15 research outputs found

    Tantri: Interpretasi Nilai Perjuangan Perempuan Bali Masa Kini

    No full text
    Dengan demikian penciptaan karya seni rupa ini menghasilkan konsep utama tentang: “Perempuan Tangguh, Terampil, dan Cerdas”. Tujuan penciptaan ini untuk menciptakan tokoh karakter perempuan tangguh,terampil, dan cerdas dalam bentuk fabel sebagai sarana kritik atas fenomena sosialperempuan Bali. Sedangkan metode yang digunakan adalah eksplorasi tentang sumber penciptaan dan pengalaman pribadi saya, pengumpulan identifikasi data, perancangan yang terdiri dari merancang bentuk atau sketsa, eksperimen bahan dan teknik, pembentukan, serta analisis yang menguaraikan tentang visualisasi gagasan, bentuk, media, serta pesan moral yang terkandung.Implementasi konsep ke dalam bentuk estetik melalui media fabel, lewat karakter tokoh angsa sebagai simbol perempuan tangguh, lembu simbol bijaksana, singa sebagai penguasa,serigala licik, gajah yang arogan, dan bangau yang serakah. Rancangan dikemas dalam karya seni rupa dua dimensional, dalam bentuk lukisan partisi sebagai simbol ruang pribadi perempuan yang masih dibatasi oleh peraturan, hukum, adat istiadat, sehingga perempuan merasa geraknyaterbatas.Rancangan kedua dalam bentuk buku pop-up dari kayu,buku sebagai sarana seseorang menuju cerdas, dengan demikian seorang perempuan agar dapat melampaui sekat dia harus cerdas dan berwawasan luas.Diharapkan karya seni rupa ini dapat menambah kekayaan khasanah seni rupa di Indonesia, ditinjau dari konsep, media, dan rancangan yang diungkap. Wujud luaran dari prosespenciptaan ini adalah karya seni rupa dan laporan penciptaan seni atau Disertasi

    Pesan Moral Dalam Cerita Pedanda Baka Sebagai Pembentuk Karakter Bangsa

    No full text
    Dongeng Pedanda Baka, adalah salah satu bagian dari cerita Tantri dari Bali, dapat ditemui pada relief bangunan pura, seni patung, lukisan, serta ilustrasi tradisional.Umat Hindu di Bali mengenal cerita ini sebagai ajaran etika dan moral, yang tertuang dalam bentuk sastra, seni pertunjukan dan seni rupa. Isi dari Cerita Pedanda Baka menggambarkan pentingnya tentang kerja keras, dan jujur, toleransi, dan menghindari tipu muslihat demi kepentingan diri sendiri, Jika dicermati, kondisi sosial bangsa Indonesia sedang mengalami degradasi moral, maraknya korupsi, tipu menipu, keserakahan, dan berbagai pelanggaran hukum. Sehingga pemilihan topik tersebut menarik untuk diteliti, dengan tujuan untuk mendidik generasi penerus agar menghargai, berperilaku sesuai dengan ajaran moral yang telah diturunkan oleh nenek moyang bangsa kita. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode kepustakaan, dan menggunakan teori Semiotika untuk membedah fungsi, pesan makna, dan simbol yang ada pada dongeng tersebut, baik dari tinjauan visual maupun makna kata. Implementasi dongeng Pedanda Baka dari teks sastra ke dalam karya seni rupa di Bali, diinterpretasikan oleh para seniman lewat berbagai media, sehingga kreativitas dan inovasi selalu berkesinambungan, hal itu dilakukan sebagai upaya melestarikan nilai kearifan budaya lokal dan membangun karakter bangsa. Kata kunci: Dongeng, nilai moral, karakter bangs

    Budha sebagai refleksi keharmonisan

    No full text
    Latar belakang penulis kehidupan yang dibesarkan dalam lingkungan budaya jawa khususnya yogyakarta dan jawa tengah banyak peninggalan klasik jawa seperti wayang, bangunan candi hindu dan buddha. Para pengikut budha mengungkapkan daya rasa seninya sebagai ungkapan, bhaktinya terhadap agama yang dianutnya. Pencitraan terhadap budha digambarkan sebagai manusia yang mempunyai kelebihan dibandingkan manusia biasa yang digambrakan dalam perwujudan arca budha. Dalam konsep budha yang mengutamakan hubungan harmonis dengan alam sangat kontradiktif dengan kondisi sosial masyarakat indonesia yang dalam keadaaan kacau balau. Dalam hal ini seorang seniman akan dapat mengungkapkan kondisi ini dengan karya seni diantaranya dengan memvisualisasikan dalam karya lukisan

