46 research outputs found

    Struktur Anatomi Wajah terhadap Gigi Kaninus Maksila

    No full text
    Posisi gigi kaninus sangat penting dalam susunan gigi tiruan karena memberikan dukungan jaringan pada sudut mulut dan posisinya sebagai titik lengkung gigi. Lebar ujung intercanine (ICTW) perlu diperhatikan secara lengkap dalam hal estetika gigi tiruan karena dari gigi kaninus dapat memberikan informasi berharga untuk memilih ukuran gigi anterior atas. Evaluasi struktur anatomi wajah seperti lebar distal permukaan kaninus (WDC), terkait dengan landmark wajah termasuk lebar interalar (IAW), lebar intercommissural(ICoW), dan jarak antara garis proyeksi kiri dan kanan diambil dari dalam canthus mata pada alae hidung (DPICa) juga memiliki keterkaitan terhadap gigi caninus sebagai pertimbangan tenaga kesehatan dalam membuat gigi tiruan

    Perubahan Anatomi Bola Mata pada Penderita Diabetes Mellitus

    No full text
    Diabetes Melitus (DM) adalah gangguan metabolisme, baik secara genetis maupun klinis, bermanifestasi dengan hilangnya tolerensi karbohidrat. Diabetes melitus ditandai dengan hiperglikemia puasa dan postprandial, aterosklerotik dan penyakit vaskular mikroangiopati, dan neuropati . Mikroangiopati merupakan komplikasi vaskular jangka panjang yang sering ditemukan. Defek pada pembuluh-pembuluh darah kecil ini dapat menyebabkan kerusakan pada banyak jaringan terutama pada mata. Salah satu jaringan yang sering mengalami kerusakan adalah retina. Kerusakan pada retina akibat mikroangiopati diabetes dinamakan retinopati diabetes. Retinopati diabetes dapat didefinisikan sebagai adanya lesi mikrovaskular pada retina pasien dengan diabetes. Kerusakan retina pada retinopati diabetes menyebabkan menurunnya fungsi makula. Makula atau macula lutea merupakan proporsi posterior retina yang kaya akan pigmen xantofil dan sel-sel fotoreseptor, khususnya sel kerucu

    UPAYA PENCEGAHAN KANKER SERVIKS MELALUI PENINGKATAN PENGETAHUAN KESEHATAN REPRODUKSI WANITA DAN PEMERIKSAAN METODE IVA (INSPEKSI VISUAL ASAM ASETAT) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KENTEN PALEMBANG

    No full text
    Kanker leher rahim atau disebut juga kanker serviks adalah sejenis kanker yang 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik, yang menyerang leher rahim. Kelompok berisiko untuk terjadinya kanker serviks adalah wanita di atas usia 30 tahun yang memiliki banyak anak dan dengan perilaku menjaga kesehatan reproduksi yang masih kurang. Kebiasaan gonta ganti pasangan seksual merupakan salah satu faktor utama penularan virus HPv penyebab kanker serviks ini terjadi. Di Indonesia hanya 5 persen yang melakukan penapisan kanker leher rahim, sehingga 76,6 persen pasien ketika terdeteksi sudah memasuki Stadium Lanjut (IIIB ke atas), karena kanker leher rahim biasanya tanpa gejala apapun pada stadium awalnya. Penapisan dapat dilakukan dengan melakukan tes Pap smear dan juga Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA). Di negara berkembang, penggunaan secara luas program pengamatan leher rahim mengurangi insiden kanker leher rahim yang invasif sebesar 50% atau lebih. Pada kegiatan ini akan dilakukan penyuluhan kepada kelompok berisiko tentang kesehatan organ reproduksi wanita. Isi dari penyuluhan memuat pengetahuan mengenai pengertian kanker serviks, gejala, faktor risiko dan juga cara pencegahannya. Setelah dilakukan penyuluhan akan disaring peserta penyuluhan yang bersedia untuk diikutkan dalam pemeriksaan skrining kanker serviks melalui metode IVA (Inspeksi Visual Asam asetat) pada hari berikutnya. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk memastikan bahwa tidak ditemukannya kelainan pada serviks dan jika memang ditemukan adanya kelainan pada serviks (dengan berbagai stadium) dapat disarankan tindakan pencegahan lebih lanjut agar tidak berkembang menjadi kanker. Jika ditemukan pasien yang positif menderita kanker serviks juga akan diberikan saran agar segera memeriksaan diri ke rumahsakit untuk dilakukan penatalaksanaan segera

    Identifikasi Individu dan Jenis Kelamin Berdasarkan Pola Sidik Bibir

    No full text
    Salah satu aplikasi kedokteran forensik adalah mengidentifikasi individu dan jenis kelamin. Pengidentifikasian seseorang dapat dilakukan melalui cara biologis dan non biologis. Sidik bibir adalah salah satu sarana identifikasi biologis pada kasus forensik seperti pada pemecahan kasus pembunuhan, sedangkan pada kasus nonforensik digunakan untuk mengidentifikasi usia, jenis kelamin dan ras. Setiap manusia memiliki alur atau pola khas pada gambaran sulci pada mukosa bibir atas dan bawah yang berbeda-beda sama halnya seperti sidik jari. Hal inilah yang mendasari penggunaan sidik bibir sebagai salah satu cara untuk mengidentifikasi individu

