1,720,970 research outputs found

    COVER

    No full text
    Cover Jurnal PSYCHE Volume 1 Nomor 1 Februari 201

    PERILAKU GRIT BERDASARKAN DEMOGRAFI KARYAWAN FOOD MANUFACTURING CONSUMER GOODS (FMCG) DI BANDAR LAMPUNG

    No full text
    Achieving long-term goals is the main focus of every company as a manifestationof a firm sustainability. Employees as the backbone of the company need positive behavior and a strong desire to achieve this long-term goal. This positive character with long-term assurance is called grit. The current problem is the high level of turnover of company employees which is one indicator of the lack of attachment of employees in achieving the company's long-term goals. Grit is predicted to be able to support the achievement of the company's long-term goals and empirically able to reduce turnover rates. The purpose of this study is to test empirically whether there are significant differences in grit behavior based on employee demographics in one of FMCG company in Bandar Lampung. This study uses a mixed method with a scale for quantitative data and open questions for qualitative data. The total subjects involved in this study were 115 employees. Data were analyzed using SPSS 24.0 program. The results showed that there were no significant differences in employee grit behavior in terms of age, sex, work period and education. The results of qualitative data analysis through data transformation found several possible main factors in working, such as good teamwork, assurance of occupational safety and health, adequate work facilities, a fair recognition system, a work environment that facilitates self-development, communication and good relations subordinate supervisors and consistent application of company regulations

    Self-Compassion, Grit dan Adiksi Internet pada Generasi Z

    Full text link
    Pemakaian internet tidak lagi menjadi suatu komoditas yang langka. Sebaliknya, yang tidak menggunakan internet akan jauh tertinggal dan tidak akan mampu beradaptasi dengan perubahan yang cepat. Disisi lain, penggunaan internet secara berlebihan akan menimbulkan masalah yang lebih besar seperti kecanduan. Generasi yang paling terdampak perkembangan teknologi informasi yang pesat adalah generasi Z. Generasi Z lahir tahun 1995-2009 sehingga masuk ke dalam kategori remaja awal sampai dengan akhir di tahun 2020. Adiksi terhadap internet dapat memberikan dampak negatif berupa masalah psikologis maupun sosial pada diri remaja. Contoh masalah tersebut antara lain rasa kesepian, depresi hingga penurunan prestasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh self-compassion dan grit terhadap adiksi internet pada generasi Z. Metode penelitian kuantitatif dengan skala jenis likert akan digunakan. Subjek penelitian melibatkan 318 individu yang termasuk dalam usia generasi Z dengan teknik purposive sampling. Hasil akhir menunjukan bahwa self-compassion dan grit berpengaruh secara signifikan (p<0.01) terhadap adiksi internet generasi Z sebesar 20.8%. Secara terpisah, grit berpengaruh terhadap adiksi internet sebesar 17% sedangkan self-compassion berpengaruh terhadap adiksi internet sebesar 18%. Penjelasan mengenai dinamika hubungan diantara ketiga variabel dijelaskan dalam pembahasan

    PENGARUH POLA ASUH PERMISIF TERHADAP INTERAKSI SOSIAL YANG DIMODERASI OLEH SELF-DISCLOSURE PADA GENERASI Z

    Full text link
    Teknologi berpotensi menimbulkan efek sosial yang negative pada remaja, seperti kebutuhan akan pengakuan yang semakin tinggi, menurunnya kualitas interaksi langsung dengan sekitar hingga potensi resiko mengalami depresi. Dengan perkembangan teknologi yang semakin luas, teknologi akan membuka peluang bagi remaja untuk mengungkapkan diri melalui berbagai media. Alasan untuk berbagi informasi diri lebih banyak bertujuan sebagai bentuk ekspresi diri secara bebas daripada untuk memperoleh informasi atau sebagai kontrol sosial. Secara normal, remaja masih dipengaruhi oleh hubungan keluarga melaui pola asuh orang tua terkait dengan akses remaja terhadap teknologi. Tujuan dari penelitian ini untuk meneliti pengaruh pola asuh permisif terhadap interaksi sosial yang dimoderasi oleh self-disclosure. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif purposive sampling dengan analisis data korelasi Pearson dan analisis regresi. Metode pengumpulan data dengan menggunakan tiga skala yaitu skala pola asuh permisif, skala interaksi sosial dan skala self-disclosure dengan melibatkan 153 subjek. Hasil empiris menunjukan bahwa pola asuh permisif memberikan sumbangan efektif terhadap interaksi sosial yang dimoderasi oleh self-disclosure sebesar 57.7% (p0.001). Ketika self-disclosure dikeluarkan dari analisis, terjadi penurunan sumbangan efektif menjadi 56% (p0.001). Self-disclosure secara langsung berkontribusi sebesar 21 (p0.001) terhadap interaksi sosial. Pola asuh permisif dan self-discloure memiliki hubungan negatif yang signifikan terhadap interaksi sosial sebesar -0.752 dan -0.470 (p0.001), sedangkan pola asuh permisif memiliki hubungan positif yang signifikan terhadap self-disclosure sebesar 0.462 (p0.001). Dinamika hubungan antar variabel telah didiskusikan lebih lanjut. Kata kunci: Pola Asuh Permisif, Self-Disclosure, Interaksi Sosial, Generasi

