1,722,162 research outputs found
SANGGIT DAN GARAP PAKELIRAN WAYANG WAHYU LAKON NAAMAN SANG SENAPATI SAJIAN AGUSTINUS HANDI SETYANTO, PR
Penelitian berjudul “Sanggit dan Garap Pakeliran Lakon Naaman
Sang Senapati Sajian Agustinus Handi Setyanto, Pr” ini membahas tentang
proses produksi seni pertunjukan wayang Wahyu sebagai media
pewartaan Alkitab. Handi Setyanto merepsepsi teks Kitab Suci kemudian
dikonkretisasikan ke dalam pertunjukan wayang Wahyu. Hal ini menjadi
menjadi unik karena Handi Setyanto hadir dari kalangan biarawan yang
hidupnya secara utuh diperuntukkan untuk melayani Tuhan dan umat
Katolik, bukan dari kalangan seniman murni. Tujuan tesis ini adalah
untuk mengetahui sanggit dan garap lakon Naaman Sang Senapati yang
dipengaruhi oleh resepsi teks.
Kajian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Kajian ini
dianalisis dengan satu konsep ilmu pedalangan yakni: sanggit dan garap
yang meliputi resepsi estetik, sanggit, garap, struktur, estetika pedalangan,
dan nilai. Lakon Naaman Sang Senapati sajian Rm. Agustinus Handi
Setyanto dikaji untuk 1) mengetahui proses resepsi teks yang dilakukan
Handi Setyanto terhadap Kitab Suci, 2) proses konkretisasi yang
dilakukan dalam sanggit dan garap, dan 3) nilai-nilai yang terkandung
dalam lakon Naaman Sang Senapati.
Hasil dari analisis dapat disimpulkan bahwa Handi Setyanto 1)
Proses resepsi teks Alkitab menghasilkan sanggit lakon Naaman Sang
Senapati yang berupa struktur lakon dan perluasan adegan, 2) konkretisasi
dari sanggit menghasilkan garap yang dipengaruhi oleh sastra bawaan
reseptor, intertekstualitas, dan horizon harapan sehingga memberikan
ajaran atau nilai yang lebih kompleks tidak terbatas pada teks yang
diresepsinya. Selain itu sanggit yang dilakukan tidak bertentangan dengan
Kitab Suci yang digunakan sebagai acuan. Dengan sanggit dan garap ini
nilai-nilai Kitab Suci tersampaikan secara jelas dan benar sesuai dengan
ajaran gereja Katolik
Pengabdian Barry Nur setyanto Gasal 2024 2025
MAN 1 Magelang
MAN 2 Bantul
SMP BW Sragen
SMAN 1 Imogiri
KKN PACITA
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Hasil Cek Similarity - Pengembangan Alat Peraga Sepeda Listrik Portabel Sebagai Media Pembelajaran Elektronika Daya
Barry Nur Setyanto, Pramudita Budiastuti, Moch. Yordan Rismarinandyo, Ronal Fiqih Yulanda
JUPITER (Jurnal Pendidikan Teknik Elektro)
Nomor 1
Volume 8
Tahun Terbit Jurnal 2023
Halaman 39-46
ISSN 2477-8354
Penerbit Universitas PGRI Madiu
Uji akurasi Mizwandroid karya Hendro Setyanto
Mizwandroid merupakan aplikasi pencari arah kiblat yang berbasis android. Aplikasi ini menarik karena selain memanfaatkan sensor magnetik kompas perangkat, juga memanfaatkan fitur kamera yang ada pada smartphone, sehingga pengguna bisa langsung mengetahui arah kiblat sesuai dengan keadaan real lingkungan sekitar. Adanya pilihan objek kalibrasi juga menjadi pembeda dengan aplikasi pencari arah kiblat serupa yang biasanya hanya mengandalkan sensor kompas perangkat saja. Pilihan objek kalibrasi ada tiga, kalibrasi menggunakan posisi Matahari, bayangan Matahari, dan kalibrasi menggunakan posisi Bulan. Proses kalibrasi dimaksudkan supaya bisa mendapatkan arah utara benar. Oleh karenanya penulis tertarik ingin meneliti perihal akurasi dari aplikasi ini.
Untuk menjawab latar belakang di atas, penulis merumuskan dua pokok rumusan masalah. 1.) Bagaimana metode dan cara kerja aplikasi Mizwandroid dalam menentukan arah kiblat? 2.) Bagaimana keakuratan arah kiblat yang dihasilkan oleh aplikasi Mizwandroid?
Metode penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif (descriptive research). Penelitian ini juga tergolong penelitian lapangan (Field Research) yaitu penelitian yang dilakukan dengan melakukan observasi langsung terhadap objek yang dikaji di lapangan. Sumber data primer penelitian ini yaitu aplikasi Mizwandroid versi 2.04, serta hasil wawancara yang dilakukan penulis terhadap Hendro Setyanto. Sedangkan data sekundernya adalah informan terkait dengan profil Hendro Setyanto, Website dari informan serta buku-buku yang terkait dengan materi penelitian ini. Data-data tersebut dianalisis dengan menggunakan metode analisis kualitatif dengan menggunakan teknik analisis deskriptif komparatif untuk mengetahui akurasinya.
