220 research outputs found
Collaboration as a driver of EDI: How Collaborative Activities Drive the Development and Implementation of Employee-Driven Innovation Initiatives
A growing perspective on innovation suggests that significant innovation can stem from employees' daily activities. Traditional innovation practices often delegate decision-making to a select group, typically R&D departments or specialized units. However, this approach overlooks the innovation potential distributed across all employees in an organization. Recent understanding challenges this traditional view, emphasizing that all employees possess the potential for innovation. Recognizing and harnessing this potential can lead to more distributed and effective innovation practices within organizations. This concept is referred to as Employee-Driven Innovation.In the context of Employee-Driven Innovation (EDI), collaboration is crucial for successful development and implementation. Effective collaboration, reliant on structures promoting knowledge exchange, skill development, and resource sharing, amplifies an organization's performance by capitalizing on individual strengths and expertise. However, the specific impact of collaboration on EDI practices is not well-understood, creating a gap in the literature and an opportunity to explore how collaboration influences EDI. Understanding these dynamics can inform and shape effective EDI practices. Therefore, it's essential to investigate the influence of collaborative activity on EDI, guiding the formation of effective strategies and driving successful EDI practices.This research narrows its focus to the development and implementation phase of Employee-Driven Innovation (EDI), as the literature suggests this phase is most influenced by collaborative activities and the organizational context allows deeper research into this specific phase. The central question being explored in this research is: how do collaborative activities drive the development and implementation of EDI initiatives?To address this, a case study is conducted within a single organization, Stedin, a grid operator in the Netherlands. The study encompasses several EDI initiatives and involves questioning both the initiators of the initiatives and collaborators during the development and implementation phase. A semi-structured interview format is used to gather insights.This research reveals key insights into the contrasting collaborative activities of the "fuzzy front end" and the "back end" of the development and implementation process of EDI initiatives. The fuzzy front end, characterized by exploration, thrives on dynamic, distant, and informal collaboration. These characteristics facilitate swift interactions, overcome organizational resistance, and prevent collective decision-making structures, thus promoting speed and flexibility.Conversely, the back end, typically more specialized and complex, benefits from stable, intimate, and homogeneous collaboration. This phase involves a time-consuming and complex role transfer, transitioning the EDI to an innovation that can be adopted organization-wide. Stable, homogeneous and intimate collaboration ensures effective implementation and a smooth transition of ownership...Management of Technology (MoT
KAJIAN STILISTIKA TEKS BAHASA PEDALANGAN WAYANG PURWA GAYA SURAKARTA
The purpose of this study is to identify and describe the linguistic elements used by the writers to obtain specific effects (expressivity function) in their creativity process. The study applied a model of descriptive qualitave research. The result of the study showed that in the use of comprehensive and significant linguistic elements, there was janturan (pathet 6, pathet 9, pathet manyura) especially anturan pathet 6. It was comprehensive because all linguistic elements are used altogether and they have supported the expressivity function. In using janturan pathet 6, the writers illustrate kebinatharaan (that of honorable god of Bathara) and the glory of a king, the prosperity and the conquest of a kingdom.
