1,720,971 research outputs found

    PENGARUH PENAMBAHAN NANO MATERIAL TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN DURABILITAS BETON (THE EFFECT OF NANO MATERIAL ADDITION ON MECHANICAL PROPERTIES AND DURABILITY OF CONCRETE)

    Get PDF
    Abstrak Perkembangan teknologi beton di bidang konstruksi jembatan mengalami peningkatan yang cukup pesat. Salah satu upaya untuk membuat beton dengan kekuatan dan durabilitas tinggi adalah dengan penambahan material berukuran nanometer.  Tujuan dari tulisan ini ialah untuk mendapatkan sifat mekanik dan durabilitas beton yang ditambah dengan nanomaterial.  Material untuk beton yang digunakan terdiri dari pasir silika, semen, nanosilika, superplasticizer, dan air.  Benda uji beton berupa silinder dengan diameter 100mm dan tinggi 200mm.  Metodologi yang digunakan ialah experimental di laborataorium dengan membandingkan sifat mekanik dan durabilitas beton yang tanpa dan ditambah nano material.  Dari hasil analisis dan pembahasan diperoleh bahwa komposisi optimum dari nanosilika yang dapat ditambahkan ke dalam campuran beton adalah 5% dari berat binder, sehingga mengurangi penggunaan semen 30 kg.  Komposisi optimum beton dengan penambahan nanosilika (beton nano) meningkatkan kuat tekan 16,70 %. Berdasarkan hasil uji durabilitasbeton nano memiliki tingkat permeabilitas sangat baik dibandingkan beton konvensional dengan nilai rata rata kurang dari 0,01x10-16, sedangkan beton konvensional nilai rata-rata nya  adalah 0,023x10-16, dan termasuk dalam kelas kualitas baik.  Hasil uji RCPT memberikan nilai charge passed (Q) untuk beton nano 49,47 % lebih kecil dibandingkan beton konvensional, yang berarti ketahanan terhadap klorida beton nano lebih baik dari beton konvensional.   Harga beton nano ini 5 sampai 7 kali lebih mahal dari beton konvensional, akan tetapi dengan durabilitas yang sangat baik beton nano tersebut dapat mengurangi biaya perawatan dan perbaikan selama umur layan.   Kata kunci:  beton, nanosilika, kuat tekan, durabilitas, permeabilitas, ketahanan klorida.  ABSTRACTDevelopment of concrete technology in bridge construction is rapidly increasing.  The  addition of material in nanometer size is an effort to make high strength and durability concrete.  This study aims to obtain the mechanical properties and durability of concrete added by nanomaterial. The materials used for concrete consisted of  silica sand, cement, nanosilica, superplasticizer, and water.  The test specimens of concrete are  in the form of  cylinders with a diameter of 100 mm and a height of 200 mm. The methodology used for testing is laboratory experiment by comparing concrete mechanical properties and durability with and without nano materials. Based on the analysis and discussion indicated   that the optimum composition of nanosilica that can be added into concrete mix is 5% of binder weight so that it can reduce the use of cement to 30 kg.  The optimum composition of concrete added by nonsilica (nano concrete) increases the  compressive strength  by 16,70%. based on concrete  durability test showed that nano concrete has excellent permeability rate compared to  conventional concrete with the average value of less than 0,01x10-16, while  the average value of conventional concrete is 0,023x10-16  and classified as good quality.  Based on RCPT tests give value passed charge (Q) of 49,47%  for nano concrete  smaller than the conventional one,   it means   that the resistance to chloride attack is better than conventional concrete. The price of nano concrete is 5-7 times more expensive than conventional concrete, however, with high excellent  durability  of nano concrete can reduce the cost of  maintenance and repair over the service life. Keywords:  concrete, nanosilica, compressive strength, durability, permeability, chloride resistanc