Penelitian ini menghasilkan dua temuan penting. Pertama, bahwa algoritma perhitungan arah kiblat yang ada di dalam aplikasi Mizwandroid ini berlaku secara universal, sehingga aplikasi Mizwandroid bisa digunakan dimana saja di belahan Bumi ini. Kedua, tingkat akurasi pengukuran arah kiblat sudah cukup akurat, namun tetap ada selisih dengan hasil arah kiblat menggunakan theodolite. Selisihnya ada pada rentang 1˚ ̶ 6˚ jika tanpa menggunakan kalibrasi azimuth, dan 0˚ ̶ 4˚ dengan menyertakan kalibrasi azimuth. Banyak faktor yang membuat hasil arah kiblat yang dihasilkan dari aplikasi Mizwandroid melenceng dari hasil arah kiblat menggunakan theodolite, mulai dari faktor pengguna, proses kalibrasi yang tidak tepat, hingga keadaan lingkungan sekitar. Sehingga dengan adanya selisih perbedaan hingga orde derajat membuat aplikasi mizwandroid tidak cocok untuk dijadikan rujukan utama dalam menentukan arah kiblat semisal untuk keperluan pembanguna masjid maupun musalla. Namun aplikasi ini sangat berguna dipakai dalam keadaan darurat
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Penentuan awal bulan dalam Kalender Hijriah menggunakan kriteria 29 : studi analisis pemikiran Hendro Setyanto
Diskursus mengenai perumusan kalender menjadi sangat urgen, mengingat setiap peradaban manusia dituntut untuk menciptakan suatu sistem kalender yang dapat mengatur tatanan waktu dalam kehidupan sosial (muamalah) maupun keagamaan (ibadah). Ketiadaan suatu sistem penanggalan atau kalender yang terintegrasi, dimungkinkan akan terjadi kekacauan dalam sistem pengorganisasian waktu di masyarakat. Dalam Islam sendiri, kalender mempunyai fungsi utama dalam hal untuk penetapan awal bulan Hijriah, khususnya pada bulan-bulan yang di dalamnya terdapat ibadah yang khusus. Adapun persoalan yang terjadi dalam penetapan awal bulan selalu mengundang polemik dan menyulut kontroversi yang tidak hanya dalam wacana, akan tetapi berimplikasi pada integrasi dan harmonitas sosial antara sesama pemeluk Islam. Salah satunya dengan banyaknya kriteria penentuan awal bulan dan tidak adanya kesepakatan dalam perumusan kalender Hijriah nasional. Salah satu tokoh falak yang memberikan gagasan tentang perumusan kalender Hijriah nasional adalah Hendro Setyanto yang mengusulkan konsep Kriteria 29 dengan prinsip “tanggal 29 adalah hari dimana ijtimak terjadi”.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui: Pertama, bagaimana konsep Kriteria 29 yang digagas oleh Hendro Setyanto terkait metode penentuan awal bulan Hijriah. Kedua, bagaimana tinjauan hukum metode Krietria 29 dalam penentuan awal bulan Hijriah. Ketiga, bagaimana komparasi Kriteria 29 jika dibandingkan dengan metode Wujud al-hilal dan Imkan al-rukyah.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode library research (studi kepustakaan). teknik pengumpulan data terdiri atas wawancara dan dokumen. Teknik dokumen berupa karya-karya Hendro Setyanto terutama yang berkaitan dengan konsep “Kriteria 29”. Untuk memperoleh hasil yang optimal, penulis menganalisis data menggunakan metode deskriptif analisis dan analisis komparatif.
Hasil analisis menunjukkan bahwa secara teoritis konsep perhitungan Kriteria 29 memiliki kemiripan dengan metode Wujud al-hilal dan Imkan al-rukyah yaitu metode hisab hakiki kontemporer, akan tetapi yang membedakannya dengan metode lain adalah acuan ijtimak dan perhitungan mundur. Dasar hukum yang bisa dijadikan dalil untuk penentuan awal bulan Hijriah dengan menggunakan Kriteria 29 adalah hadis dari Ibnu Umar yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, alasannya bahwa hadis-hadis tersebut secara implisit membicarakan tentang ijtimak yang mana ijtimak itu terjadi pada tanggal 29 bulan Hijriah. Hasil komparasi menunjukkan bahwa antara Kriteria 29 dengan Wujud al-hilal dan Imkan al-rukyah memiliki perbedaan dalam penentuan tanggal 1. Hal ini diakibatkan karena acuan serta kriteria yang digunakan. Perameter yang ditawarkan sebagai acuan dari Kriteria 29 adalah: tinggi hilal minimal harus 6 derajat, umur bulan minimum 13 jam setelah ijtimak, sudut elongasi minimum 6 derajat, memastikan waktu ijtimak jatuh pada tanggal 29 dan dengan ketentuan ijtima’ qabla ghurūb
- …
