1,720,969 research outputs found

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    Pendekatan Kombinasi Metode AHP Dan Metode Cut Off Point Pada Tahap Analisis Keputusan Perancangan Sistem Informasi Penjualan PT.X

    Full text link
    PT. Indhira Travindo merupakan salah satu agen perjalanan wisata ke Negara United Arab Emirates (UAE) khususnya negara Abu Dhabi dan Dubai. Sistem penjualan perusahaan saat ini sering kali mengalami masalah-masalah yang akhirnya akan memperlambat proses penjualan. Hasil analisis sistem menunjukkan bahwa masalah yang sedang dihadapi perusahaan adalah data penjualan perusahaan sering hilang, waktu pelayanan yang lama, belum adanya prosedur penjualan yang memadai, waktu pembuatan laporan yang cukup lama dan hal lain. Berdasarkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi tersebut maka perlu dilakukan analisis keputusan terhadap kebutuhan sistem informasi penjualan. Tahap analisis keputusan merupakan salah satu bagian penting dalam metodologi. Tahap ini merupakan tahap untuk pengambilan keputusan mengenai sistem informasi apakah yang akan dibangun berdasarkan hasil analisis masalah dan analisis kebutuhan sistem informasi. Metode Cut off Point akan digunakan dalam hal memilih kriteria berdasarkan opini sejumlah responden/pengambil keputusan dengan memberikan indeks terhadap derajat kepentingan masing-masing kriteria dan dipergunakan sebagai komponen pembangun struktur hirarki Analytical Hierarchy Process (AHP). Validitas kriteria yang terpilih ditentukan berdasarkan hasil perundingan pihak yang terkait langsung dan user dalam sebuah forum diskusi ”Nominal Group Tehnic” (NGT) . Kata kunci : analisis keputusan, cut off point, AHP, NGT Abstract PT.X as one of traveling agency to United Arab Emirates (UAE) countries especially Abu Dhabi and Dubai. The selling system nowadays often encounters some problems which eventually will slow the selling process down. The results of the analysis showed that the problems encountered by the company are the lost of selling data happens very often, the services takes quite a long time, the selling procedure is not well available, the making of the report takes a long time and so on. Decision analysis for selling information system is needed to solve the problem on the selling system. One of the important parts in action planning of System Information Method is phase of Decision Analysis. It forms phase for decision making about what kind of System Information will built based on problem analysis results and necessity of System Information analysis. Cut-Off Point Method will use in choosing criteria based on opinions of respondents/decision makers by give index across degree of each criteria importance and used as component of hierarchy structure builder of Analytical Hierarchy Process (AHP). The chosen criteria of validity fixed by result of discuss between personal direction and user in a “Nominal Group Techic” NGT discussion forum. Keyword : Decision analysis, cut- off point, AHP, NGT PENDAHULUAN PT. X sebagai salah satu biro perjalanan wisata menghadirkan konsep-konsep yang ditujukan pada pemenuhan kebutuhan pelayanan jasa pariwisata seperti pemesanan tiket domestik dan internasional, pemesanan akomodasi yang diperlukan konsumen di tempat tujuan, dan lainnya. Saat ini selain memenuhi kebutuhan pelayanan jasa pariwisata kepada konsumen langsung, PT. X juga menawarkan pemenuhan kebutuhan pelayanan jasa pariwisata kepada para agen wisata lain yang tidak memiliki jaringan kerja sama dengan pihak yang dapat menyediakan segala macam bentuk kebutuhan konsumen di tempat