23 research outputs found
TINJAUAN BAKTERIOLOGIS DAN PEMANFAATAN AIR SUMUR GALI OLEH MASYARAKAT DI AREA ROB KELURAHAN TANJUNG MAS KECAMATAN SEMARANG UTARA
Penelitian dilakukan pad November-Desember 1998. tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat pencemaran sumurgali ditinjau secara bakteriologis. Metode survei dilakukan pada penelitian ini dengan pendekatan cross sectional dan analisa secara deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan kandungan Coliform sp ada pada klima sampel dengan 4 sampel jumlahnya melebihi standar baku mutu air bersih. Bakteri patogen yang teridentifikasi adalah Escherichia coli pada kelima sampel serta salmonella sp pada 3 sampel lainnya. Keberadaan Escherichia coli tidak dapat menunjukkan sebagai indikator keberadaan bakteri patogen dalam perairan. Salinitas, pH dan suhu pada penelitian ini tidak menunjukkan hubungan terhadap keberadaan bakteri sevara kualitatif maupun kuantitatif. Perbedaan syarat fisik sumur gali tidak menunjukkan hubungan perbedaan keberadaan bakteri dalam perairan. Jarak sumur dari garis pantai pada penelitian ini menunjukkan hubungan dengan keberadaan salmonella sp. Perilaku kpenduduk beresiko terkena penyakit bawaan air. Perilaku lainnya berpotensi sebagai penyebab pencemaran sumur gali.
Mencemari kondisi air sumur gali maka sebaiknya tidak mengkonsumsinya untuk keprluan sehari-hari. Perilaku higienen sanitasi prlu diperbaiki dengan pendidikan kesehatan masyarakat. Bahkan program transmigrasi perlu dipertimbangkan mengingat kondisi lingkungan yang sudah tidak layak huni.
Kata Kunci: AIR SUMUR GAL
FAKTOR RISIKO KEJADIAN DIARE PADA MASYARAKAT KOTA TASIKMALAYA
Diare adalah salah satu masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia karena morbiditas dan mortalitasnya yang masih tinggi. Penyakit diare merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga merupakan penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB) dan sering disertai dengan kematian. Salah satu perilaku masyarakat di Jawa Barat khususnya masyarakat Kota Tasikmalaya adalah pemanfaatan kolam ikan sebagai tempat menampung feces sekaligus feces sebagai pakan ikan. Perilaku tersebut memberi kontribusi terhadap pencemaran air tanah oleh bakteri yang berasal dari feces. Kejadian diare di Kota Tasikmalaya pada tahun 2015 yaitu sebanyak 12.568 orang (42,74%), pada tahun 2016 mengalami kenaikan sebanyak 16.835 orang (57,26%). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian diare pada masyarakat di Kota Tasikmalaya. Desain penelitian cross sectional dengan jumlah sampel 384 responden. Analisis data menggunakan uji Chi Square dan Rank Spearmans. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara tingkat penghasilan dengan kejadian diare pada masyarakat Kota Tasikmalaya (p-value = 0,827). Ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian diare pada masyarakat Kota Tasikmalaya (p-value = 0,015). Tidak ada hubungan jenis sumber air bersih dengan kejadian diare pada masyarakat Kota Tasikmalaya (p-value = 0,271). Tidak ada hubungan jarak sumur gali terhadap tempat pembuangan feces dengan kejadian diare pada masyarakat Kota Tasikmalaya (p-value = 0,110). Ada hubungan antara jenis tempat pembuangan feces dengan kejadian diare pada masyarakat Kota Tasikmalaya (p-value = 0,008). Saran kepada masyarakat agar menambah pengetahuan terkait faktor risiko kejadian diare dari berbagai media. Masyarakat juga disarankan memperhatikan tempat pembuangan feces dan perlu mengelola pembuangan feces pada septic tank
