1,720,982 research outputs found
KOMPETENSI KEWIRAUSAHAAN KEPALA SEKOLAH SMK MUHAMMADIYAH 1 KLATEN UTARA PADA TAHUN 2013
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai kompetensi kewirausahaan yang dimiliki oleh kepala SMK Muhammadiyah 1 Klaten Utara yang meliputi: (1) menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah; (2) bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang efektif; (3) memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah; (4) pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah; dan (5) memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sekolah sebagai sumber belajar peserta didik. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan penyajian secara deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan penanggung jawab unti usaha. Data diperoleh dengan wawancara, observasi dan studi pencermatan dokumen. Teknik analisis menggunakan deskriptif kualitatif, sedangkan keabsahan data dengan menggunakan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: kepala SMK Muhammadiyah 1 Klaten Utara sudah memiliki karakter wirausaha sebagaimana tercantum dalam Permendiknas No. 13 tahun 2007.Kata kunci: kompetensi, kewirausahaan, kepala sekolahAbstractThis research aims to gain an overview of the entrepreneurial competencies possessed by the head of SMK Muhammadiyah 1 North Klaten which includes: (1) create useful innovation for the development of the school, (2) work hard to achieve the success of the school as an effective learning organization, (3) have a strong motivation to succeed in carrying out the duties and functions as the leader of the school, (4) never give up and always look for the best solution in dealing with problems in the school, and (5) have the entrepreneurial spirit in managing production activities / services of the school as a learning resource learners. This research is a qualitative descriptive presentation. Sources of data in this study is the principal, vice principal, and the person in charge of the business unti. The data obtained through interviews, observation and document scrutiny studies. Using qualitative descriptive analysis techniques, while the validity of the data by using a triangulation of sources and methods. The results showed that: the headHal 2of SMK Muhammadiyah 1 North Klaten already have an entrepreneurial character as stated in Regulation of National Education Minister number 13 of 2007.Key words: competence, entrepreneurship, principal
PENGARUH VARIASI KOMPOSISI SERAT BAMBU, FIBER GLASS, SERBUK ALUMINIUM TERHADAP KEKUATAN AUS DAN KEKERASAN KAMPAS REM DENGAN PENGIKAT RESIN POLYESTER
Kampas rem merupakan salah satu komponen kereta api yang berfungsi untuk memperlambat atau menghentikan laju kereta api secara nyaman. Sehingga peneliti ingin memahami dan membuat sampel kampas rem kereta api dengan menggunakan suatu bahan komposit yang ramah lingkungan dengan beberapa variasi komposisi bahan untuk mengetahui tingkat keausan dan nilai kekerasan kampas rem tersebut.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah serat bambu, fiber glass, serbuk aluminium, resin polyester dengan katalis sebagai pengikatnya. Pembuatan kampas rem ini dipress/dikompaksi dengan beban sebesar 2000kg dengan waktu tahan penekanan selama 10 menit, dilanjutkan dioven selama 30 menit dengan temperature 2050 C.
Pengujian yang dilakukan meliputi uji keausan Ogoshi dan uji kekerasan Brinell. Dari data hasil penelitian uji keausan dan uji kekerasan diketahui, bahwa dalam pengujian keausan diperoleh material yang tingkat keausan terbaik adalah campuran dari variasi komposisi sebesar 20 % serat bambu + 30 % fiber glass + 30 % aluminium (Al) + 20 % polyester, dengan tingkat keausan yaitu sebesar 0,000000524 mm2/kg. dibandingkan dengan tingkat keausan kampas rem Aspira sebesar 0,000000476 mm2/kg. sedangkan dalam pengujian kekerasan, dapat disimpulkan bahwa material dengan variasi komposisi sebesar 20 % serat bambu + 30 % fiber glass + 30 % aluminium (Al) + 20 % polyester, dengan nilai kekerasan sebesar 18,82 kg/mm2. dibandingkan dengan nilai kekerasan kampas rem Aspira sebesar 19,34 kg/mm2
PENATAAN LINGKUNGAN INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH UNTUK MENINGKATKAN EKONOMI RAKYAT DALAM PERSPEKTIF KEBIJAKSANAAN PUBLIK DI KABUPATEN KUDUS (SMALL AND MEDIUM INDUSTRY ENVIRONMENT SRUCTURING TO IMPROVEMENT OF ECONOMIC SOCIETY IN PUBLIC POLICY PERSPECTIVE IN THE REGENCY OF KUDUS)
The policy of small and medium industry environment structuring in the Regency of Kudus stated in the regency regulation, in order to do properly. Because a regulation with no corridor of legal norm won't be able to be realized.