wisata. Perusahaan sangat mementingkan pelayanan yang terbaik. Pelayanan yang memiliki waktu pelayanan yang relatif lebih cepat dan pelayanan yang dapat menghasilkan pelayanan terbaik. Dalam sistem penjualan yang dimiliki perusahaan saat ini belum dapat membantu perusahaan untuk memberikan pelayanan tersebut. Suatu sistem informasi yang terkomputasi diperlukan untuk membantu perusahaan menyelesaikan masalah perusahaan dan membantu perusahaan memberikan pelayanan yang terbaik. Salah satu sistem informasi yang dapat membantu perusahaan dalam memperlancar kinerja dan memperlancar pelayanan ke pelanggan adalah sistem informasi penjualan yang berbasis web. Akan tetapi, perancangan sistem informasi akan memberikan konsekuensi sejumlah biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan sehingga sebelum sistem informasi dibangun maka dilakukan analisis keputusan apakah perancangan sistem usulan tetap dilanjutkan atau tidak, berdasarkan hasil analisis kebutuhan dan analisis masalah. Pendekatan kombinasi metode AHP dan metode cut- off point akan digunakan dalam proses pengambilan keputusan ini. TEORI Tinjauan Umum Pengembangan Sistem Pengembangan sistem dapat berarti menyusun suatu sistem yang baru untuk menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang telah ada. Sistem yang lama perlu diperbaiki atau diganti disebabkan karena beberapa hal, yaitu sebagai berikut ini: (Jogiyanto, 2005) 1. Adanya permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan di sistem yang lain. Permasalahan yang timbul dapat berupa: • Ketidakberesan Ketidakberesan dalam sistem yang lama menyebabkan sistem yang lama tidak dapat beroperasi sesuai dengan yang diharapkan. Ketidakberesan ini dapat berupa: kecurangan disengaja yang menyebabkan sistem yang lama tidak dapat kekayaan perusahaan dan kebenaran dari data menjadi kurang terjamin, tidak efisiennya operasi. • Pertumbuhan Organisasi Pertumbuhan organisasi yang menyebabkan harus disusunnya sistem yang baru. Pertumbuhan organisasi diantaranya adalah kebutuhan informasi yang semakin luas, volume pengolahan data semakin meningkat, perubahan prinsip akuntansi yang baru. 2. Untuk meraih kesempatan-kesempatan Teknologi informasi telah berkembang dengan cepat. Perangkat keras computer, perangkat lunak dan teknologi komunikasi telah begitu cepat berkembang. Dalam keadaan pasar bersaing, kecepatan informasi atau efisiensi waktu sangat menentukan berhasil atau tidaknya strategi dan rencana. 3. Adanya instruksi-instruksi Penyusunan sistem yang baru dapat juga terjadi karena adanya instruksi dari atas pimpinan ataupun dari luar organisasi, seperti misalnya peraturan pemerintah. Analytical Hierarchy Process (AHP) AHP dikembangkan oleh Prof. Thomas L. Saaty, seorang Guru Besar Matematika dari University of Pittsburgh pada tahun 1970. Metoda ini merupakan alat bantu sistem pendukung keputusan yang dinilai luas untuk penyelesaian problem keputusan multikriteria. Metode ini mensintesis perbandingan ‘judgement’ pengambil keputusan yang berpasangan pada setiap level hirarki keputusan yang berpasangan pada setiap level hirarki keputusan. Caranya dengan menetapkan bobot prioritas relatif setiap elemen keputusan, dimana bobot ini merepresentasikan intensitas preferensi atas suatu keputusan (Saaty, 1993). Prinsip Pokok Analytical Hierarchy Process (AHP) Prinsip pokok AHP adalah prinsip berpikir analitis. Pengambilan keputusan dalam metodologi AHP didasarkan pada tiga prinsip pokok, yaitu : 1. Penyusunan Hirarki Penyusunan hirarki permasalahan merupakan langkah untuk mendefinisikan masalah yang kompleks ke dalam sub sistem, elemen, sub elemen dan seterusnya sehingga menjadi lebih jelas dan detail. Hirarki keputusan disusun berdasarkan pandangan pihak-pihak yang memiliki keahlian (expert) dan pengetahuan di bidang yang bersangkutan. 