    Transformasi Nilai Moral Cerit Tantri Pada Seni Lukis Kontemporer

    No full text
    Cerita Tantri adalah salah satu bagian dari sastra di Bali. Keberadaannya dimaknai oleh seniman seni tari, dramatradisional, dalang, dan seni rupa, sebagai salah satu sarana untuk menyampaikan pendidikan etika dan moral kepada masyarakat. Peninggalam seni rupa dengan tema cerita Tantri dapat ditemui pada relief bangunan pura, seni patung, lukisan, serta ilustrasi tradisional yang disebut Prasi Pesan moral dari cerita Tantri mengajarkan tentang bagaimana seseorang harus berperilaku baik, jujur, kerja keras, toleransi, dan meninggalkan sifat-sifat buruk. Sehingga pemilihan topik tersebut menarik untuk diteliti, karena terkait dengan fenomena saat tentang maraknya pelanggaran moral dan etika. Metode yang digunakan dalam penciptaan ini adalah metode penciptaan yang meliputi: eksplorasi, eksperimentasi dan pembentukan. Serta menggunakan pendekatan teori estetika dan semiotika untuk memjelaskan akan fungsi, makna, dan simbol yang ada pada karya seni lukis yang diciptakan. Implementasi dongeng dari teks sastra ke dalam karya seni lukis kontemporer diinterpretasikan lewat kebebasan menggunakan media, pemaknaan cerita sesuai dengan jiwa jaman, serta menggunakan media kanvas, kayu, car akrilik, dengan bentuk rancangan partisi. Kata kunci: Tantri, nilai moral, seni lukis kontempore

    Budha sebagai Refleksi Keharmonisan

    No full text
    Siddharta Gautama, yang dikenal sebagai Buddha, adalah seorang pangeran dari negeri Kapilavastu, di kaki pegunungan Himalaya, India Utara. Buddha hidup sekitar tahun 563-483 SM. Buddha sebagai inspirator spiritual dan pendiri aliran religius yang sekarang disebut agama Buddha. Istilah Buddha merupakan sebutan bagi orang yang tercerahkan akan kodrat hidup dan maknanya. Kisah hidup dan pencarian spiritual sang Buddha, terus-menerus dimaknai dan dijadikan sumber inspirasi bagi orang yang mencari jalan kebijaksanaan hidup, hingga melampaui sekat-sekat formal berbagai agama. Ajaran Buddha yang mengutamakan kedamaian dan keharmonisan hubungan dengan alam, dimaknai oleh seniman Buddhis sebagai ungkapan estetik dan rasa bhakti terhadap sang guru spiritual Buddha. Kesenian Buddhis berkembang tidak hanya di India saja, tetapi di banyak negara di Asia, tidak ketinggalan di Indonesia. Peninggalan kesenian Buddhis terbesar di Indonesia adalan candi Borobudur. Ratusan patung Buddha dan relief yang menggambarkan kehidupan Buddha menghiasi bangunan candi. Keindahan dan ketenangan wujud patung Buddha telah membawa pengalaman estetik dan melahirkan dimensi spiritual bagi penulis. Konsep harmoni dalam Buddhisme sangat kontradiktif dengan kondisi saat sekarang yang melanda masyarakat di Indonesia. Kondisi sosial masyarakat yang dalam keadaan krisis multi dimensi, mengakibatkan konflik sosial dan konflik ekologis. Dalam kondisi seperti ini penulis mendambakan suatu keadaan masyarakat yang ideal secara moral yang disepakati. Sikap ini diharapkan dapat menghibur, menyegarkan jiwa, membangkitkan dinamika pembebasan sesaat dari rutinitas kehidupan sehari-hari, dan bisa memaknai hidup dengan berkesenian. Ide-ide yang memicu kreativitas dalam proses penciptaan karya seni, melibatkan rasa dan rasio yang akhirnya menimbulkan imajinasi yang sifatnya subyektif Dalam mewujudkan ide estetik dibutuhan bahasa visual yang diekspresikan ke dalam elemen-elemen seni lukis seperti garis, warna, tekstur, ruang, dan unsur pengorganisasian elemen seperti komposisi, proporsi, perimbangan, harmoni, dan kesatuan. Bentuk-bentuk yang terinspirasi dari patung Buddha dan relief candi, tidak direpresentasikan seperti apa adanya, tetapi telah melalui proses abstraksi, yang kemudian diwujudkan ke dalam gaya seni lukis figuratif simbolis