Verba me(n)-d, me(n)-d-i, me(n)-d-kan dan korelasinya dengan nomina pe(n)-d, pe(n)-d-an, d-an dalam bahasa Indonesia
Penataan Kembali Morfologi Bahasa Indonesia Dengan Perspektif Baru (Derivasional Dan Infleksional) Proses Afiksasi
Penelitian difokuskan pada morfologi derivasional dan infleksional proses afiksasi. Data penelitian ini berupa kalimat-kalimat bahasa Indonesia baku yang mengandung bentuk-bentuk berafiks. Data dapat diperoleh pada media massa (cetak dan elektronik), pemakaian bahasa lisan sehari-hari oleh masyarakat penutur bahasa Indonesia, serta data yang dibangkitkan oleh peneliti sebagai penutur bahasa Indonesia dengan validasi tertentu yang berlaku bagi penelitian bahasa. Pengumpulan data dilakukan dengan cara simak dan catat, serta wawancara mendalam. Simak dan catat dilakukan terhadap sumber data tertulis dan lisan, sedangkan wawancara mendalam dilakukan untuk menguji kembali kebenaran/kesahihan data yang diperoleh terutama terhadap data yang dibangkitkan. Wawancara mendalam juga disertai penyimakan dan pencatatan. Pembentukan yang menghasilkan jenis kata baru yang berbeda dari dasarnya atau pembentukan yang menghasilkan identitas leksikal berbeda. Pembentukan tersebut berarti pula menghasilkan arti leksikal yang berbeda dari dasarnya dengan referen (yang diacu) juga berbeda. Di samping itu terdapat pula pembentukan yang menghasilkan jenis kata yang sama dengan dasarnya (misalnya: lurah vs kelurahan). Dalam hal ini juga termasuk pembentukan derivasional karena arti leksikalnya berbeda dan yang diacu juga berbeda. Kata “lurah” mengacu ke orang, sedangkan “kelurahan” mengacu pada sistem/tidak mengacu pada orang". Pembentukan yang terakhir tersebut (lurah vs kelurahan) tidak mengubah jenis kata, namun mengubah identitas leksikal. Melalui ciri-ciri tersebut di atas, afiksasi dalam bahasa Indonesia dikenal adanya pembentukan menjadi Nom dan pembentukan menjadi V, sedangkan pembentukan menjadi kelas kata selain Nom dan V tidak ditemukan.
Pembentukan derivasional menjadi Nom berasal dari beberapa kategori D, yakni dari V (V I dan V II), dari Nom-lain, dari Adj, dari Num, dan dari Adv. Pembentukan V I menjadi Nom terdapat dalam berbagai kategori Nom, yakni kategori peng-D, kategori peng-D-an, kategori D-an, kategori pe-D, kategori ke-D-an, dan kategori per-D-an. Pembentukan V II menjadi Nom terdapat dalam berbagai kategori Nom, yakni kategori peng-D, kategori peng-D-an, kategori D-an, kategori pe-/per-D, kategori pe-/per-D-an, dan kategori ke-D-an. Pembentukan Nom dari Nom-lain terdapat dalam berbagai kategori Nom, yakni kategori ke-D-an, kategori per-/pe-D-an, kategori D-wan/-wati, kategori D-isme, kategori D-isasi, dan kategori D-an.
Pembentukan Adj menjadi Nom terdapat dalam berbagai kategori Nom, yakni kategori ke-D-an, kategori D-an, kategori peng-D, kategori D-isasi, kategori D-isme, kategori ke-D, dan kategori pe-D. Pembentukan dari Num menjadi Nom terdapat dalam berbagai kategori Nom, yakni kategori D-an, kategori ke-D-an, dan kategori per-D-an. Pembentukan Adverbia menjadi Nomina terdapat dalam berbagai kategori Nom, yakni kategori ke-D-an, kategori ke-D. Pembentukan menjadi Nom juga dapat melibatkan sufiks {-nya} dari berbagai kategori D V, Adj, Num, dan Adv.
Pembentukan derivasional menjadi V juga berasal dari beberapa kategori D, yakni dari V-lain (V I dan V II), dari Nom, dari Adj, dari Num, dan dari Adv. Pembentukan menjadi V dari V-lain kategori D V I terdapat dalam berbagai kategori V, yakni kategori D–i, kategori D–kan, kategori ke-D-an, dan kategori ber-D. Pembentukan menjadi V yang dari V-lain kategori D V II terdapat dalam berbagai kategori V, yakni kategori D–i, kategori D–kan, dan kategori ke-D-an.