    Prinsip Penatalaksanaan Dislokasi Sendi Temporomandibular

    No full text
    Mekanisme dislokasi sendi temporomandibular bervariasi tergantung pada jenis dislokasi seperti dislokasi akut, kronis menahun, dan rekuren kronis. Mekanisme tersebut sangat berhubungan dengan struktur dan fungsi sendi temporomandibular yaitu sebagai sistem pengunyahan yang dinamis. Pemahaman yang komprehensif terhadap proses patologi penting untuk penatalaksanaan semua jenis pergeseran kondilus mandibularis dari posisi normalnya pada fossa glenoid. Perawatan yang lebih kompleks dan invasif mungkin tidak serta merta menjadi pilihan dan memberikan hasil yang terbaik. Oleh karena itu pendekatan konservatif harus dimaksimalkan dan dimanfaatkan dengan tepat sebelum dilakukan teknik bedah yang lebih invasif

    Nyeri Pinggang dan Faktor-Faktor Risiko Yang Mempengaruhinya

    No full text
    Tujuan: Keluhan nyeri punggung bawah atau pinggang (low back pain-LBP) masih tetap menjadi keluhan yang banyak dijumpai pada setiap orang. Keluhan ini juga banyak dijumpai di kalangan pekerja dari berbagai jenis pekerjaan. Akibat rasa nyerinya, pekerja terpaksa beristirahat dan mencari penyembuhan sehingga banyak kehilangan waktu kerja, menghabiskan banyak biaya untuk pengobatan, dan menurunkan produktivitas. Pada pekerja, ada beberapa faktor risiko utama yang diduga berperan dalam terjadinya LBP yaitu stres fisik, stres psikososial, karakter pribadi, dan karakter fisik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji nyeri pinggang, faktor-faktor risiko dan hubungan antara nyeri pinggang dengan faktor-faktor risiko tersebut.   Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah case control study. Populasi adalah pria atau wanita usia produktif. Sampel pada kelompok kasus ditentukan ahli penyakit dalam.   Hasil: Pada penelitian ini telah dilakukan pengukuran tinggi badan, berat badan, indeks massa tubuh, pemeriksaan radiologi rontgen foto lumbal antero-posterior dan lateral serta ditanyakan juga riwayat merokok, posisi kerja, dan beban pekerjaan. Tiap variabel dihubungkan dengan kejadian LBP dengan menggunakan uji hipotesis Chi-Square Test. Merokok dan IMT memiliki hubungan bermakna dengan terjadinya LBP (p0,05).   Simpulan: Tingkat risiko terbesar untuk terjadinya LBP diantara keempat variabel yang diteliti adalah merokok dengan nilai OR 2,813. Pada penelitian penentuan posisi kerja dan beban pekerjaan ditentukan atas dasar wawancara antara petugas dan responden sehingga masih menimbulkan bias.   Kata Kunci: Nyeri pinggang, merokok, posisi kerja, beban kerja, indeks massa tubu

    GAMBARAN RADIOLOGIS CALCANEUS PADA PENGAYUH BECAK

    No full text
    Tujuan: Penggunaan otot rangka yang berlebihan pada pengayuh becak dapat menyebabkan gangguan pada  tendon Achilles yang menerima tekanan yang cukup besar dalam waktu yang cukup lama sehingga dapat menyebabkan perubahan pada kartilago pada tualng calcaneus di kaki.   Metode : Penelitian yang dilakukan merupakan observasional dengan pendekatan potong lintang (cross sectional) pada pengayuh becak di Kotamadya Palembang.  Subjek penelitian adalah tiga puluh orang  pengayuh becak yang telah menjalani profesinya lebih dari lima  tahun. Pemeriksaan radiologis  dilakukan di BBLK Palembang.    Hasil : Pengayuh becak dengan gambaran calcaneus spur sebanyak 19 orang (63,3%). Pengayuh becak yang mengalami calcaneus spur yang mengalami nyeri kaki sebanyak 11 orang (73,3%) dari 15 responden sedangkan responden yang tidak mengalami nyeri kaki sebanyak 8 orang (53,3%) dari 15 responden. Hasil uji statistik dengan menggunakan chi square didapatkan p value = 0,449.   Simpulan : Sebagian besar pengayuh becak memiliki gambaran calcaneus spur. Namun tidak ada hubungan antara nyeri kaki  dengan calcaneus spur.  Kata kunci : calcaneus, pengayuh beca

    DESKRIPSI DATA KARAKTERISTIK PEKERJA MANUAL HANDLING (KULI PANGGUL) DI PASAR 16 ILIR PALEMBANG CHARACTERISTIC DESCRIPTION OF MANUAL HANDLING WORKERS (PORTERS) IN PASAR 16 ILIR PALEMBANG

