional/ Sugito

    No full text
    ix, 190 hal.: ill.; 23 cm

    Manajemen operasional/ Sugito

    No full text
    ix, 190 hal.: ill.; 23 cm
    corecore