Pembentukan menjadi V dari D Nom terdapat dalam berbagai kategori V, yakni kategori zero-D, kategori D-kan, kategori D-i, kategori ber-D, kategori meng-D, kategori per-D, kategori per-D-kan, dan kategori ber-D-kan. Pembentukan menjadi V dari D Adj terdapat dalam berbagai kategori V, yakni kategori D-i, kategori D-kan, kategori per-D, kategori per-D-kan, kategori per-D-i, kategori meng-D, kategori ber-D, kategori ber-D-an, dan kategori ke-D-an. Pembentukan menjadi V dari D Num terdapat dalam berbagai kategori V, yakni kategori D-kan, kategori per-D-kan, kategori per-D, kategori meng-D, dan kategori ber-D. Pembentukan menjadi V dari D Adv/atributif terdapat dalam berbagai kategori V, yakni kategori D-i dan kategori D-kan.
Pembentukan infleksional adalah pembentukan yang tidak menghasilkan leksem baru atau pembentukan yang menghasilkan bentuk-bentuk kata yang berbeda dari leksem yang sama. Pembentukan semacam itu mempunyai sifat dapat diramalkan berdasarkan kondisi-kondisi tertentu. Melalui afiksasi, pembentukan infleksional dalam bahasa Indonesia hanya terjadi dalam lingkup V, yakni V I dan V II. Pembentukan infleksional dengan dasar V I terdapat pada V kategori TEMBAK, V kategori TEMBAKI, V kategori TEMBAKKAN, dan V kategori AMBILKAN. Pembentukan Infleksional dengan Dasar V II terdapat dalam kategori ber-D, kategori D-i, kategori D-kan „lokatif‟, dan kategori D-kan „kausatif‟. Afiks-afiks infleksi yang kemunculannya dapat diramalkan melekat dalam kategori V tersebut adalah afiks {meng-, di-, ku-, kau-, dia
(B. Sastra) Penataan Kembali Morfologi Bahasa Indonesia dengan Perspektif Baru (Derivasional dan Infleksional) Proses Perulangan dan Pemajemukan
Istilah yang digunakan dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia untuk menyebut pembentukan kategori kata yang satu dari kategori kata yang lain adalah turunan dan penurunan. Misalnya, Verba turunan (1993:108) dan Proses Penurunan Verba (1993:109). Penyebutan itu tidak jelas apakah verba turunan itu (misalnya: beli membeli) bersifat infleksi atau derivasi. Hal itu juga belum tampak pada kategori kata lainnya seperti nomina, adjektiva, dan lain-lain; apalagi dalam proses morfologi perulangan dan pemajemukan. Dengan alasan itu, penelitian ini mencoba merintis prespektif baru studi morfologi BI berdasarkan perspektif derivasi dan infleksi dengan tujuan menambah khasanah tentang pendeskripsian morfologi bahasa Indonesia. Pemerian morfologi derivasional dan infleksional terhadap proses afiksasi telah dilakukan pada tahap pertama, dan penelitian ini difokuskan terhadap proses pemajemukan dan perulangan.
Konsep derivasi dan infleksi tidak dapat dipisahkan dari konsep leksem. Infleksi pada dasarnya pembentukan yang menghasilkan bentuk-bentuk kata berbeda dari leksem yang sama, sedangkan derivasi adalah pembentukan yang menghasilkan leksem baru. Peran leksem sendiri sedikit banyak akan berpengaruh terhadap penyusunan entre dalam pembuatan kamus.
Data penelitian ini ialah semua tuturan (baca: kalimat) yang terdapat dalam sumber data yang di dalamnya terdapat kata majemuk dan kata ulang. Hadirnya konteks kalimat di sini sangat penting karena makna kata majemuk dan kata ulang hanya dapat dipahami secara tepat manakala ditempatkan dalam konteks kalimat. Sumber data yang dipilih ialah pemakaian bahasa yang mencerminkan sifat kebakuan. Pemakaian bahasa demikian pada umumnya terdapat pada pemakaian yang bersifat formal, baik pada pemakaian lisan maupun tulis. Dalam ragam tulis: buku teks/pelajaran, karya tulis, surat kabar. Dari ragam lisan diperoleh dari pidato, berita-berita radio atau televisi, maupun data yang dibangkitkan dari narasumber. Teknik pengumpulan data yang dipakai yakni pengamatan atau observasi. Peneliti membaca dan mengamati teks dalam sumber data. Setiap kalimat yang di dalamnya terdapat kata majemuk atau kata ulang ditandai. Teknik berikutnya ialah teknik simak dan catat.