2. Penentuan Prioritas Prioritas dari elemen-elemen kriteria dapat dipandang sebagai bobot atau kontribusi elemen tersebut terhadap tujuan pengambilan keputusan. Prioritas ini ditentukan berdasarkan pandangan para pakar dan pihak-pihak yang kepentingan terhadap keputusan tersebut, baik secara langsung (diskusi, wawancara) maupun tidak langsung (kuesioner). 3. Konsistensi Logis Konsistensi jawaban responden dalam menentukan prioritas elemen merupakan prinsip pokok yang akan menentukan validitas data dan hasil pengambilan keputusan. Menurut Saaty, hasil penilaian yang dapat diterima adalah yang mempunyai rasio konsistensi lebih kecil atau sama dengan 10%. Jika lebih besar dari itu berarti penilaian yang telah dilakukan ada yang random dengan demikian perlu diperbaiki. METODOLOGI Penelitian Pendahuluan Tahap penelitian pendahuluan merupakan tahap pengenalan terhadap kondisi lingkungan sistem untuk mendukung proses selanjutnya, yaitu kondisi dari lingkungan perusahaan. Dengan adanya tahap penelitian pendahuluan ini, maka masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh PT. X dengan sistem saat ini dapat diketahui. Analisis masalah Tahapan analisis masalah, masalah-masalah yang telah diidentifikasikan pada tahapan sebelumnya akan dianalisis, untuk mengetahui kelemahan atau kekurangan sistem penjualan ada saat ini. Analisis kebutuhan Berdasarkan analisis masalah yang ada pada perusahaan, maka akan dibuat suatu rumusan mengenai kebutuhan umum dan khusus penguna sistem. Pernyataan kebutuhan bisnis dihasilkan dari pernyataan-pernyataan pengguna sistem mengenai kebutuhan mereka terhadap sistem usulan. Analisis keputusan Berdasarkan hasil analisis kebutuhan dan analisis masalah yang ada pada tahap sebelumnya, maka akan dilakukan analisis apakah perancangan sistem usulan ini tetap dilanjutkan atau tidak. Bagan alir tahapan penelitian dapat dilihat pada Gambar 1. Bagan alir tersebut menunjukan tahapan-tahapan yang dilakukan mulai dari penelitian sampai dengan keputusan untuk menjalankan atau tidak menjalankan rancangan sistem berdasarkan hasil analisis kebutuhan dan analisis masalah. Gambar 1. Bagan Alir Tahapan Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pendahuluan Tahapan penelitian pendahuluan dilakukan untuk mengetahui masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh perusahaan pada saat ini. Penelitian pendahuluan telah dilakukan dengan menganalisis sistem yang ada saat ini. Dari analisis yang dilakukan, maka dapat disimpulkan masalah yang sedang dihadapi perusahaan adalah sebagai berikut: • Perusahaan sering mengalami kehilangan data atau dokumen perusahaan, hal ini disebabkan karena data perusahaan belum terorganisir dengan baik. • Perusahaan mengalami kesulitan dalam memperkenalkan diri ke masyarakat luar karena perusahaan belum memiliki wadah yang berisi tentang profil perusahaan, produk yang ditawarkan dan informasi lainnya. • Pada pembuatan receipt, surat confirm dan Quotation untuk pelanggan, perusahaan belum memiliki format yang dapat mempermudah pembuatan dokumen tersebut. • Perusahaan harus melakukan pengiriman informasi promosi secara berulang kali kepada seluruh pelanggan. Pengiriman yang dilakukan secara manual memerlukan waktu yang relatif lama jika dibandingkan dengan pemberitahuan lewat buletin atau informasi terbaru pada sistem. Analisis Masalah Tahap penelitian pendahuluan menghasilkan identifikasi