1,720,981 research outputs found
ISOLATION AND IDENTIFICATION SECONDARY METABOLITES COMPOUND ETHYL ACETATE : n-HEXANE (4 : 6) FRACTION OF GULMA SIAM LEAVES (Chromolaena odorata L.)
This study aims to isolate and identify the secondary metabolites compound ethyl
acetate : n-hexane (4: 6) fraction from Gulma siam leaves (Chromolaena odorata L.),
which is derived from Enrekang regency, South Sulawesi, Indonesia. The stages of
research include extraction, fractionation, purification and identification. Fractionation is
done by flash column chromatography; purification by recrystallization and identification
using color test, melting point, solubility, KLT and spectroscopic methods. Obtained
compound in the form of white crystal with a melting point about 144-145oC, also react
positively with Dragendorff and Wagner reagent that is marked by orange solution and
brown precipitants which indicate the possibility of containing secondary metabolites
compound that includes in alkaloid class. It is also supported by the presence of N-H
absorption around 3329.14 nm; aliphatic C-H around 2916.37 nm; aromatic C-C around
1620.21 nm; C-N around 1357.89 nm and C-O around 1068.50 nm that is obtained on the
IR spectrum
PENGARUH pH DAN MASSA MEDIA TANAH TERHADAP JUMLAH Pb YANG DISERAP OLEH TANAMAN SAWI HIJAU(Brassica juncea)
Abstract: This research is aim to studied influence of pH and amount of medium/size of pot to ability Pb absorption of green mustard. To study influence of pH, hence media grows various by each pH 5,0, 5,5, 6,0, 6,5, 7,0 and 7,5 respectively for each pot using phosphate buffer. While for various mass medium/size of pot, hence made by various pots with number of mass of media of each pot is 1000 grams, 1500 grams, 2000 grams, 2500 grams and 3000 grams. Into each pot which has been contamination ion Pb using PbSO4 0,1 M is cultivated with green mustard. Sprinkler applies aquadeion every morning and evening carefully, in order not to keep sprinkler water of that gets away from pot. After mustard age reach 3 month, harvested, then is cleaned with aquadeion, separation of root, steam and leaves, and dried. Every part of the crop is ash, then dissolved in mixture of solution of HCl and HNO3, and then is determined its concentration of Pb by using Spectroscopy Absorption Atomic (SSA) at wavelength 283.3 nm. Analyzed of measuring to determine Pb concentration which actually in sample. Result of its indicating that both of pH and amount of mass medium/size of pot influential to ability of Pb absorption of green mustar
The Processing of Coconut Shell Based on Pyrolysis Technology to Produce Reneweable Energy Sources
This study is an experimental study that aims to make coconut shell charcoal briquettes which have reliably characteristics or qualities. This study includes drying of raw materials, composing, grinding and sifting, mixing the adhesive, printing and compression, drying, and determination of characteristics include density, ash content, duration of combustion and calorific value. The result of the study showed that in general there is no significant difference between the characteristics of the briquettes using a starch adhesive with one that use sago starch adhesive. The characteristics of briquettes that were produced are in accordance with the standard in Indonesia, the United States and Japan, except Britain which give very strict standards. Activated charcoal from coconut shell charcoal that was activated with 1M HCl has metal adsopsi power Cr (VI) that is quite high (up to 22.15%).Keywords: briquettes, coconut shells, gluten, calorific value, tapioca, sago, ash, density
The Processing Of Coconut Shell Based On Pyrolysis Technology To Produce Reneweable Energy Sources
Abstract : This study is an experimental study that aims to make coconut shell charcoal briquettes which have reliably characteristics or qualities. This study includes drying of raw materials, composing, grinding and sifting, mixing the adhesive, printing and compression, drying, and determination of characteristics include density, ash content, duration of combustion and calorific value. The result of the study showed that in general there is no significant difference between the characteristics of the briquettes using a starch adhesive with one that use sago starch adhesive. The characteristics of briquettes that were produced are in accordance with the standard in Indonesia, the United States and Japan, except Britain which give very strict standards. Activated charcoal from coconut shell charcoal that was activated with 1M HCl has metal adsopsi power Cr (VI) that is quite high (up to 22.15%)
Pengaruh Jumlah Perekat Kanji terhadap Lama Briket Terbakar menjadi Abu