Penetapan Harga Pokok Produksi Pakaian Seragam Akademi Kebidanan Permata Husada Samarinda pada Penjahit Sartika Express Samarinda
Andik Supriyatno. The pricing of goods manufactured uniforms Midwifery Academy Husada Samarinda Jewel Express Tailors Sartika Samarinda (under the guidance of the mother and father of titin Ruliana and Imam Nazaruddin Latif). The purpose and this paper is to calculate the cost of goods manufactured uniforms Midwifery Academy Samarinda Jewel Husada full costing method in Tailor Sartika Express Samarinda. In accordance with the purpose of writing this, the principal issues raised: Is the determination of cost of goods manufactured uniforms Midwifery Academy Husada Samarinda Jewel Express Tailors Sartika higher than the base price set by the author using the full costing method in July 2011''? Based on these fundamental issues, the proposed hypothesis as follows: "Suspected Determining the cost of production Midwifery Academy uniforms Husada Samarinda Jewel Express Tailors Sartika lower than the cost of production is determined by the authors using the full costing". The analytical tool used in this study is the determination of the cost of production using full costing method and compare the cost of production by Tailor Sartika Express Samarinda production costs according to the analysis
PENGENDALIAN KROMIUM (CR) YANG TERDAPAT DI LIMBAH BATIK DENGAN METODE FITOREMEDIASI
Motif dan warna batik dihasilkan dengan pewarna yang mengandung logam berat kromium (Cr). Industri batik secara umum tergolong usaha kecil dan menengah sehingga sebagian besar tidak mengolah limbah batik yang mengandung logam berat Cr. Tujuan penelitian ini adalah memberikan alternatif solusi dari dampak pencemaran Cr dengan memanfaatkan berbagai tumbuhan untuk menyerap Cr pada limbah batik. Penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan rancangan desain pre and post test. Tanaman air yang dipilih adalah enceng gondok (Eichornia crassipes), kayu apu (Pistia stratiotes), dan kayambang (Salvinia cucullata) yang ditanam pada wadah yang berisi air limbah selama 5 hari. Konsentrasi Cr pada air limbah kelompok 1 menurun dari 0,0546 mg/l menjadi 0,0378 mg/l setelah diberi perlakuan dengan enceng gondok. Konsentrasi Cr pada air limbah kelompok 2 menurun dari 0,0488 mg/l menjadi 0,0315 mg/l setelah diberi perlakuan dengan kayambang. Konsentrasi Cr pada air limbah kelompok 1 menurun dari 0,0464 mg/l menjadi 0,0240 mg/l setelah diberi perlakuan dengan kayu apu. Hasil uji statistik dengan uji Kruskal Wallis menunjukkan nilai p= 0,280 sehingga disimpulkan tidak ada perbedaan penyerapan Cr yang terdapat pada limbah batik pada jenis tanaman enceng gondok, kayu apu, dan kayambang.