permasalahan yang sedang dihadapi perusahaan. Pada tahap analisis masalah ini, masalah-masalah yang ada dianalisis untuk mendapatkan usulan perbaikan yang dapat diterapkan pada sistem usulan. Hasil analisis masalah dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Analisis Masalah Hal yang Diamati Masalah Yang dihadapi Data terbaru yang dimiliki oleh pelanggan Data yang dimiliki pelanggan jarang diperbaharui oleh perusahaan karena perusahaan memiliki kesibukan lain. Waktu yang diperlukan untuk memberitahukan seluruh pelanggan mengenai informasi data terbaru sangat lama karena pemberitahuan dilakukan dengan menggunakan e-mail kepada setiap pelanggan. Form Pemesanan produk Perusahaan belum memiliki form pemesanan yang baku untuk reservasi hotel, transfer, dan produk lainnya. Prosedur pemesanan produk Prosedur pemesanan produk pada saat ini belum memiliki output dan input yang jelas. Artinya pemesanan produk pada saat ini belum memiliki form yang jelas dan pembuatan form dilakukan secara manual. Pengenalan Perusahaan Perusahaan belum memiliki wadah untuk memperkenalkan diri ke masyarakat umum dan perusahaan juga belum memiliki wadah yang berisi tentang profil perusahaan, produk yang ditawarkan dan informasi lainnya. Analisis Kebutuhan Analisis kebutuhan juga dilakukan dengan menyebarkan kuesioner ke para pelanggan dan karyawan perusahaan. Penyebaran kuesioner ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan para entitas sistem maka dilakukan pengisian kuesioner awal oleh para pengguna sistem pada saat ini. Jenis atau tipe kuesioner yang digunakan adalah tipe fixed-format questionnaire/kuesioner format tetap. • Jumlah responden karyawan adalah 13 responden. Dari 13 responden tersebut yang “Tidak Puas” dengan sistem saat ini ada 12 responden atau 92,3% dari keseluruhan karyawan. • Jumlah responden yang merupakan karyawan dan konsumen perusahaan adalah 29 responden. Dari 29 responden yang “Tidak Puas” dengan sistem saat ini ada 23 responden atau 79,3 % dari keseluruhan pengguna sistem. • Jumlah responden karyawan adalah 13 responden. Dari 13 responden tersebut yang “Tidak Puas” dengan sistem saat ini ada 12 responden atau 92,3% dari keseluruhan karyawan. Dari jumlah pengguna sistem yang “Tidak Puas” dengan sistem yang ada saat ini, maka dapat disimpulkan dibutuhkan suatu sistem informasi baru yang dapat membantu transaksi perusahaan. dari seluruh reponden yang “Tidak Puas” menyatakan perlu adanya sistem baru. Identifikasi Kebutuhan Umum yang Dibutuhkan Pengguna Sistem Kebutuhan umum yang dibutuhkan oleh pengguna sistem adalah sebagai berikut: 1. Para pengguna sistem memiliki akses login ke dalam sistem informasi. 2. Para pengguna sistem dapat mengetahui informasi dan promosi yang terbaru. 3. Sistem informasi dapat memdokumentasikan dan menyimpan seluruh data penjualan yang berupa data pelanggan, data transaksi dan data lain. 4. Data penjualan dapat disimpan dan diorganisir dengan baik sehingga memudahkan pencarian data pada saat dibutuhan. 5. Para pengguna sistem dapat mengetahui transaksi yang terbaru yang telah dikonfirmasi oleh pihak yang bersangkutan. Identifikasi Kebutuhan Khusus yang Dibutuhkan Pengguna Sistem Setiap pengguna sistem memiliki kebutuhan mendapatkan informasi yang diperlukan dan berkaitan dengan sistem dan juga dapat melakukan sesuatu pada sistem. Kebutuhan setiap pengguna sistem berbeda dengan kebutuhan pengguna lainnya. Kebutuhan setiap pengguna sistem dapat dilihat pada daftar berikut: 1. Kebutuhan Pelanggan Informasi yang dibutuhkan dan diperlukan oleh pelanggan adalah: a. Daftar produk b. Informasi yang lengkap dan jelas tentang suatu produk c. Status transaksi dan sejarah transaksi d. Surat balasan seperti Receipt, Quotation, Confirmed Receipt dan Invoice dapat diperoleh dari sistem e. Dapat mencari produk yang sesuai dengan keinginan atau sesuai dengan rincian produk. f. Informasi tentang promosi dan produk terbaru dari perusahaan. g. Memperbaharui data yang berkaitan dengan data pelanggan. 