193 research outputs found

    Pemanasan Global; Dampak Terhadap Kehidupan Manusia dan Usaha Penanggulangannya

    No full text
    Mulai abad 18 (1750) sampai abad 21 saat ini, hampir seluruh penduduk dunia telah merasakan kenaikan suhu dari waktu ke waktu semakin panas. Situasi semacam ini yang dinamakan pemanasan global. (global warning). Dengan demikian pemanasan global merupakan kejadian meningkatnya suhu rata-rata di atmosfer, laut dan daratan bumi. Dampak pemanasan global adalah curah hujan yang semakin berkurang sehingga terjadi musim kering (El Nino) atau sebaliknya curah hujan yang tinggi sehingga kebanjiran (La Nina), kerusakan lapisan ozon, naiknya permukaan air laut, bencana alam semakin meningkat, mundurnya waktu tanam, kerusakan terumbu karang, kebakaran hutan, berjangkitnya beberapa jenis penyakit pada manusia dan lain-lain. Cara mengatasi pemanasan global : menjadi tanggungjawab bersama seluruh bangsa di dunia ini dengan berbuat nyata melakukan berbagai macam cara untuk menurunkan laju emisi gas rumah kaca (mitigasi) dan melakukan berbagai tindakan penyesuaian yang tepat dan berusaha untuk mengurangi berbagai faktor negatifnya dan memanfaatkan efek positifnya (adaptasi). Buku ini merupakan acuan atau referensi bagi masyarakat, mahasiswa, para pengambil kebijakan di bidang pertanian, perikanan, peternakan, kehutanan, perumahan, tata kota, dll

    PENGARUH PEMUPUKAN N, P, K TERHADAP SERANGAN HAMA TANAMAN

    Get PDF
    Tanaman agar tumbuh baik, sehat, menghasilkan produksi yang optimal dan tahan hama perlu unsur hara N,P,K dalam jumlah yang cukup. Pemupukan merupakan salah satu cara guna memenuhi kebutuhan unsur hara N, P dan K pada tanaman, dimana sebagian besar lahan pertanian Indonesia kekurangan tiga unsur tersebut. Pemupukan N yang berlebihan dapat meningkatkan serangan hama penggerek batang padi putih dan kuning serta hama tungau pada tanaman kacang tanah sedangkan semakin tinggi dosis pemupukan kalium (K) dapat menurunkan serangan hama tungau jingga pada tanaman teh, serangan hama ulat bawang pada tanaman bawang merah, dan menurunkan populasi dan serangan hama wereng daun pada tanaman padi. Pemupukan majemuk (N, P, K) dengan dosis yang tepat dapat menekan serangan hama perusak daun, kutu daun, dan wereng daun pada tanaman kacang tanah serta hama penggerek buah (PBK) pada tanaman kakao

    Review: Perubahan Iklim terhadap Organisme Pengganggu Tanaman

    Get PDF
    Iklim di Indonesia terus mengalami perubahan dan sulit untuk diprediksi. Mundurnya awal musim hujan berpengaruh pada waktu tanam dan berakibat terhadap permasalahan organisme pengganggu tanaman (OPT) yaitu sering terjadinya ledakan hama dan penyakit. Pengaruh peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer bersifat spesifik terhadap spesies hama dan jenis penyakit serta terhadap luas serangan hama dan intensitas penyakit tanaman. Perubahan iklim dengan adanya kenaikan suhu global dan perubahan kelembaban udara juga berpengaruh terhadap potensi serangan hama dan penyakit tanaman. Cara mengatasi permasalahan tersebut dapat dilakukan dengan 1) sosialisasi prakiraan cuaca; 2) menyesuaikan pola tanam; 3) menanam varietas unggul toleran salinitas, tahan hama/penyakit, toleran kekeringan/genangan; 4) mengintensifkan monitoring mingguan OPT; 5) melakukan pergiliran tanaman; 6) mengembangkan model peramalan iklim; dan 7) melaksanakan pengendalian hama terpadu