    No full text
    Salah satu contoh pekerjaan yang melibatkan tenaga manusia terutama dalam pekerjaan yang berhubungan dengan pengangkatan beban-beban berat adalah pekerjaan manual handling, Pekerjaan manual handling ini menjadi salah satu pekerjaan yang berisiko menimbulkan cidera dan masalah kesehatan lainnya bagi para pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui deskripsi data karakteristik pekerja manual handling (kuli panggul) di pasar 16 ilir Palembang. Metode penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif meliputi usia, IMT, lama bekerja, jenis beban, riwayat merokok. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 60 responden dan dipilih berdasarkan kriteria inklusi. Rerata usia responden pekerja manual handling (kuli panggul) pada penelitian ini adalah sebesar 41,4 tahun, rerata IMT sebesar 21, 8, rerata lama bekerja adalah sebesar 7,6 jam, rata-rata masa kerja sebesar 17,8 tahun. Adapun rerata karakteristik lama istirahat sebesar 1 jam. Pada karakteristik beban angkut diketahui bahwa rerata beban angkut para pekerja ini adalah sebesar 92,9 kg dan pada karakteristik lama merokok diketahui rerata sebesar 8,6 tahun. Deskripsi karakteristik responden dalam penelitian ini merupakan uraian atau deskripsi faktor-faktor yang secara teoritis dapat menyebabkan keluhan nyeri punggung pada pekerja kuli panggul.Kata Kunci: pekerja manual handling, kuli panggul, nyeri punggung, tenaga manusia, beban ang

    Prevalensi Penderita Leprosy Berdasarkan Pemeriksaan Histopatologi di Bagian Patologi Anatomi RSUP DR. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2009-2013

    No full text
    Leprosy (kusta atau Morbus Hansen) merupakan suatu infeksi granulomatosa kronis oleh M. leprae yang menyerang saraf tepi, kulit, mukosa mulut, dan saluran nafas bagian atas. Penyakit ini menular dan menyebar di seluruh dunia terutama negara berkembang seperti Indonesia. Walaupun tidak menimbulkan kematian, leprosy dapat menimbulkan ulserasi, mutilasi, dan deformitas. Pemeriksaan histopatologi perlu dilakukan untuk menunjang diagnosis secara akurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi penderita leprosy yang diperiksa secara histopatologi di RSMH Palembang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan rancangan cross sectional. Dari 29.175 kasus diperoleh 35 kasus yang terdiagnosis leprosy dan memenuhi kriteria inklusi. Prevalensi penderita leprosy di Bagian Patologi Anatomi RSMH Palembang tahun 2009-2013 adalah 1,19/1000 sampel dan mayoritas pasien berusia 32-41 tahun (34,3%). Mayoritas (80%) penderita leprosy adalah laki-laki. Pada pemeriksaan histopatologi leprosy dijumpai tipe I (2,9%), TT (20%), BT (20%), BB (8,6%), BL (31,4%), dan LL (17,1%). Penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi leprosy di Bagian Patologi Anatomi RSMH tahun 2009-2013. Prevalensi, demografi, dan karakteristik histopatologi leprosy pada penelitian ini mungkin dapat menyediakan gambaran secara umum mengenai kondisi kasus leprosy yang diperiksa secara histopatologi di Sumatera Selatan khususnya Palembang.

    Pola Sidik Bibir pada Suku Palembang Berdasarkan Jenis Kelamin

    No full text
    Sumatera Selatan yang merupakan bagian dari Indonesia dikenal dengan keanekaragaman individu dengan ciri khas masing-masing yang unik pada setiap sukunya, diantaranya suku Palembang. Ciri khas tersebut salah satunya dapat dilihat dari pola sidik bibir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perbedaan pola sidik bibir antara laki-laki dan perempuan pada suku Palembang. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional deskriptif potong lintang. Sebanyak 140 subjek penelitian yang berasal dari suku Palembang diwilayah kota Palembang diambil pola sidik bibirnya. Pengambilan dilakukakan dengan penggunaan pewarna bibir yang selanjutnya ditempelkan pada selotip transparan. Sidik bibir yang dianalisis pada bagian pertengahan bibir bawah dengan lebar 10 mm menggunakan klasifikasi Suzuki dan Tsuchihashi. Pola yang dianalisis berupa pola berpotongan, pola retikuler, garis vertikal, garis bercabang, dan bentuk lainnya. Pola sidik bibir tipe IV (23,6%) merupakan pola sidik bibir yang paling banyak muncul pada laki-laki dan tipe I’ (24,3%) paling banyak muncul pada perempuan. Pola tipe I (11,4%) paling sedikit ditemuakan pada perempuan dan pola tipe V (7,9%) paling jarang ditemukan pada laki-laki. Pola tipe vertikal sebagian lebih banyak ditemukan pada perempuan dan pola tipe retikuler lebih banyak ditemukan pada laki-laki
    corecore