    SPIRITUALITAS DAN SENI PEREMPUAN PERUPA BALI DI MASA PANDEMI

    No full text
    KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga laporan penelitian mandiri dengan judul: “Spiritualitas dan Seni Perempuan Perupa Bali Dimasa Pandemi” berjalan dengan lancar dan dapat di selesaikan dengan baik. Penulis menyadari, banyak pihak yang telah memberi dorongan, bimbingan, bantuan maupun arahan sejak awal sampai selesai proses penelitian ini. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis sampaikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada: Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar Prof. Dr. Wayan Adnyana, S.Sn. M,Sn., Ketua LP2MPP ISI Denpasar Dr. Komang Arba Wirawan, M.Si., Dekan FSRD ISI Denpasar Dr. A A Gede Bagus Udayana, S.Sn,, M.Si, Koordinator Prodi Seni Murni FRSD ISI Denpasar Dr. I Wayan Setem, S.Sn, M.Sn., Ketua gallery Seni 10 Bandung, atas segala bantuannya. Akhirnya kepada semua pihak yang terlibat dalam penelitian ini, penulis ucapkan terima kasih. Denpasar, Januari 2022 2 Penuli

    PELATIHAN MELUKIS PADA MEDIA KACA DI YAYASAN BUNGA BALI DENPASAR

    No full text
    KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga laporan pengabdian Masyarakat dengan judul: “Pelatihan melukis Pada media Kaca di Yayasan Bunga Bali ” berjalan dengan lancar dan dapat di selesaikan dengan baik. Penulis menyadari, banyak pihak yang telah memberi dorongan, bimbingan, bantuan maupun arahan sejak awal sampai selesai proses penelitian ini. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis sampaikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada: Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar Prof. Dr. Wayan Adnyana, S.Sn. M,Sn., Ketua LP2MPP ISI Denpasar Dr. Komang Arba Wirawan, M.Si., Dekan FSRD ISI Denpasar Dr. A A Gede Bagus Udayana, S.Sn,, M.Si, Koordinator Prodi Seni Murni FRSD ISI Denpasar Dr. I Wayan Setem, S.Sn, M.Sn., Ketua Yayasan Bunga Bali Bpk. I Gusti Bagus Alit Putra, S.H., M.Si., Drs. I Nyoman Dana, M.Erg selaku pengurus Yayasan Bunga Bali, Team anggota pengabdian kepada masyarakat atas segala bantuannya. Akhirnya kepada semua pihak yang terlibat dalam penelitian ini, penulis ucapkan terima kasih. Denpasar, Januari 2022 Penuli

    INTERPRETATION VALUE’S OF THE STRUGGLE WOMEN IN TANTRI’S FABLE

    No full text
    Tantri, or sometimes called Tantric Kamandaka is one form of adaptation of Panchatantra. Balinese people in general have known Tantric as animal stories, as the oral tradition passed down from generation to generation. Through the stories are full of this virtue message parents instill moral teachings and manners to their children. Tantric story, delves a king of Pataliputra Iswaryadala, who have the pleasure of getting married every day with the girls, so nobody is left in the country gadispun it except Dyah Tantri, the prime minister's son Bandeswarya. The temperament can be stopped after marrying Dyah Tantri, women who raconteur. Tantric intelligence derived from religious knowledge base derived from the book Nitisastra and Tantra. Nitisastra, teaches the science of ethics, morality, and devotion to God. While the teaching of Tantra is a spiritual training process, resulting in a broad-minded man, and includes the concept of glorifying women's status as a magic that is a symbol of strength, power. So, Tantri is the embodiment of an intelligent and thoughtful nature, which can deliver humanity from an imperfect state to be perfect, from the dark conditions to be enlightened, and recognize the benefits of others, especially women. Tantri is also the ideology of female resistance to male domination, which resulted in the position of marginalized women, using the weapon of knowledge and wisdom, resistance not mean physically, but with the awareness, the criticism is done with smooth, through examples of animal behavior become actors in it. Although the story of thousands of years old Tantri, but until now the spirit of struggle still relevant Tantri with berkembangan era, can be applied anywhere, anytime, and with any medium. Spirit Tantri struggle, interpreted as the spirit of women today struggle against the abuse of women, packaged in two-dimensional art works, in the form of painting partitions and pop-up with the fable as media Keywords: Tantri, struggle, fabl