    KAJIAN HASIL SISTEM MONITORING JEMBATAN INTEGRAL SINAPEUL DITINJAU DARI REGANG KEPALA JEMBATAN

    Get PDF
    ABSTRAKPenerapan teknologi jembatan integral di Indonesia belum sepopuler di luar negeri (Inggris, USA, Australia, Jepang, Korea, India, dan Negara lainnya), adalah dalam kenyataannya, teknologi ini lebih menguntungkan dibandingkan dengan jembatan konvensional, diantaranya dapat mengurangi biaya pemeliharaan jembatan. Penelitian mengenai teknologi jembatan integral sudah banyak dilakukan dibeberapa Negara. Di Indonesia konsep sistem integral ini baru mulai diteliti pada tahun 2017 oleh Dirjen Bina Marga bekerjasama dengan Perguruan Tinggi. Penelitian kemudian dilanjutkan oleh Pusatlitbang Jalan dan Jembatan pada tahun 2009, ahkirnya pada tahun 2012 Pusatlitbang Jalan dan Jembatan uji coba skala penuh jembatan integral gelagar beton bertulang dengan bentang 20 meter di Kabupaten Sumedang . perilaku jembatan integral di Indonesia tentu akan sangat berbeda dengan di luar negeri. Untuk itu dalam masa pembangunannya, jembatan integral Sinapeul dilengkapi dengan beberapa alat sensor untuk mendeteksi dan mengetahui perilaku jembatan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi hasil data yang terekam dalam sistem negeri dan toerianalitis. Berdasarkan analisis dan pembahasan, diperoleh beberapa kesimpulan yaitu regangan kepala jembatan integral Sinepeul dengan panjang bentang 20 meter akibat perubahan temperature 2,88 mm, sedangkan untuk kondisi luar negeri dengan asumsi bentang yang sama adalah 4,80 mm (lebih besar 60% dari regangan jembatan integral di Indonesia). Regangan beton maksimum dari kepala jembatan dan gelagar sebesar 10,59 x 10-6. Nilai regangan ini masih lebih kecil dari regangan desain yang dihitung secara teori analisis yaitu sebesar 150 x 10-6, sehingga jembatan integral Sinapeul masih dalam kondisi utuh.Kata kunci : sistem monitoring, regangan beton, kepala jembatan, integral, perubahan temperatur

    PENGEMBANGAN LUMPUR SIDOARJO SEBAGAI AGREGAT RINGAN UNTUK BETON NON STRUKTURAL (THE DEVELOPMENT OF SIDOARJO MUD AS LIGHT WEIGHT AGGREGATE FOR NON STRUCTURAL CONCRETE)

    Get PDF
    Abstrak Lumpur Sidoarjo merupakan bahan mineral yang keluar dari dalam bumi akibat kegagalan teknis dalam eksplorasi migas di Porong Sidoarjo. Material tersebut dalam istilah geologi dapat dikategorikan sebagai produk erupsi mud volcano yang bisa terjadi di suatu kegiatan pengeboran. Bahan ini berbentuk cairan berbutir halus, berwarna abu-abu kehitaman, dan sangat plastis.  Hasil pemeriksaan terdahulu menunjukkan bahwa unsur kimia yang terkandung didominasi oleh silika (>50 %), alumina (>25 %), besi (>8 %) dan beberapa unsur lain seperti kalsium dan magnesium dengan jumlah relatif kecil. Dalam upaya peningkatan nilai guna dan pemanfaatannya, telah dikembangkan agregat ringan yang memenuhi syarat untuk beton non-struktural. Proses pembentukan agregat ringan dilakukan melalui pembakaran setelah bahan baku dikeringkan, di-crusher dan diayak sampai menjadi ukuran nominal 10 mm, selanjutnya proses pembakaran menggunakan tungku putar pada suhu sintering (900 – 1000) oC. Hasil pengujian di laboratorium menunjukkan bahwa agregat ringan dari lumpur Sidoarjo cukup baik, keras, ringan, dan kuat dengan nilai kekerasan 10 % crushing value 94,18 kN, dan densitas antara (6,1–7,0) kg/L, sedangkan mutu beton ringan yang dihasilkan baru mencapai  fc’ 15 MPa dengan densitas (1,3–1,4) kg/L. Untuk syarat pelaksanaan, penggunakan margin keamanan 7 MPa dengan kemungkinan cacad 5% masih perlu ditelusuri lebih lanjut.Kata kunci: Lumpur Sidoarjo, mineral alam, proses pembakaran, agregat ringan, beton ringan ABSTRACT The mud of Sidoarjo is a mineral that comes out of the earth due to technical failure in the exploration of oil and gas in Porong Sidoarjo. The material in geological terms can be categorized as a mud volcano eruption product that could occur in particular drilling activities. This material is finely granular, gray-black and very plastic. Previous investigation results showed that the chemical elements are dominated by silica (> 50 %), alumina (26 %), iron (8 %) and some other elements such as calcium and magnesium with a relatively small amount. In an effort to increase the use and practical application, a lightweight aggregate concrete is developed to meet the requirement of non-structural concrete. The lightweight aggregate formation process is done through burning the dried raw material, crushing, and sieved to be a nominal size of 10 mm, and subsequent combustion process in a rotary furnace at sintering temperatures of (900–1000) oC. The test results showed that lightweight aggregate of mud of Sidoarjo is good enough, hard, light, and strong in ten percent crushing value ( hardness value) of 94.18 kN, and a density between (6.1-7.0) kg /L, while the lightweight concrete quality in laboratory can reach fc’ 15 MPa  with a density of (1.3- 1.4) kg /L. However, in practice, the construction requirement of 7 MPa as safety margin and 5% diffectiveness are need to be studied further.Keywords:   Sidoarjo mud, natural mineral, combustion process, lightweight aggregates, lightweight concret