2. Kebutuhan Staff marketing and Promotion Informasi yang dibutuhkan dan diperlukan oleh Staff marketing and Promotion adalah: a. Mengetahui rincian produk yang dibeli pelanggan. b. Mengetahui kebijakan terbaru perusahaan. c. Mendapatkan data pelanggan d. Mengetahui rincian transaksi. 3. Kebutuhan Managing Director Informasi yang dibutuhkan dan diperlukan oleh Managing Director adalah: a. Status transaksi dan sejarah transaksi b. Mengetahui data pelanggan c. Mengetahui sejarah transaksi perusahaan d. Mengetahui piutang setiap pelanggan 4. Kebutuhan Operation Manager Informasi yang dibutuhkan dan diperlukan oleh Operation Manager adalah: a. Mengetahui adanya pesanan dari pelanggan b. Mengetahui rincian produk yang dipesan oleh pelanggan c. Mengetahui data transaksi perusahaan dalam satu bulan d. Mendapatkan data pelanggan e. Status transaksi dan sejarah transaksi 5. Kebutuhan Staff Operational Informasi yang dibutuhkan dan diperlukan oleh Staff Operational adalah: a. Mengetahui adanya pesanan dari pelanggan b. Mengetahui rincian pesanan pelanggan c. Mengetahui data pelanggan d. Mengetahui pelanggan mana saja yang memesan produk 6. Kebutuhan Accounting Informasi yang dibutuhkan dan diperlukan oleh Accounting adalah: a. Informasi pelanggan yang membeli produk b. Informasi pelanggan c. Informasi total penjualan produk d. Mengetahui jumlah produk yang terjual dalam satu bulan e. Mengetahui status pembayaran pelanggan f. Mengetahui data transaksi dan data penjualan g. Status transaksi dan sejarah transaksi Analisis Keputusan Saat ini, PT. Indhira Travindo memiliki sistem dalam melaksanakan kegiatan operasionalnya. Sistem yang dimiliki oleh perusahaan antara lain sistem Penjualan dan sistem Administrasi. Sistem administrasi yang ada di perusahaan terdiri dari sistem gaji karyawan dan sistem absensi karyawan. Sistem penjualan adalah sistem yang berhubungan dengan kegiatan penjualan perusahaan, terdiri dari sistem pemesanan produk dari perusahaan ke supplier dan sistem penjualan produk dari perusahaan ke pelanggan. Sistem yang dimiliki oleh perusahaan dapat dilihat lebih jelas pada Gambar 2. Seleksi Faktor Derajat kepentingan faktor diperoleh dari hasil kuesioner yang berisi faktor-faktor yang diperoleh dari hasil analisis masalah dan analisis kebutuhan. Kuesioner ini diisi oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan perancangan sistem informasi penjualan, yaitu Pelanggan, Staff Marketing and Promotion, Managing Director, Operation Manager, Staff Operational dan Accounting. Penilaian dibagi menjadi tiga, yaitu Sangat penting (very important) dengan skor 3, Cukup penting (somewhat important) dengan skor 2 dan tidak penting (not important) dengan nilai 1 (Tam & al 2001). Gambar 2. Sistem pada PT. Indhira Travindo Tabel 2. Daftar faktor yang akan Dinilai dalam Kuesioner Faktor Kode Profil Perusahaan PP Data Pelanggan DPL Data Penjualan DPJ Daftar Produk DPR Data Pembayaran DPB Promosi Produk terbaru PPT Status Transaksi dan sejarah transaksi ST Rincian produk yang dibeli RP Data Piutang setiap pelanggan DPP Pembaharuan data pelanggan PDP Data Pemesanan DP Data Surat invoice, service confirmed dan Quotation DSI Surat invoice, service confirmed dan Quotation SI Kebijakan