    Tungau (akarina) dan pengendaliannya

    No full text
    x, 77 hlm. : ilus, ; tab. ; 25 cm

    Big Five Personality sebagai mediator hubungan antara Adversity Quotient dengan Bedtime Procrastination pada Emerging Adulthood di Kota Malang

    Get PDF
    ABSTRAK Fenomena Bedtime procrastination (BTP) pada individu emerging adulthood menjadi perhatian karena dampaknya terhadap kualitas tidur dan kesehatan mental. Adversity quotient (AQ), sebagai kemampuan individu menghadapi tantangan, dan Big Five Personality, sebagai dimensi kepribadian, berpotensi memengaruhi kecenderungan BTP. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara AQ dan BTP serta peran mediasi dimensi Big Five Personality dalam hubungan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data dikumpulkan dari 480 responden emerging adulthood di Kota Malang menggunakan kuesioner yang mengukur AQ, BTP, dan dimensi Big Five Personality. Analisis data dilakukan dengan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa AQ memiliki pengaruh positif signifikan terhadap BTP, artinya semakin tinggi AQ, semakin tinggi kecenderungan individu untuk menunda tidur. Selain itu, dimensi Conscientiousness dan Negative Emotionality dari Big Five Personality ditemukan memediasi hubungan antara AQ dan BTP. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa AQ dan dimensi kepribadian tertentu, seperti Conscientiousness dan Negative Emotionality, berperan dalam meningkatkan kecenderungan BTP pada individu emerging adulthood. Penelitian ini memberikan wawasan penting untuk intervensi yang dapat membantu mengelola perilaku BTP. Kata Kunci: Adversity quotient, Bedtime procrastination, Big Five Personality, emerging adulthood ABSTRACT The phenomenon of Bedtime procrastination (BTP) among emerging adults has garnered attention due to its impact on sleep quality and mental health. Adversity quotient (AQ), representing an individual's ability to face challenges, and Big Five Personality dimensions are potential factors influencing BTP tendencies. This study aims to analyze the relationship between AQ and BTP and the mediating role of Big Five Personality dimensions in this relationship. This quantitative study employed a cross-sectional design. Data were collected from 480 emerging adult respondents in Malang City using questionnaires measuring AQ, BTP, and Big Five Personality dimensions. Data analysis was performed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The results revealed a significant positive relationship between AQ and BTP, indicating that higher AQ is associated with higher BTP tendencies. Furthermore, the dimensions of Conscientiousness and Negative Emotionality from the Big Five Personality were found to mediate the relationship between AQ and BTP. The study concludes that AQ and certain personality dimensions, such as Conscientiousness and Negative Emotionality, play roles in increasing BTP tendencies among emerging adults. These findings provide valuable insights for interventions addressing BTP behaviors. Keywords: Adversity quotient, Bedtime procrastination, Big Five Personality, emerging adulthood مستخلص البحث محمد جعفر صديق، 210401210006، الشخصيات الخمس الكبرى كوسيط للعلاقة بين حاصل الشدائد وتأجيل وقت النوم في مرحلة البلوغ الناشئة في مدينة مالانج، 2024. تعتبر ظاهرة تسويف وقت النوم (BTP) لدى الأفراد في مرحلة البلوغ مثيرة للقلق بسبب تأثيرها على جودة النوم والصحة العقلية. حاصل الشدائد (AQ)، باعتباره قدرة الفرد على مواجهة التحديات، والشخصية الخمس الكبرى، باعتبارها بُعدًا شخصيًا، لديها القدرة على التأثير على ميول BTP. يهدف هذا البحث إلى تحليل العلاقة بين AQ وBTP والدور الوسيط للأبعاد الشخصية الخمسة الكبرى في هذه العلاقة. يستخدم هذا البحث نهجا كميا مع تصميم مقطعي. تم جمع البيانات من 480 من المشاركين في مرحلة البلوغ الناشئة في مدينة مالانج باستخدام استبيان يقيس مستوى الذكاء، وBTP، وأبعاد الشخصية الخمسة الكبرى. تم إجراء تحليل البيانات باستخدام نمذجة المعادلات الهيكلية بالمربعات الصغرى الجزئية (PLS-SEM). تظهر نتائج البحث أن AQ له تأثير إيجابي كبير على BTP، مما يعني أنه كلما ارتفع معدل AQ، كلما زاد ميل الفرد إلى تأخير النوم. بالإضافة إلى ذلك، تم العثور على أبعاد الضمير والعاطفة السلبية للشخصية الخمس الكبرى للتوسط في العلاقة بين AQ وBTP. تؤكد نتيجة هذه الدراسة أن الذكاء العقلي وبعض أبعاد الشخصية، مثل الضمير والعاطفة السلبية، تلعب دورًا في زيادة الميل إلى BTP لدى الأفراد الناشئين في مرحلة البلوغ. يوفر هذا البحث رؤى مهمة للتدخلات التي يمكن أن تساعد في إدارة سلوك BTP. الكلمات المفتاحية: حاصل الشدائد، تسويف وقت النوم، الشخصيات الخمس الكبرى، مرحلة البلوغ الناشئ