Ditemukan dalam penelitian ini semua pembentukan menjadi kata majemuk merupakan proses derivasional karena membentuk leksem baru yang ditandai oleh perbedaan identitas leksikal maupun arti leksikal dari unsur-unsur pembentuknya. Namun demikian ciri arti maupun identitas baru leksikal baru ini masih dapat ditelusuri asal mulanya. Jika tidak dapat ditelusuri asal mula identitas leksikal baru itu tidak lagi dimasukkan dalam kata majemuk, tetapi sudah merupakan struktur beku yang disebut idiom. Idiom tidak dimasukkan dalam analisis ini walaupun mempunyai kemungkinan memiliki kemiripan struktur dengan kata majemuk (komposisi). Pada umumnya kata majemuk terdiri dari dua anggota. Oleh karenanya, ada yang mengatakan bahwa terdapat pola kata majemuk D-M atau M-D. Namun, dalam perkembangannya dewasa ini, dapat ditemukan kata majemuk yang anggotanya lebih dari dua. Yang ditemukan dalam penelitian ini kata majemuk yang terdiri dari lebih dari dua anggota merupakan perkembangan dari sistem nama (lembaga, jabatan, pangkat), atau deretan kata yang menjadi singkatan (akronim). Mereka termasuk kategori Nom dan sebagian berkategori V.
Kata majemuk Nom dapat dapat diawali dengan Nom berpola Nom + Nom, Nom + V, Nom + Adj, Nom + Num; dapat diawali dengan V berpola V + Nom, V + V, V + Adj, V + Num; dapat diawali dengan Adj berpola Adj + Nom, Adj + V, Adj + Adj; dan diawali Num dengan pola Num + Nom. Dengan pola-pola ini dapat diketahui bahwa kata majemuk berkategori Nom bisa saja dibentuk atas kategori lain (tanpa melibatkan Nom). Umumnya kata majemuk kategori V dibentuk dengan melibatkan V sebagai anggota pertama, yakni dengan pola V + Nom, V + V, V + Adj, dan V + Num. Atau V sebagai anggota kedua dengan pola Nom + V (hilir mudik) dengan data terbatas. Selain itu majemuk V dibentuk dari Adj + Nom (sakit jiwa, lepas landas) dalam konteks tertentu. Kata majemuk kategori Adj selalu melibatkan Adj sebagai unsurnya. Mereka berpola Adj +Adj, Adj + Nom, Adj + V, dan Nom + Adj. Beberapa pola juga ditemukan pembentukan kata majemuk berkategori Adv yang selalu melibatkan Adv. Beberapa kata majemuk tertentu dimungkinkan mempunyai keanggotaan/kategori ganda, namun konteks sangat menentukan kekategoriannya itu.