    Hubungan Antara Faktor Ibu Dengan Kejadian Persalinan Prematur di RSUD Banyumas

    No full text
    Prematurity is accounts for 47%o of neonate's deaths. There are 4 factots related to prematurity, these are: mother factor, pregnancy factor, foetal factor, and unknovm factor. Among these factors, mother's factors, such as age, parity, education and employment play an important role, as it gives information to take action to prevent prematurity. At Banyumas General Hospital, the prevalence of prematuriSr increased from 6,97Yo il+ 2003 to 7 ,3o/o in 2004. However, mother factors related to the prevalence of plematurity are still unknown. This research aimed to analyse the relationship between mother factors and the occurrence of prematurity among mothers delivering babies at Banyumas Hospital. This research is cross sectional study. Population of this research was mothers delivering babies at Banyumas Hospital. The sampling method used was total sampling. Data were collected by face to face interview using an open questionnaire. Chi-square test and contingency coefficient were used to analyse the data. There were significant relationship at moderate level between prematurifi and the following factors: mother's education (X2:42,515; p=0,000, C:0,323) and mother's job (X2= 24,750;p:0,000; C:0,252). No significant relationship was found between prematurity and the following factors: age O,Ol7;p=0,895) and parity(X2= 0,487;p:0,485, C=0,037). In conclusion, low education and hard work were the main mother's factors related to the occurence of prematurity

    MITOLOGI IBU PERTIWI DALAM AGAMA HINDU DI BALI SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS

    No full text
    Mitologi adalah cerita tentang dongeng suci mengenai kehidupn para dewa atau makhluk halus dalam suatu kebudayaan. Mitologi Ibu Pertiwi dalam Agama Hindu di Bali diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti: Bangunan suci pelinggih saptapatala; jejahitan sok daksina; banten sayut iderbhuana; Arca perempuan; aksara Bali dengan lambang ah; dan Wayang kulit. Mitologi Ibu Pertiwi sebagai gambaran Bumi yang subur dalam menghidupi makhluk hidup di dalamnya. Tetapi saat ini kondisi bumi semakin menghawatirkan, bumi yang subur dan indah lambat laun mulai mengalami kerusakan akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, seperti mengotori bumi dengan sampah, pembakaran hutan, limbah, dan polusi udara. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Roland Barthes, yaitu denotasi yang berarti bumi dan konotasi adalah ibu pertiwi sebagai sosok perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menyadarkan, mengingat, pentingnya menjaga lingkungan dengan memvisualkan sifat perempuan untuk mewakili kondisi bumi di laut, hutan, dan gunung. Penyajian karya menggunakan scroll latter sebagai bentuk penyampaian pesan dengan wujud gambar. Jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang menghasilkan data berupa deskripsi. Untuk melandasi ide karya teori estetika Djelantik, teori struktur seni The Liang Gie dan teori semiotika Roland Barthes. Metode penciptaan SP Gustami, menghasilkan karya surealisme sebagai gaya yang mempengaruhi karya. Setelah dilakukannya pembahasan mendapatkan simpulan sebagai berikut konsep penciptaan menjelaskan pikiran penulis terhadap kondisi bumi yang menghasil karya seni lukis dengan judul (1) Mutiara Biru, (2) Bersemi, (3) Hyang Agung, (4) Senja, (5) Kelabu, (6) Mutiara yang Terjerat. Keenam karya lukis tersebut memvisualkan tiga kondisi baik bumi dan tiga karya memvisualkan kondisi buruk bumi. Kata Kunci : Ibu Pertiwi, Kondisi Bumi, Karya lukis
    corecore