    ANALISIS MENURUNNYA KERJA RELIQUEFACTION PLANT DALAM MERUBAH MUATAN GAS MENJADI CAIR DI MT GAS KOMODO DENGAN METODE FAULT TREE ANALYSIS

    Get PDF
    Moch. Tarom, 2017, NIT : 49124578.T. “Analysis of declining employment in the Reliquefaction plant working change the gas into a liquid cargo in MT Gas Komodo”, thesis Technic Studies Program , Program Diploma IV, Semarang Merchant Marine Polytechnic, Supervisor I : Achmad Wahyudiono, M.M., Supervisor II : H. Suharso, S.H., S.P.d., S.E., M.M. LPG cargo is cargo that has special characteristics, one of them highly flamable nature. To cope with danger posed by LPG cargo evaporates, it needs Reliquefaction plant operation. Operation of this system as the efforts has made to overcome obstacles in order to maintain a fixed charge on the LPG liquid state. Thus the authors formulate the problem formulation 1) what are the factors causing the decline of Reliquefaction plant working in change the gas into a liquid cargo, 2) What efforts are made to maximize Reliquefaction plan. Fault tree analysis is a technique used to identify risks that contribute to the occurrence of a failure. This method is carried out with an approach that is top down, starting with the assumption of failure or loss of peak incidence then detailing causes a peak incidence reached a basic failure. Based on the results of research by the author to the decline in employment Reliquefaction plant in turning gas into a liquid cargo is dirty condensers, cooling of the intercooler not optimal cooling, valve positioners are not working properly.Meanwhile, efforts to maximize employment Reliquefaction plant is checking routine cleaning of the condenser appropriate working hours, checking the intercooler, valve positioner checks on a regular basis. Key word: Reliquefaction plant, fault tree analysis method, condenser, intercooler, valve positione

    PELAKSANAAN PASAL 4 HURUF A UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN TERHADAP KONSUMEN VULKANISIR BAN PADA PENGUSAHA SERVICE BAN DI KOTA MALANG