    ESTIMASI KETIDAKPASTIAN PENGUKURAN DALAM PENGUJIAN KUAT TEKAN BETON

    Get PDF
    Perbedaan metoda evaluasi ketidakpastian antara produsen dan konsmen dapat menyebabkan penolakan satu paket komoditi perdagangan karena perbedaan hasil perhitungan ketidakpastian antara pihak produsen dan konsumen. Dalam era pasar global diperlukan metode untuk mengevaluasi dan menyatakan ketidakpastian yang dapat diterima di seluruh dunia sehingga pengukuran yang dilakukan dapat dibandingkan dengan mudah. Kajian ini menjelaskan prinsip evaluasi ketidakpastian bagi laboratorium penguji dan kalibrasi untuk memenuhi persyaratan SNI-19-17025-2000 tentang “Persyaratan Umum Kompetensi Laboratorium Penguji dan Kalibrasi”. Metode evaluasi ketidakpastian pengukuran yang dijelaskan dalam kajian ini sesuai dengan ISO “Guide to the Expression of Uncertainty in Measurement”.Compliance testing sometimes involves measured values, which lie close to the zone of uncertainty. A different method of uncertainty evaluation by foreign authority could mean rejection of a container of goods destined for import because of expansion of the recalculated zone of uncertainty. In the era of global marketplace it is imperative that the method for evaluating and expressing uncertainty be uniform throughout the world so that measurements performed in different countries can be easily compared. This study gives the recommended method for evaluating me asurement uncertainty that is applicable for calibration and testing laboratories which based on SNI-19-17025-2000. The method of evaluating measurement uncertainty described in this studies in accordance with ISO “Guide to the Expression of Uncertainty in Measurement”

    THE STUDY OF INTEGRAL BRIDGE DESIGN

    No full text
    Jembatan integral merupakan jembatan yang dibuat tanpa adanya pergerakan antar bentang (spans) atau antara bentang abutment. Permukaan jalan dibuat menerus dari timbunan oprit yang satu dengan timbunan oprit yang lainnya. Jembatan integral dimaksudkan untuk menghindari permasalahan perawatan jembatan yang sangat mahal yang dikarenakan adanya penetrasi air/debu melalui pergerakan joint, dapat meningkatkan kenyamanan bagi pengguna jalan, dan mudah dilaksanakan di lapangan. Sistem jembatan integral terdiri dari integral penuh (full integral) dan integral sebagian (semi integral). Jembatan integral dengan bentang kurang dari 20 meter untuk kondisi di beberapa daerah di Indonesia paling optimum menggunakan tipe beton bertulang dengan sistem full integral, sedangkan untuk bentang lebih dari 20 meter lebih diutamakan menggunakan tipe prategang dengan sistem semi integral. Kajian ini membahas tentang pengembangan teknologi jembatan integral untuk tipe struktur beton, baik metode perhitungan, parameter pembebanan maupun desain dengan simulasi model jembatan menggunakan program analisis struktur. Sebagai contoh dibuat model jembatan integral untuk tipe beton bertulang bentang tunggal Hasil kajian sistem full integral paling optimum dibuat untuk bentang sampai 20 m.   Kata kunci : integral penuh, integral sebagian, beton bertulang, perawatan, siar muaiIntegral bridge is made without existence of movement between spans or between spans with abutment. The road surface is continuously made by the approach embankment. The integral bridge type avoids the problem of maintenance for joins and bearings, in particular if water and dust penetrates through the joints and also effect the bearings, can made safe for road users and simple applicative method. Bridge integral system consist of full integral and semi integral. Integral bridge with spans less than 20 metre to the condition in Indonesia most aptimum use reinforced concrete type with system of full integral, while if more than 20 metre more suggested to user type of prestress with semi integral system. This study explaining about development of integral bridge technology for the type of concrete structure. like calculation method, encumbering paramter and also of desain with simulation model bridge user program analyse structure. For example made integral bridge model for the type of reinforced concrete with single span. Result of study of full integral most is optimum made to spans until 20 m.   Keywords : full integral, semi integral, reinforced concrete, maintenance, expansion join