Infleksional dan derivasional terjadi pada proses perulangan. Proses perulangan infleksional terjadi pada semua kategori. Pada umumnya, infleksional juga hanya terjadi pada perulangan utuh (dwilingga), kecuali pada kategori V. Proses infleksi perulangan pada V terjadi dari bentuk dasar D (dwilingga), dari bentuk dasar ber-D, bentuk dasar ber-D-an, dari bentuk dasar meng-D, dari bentuk dasar meng-D-i, dari bentuk dasar meng-D-kan, dan dari bentuk dasar memper-D-kan. Proses reduplikasi Nom yang termasuk infleksional menyatakan ‗banyak dan beragam‘. Hal itu bersifat teratur terhadap semua Nom, termasuk Nom yang sudah mengalami proses morfologi sebelum perulangan (seperti: perusahaan-perusahaan, rumah sakit-rumah sakit, kaca mata-kaca mata). Perubahan arti leksikal dari ‗banyak dan beragam‘ pada Nom ulang dalam konteks tertentu dapat digolongkan ke dalam proses derivasional. Verba-verba ulang yang termasuk dalam proses infleksional menyatakan ‗pluralitas/keberkali-kalian atau kontinuitas/terus-menerus dengan keragaman irama‘. Pengulangan infleksional dari bentuk dasar Adj menghasilkan makna ‗semua/banyak dan beragam‘. Pengulangan infleksional dari bentuk dasar Num menghasilkan makna ‗setiap kelompok terdiri dari/mendapat D‘. Pengulangan infleksional dari bentuk dasar Adv menghasilkan makna ‗keberkali-kalian/pluralitas‘. Ciri-ciri arti yang dihasilkan tersebut bersifat teratur dan dapat diramalkan. Selain menyatakan ciri arti tersebut, perulangan bersifat derivasional.
Perubahan derivasional perulangan terjadi dalam semua kategori bentuk dasar dan bersifat tidak dapat diramalkan. Perulangan derivasional pada Nom bertipe D-D, D-D-an, dwipurwa-D-an, dwipuwa, dwilingga dengan perubahan vokal akhir, dwilingga dengan variasi konsonan/vokal, dwilingga dengan variasi afiks {-em-}. Perulangan derivasional pada V terjadi pada V D dengan variasi afiks meng- ‗saling D‘, V D dengan variasi afiks meng- ‗perihal‘, V D-i dengan variasi afiks meng- ‗saling D-i‘, V D utuh, V D dengan variasi vokal, dan V D dengan variasi afiks {–em-}. Perulangan derivasional pada Adj terjadi pada Adj D utuh, Adj D dwipurwa, Adj D dengan variasi vokal/konsonan. Perulangan derivasional pada Num terjadi pada Num D utuh
PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN PENGETAHUAN FISIKA BERBASIS KOMPUTER UNTUK MENINGKATKAN KESIAPAN PESERTA DIDIK DALAM MENGHADAPI UJIAN NASIONAL BERBASIS KOMPUTER
Penelitian ini bertujuan untuk 1) menghasilkan instrumen penilaian berbasis komputer yang layak untuk mengukur kemampuan kognitif peserta didik SMA, 2) menguji efektivitas instrumen penilaian berbasis komputer yang dikembangkan untuk mengukur pengetahuan Fisika peserta didik SMA, 3) mengukur tingkat kesiapan peserta didik dalam menghadapi ujian nasional berbasis komputer.Penelitian ini menggunakan model Research and Development (R&D). Model R&D terdiri atas tiga tahap utama yaitu: tahap pendahuluan, tahap pengembangan dan tahap evaluasi. Pada tahap pendahuluan telah diidentifikasi permasalahan penilain pembelajaran fisika berbasis komputer. Tahap pengembangan telah dilakukan pembatan disain instrumen peniliaian fisika berbasis komputer, validasi produk, revisi produk dan uji coba produk secara terbatas. Pada tahap evaluasi telah dilakukan uji coba secara luas, revisi produk, dan pembuatan produk akhir. Uji statistik deskritif digunakan untuk mendeskripsikan hasil aplikasi penilaian pengetahuan berbasis komputer.Hasil penelitian ini: (1) Instrumen soal yang dikembangkan layak untuk untuk mengukur kemampuan kognitif peserta didik SMA, (2) instrumen penilaian berbasis kompunter lebih efektif dan efisien untuk mengukur kemampuan pengetahuan Fisika peserta didik SMA daripada paper and pencil test, (3) Peserta didik 58,67% sudah siap menghadapi tes berbasis komputer ,34% peserta didik belum siap melakukan tes berbasis komputer dan 7,33 % tidak siap melakukan tes berbasis komputer. </jats:p
Pemerian morfologii Bahasa Indonesia berdasarkan perspektif derivasi dan infleksi afiksasi
xii, 106 hlm.: 23 c
- …