The industry environment structuring, in macro structure, relatid with the dimension of territory space structure is still far from our wish. Because although the regulation has been poured into the Regency Regulation number 6, 1994 about the Plant of Territory Space Structure, but the implementation is not suit with the purposes.
The territory space struture, as ruled in the regency regulation as mentioned above, beside weakness of law inforcement ,for the recent condition is felt not suitable anymore. Therefore, the precence of changes due to the industry development in the Regency of Kudus is important, But until this research was written , the discussion about the changes was still unsolved. Because in pouring of policy, in the form of regency regulation, has occurred a crash of non legal interests, such as politic, economic, and culture of community, so that it cannot be lagalized yet to be a regulation.
The development of small and medium industry contiues to grow and develop, year by year, in Kudus. But the growth and development of small and medium industri has no positive correlation with the policy of industry enviromnent structuring. It is caused by the culture of Kudus community in business. They are so tought angd have dinamics entrepreneurship.
The growth of small and medium industry is getting more and more. Certainly, it will bring positive impact on the number of manpower employed in the industry. But the big number of manpower employed in industry is not always meant to be a prosperity improvement. It can be seen in the indicator of regency minimum wage ( UMK) that does not fulfil the minimum life needs ( KHM).
Kebijaksanaan pentaan lingkungan industri kecil dan menengah di Kabupaten Kudus, sudah ditetapkan dalam peraturan daerah, agar kebijaksanaan itu dapat dilaksanakan sebagaimana yang diharapkan, karena kebijaksanaan tanpa adanya koridor /bingkai norma hukum maim kebijaksanaan itu tidak dapat direalisasikan.
Penataan Iingkungan industri pada tataran makro yang dikaitkan dengan dimensi tata man wilayah masih jauh dan harapan karena meskipun ketentuan itu sudah dituangkan dalam Peraturan Daerah nomor.6 tahun 1994 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), namun tetap dalam pelaksanaanya masih belum sesuai dengan peruntukannya.
Penataan rang wilayah sebagaimana diatur dalam peraturan daerah sebagaiman dimaksud diatas, disamping lemahnya penegakan hukum, pada kondisi sekarang ini dirasakan sudah tidak sesuai lagi, oleh karena itu perlu adanya perubahan-perubahan berkaitan dengan perkembangan industri di Kabupaten Kudus, namun sampai penelitian ini ditulis, pembahasan mengenai perubahan tersebut masih belum dapat diselesaikan, karena dalam penuangan kebijaksanaan dalam bentuk peraturan daerah telah terjadi benturan kepentingan non hukum, seperti politik dan ekonomi serta budaya masyarakat, sehingga sampai sekarang belum dapat disyahkan menjadi peraturan perundangan.