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah perekat kanji yang ditambahkan pada pembuatan briket arang tempurung kelapa yang dapat terbakar paling lama. Penelitian melalui beberapa tahapan yaitu pirolisis, pembuatan serbuk arang, pencampuran dengan perekat (kanji), pencetakan briket, pengeringan, dan Pembakaran dalam tungku. Hasil penelitian menunjukkan semakin tinggi kadar perekat, semakin lama briket terbakar. Hasil analisis varians (anova) menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan jumlah perekat kanji terhadap nilai kalor briket arang tempurung kelapa.Kata Kunci: Tempurung kelapa, Arang, Briket, Perekat kanji, Lama pembakaran, KalorABSTRACTThis study aims to determine the amount of starch adhesive is added to the coconut shell charcoal briquettes that can be burned longest. Research are through several stages from pyrolysis, the manufacture of charcoal powder, mixing it with starch adhesive, briquettes printing, drying, and combustion in the furnace. The results showed higher levels of adhesives, the longer the briquettes burn, and optimally at 15%. Results of analysis of variance (ANOVA) showed that there was a significant influence on the amount of starch adhesive to calorific value of coconut shell charcoal briquette.Keywords: Coconut shells, Charcoal, Briquettes, Starch adhesives, Duration burning, Hea
Perbandingan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas XI yang Dibelajarkan dengan Menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pembelajaran Langsung
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen (quasi experiment) yang bertujuan
untuk menganalisis perbedaan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar peserta didik yang
dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran
langsung. Desain penelitian ini menggunakan non-equivalen pretest-posttest control group
design. Hasil analisis deskripsi diperoleh rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis dan hasil
belajar kelas eksperimen 1 adalah 77,60 dan kelas eksperimen 2 adalah 75,36 dengan standar
deviasi masing-masing 6,92 dan 9,06. Persentase rata-rata nilai indikator kemampuan berpikir
kritis pada kelas eksperimen 1 sebesar 83,14 dan presentase nilai indikator kemampuan
berpikir kritis pada kelas eksperimen 2 sebesar 78,01. Rata-rata hasil belajar peserta didik
yang dibelajarkan dengan menggunakan model PBM lebih tinggi dibanding dengan model
pembelajaran langsung. Hasil pengujian hipotesis dengan uji-t pada taraf signifikan, α = 0,05
diperoleh signifikansi (0,001<0,05), menunjukkan hipotesis diterima. Disimpulkan bahwa
terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar menggunakan model
pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran langsung pada materi senyawa hidrokarbon.
Kata kunci: Pembelajaran Berbasis Masalah; Pembelajaran Langsung; Kemampuan Berpikir
Kritis; Hasil Belajar; Senyawa Hidrokarbon
Aplikasi Asap Cair Tempurung Kelapa sebagai Pengawet Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta)
Abstrak: Pengolahan ikan berprotein tinggi sebaiknya dilakukan dengan cara tepat. Diketahui bahwa protein dan air yang cukup tinggi menyebabkan ikan mudah membusuk. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menghambat proses pembusukan dengan cara pengawetan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh asap cair tempurung kelapa terhadap daya tahan dan perubahan protein ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta). Sampel ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) diperoleh dari pelelangan ikan di Kota Makassar. Proses pengawetan berlangsung beberapa tahap yaitu preparasi, perendaman
selama 15 menit, 30 menit, 45 menit, dan 60 menit dan analisis mutu ikan seperti kadar air, kadar protein dan uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman selama 30 menit, kadar air sebesar 60%, kadar protein sebesar 21 %, uji organoleptik (warna, aroma, tekstur dan rasa) yang memenuhi SNI, 2009
Pengaruh Ph Terhadap Degradasi Pewarnadirect Blue Menggunakan Jamur Pelapuk Kayu (Pleurotus Flabellatus)
Abstrak: Pewarna sintetik banyak digunakan dalam industri, terutama industri tekstil karenamemiliki struktur kompleks dan limbahnya sulit terdegradasi. Pemakaian pewarna sintetik meningkat setiap tahunnya, dan berdampak pada peningkatan jumlah bahan pencemar di perairan, menyebabkan terganggunya ekosistem akuatik, sehinggadibutuhkan perhatian yang serius untuk menurunkan konsentrasi limbah cair pewarna dengan memanfaatkan mikroorganisme, oleh karenanya penelitian ini bertujuan untuk menurunkan kadar limbah pewarna melalui optimasi pH pewarna direct blueyang dapat didegradasioleh enzim ligninolitik jamur pelapuk kayu. Variasi pH direct blue yang digunakan adalah3, 4, 5, 6, 7, 8 dan 9. Rasio ekstrak enzim dan direct blue yang digunakan pada proses degradasi adalah 3:1 dengan konsentrasi 50 ppm, dikontakkan selama180 menit pada suhu 50oC. Sisa direct bluehasil degradasi diukur menggunakan Spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 621,80 nm. Hasil penelitian diperoleh bahwa direct blue terdegradasi secara optimum pada pH 8 dengan efisiensi sebesar 53,45% dengan konsentrasi sisa 23,2714 ppm dan konsentrasi terdegradasi 26,7286 ppm. Kemampuan ini disebabkan adanya enzim ligninolitik yang dihasilkan oleh jamur P. flabellatus yang dapat memutus ikatan azo melalui mekanisme oksidasi
Studi Komparasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw dengan Tipe TGT Ditinjau dari Hasil Belajar Siswa Kelas X SMAN 3 Watansoppeng (Studi pada Materi Pokok Ikatan Kimia)