    No full text
    Moch. Naby Aksani Akbar, Yenni Eta Widyanti, S.H., M.Hum., Ranitya Ganindha, S.H., M.H. Fakultas Hukum Universtas Brawijaya [email protected] ABSTRAK Pelaksanaan Pasal 4 Huruf A Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen masih belum terlaksana dengan baik, hal tersebut dilatarbelakangi oleh banyaknya konsumen service ban vulkanisir di Kota Malang yang masih belum mendapatkan hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam menggunakan barang tersebut. Dalam mendapatkan hak tersebut harusnya pelaku usaha memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur terhadap konsumen. Namun ada beberapa hambatan yaitu hambatan hukum dan hambatan non hukum. Salah satu hambatan yang dialami konsumen adalah kurangnya tanggung jawab dari pengusaha, kurangnya informasi yang jelas saat melakukan service ban vulkanisir, dan sebagainya. Untuk hal tersebut maka dilakukan upaya prefentif yaitu upaya konsumen untuk menghindari kerugian dikarenakan pemasangan tapak ban tidak benar, dan upaya represif yaitu berupa permintaan tanggung jawab kepada pelaku usaha apabila ban yang diterima tidak sesuai yang diperjanjikan. ABSTRACT In this bachelor theses author lift up on the implementation of the Clause 4 Letter A Of Law Number 8 Year 1999 About Consumer Protection to retreaded tire consumer tire enterpreneurs service in the city of Malang yet to be implemented with good. the selection of the theme based on by many consumers of retreaded tire service in Malang city which has yet to get the right to comfort, security and safety in using the goods. To get the right business players should give the correct information, clear and honest to consumers. But there are some obstacles in the legal barriers and non-legal barriers. One of the obstacles experienced by consumers is the lack of responsibility of entrepreneurs, lack of clear information when you perform retreaded tire servicing, etc. For that matter, the prefentive efforts by the consumer efforts to avoid loss due tread of the tire installation not correctly, and repressive efforts are in the form of the request the responsibility to business players when the ban which is not accepted as being corporately

    KEANEKARAGAMAN SERANGGA HAMA TANAMAN CABAI RAWIT (CAPSICUM FRUTESCENS L.) PADA TANAM SISTEM MULSA DAN TANPA MULSA DI PARE, KEDIRI

    Get PDF
     Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan salah satu sayuran penting terutama di daerah tropis dan subtropis yang dibutuhkan sebagai bumbu dapur dan penghasil rasa pedas.Namun cabai rawit termasuk produk yang mudah rusak karena adanya interaksi berbagai organisme di lingkungannya termasuk serangga.Keanekaragaman serangga tersebut berpengaruh terhadap kualitas hasil tanaman cabai rawit.Penelitian dilakukan di lahan milik petani cabai rawt di Desa Sambirejo Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Metode yang digunakan yakni menggunakan pengambilan sampel secara purposive sampling serta pengamatan scan sampling. Metode pengamatan serangga pengunjung menggunakan 1) Pengamatan Langsung menggunakan kamera, 2) Yellow trap, 3) Pitfall Trap, 4) Jaring serangga (Sweep net), 5) Perangkap antraktan (Metil eugenol).Identifikasi menggunakan buku identifikasi kunci determinasi serangga dan iNaturalist.Data hasil penelitian dianalisis dengan indeks keanekaragaman jenis (H’) dan indeks dominansi (C). Populasi serangga hama yang diperoleh pada lahan cabai rawit dengan sistem tanam mulsa sebanyak 1405 individu dengan 5 ordo, 13 Famili, dan 16 spesies. Sedangkan serangga hama yang diperoleh pada lahan tanpa mulsa sebanyak 1405 individu dengan 4 ordo, 13 Famili, dan 13 Spesies. Nilai indeks keanekaragaman jenis (H’) pada lahan cabai rawit yang diperoleh pada tanam sistem mulsa sebesar 1,8560 dan tanpa mulsa sebesar 1,9954. Nilai tersebut termasuk kedalam kriteria indeks keanekaragaman jenis rendah. Nilai indeks dominansi (C) lahan cabai rawit pada tanam sistem mulsa sebesar 0,28922 dan tanam sistem tanpa mulsa sebesar 0,20082. Hal ini menunjukkan bahwa dominansi pada tanam sistem mulsa dan tanpa mulsa termasuk dalam kategori dominansi rendah, artinya tidak ada dominasi satu spesies di kedua lahan
    corecore