Perkembangan industri kecil dan menengah yang tahun demi tahun terns tumbuh dan berkembang di Kudus, namun tumbuh dan berkembangnya industri kecil dan menengah itu tidak ada korelasi yang positif dengan kebijaksanaan penataan lingkungan industri, hal ini memang disebabkan budaya masyarakat Kudus dalam bisnis, sangat ulet dan memiliki jiwa wirausaha yang dinamis
Pertumbuhan industri kecil dan menengah yang semakin banyak tentu akan berdampak positif terhadap jumlah tenaga kerja yang terserap dalam industri tersebut, akan tetapi banyaknya jumlah tenaga kerja yang terserap dalam industri belum tentu menambah kesejahteraan. Hal yang demikian ini dapat dilihat dalam ukuran Upah Minimum Kabupaten (UMK) yang masih belum memenuhi kebutuhan hidup minimum (KHM)
Sistem Pendukung Keputusan Penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) Berbasis Website Menggunakan Metode Simple Additive Weighting (SAW) pada Desa Satria Jaya
Pada penelitian ini digunakan metode Simple Additive Weighting (SAW) dalam penelitian ini karena proses perhitungan lebih efisien karena waktu yang dibutuhkan lebih singkat dan akurat. Hasil dari penelitian ini adalah sistem pendukung keputusan penerimaan bantuan langsung tunai berbasis web dengan metode Simple Additive Weighting (SAW) di Desa Satria Jaya Kecamatan Tambun Utara Kabupaten Bekasi. Analisis yang diberikan didasarkan pada hasil perkalian dan penjumlahan matriks ternormalisasi dengan bobot, nilai atau bobot yang digunakan 0 – 0,75, dinyatakan tidak layak mendapatkan bantuan dan jika nilai atau bobotnya 0,75 – 1,00 dinyatakan layak mendapatkan bantuan. Dari hasil simulasi perhitungan data calon penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) dengan menggunakan algoritma Simple Additive Weighting (SAW), yang lolos bantuan BLT berada pada kisaran 25% hasil simulasi data yang diuji
UPAYA MENINGKATKAN PEMBELAJARAN LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK DENGAN MODEL BERMAIN TALI, SIMPAI DAN BOLA GANTUNG PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 1 WONOREJO KECAMATAN KARANGANYAR KABUPATEN KEBUMEN TAHUN PELAJARAN 2015/2016
Permasalahan yang terjadi adalah rendahnya hasil pembelajaran Lompat
Jauh Gaya Jongkok Kelas V di SDN 1 Wonorejo Kecamatan Karanganyar
Kabupaten Kebumen Jawa Tengah Tahun Pelajaran 2015/ 2016. Penelitian
Tindakan Kelas ini bertujuan untuk meningkatkan pembelajaran lompat jauh gaya
jongkok dengan model bermain tali, simpai dan bola gantung siswa kelas V SD
Negeri 1 Wonorejo Kecamatan Karanganyar Kabupaten Kebumen.
Subjek dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V di SDN 1 Wonorejo
Kecamatan Karanganyar Kabupaten Kebumen yang berjumlah 17 siswa.
Penelitian tindakan kelas ini setiap siklusnya adalah dua kali pertemuan dengan
setiap pertemuan waktunya 2 x 35 menit. Instrumen yang digunakan berupa
angket tanggapan siswa dan test unjuk kerja lompat jauh gaya jongkok. Data yang
diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif.
Data awal test keterampilan unjuk kerja lompat jauh gaya jongkok
menunjukan bahwa siswa yang mencapai KKM hanya 41,17%, yaitu siswa tuntas
7 siswa (41,17%), tidak tuntas 10 siswa (58,83%). Pada siklus satu terjadi
peningkatan ketuntasan sebesar 47,06%, yaitu siswa tuntas 15 siswa (88,23%)
tidak tuntas 2 siswa (11,77%). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa
tindakan dengan model bermain tali, simpai dan bola gantung yang dilakukan
dalam 1 siklus dengan 2 kali pertemuan terbukti mampu meningkatkan hasi test
unjuk kerja dan tanggapan siswa terhadap lompat jauh gaya jongkok pada siswa
kelas V SD Negeri 1 Wonorejo Kecamatan Karanganyar Kabupaten Kebumen
STRATEGI PEMBELAJARAN TORSEBA KUIS FAMILI 30-2 UNTUK MENINGKATKAN STANDAR KOMPETENSI INFLASI SISWA