    PENGARUH PENAMBAHAN SERAT SINTETIK PLASTIK TERHADAP KEKUATAN TEKAN DAN LENTUR BETON

    No full text
    The use of additional materials to improve concrete performance has rapidly developed, such as synthentic fiber of plastic which commonly used for concrete structure. The use of such material in concrete is expected to be able to increase concrete strength. The purpose of the research is to find out the optimum composition and the effectiveness of  plastic fiber in concrete performance. Laboratory tests has been conducted. Based on analysis result showed that at the age of 28 days, the compressive strength with composition of 4 kg/m3 (39,228 N/m3) is 2,6% greater than normal concrete and flexural strength increased 1,6% to normal concrete.   Key words : synthetic fibre, composition, compressive strength, flexural strength, fibre concretePemanfaatan bahan tambah untuk meningkatkan kinerja beton akhir-akhir ini mengalami perkembangan yang sangat pesat, salah satunya adalah serat sintetik plastik yang banyak digunakan untuk pembangunan struktur beton. Beton dengan penambahan serat sintetik diharapkan mampu meningkatkan kekuatan beton. Penulisan ini adalah untuk mengetahui komposisi yang paling optimum dari serat yang digunakan sebagai bahan tambah beton dan mengetahui daya guna serat sintetik plastik terhadap kinerja daripada beton. Kegiatan yang dilakukan meliputi beberapa pengujian laboratorium. Berdasarkan hasil analisis laboratorium, pada umur 28 hari nilai kuat tekan beton serat dengan komposisi 4 kg/m3 (39,228 N/m3) lebih besar 2,6 % dari beton normal dan kuat lenturnya bertambah 1,6% terhadap beton normal.   Kata kunci : serat sintetik, komposisi, kuat tekan, kuat lentur, beton sera

    ANALISIS PERBANDINGAN BIAYA SIKLUS HIDUP JEMBATAN INTEGRAL TERHADAP JEMBATAN KONVENSIONAL GELAGAR BETON BERTULANG BENTANG TUNGGAL

    Get PDF
    Jembatan integral adalah suatu sistem struktur jembatan yang dibangun secara menerus antara bangunan atas dengan bangunan bawah dengan meniadakan siar muai dan sistem perletakan. Keuntungan dari jembatan integral adalah mengurangi biaya pemeliharaan dan perawatan selama umur layan jembatan. Komponen elemen struktur jembatan integral berbeda dengan jembatan konvensional dimana pada jembatan integral tidak terdapat siar muai dan sistem perletakan. Dalam analisis LCC, keuntungan dari suatu teknologi jembatan yang diterapkan tidak hanya dilihat dari awal pelaksanaan konstruksi. Akan tetapi juga harus memperhitungkan faktor biaya yang terjadi selama umur layan jembatan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan biaya siklus hidup antara jembatan integral dengan jembatan konvensional tipe gelagar beton bertulang dengan bentang tunggal yang panjangnya 20 meter. Metode yang digunakan dalam analisis tersebut didasarkan pada pendekatan ekuivalen nilai sekarang (present worth method) dan perbaikan yang akan datang (future rehabilitation cost). Perhitungan analisis LCC didasarkan pada biaya awal (initial cost), biaya pemeliharaan rutin, biaya pemeriksaan, biaya pengguna jembatan, dan biaya perbaikan masa yang akan datang. Jembatan integral direncanakan untuk masa layan 75 tahun. Hasil analisis LCC membuktikan bahwa meskipun biaya awal konstruksi jembatan integral lebih mahal dari jembatan konvensional, selama umur layan 75 tahun biaya siklus hidup (LCC) jembatan integral tersebut lebih ekonomis 40% dibandingkan dengan jembatan konvensional. Nilai ekonomis dari jembatan integral disebabkan oleh tidak diperlukannya biaya perbaikan untuk siar muai dan sistem perletaka