perusahaan KP Laporan Keuangan LK Seluruh penilaian responden dikumpulkan , kemudian dirata-ratakan untuk tiap elemen. Seluruh faktor diurutkan dari nilai tertinggi ke nilai terendah. Kemudian dicari nilai cut off point dengan rumus : Natural cut-off point = ( Maximum Score + Minimum Score ) / 2 Faktor yang memiliki nilai di bawah cut-off point akan dibuang dari perhitungan dan model AHP Nilai rata-rata maksimum adalah 2,47 sedangkan nilai rata-rata minimum adalah 1,73 sehingga natural cut off point adalah : Natural cut-off point = ( 2,47 + 1,73 ) / 2 = 2,1 Maka faktor-faktor dengan nilai rata-rata di bawah 2,1 akan dibuang dari perhitungan dan model AHP. Untuk memastikan validitas faktor terpilih tersebut dalam menyusun faktor-faktor yang digunakan dalam menentukan keputusan dijalankan atau tidak dijalankan sistem informasi penjualan ini, diadakan sebuah forum diskusi ”Nominal Group Tehnic” (NGT). Forum ini dihadiri oleh semua pihak yang terkait dengan perancangan sistem informasi penjualan perusahaan PT. X. Penyusunan Hirarki Dengan menggunakan faktor-faktor yang lolos dari penilaian cut-off point, dapat disusun sebuah struktur hirarki keputusan yang terdiri dari empat level hirarki. Level pertama adalah goal, yaitu keputusan jalankan atau tidak dijalankan rancangan sistem informasi penjualan. Lbel kedua adalah faktor yang terdiri dari Data Pemesanan (DP), Data Pelanggan (DPG), Data Penjualan (DPJ), Kebijakan Perusahaan (KP), Status Transaksi (ST), Profil Perusahaan (PP), Data Pembayaran (DPB) dan Promosi Produk Terbaru (PPT). Level ketiga adalah Aktor yang terdiri dari Pelanggan (PL), Staff Marketing and Promotion (SPP), Managing Director(MD), Operation Manager(OM), Staff Operational (SO) dan Accounting(AC). Sedangkan level keempat adalah alternatif keputusan yaitu jalankan atau tidak jalankan rancangan sistem informasi penjualan Tabel 3. Rata-rata Tingkat Kepentingan Faktor No Faktor Kode Sangat Penting (3) Cukup Penting (2) Tidak Penting (1) Jlh Resp. Total Rata-rata 1 Data Pemesanan 16 12 2 30 74 2,47 2 Data Pelanggan 18 5 7 30 71 2,37 3 Data Penjualan 16 9 5 30 71 2,37 4 Kebijakan Perusahaan 14 12 4 30 70 2,33 5 Status Transaksi 13 12 5 30 68 2,27 6 Profil Perusahaan 10 15 5 30 65 2,17 7 Data Pembayaran 12 10 8 30 64 2,13 8 Promosi Produk Terbaru 11 11 8 30 63 2,10 9 Data Piutang Setiap Pelanggan 14 4 12 30 62 2,07 10 Daftar Produk 9 14 7 30 62 2,07 11 Rincian Produk Yang Dibeli 12 7 11 30 61 2,03 12 Surat Invoice 8 14 8 30 60 2,00 13 Pembaharuan Data Pelanggan 10 6 14 30 56 1,87 14 Data Surat Invoice 8 10 12 30 56 1,87 15 Laporan Keuangan 5 12 13 30 52 1,73 Gambar 3. Struktur Hirarki Keputusan Jalankan atau Tidak Jalankan Sistem Informasi Penjualan Perhitungan Bobot Perhitungan bobot dari setiap elemen pada setiap level dilakukan berdasarkan penyusunan hirarki. Tujuannya adalah untuk menentukan strategi mana yang diberikan prioritas untuk diutamakan pelaksanaannya. Prioritas ditetapkan dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Proses perhitungan bobot dibantu dengan software Expert Choice 2000 melalui perbandingan berpasangan (pairwise comparison). Konsistensi rasio bernilai dibawah 0,1. Dengan nilai konsistensi rasio tersebut, mengindikasikan bahwa elemen-elemen dalam struktur hirarki dapat digunakan dalam perhitungan selanjutnya. Tabel 4 Merupakan tabel hasil analisis faktor dengan bobot dan prioritasnya, untuk menentukan aktor dalam penentuan keputusan untuk menjalankan atau tidak menjalankan rancangan sistem informasi penjualan. Tabel 4. Bobot dan Prioritas Aktor Strategi Peningkatan Kualitas Susu Pasteurisa

    koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist

    No full text
    We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used

    Author Under Sail The Imagination of Jack London, 1893-1902

    No full text
    In Author Under Sail, Jay Williams offers the first complete literary biography of Jack London as a professional writer engaged in the labor of writing. It examines the authorial imagination in London's work, the use of imagination in both his fiction and nonfiction, and the ways he defined imagination in the creative process in his business dealings with his publishers, editors, and agents. In this first volume of a two-volume biography, Williams traverses the years 1893 to 1902, from London's "Story of a Typhoon" to The People of the Abyss. The Jack London who emerges in the pages of Author Under Sail is a writer whose partnership with publishers, most notably his productive alliance with George Brett of Macmillan, was one of the most formative in American literary history. London pioneered many author models during the heyday of realism and naturalism, blurring the boundaries of these popular genres by focusing on absorption and theatricality and the representation of the seen and unseen. London created an impassioned, sincere, and extremely personal realism unlike that of other American writers of the time. Author Under Sail is a literary tour de force that reveals the full range of London as writer, creative citizen, and entrepreneur at the same time it sheds light on the maverick side of machine-age literature.Intro -- Title Page -- Copyright Page -- Dedication -- Contents -- Acknowledgments -- Introduction -- 1. Spirit Truth -- 2. From Absorption to Theatricality and Back Again -- 3. "I Will Build a New Present" -- 4. Sons as Authors -- 5. Fathers as Publishers -- 6. The Daughter as Author -- 7. Lovers as Authors -- 8. At Sea with the Family -- 9. Yellow News, Yellow Stories -- 10. The Return Home -- Notes -- Bibliography -- Index -- About Jay WilliamsIn Author Under Sail, Jay Williams offers the first complete literary biography of Jack London as a professional writer engaged in the labor of writing. It examines the authorial imagination in London's work, the use of imagination in both his fiction and nonfiction, and the ways he defined imagination in the creative process in his business dealings with his publishers, editors, and agents. In this first volume of a two-volume biography, Williams traverses the years 1893 to 1902, from London's "Story of a Typhoon" to The People of the Abyss. The Jack London who emerges in the pages of Author Under Sail is a writer whose partnership with publishers, most notably his productive alliance with George Brett of Macmillan, was one of the most formative in American literary history. London pioneered many author models during the heyday of realism and naturalism, blurring the boundaries of these popular genres by focusing on absorption and theatricality and the representation of the seen and unseen. London created an impassioned, sincere, and extremely personal realism unlike that of other American writers of the time. Author Under Sail is a literary tour de force that reveals the full range of London as writer, creative citizen, and entrepreneur at the same time it sheds light on the maverick side of machine-age literature.Description based on publisher supplied metadata and other sources.Electronic reproduction. Ann Arbor, Michigan : ProQuest Ebook Central, YYYY. Available via World Wide Web. Access may be limited to ProQuest Ebook Central affiliated libraries
    corecore