Memasuki Era AFTA 2015, dibutuhkan kualitas sumber daya manusia yang memiliki moral kepribadian simpatik. Dalam dunia pendidikan, guru juga dituntut mampu memiliki empat kompetensi. Indikator keberhasilan pembaruan kurikulum ditunjukkan dengan adanya perubahan pada pola kegiatan belajar-mengajar, memilih media pendidikan, dan menentukan strategi belajar yang merujuk pada hasil evaluasi untuk meningkatkan prestasi. Artikel hasil pemikiran ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi pembelajaran Torseba Kuis Famili 30-2 untuk meningkatkan hasil evaluasi belajar. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa guru perlu menerapkan strategi yang mampu meningkatkan prestasi belajar siswa salah satunya melalui implementasi sebuah strategi pembelajaran Torseba Kuis Famili 30-2 untuk meningkatkan hasil evaluasi belajar standar kompetensi inflasi. Model evaluasi pembelajaran ini adalah sebuah model yang menekankan pada proses keterlibatan siswa aktif pada pencapaian hasil evaluasi yang menekankan pada komponen kognitif, psikomotorik dan afektif dengan berbagai ragam evaluasi yaitu tes tertulis, performance test, hasil karya, produk dan portofolio
PENGARUH TIPE GRADASI AGREGAT TERHADAP SIFAT BETON ASPAL DENGAN BAHAN PENGIKAT ASPAL PERTAMINA PEN 60/70 DAN ASPAL STARBIT E-55 CAMPURAN AC-WC
Pavement earlier damage in Indonesia was generally due to overloading, repetition of traffic loading, and climatic change. To overcome these main factors, the quality of asphaltic concrete need to be improved properly. This research was to know the effect of difference aggregate gradation types on pavement performance using modification bitumen of Starbit E-55 and bitumen Penetration 60/70. Research was conducted in four stages: 1) to determine optimum bitumen content of four mixture types, 2) Marshall standard and immersion tests at each bitumen content of the mixtures, 3) indirect tensile strength test, and 4) analyzing and comparing the results. The research result shows that bitumen starbit E-55 can be used as an alternative binder for asphaltic concrete. The optimum bitumen content of bitumen Starbit E-55 in AC-WC was 5.75% for dense graded and 6.2 % for gap graded. The mixture with bitumen Starbit E-55 was weaker than that of bitumen penetration 60/70 for both dense and gap graded. Immersion test result shows that the index of retained strength of specimen using bitumen Starbit E-55 was more sensitive than that of using bitumen Pen 60/70. Whereas, in term of indirect tensile strength, specimens using bitumen Penetration 60/70 was more sensitive than that of specimens using Starbit E-55
KEBIJAKAN PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS DI BIDANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DASAR PADA ERA OTONOMI DAERAH
Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kudus di bidang penyelenggaraan pendidikan dasaradalah menjadikan penyelenggaraan pendidikan dasar sebagai salah satu prioritaspembangunan sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Kudus Nomor 11Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) KabupatenKudus Tahun 2005 – 2025 dan Peraturan Daerah Kabupaten Kudus Nomor 5 Tahun 2009tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Kudus Tahun2008 – 2013, serta menindaklanjutinya melalui penerbitan Peraturan Daerah yang khususmengatur tentang penyelenggaraan pendidikan dasar, yaitu melalui penerbitan PeraturanDaerah Kabupaten Kudus Nomor 2 Tahun 2010 tentang Wajib Belajar 12 (Dua Belas) Tahun.Kendala internal yang muncul berkaitan dengan kebijakan Pemerintah KabupatenKudus di bidang penyelenggaraan pendidikan dasar adalah masih minimnya anggaran yangdialokasikan untuk penyelenggaraan pendidikan dasar dan belum diterbitkannya petunjukatau peraturan pelaksanaan yang menindaklanjuti Peraturan Daerah Kabupaten Kudus Nomor2 Tahun 2010 tentang Wajib Belajar 12 (Dua Belas) Tahun kepada masyarakat. Selanjutnyakendala eksternal yang muncul berkaitan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Kudus dibidang penyelenggaraan pendidikan dasar adalah masih adanya masyarakat yang belummemahami arti pentingnya pendidikan dan masih kurangnya peran aktif masyarakat dalampenyelenggaraan pendidikan dasar di Kabupaten Kudus.Â
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