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    THE STRENGTHENING ANALYSIS OF BRIDGE SUBSTRUCTURE WITH RIP-RAP

    Get PDF
    Jembatan eksisting di Indonesia yang dibangun pada tahun 1980-an umumnya secara desain kurang memperhatikan bentuk morfologi aliran sungai.  Hal ini berdampak pada jembatan yang dibangun di lokasi sungai mengalami keruntuhan akibat rusaknya pilar.  Kerusakan pilar disebabkan gerusan aliran sungai yang terjadi selama periode tertentu dan keruntuhannya tidak terjadi secara tiba-tiba.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui terjadinya potensi gerusan aliran sungai pada pilar jembatan eksisting yang terjadi dalam periode waktu tertentu.  Analisis kedalaman gerusan dilakukan dengan menggunakan program Hydrologic Engineering Center's River Analysis System  (HEC-RAS).  Studi kasus dilakukan pada jembatan Cipamingkis (setelah perkuatan) dan jembatan Cipunegara.  Dalam studi kasus akan dibandingkan kedalaman gerusan dan bentuk penanganan yang sesuai pada masing-masing pilar jembatan untuk periode ulang banjir 100 tahun. Berdasarkan hasil analisis, kedalaman gerusan pada pilar jembatan Cipamingkis (setelah perkuatan) untuk periode ulang banjir 100 tahun adalah 5 meter. Sedangkan kedalaman gerusan untuk jembatan Cipunegara adalah 7 meter.  Kedalamanan gerusan pada pilar jembatan Cipunegara untuk periode ulang banjir 100 tahun  lebih besar dibandingkan pada jembatan Cipamingkis. Usaha mitigasi yang dilakukan untuk menghindari terjadinya keruntuhan pilar jembatan Cipunegara dan Cipamingkis adalah dengan membuat bangunan pengarah aliran sungai dan membuat bangunan pelindung  pilar.  Pembuatan rip-rap di sekitar pilar jembatan merupakan salah satu jenis penanganan yang dilakukan agar pilar jembatan tidak runtuh secara tiba-tiba.  Pemasangan rip-rap pada pilar jembatan Cipunegara dan Cipamingkis dapat mengurangi terjadinya proses gerusan sebesar 60% untuk periode ulang banjir 100 tahun. Kata kunci: jembatan, pilar, eksisting, gerusan, Hec-ras, rip-rapIn general, existing bridges in Indonesia that were built in the 1980s do not take into account the morphological shape of the river flow. This has an impact on the bridge that was built at the river's location to collapse due to damaged pillars.  Damage to the pillar was caused by scouring of the river flow that occurred during a certain period and the collapse did not occur suddenly.  This research was conducted to determine the potential occurrence of river flow scouring on the existing bridge pillars that occurs within a certain time period.  Scour depth analysis was carried out using several empirical methods and using the Hydrologic Engineering Center's River Analysis System (HEC-RAS) program. Case studies were carried out on the Cipamingkis Bridge (after retrofitting) and the Cipunegara Bridge. In the case study, the depth of the scour that occurred in each bridge pillar will be compared for the 100 year return period of flooding. Based on the results of the analysis, the scour depth of the Cipamingkis bridge pillars (after strengthening) for the 100 year return period of flooding is 5 m. While the scour depth for the Cipunegara Bridge for the 100 year return period of flooding is 7 meters. The scour depth of the Cipunegara bridge pillar is greater than that of the Cipamingkis bridge. Mitigation technology to avoid the collapse of the pillars of the Cipunegara and Cipamingkis bridges is to construct a river flow protection structure and construct a pillar protection structure. Making rip-rap around bridge pillars is one type of prevention that is done so that the bridge pillars don't suddenly collapse.  Reinforcement of rip-rap on the pillars of the Cipunegara and Cipamingkis bridges can reduce the occurrence of scouring processes by 60% for the 100 year return period of flooding.  Keywords: bridge,  pier, existing, scourings, Hec-ras, rip-ra
    corecore