ABSTRAKPenelitian ini adalah penelitian komparatif yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa Kelas X SMA Negeri 3 Watansoppeng yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan tipe TGT. Populasinya adalah siswa kelas X SMA Negeri 3 Watansoppeng yang terdiri dari enam kelas, sedangkan sampelnya adalah kelas X3 sebagai kelas eksperimen I yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan kelas X6 sebagai kelas eksperimen II yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dengan jumlah siswa masing-masing 23 orang. Desain penelitian yang digunakan adalah “Posttest Only Design”. Variabel bebasnya adalah pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan pembelajaran kooperatif tipe TGT dan variabel terikatnya yaitu hasil belajar. Hasil analisis data menunjukkan nilai rata-rata hasil belajar siswa kelas Jigsaw pada posttest yaitu 72,15 dengan standar deviasi 12,17 dan kelas TGT yaitu 65,34 dengan standar deviasi 11,14. Hasil pengujian hipotesis diperoleh nilai thitung = 2,0841. Pada taraf signifikan α = 0,05 dengan dk = 44 diperoleh t(0,025,44) = 2,0154. Oleh karena, thitung tidak terletak diantara –t(0,025,44) dan +t(0,025,44), maka H1 diterima dan H0 ditolak, bearti bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan tipe TGT di kelas X SMA Negeri 3 Watansoppeng pada Materi Pokok Ikatan Kimia.Kata Kunci: Jigsaw, TGT, Hasil Belajar,Ikatan Kimia. ABSTRACTThis comparison research aimed to investigate the differences of learning outcomes of Class X student SMA Negeri 3 Watansoppeng taught by using of Jigsaw and TGT types of cooperative learning. The population are all class X of SMA Negeri 3 Watansoppeng which consists of 6 classes, while the sample are Class of X3 is a sample as experiment I class which was taught by Jigsaw Type and Class of X6 as experiment II class which was taught by TGT Type of Cooperative Learning Model, the student amount of 23 participants, respectivly. The study design was "Posttest Only Design". The analysis showed the average value of student learning outcomes Jigsaw class in posttest is 72,15 with 12,17 of deviation standard and TGT class, 65,34 with 65,34 of deviation standard. The results of hypothesis values obtained at tcount = 2,0841. α = 0.05 significance level with df = 44 obtained table = 2,0154, therefore, tcount is not located between -t(0,025,44) and +t(0,025,44). It’is meant the H1 hypothesis is accepted and H0 is rejected. However, the conclusion there is difference outcomes learning taught by Jigsaw and TGT types of cooperative learning model of X class student of SMA Negeri 3 Watansoppeng on the subject matter of the chemical bond.Keywords: Jigsaw, TGT, Learning Outcomes, Chemical Bond
Penerapan Model Pembelajaran Siklus Belajar 5e Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Peserta Didik Kelas XIMs 5 Sma Negeri 3 Lau Maros (Studi pada Materi Pokok Kesetimbangan Kimia)
ABSTRAKPenelitian tindakan kelas (PTK) ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar peserta didik kelas XI MS 5 SMA Negeri 3 Lau Maros melalui model pembelajaran SB 5E.Secara garis besar terdapat empat tahapan PTK, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi.Penelitian ini dilakukan sebanyak dua siklus.Data hasil penelitian menunjukkan bahwa langkah-langkah yang diterapkan dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik Kelas XI MS 5 SMA Negeri3 Lau Maros. Langkah-langkah tersebut yaitu: (1) Lebih selektif dalam menentukan tema pemberian motivasi sehingga peserta didik dapat termotivasi untuk melakukan perbaikan dalam pembelajaran; (2) Penggunaan media pembelajaran berupa video dan flash lebih dominan dalam memberikan materi pembelajaran; (3) Menunjuk peserta didik yang memiliki kemampuan kognitif untuk membantu teman kelompoknya dalam menyelesaikan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya; (4) Memberikan pembimbingan khusus dengan cara mendatangi kelompok-kelompok pada fase explore dan elaboration; (5) Menunjuk perwakilan dari kelompok untuk memberikan jawaban atas pertanyaan guru.Aktivitas dan hasil belajar peserta didik setelah menerapkan model pembelajaran siklus belajar 5E meningkat dari siklus I ke siklus II. Kata kunci: SB 5E, Aktivitas belajar, Kesetimbangan kimiaABSTRACTThis classroom action research (CAR) aims to enhance the learning activity of the Class XI MS 5Student of SMANegeri 3 Lau Maros through 5EsLC model. In general, there are four stages of CAR, (1) planning, (2) action, (3) observation and (4) reflection. The research was done in two cycles. The result showed that the 5EsLC model could enhance the student‟s learning activity. The steps are: (1) More selective in determine the motivation theme so the student could be motivated to improve their study; (2) The useful of learning media such as learning video and macromedia flash more dominant; (3) The smart student was asked to help the other student in the group to solve the difficulties; (4) special guidance was done by visiting each group in explore and elaboration phase; (5) One of the student in each group was asked to give answer for teacher‟s questions. The student‟slearning activityand achievement after the implementation of 5Es LC has been increased from first cycle to second cycle.Keywords: 5Es LC, Learning activity, Chemical equilibriu
- …