Kata Kunci : Cr, Limbah batik, Fitoremediasi
Abstract
Batik motifs and colors are produced with dyes containing heavy metal chromium (Cr). Batik industries is generally classified as small and medium enterprises, so most of them do not process batik waste containing heavy metal Cr. The purpose of this research was to provide alternative solution from Cr pollution impact by utilizing various plants to absorb Cr in batik waste. This research was a quasi experiment with pre and post test design. The selected aquatic plants were water hyacinth or “enceng gondok” (Eichornia crassipes), “kayu apu” (Pistia stratiotes), and “kayambang” (Salvinia cucullata). They were grown in containers containing waste water for 5 days. The Cr concentration in wastewater of group 1 decreased from 0.0546 mg/l to 0.0378 mg/l after being treated with water hyacinth. The Cr concentration in wastewater of group 2 decreased from group 2 from 0.0488 mg/l to 0.0315 mg/l after being treated with “kayambang”. The Cr concentration in wastewater of group 3 decreased from 0.0464 mg/l to 0.0240 mg/l after being treated with “kayu apu”. Statistical test with Kruskal Wallis test showed that p = 0,280. It was concluded that there were no difference in Cr absorbtion among water hyacinth, kayambang and kayu apu
Pelatihan Pengelolaan Sampah pada Ibu dengan Balita melalui Program “SADAR AMANAH” di Kelurahan Sukamanah, Kota Tasikmalaya
Diare masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada balita di Indonesia, terutama akibat rendahnya pengetahuan masyarakat serta kondisi lingkungan yang kurang sehat. Di Kelurahan Sukamanah, Kota Tasikmalaya, prevalensi diare pada balita tergolong tinggi dengan faktor risiko berupa kebiasaan pengelolaan sampah yang tidak memadai dan pengetahuan ibu yang masih rendah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dilaksanakan program pengabdian masyarakat SADAR AMANAH (Selalu Bersih dari Sampah agar Sehat dan Terhindar dari Diare di Sukamanah) yang bertujuan meningkatkan pengetahuan ibu dalam pencegahan diare melalui pendidikan kesehatan dan pelatihan pengelolaan sampah. Kegiatan berlangsung selama tiga bulan, meliputi observasi, survei awal, pemberian materi terkait diare, pelatihan pengelolaan sampah organik dan anorganik, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Peserta berjumlah 25 ibu dengan balita yang dipilih karena memiliki peran penting dalam kesehatan anak. Hasil analisis Wilcoxon menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan peserta (p < 0,05), di mana 84% peserta masuk kategori baik setelah pelatihan. Peserta juga aktif berdiskusi, berlatih praktik pengolahan sampah, dan menyatakan program bermanfaat serta mudah diterapkan. Program SADAR AMANAH terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu terkait pencegahan diare serta pengelolaan sampah rumah tangga. Disarankan agar program serupa dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi puskesmas, masyarakat, dan institusi pendidikan guna menekan angka kejadian diare balita
HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE DAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN SKABIES DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SALAWU KABUPATEN TASIKMALAYA
Scabies is a skin disease where this disease is included in the environment-based disease. In Indonesia, scabies is commonly referred to as scabies or budukan. Scabies is a skin disease caused by parasites. Scabies is caused by mites or tiny ticks of the species Sarcoptes scabiei hominis. Factors that contribute to the spread of scabies include an unhealthy environment, limited clean water, and poor personal hygiene. This study aims to determine the relationship between personal hygiene and environmental sanitation with the incidence of scabies in the work area of the Salawu Health Center. This study uses a case control design. Data analysis in this study used the chi square test with a total sample of 144 including 48 case samples and 96 control samples. The results showed that there was a significant relationship between personal hygiene, namely skin hygiene, hand, foot and nail hygiene, hair hygiene, and genital hygiene with a value (p=0.000) and the incidence of scabies. The results showed that there was a relationship between ventilation (p=0.003), lighting (p=0.001), and the physical quality of clean water (p=0.002) with the incidence of scabies. Advised to people maintain good personal hygiene and maintain environmental sanitation. For health service workers, it is hoped that they can provide counseling to the surrounding community regarding material regarding scabies and how to prevent it
ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN TUBERKULOSIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KELURAHAN CIPINANG BESAR UTARA KOTA ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR
Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Salah satu wilayah kerja puskesmas yang memiliki angka kasus TB tertinggi pada tahun 2020 yakni Puskesmas Kelurahan Cipinang Besar Utara dengan jumlah kasus 98 penderita. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Cipinang Besar Utara Tahun 2020. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol. Jumlah sampel adalah 112 yang terdiri dari 56 kasus dan 56 kontrol. Teknik pengambilan sampel kelompok kasus secara acak sederhana (simple ramdom sampling) dan kelompok kontrol secara purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan data primer dan data sekunder. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu lembar persetujuan dan kuesioner. Data penelitian dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil analisis bivariat variabel penelitian terdiri dari kontak dengan penderita TB (p value= 0,000, OR= 5,735), perilaku merokok di dalam anggota keluarga (p value= 0,035, OR= 2,464), dan kebiasaan menjemur kasur (p value= 0,005, OR= 3,545). Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Cipinang Besar Utara adalah kontak dengan penderita TB, perilaku merokok di dalam anggota keluarga, kebiasaan menjemur kasu
HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN RUMAH DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU PADA USIA PRODUKTIF DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS CIGEUREUNG KOTA TASIKMALAYA
KEBERADAAN ESCHERICHIA COLI DAN HIGIENE SANITASI DEPOT AIR MINUM (DAMIU) DI WILAYAH KECAMATAN CIAMIS
Sanitation and hygiene regulations in handling drinking water must be adhered to during the processing, packaging and serving of processed drinking water at refill drinking water depots (DAMIU). Protected water must be free from microbiological, chemical, and physical contaminants. The purpose of this study was to determine the presence of Escherichia coli bacteria in refill drinking water at drinking water depots in the Ciamis Regency Region, as well as to determine the sanitary hygiene of drinking water depots which includes aspects of place sanitation, equipment sanitation, handler hygiene, raw water, and drinking water. This study combines Descriptive Observational with Cross Sectional design. Site sanitation, equipment sanitation, handler hygiene, raw water and drinking water quality, and the presence of Escherichia coli are some of the variables in this study. The results of this study from 29 refill drinking water depots, there are some that do not meet sanitary hygiene standards, such as being near pollutant sources such as workshops and roadsides;, some still have problems with lighting and ventilation, some of them do not have hand washing stations, handlers do not wash their hands before refilling gallons of water or afterwards, handlers do not follow sanitary hygiene practices such as smoking, handlers do not have sanitary hygiene training certificates, and they do not have routine health checks at least twice a year. The conclusion of this study is that out of 29 drinking water depots, there are 6 that comply with the sanitary hygiene requirements of drinking water depots and in the quality of drinking water there are 6 depots that do not comply with drinking water quality requirements (Escherichia coli is present)
PERBEDAAN EFEKTIVITAS DOSIS CAMPURAN KAPUR TOHOR DAN KAPUR BARUS TERHADAP PENURUNAN KEPADATAN LALAT PADA SAMPAH ORGANIK DI TEMPAT PENAMPUNGAN SEMENTARA (TPS) PASAR CIKURUBUK KOTA TASIKMALAYA
All economic activities that take place in the market will always produce waste. The Cikurubuk Market Temporary Dumpster (TPS) in Tasikmalaya City has not been managed properly so that it became a breeding place for flies. The application of quicklime and camphor is one of the fly control measures that can be taken in their breeding places. The goal og research to determined the difference in the effectiveness of doses of camphor and camphor mixture on reducing fly density in TPS and to found the most effective dose. The methode is experimental research and post-test only control group design. The independent variable in this study was the dose of camphor and camphor mixture, while the dependent variable was fly density. The population in this study were all flies in the Cikurubuk Market TPS in Tasikmalaya City. The samples in this study were flies trapped by fly traps. Data analysis in this study used one way anova statistical test with post hoc least significant differences (LSD) test. The results showed that the highest mean of fly density was obtained in the control group which was 16.33 flies. The lowest mean of fly density was obtained in the dose 6 treatment group, which was 5.67 flies. The results of statistical tests showed that there were differences in fly density based on variations in the dose of a mixture of quicklime and camphor in organic waste (p value = 0.000). The results of the post hoc test showed that dose 6 (5 grams of quicklime and 5 grams of camphor) was the most effective treatment group in reducing fly density in organic waste with a mean difference value of 10.667. The suggestion is necessary to take fly control measures by applying a mixture of lime and camphor to organic waste at a dose of 5 grams of lime and 5 grams of camphor per 10 liters of organic waste