    DELINKUENSI PENYALAHGUNA NARKOBA PADA ANAK DIBAWAH UMUR

    Full text link
    Angka penyalahguna narkoba di Bandar Lampung mengalami peningkatan di empat tahun terakhir (2014-2018) sebesar 42,2%. Kondisi tersebut menempatkan Lampung berada di peringkat ke-10 pada 2014, dan terakhir tahun 2018 menjadi peringkat delapan nasional. Hasil tangkapan Badan Narkotika (BNN), selama Maret 2018 ini, Indonesia merupakan salah satu negara target pengedar narkoba dan Indonesia masuk ke situasi darurat narkoba dengan korban akibat narkoba yang mencapai 3,7 juta orang yang terdiri dari laki-laki sebesar 72,36% dan perempuan 27,64% diantaranya 16,99% rumah tangga, 59,29% pekerja, dan 23,72% pelajar (BNN, 2018). Hal ini menunjukan anak di bawah umur memiliki porsi yang cukup besar baik bagi penyalahgunaan narkoba. Secara lebih spesifik, data Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Bandar Lampung di tahun 2018 menangani 161 kasus dan kasus terbanyak yaitu narkoba sebesar 71 anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kualitatif dengan menggunakan penelitian studi kasus perilaku delikuensi penyalahguna narkoba anak di LPKA Bandar Lampung. Subjek adalah salah satu anak yang sedang menjalani pembinaan karena kasus narkoba di LPKA Bandar Lampung. Hasil triangulasi data penelitian menunjukan bahwa perilaku delikuensi penyalahguna narkoba pada anak disebabkan tiga faktor utama, yaitu keluarga, pendidikan dan pengaruh lingkungan.Â

    Young, Brave and Selfless: Grit Characters' in Ta'awun Behavior of Young Muhammadiyah Volunteers

    Full text link
    This research purpose is to empirically analyze how grit is connected with ta’awun behavior. This research used the grounded theory approach. Data collection methods through in-depth interviews, observation, and focus group discussions. Data integration utilized the triangulation method through three main stages, consist of open, axial, and selective coding. Respondents consisted of four young volunteers with specific criteria such as act as active volunteers at Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC), students of Muhammadiyah Lampung University, and had practical experience in the disaster area. The results showed that there were five main themes in the behavior of Muhammadiyah's young volunteer ta'awun: (1) attention to others; (2) helping others; (3) considerate others; (4) positive achievement; dan (5) positive consequences. Grit character in the behavior of young Muhammadiyah volunteers involves as a rover to success system in aligning young volunteers to give added value to the utmost usefulness in the process of assisting survivors. Further explanation in understanding its various connection was discussedKata Kunci: young volunteer; muhammadiyah; ta’awun; gri

    Self-Compassion, Grit dan Adiksi Internet pada Generasi Z

    Full text link
    Pemakaian internet tidak lagi menjadi suatu komoditas yang langka. Sebaliknya, yang tidak menggunakan internet akan jauh tertinggal dan tidak akan mampu beradaptasi dengan perubahan yang cepat. Disisi lain, penggunaan internet secara berlebihan akan menimbulkan masalah yang lebih besar seperti kecanduan. Generasi yang paling terdampak perkembangan teknologi informasi yang pesat adalah generasi Z. Generasi Z lahir tahun 1995-2009 sehingga masuk ke dalam kategori remaja awal sampai dengan akhir di tahun 2020. Adiksi terhadap internet dapat memberikan dampak negatif berupa masalah psikologis maupun sosial pada diri remaja. Contoh masalah tersebut antara lain rasa kesepian, depresi hingga penurunan prestasi belajar. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh self-compassion dan grit terhadap adiksi internet pada generasi Z. Metode penelitian kuantitatif dengan skala jenis likert akan digunakan. Subjek penelitian melibatkan 318 individu yang termasuk dalam usia generasi Z dengan teknik purposive sampling. Hasil akhir menunjukan bahwa self-compassion dan grit berpengaruh secara signifikan (p<0.01) terhadap adiksi internet generasi Z sebesar 20.8%. Secara terpisah, grit berpengaruh terhadap adiksi internet sebesar 17% sedangkan self-compassion berpengaruh terhadap adiksi internet sebesar 18%. Penjelasan mengenai dinamika hubungan diantara ketiga variabel dijelaskan dalam pembahasan

    PENGARUH GRIT DAN GENDER DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR MAHASISWA

    Full text link
    Rapid development of technology and challenges in upcoming industrial revolution 4.0 require students to equip themselves with relevant competencies. The success of students as prospective workers will depend on this. Initial stage for students is to have clarity on the direction of career preparation. Adequate career preparation, including the accuracy of career decision making is synchronized between their potential versus what is desired (Sharf, 2002). Internal factorof students’ success in choosing a future career is by having strong characters. Character with perseverance and great desire to achieve long-term goals in a long time is known as grit ((Duckworth, Peterson, Matthews Kelly, 2007). This study aims to identify the influence of grit and gender on career decision making among Psychology faculty’s students in UniversitasMuhammadiyah Lampung. The research involved 83 students from 4 classes and using quantitative research method using a scale as a data collection tool. Results of empirical research prove that grit and gender are proven to significantly influence students' career decision making. Grit correlate to career decision making with pearson-correlation score 0.519 (p 0.001) and gender correlate to career decision making with pearson-correlation score 0.277 (p 0.005). Simultaneously,  grit and gender make 28% (p0.000) effective contribution to student’s career decision making. Further research is expected to be able to examine the interventions that can be done to improve the ability of taking career decisions for students.
    corecore