187,778 research outputs found
PERBANDINGAN RENTANG GERAK SENDI ANTARA SISI PANGGUL HEMIARTROPLASTI DENGAN KONTRALATERAL SEHAT PASCA OPERATIF DI JEMBER
Penanganan atau tindakan yang paling tepat untuk fraktur leher femur
terutama pada orang tua adalah hemiartroplasti. Metode ini sering dipilih karena
tindakan operasinya relatif singkat, mobilisasi pasien yang cepat, menurunkan
tingkat komplikasi, dan morbiditas. Menurut studi epidemologi singkat yang
dilakukan peneliti tingkat kejadian penanganan hemiatroplasti di Kabupaten
Jember cukup banyak. Akibat outcome yang ditimbulkan buruk menyebabkan
terganggunya ROM pasien yang dapat mengakibatkan penurunan mobilitas pada
pasien. Menurut penelitian yang dilakuan oleh Shekhar.A et. al. (2013)
menjelaskan bahwa perbedaan penanganan Austin moore hemiartroplasti pada
pasien fraktur leher femur tidak menunjukkan perbedaan hasil yang pasti hanya
outcome yang diperoleh berbeda berdasarkan waktu preoperatif, sedangkan hasil
Haris Hip Score yang dilakukan di Amerika menilai dari questioner dan range
of motion menunjukkan nilai 85-90 yang berarti membuktikan penyembuhan
fraktur hampir sempurna. Hasil yang mempengaruhi nilai tersebut adalah faktor
resiko seperti usia, rehabilitasi dan kepatuhan. Maka dari itu dilaksanakannya
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rentang gerak sendi antara
sisi panggul hemiartroplasti dengan kontralateral sehat pasca operatif di Jember.
Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan
cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah dengan cara total
sampling yaitu peneliti menggunakan populasi menjadi sampel. Sampel dalam
penelitian ini adalah pasien pasca operatif hemiartroplasti dalam data rekam
medis RSD dr Soebandi dan RS Bina Sehat Jember periode Januari 2014 - 2017.
Didapatkan sampel penelitian sebanyak 53 pasien hemiatroplasti dengan 30
pasien termasuk dalam kriteria inklusi yaitu pasien yang minimal pasca operatif
1 bulan dan 23 pasien masuk dalam kriteria eksklusi yaitu alamat tidak
ditemukan, pasien mengalami multiple fraktur, serta penyulit yang bukan akibat
dari tindakan operatif. Dari sampel tersebut akan diukur pergerakan sendi
panggul atau ROM kaki sehat dan kaki hemiartroplasti yang kemudian akan di
analisis menggunakan program analisis data SPSS 20. Pengukuran gerakan sendi
dilakukan dengan alat goniometri dan gerakan sendi yang akan diukur yaitu
fleksi, ekstensi, rotasi intera, rotasi ekstera, abduksi, dan adduksi. Analisis data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji komparasi statistik T-Test.
Berdasarkan analisis data yang dilakukan peneliti dengan melihat
perbedaan rentang gerak sendi kaki pasien antara sisi sehat dengan sisi artroplasti
menunjukkan hasil bahwa sebagian besar sendi memiliki p < 0.05 dengan HO
ditolak dan Ha diterima yang berarti perbedaan rentang gerak sendi antara sisi
panggul hemiartroplasti dengan kontralateral sehat pasca operatif di Jember
tidak berbeda secara bermakna pada sendi ekstensi, rotasi eksterna, rotasi
interna, dan abduksi dan degan kesembuhan yang baik.
Tingkat kesembuhan dari hasil yang didapat oleh peneliti menunjukkan
hasil yang bagus dan gerakan sendi yang memiliki peran paling besar yaitu
gerakan fleksi dengan rata - rata sebesar 102,47o dengan tingkat kesembuhan
91.6% yang dapat dikatakan sangat baik. Di susul dengan rata - rata gerakan
adduksi sebesar 23,07° yang memiliki persentasi kesembuhan yang baik dengan
hasil 86.3%. Gerakan sendi rotasi eksterna didapatkan rata – rata sebesar 31,10°
yang bermakna kesembuhan yang baik. Gerakan sendi abduksi didapatkan rata
– rata sebesar 34,27° yang bermakna kesembuhan yang baik. Gerakan sendi
rotasi interna didapatkan rata – rata sebesar 21,30° yang bermakna kesembuhan
yang cukup baik. Sedangkan gerakan sendi ekstensi didapatkan rata – rata
sebesar 13,50° yang bermakna kesembuhan yang cukup baik.
Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan didapatkan tindakan
operatif hemiartroplasti di Jember menunjukkan hasil yang baik. Rentang gerak
sendi antara sisi panggul hemiartroplasti dengan kontralateral sehat pasca
operatif di Jember tidak terdapat perbedaan yang bermakna. Pergerakan sendi
panggul pasien hemiartroplasti pada gerakan fleksi dan adduksi menunjukkan
nilai ROM yang lebih baik dari pada pergerakan sendi panggul lain seperti
ekstensi, rotasi interna, rotasi eksterna dan abduksi
PENGARUH TERAPI KAYU MANIS TERHADAP NYERI SENDI PADA LANSIA
Proses menua secara linier melalui tiga tahap, yaitu kelemahan, keterbatasan
ketidakmampuan yang dialami bersamaan dengan proses kemunduran. Semua
sistem dalam tubuh lansia mengalami kemunduran, termasuk pada sistem
muskuluskeletal. Lansia sering mengalami rematik, nyeri sendi, penyakit gout dan
lumbago. Dampak dari nyeri sendi tersebut dapat menimbulkan ketidaknyamanan
sendi. Selain itu, juga mengakibatkan penurunan kemampuan mempertahankan
keseimbangan tubuh, hambatan dalam berjalan, mengganggu aktivitas sehari–hari
dan resiko jatuh. Kayu manis telah digunakan sebagai alternatif pengobatan non
farmakologis dan komplementer terhadap penyakit nyeri sendi pada lansia.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi kayu manis
terhadap nyeri sendi.
Desain penelitian menggunakan Pra Experiment dengan pendekatan One Group
Pra-Post Design. Populasi adalah seluruh penderita yang mengalami nyeri Sendi
di Panti Asuhan Darul Ulum Jombang sejumlah 25 responden. Sampel terdiri dari
23 responden yang diambil menggunakan consecutive sampling. Variabel
penelitian terdiri dari variabel independen yaitu terapi kayu manis, dan variabel
dependen yaitu nyeri sendi. Alat ukur menggunakan obsevasi, data di analisis
menggunakan uji statistik Paired T- Test dengan tingkat kemaknaan α = 0,05.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh terapi kayu manis terhadap
tingkat penurunan nyeri sendi dengan nilai p = 0,000 yang berarti lebih kecil dari
0,05 (p < α), oleh karena itu intervensi terapi kayu manis terhadap nyeri sendi
pada lansia dapat direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan
komplementer untuk menurunkan atau menghilangkan nyeri sendi pada lansia.
Bahwa terapi kayu manis dapat mempengaruhi nyeri sendi. Tenaga kesehatan
dapat melakukan langkah – langkah terapi kayu manis untuk mengatasi nyeri
sendi.
Kata kunci : Terapi kayu manis, nyeri send
PELATIHAN HUMOR UNTUK PENANGANAN DEPRESI PENDERITA NYERI SENDI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelatihan humor
terhadap penanganan depresi pada penderita nyeri sendi. Metode yang digunakan
adalah metode eksperimen. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen
pre-test post-test control group design. Teknik pengumpulan data dengan
menggunakan skala Beck Depression Inventory (BDI).
Subjek penelitian ini adalah penderita nyeri sendi, usia 40-60 tahun,
mengalami derpresi, berjumlah 24 orang yang dirandom dalam kelompok
eksperimen dan kelompok control. Penelitian dilakukan dalam lima sesi dengan
durasi masing-masing 30 menit selama tiga hari.
Berdasarkan hasil analisa uji beda Wilcoxon menunjukkan bahwa setelah
mendapatkan perlakuan, kelompok eksperimen mengalami perubahan penurunan
tingkat depresi yang signifikan dengan nilai sebesar 0,003 dengan taraf
signifikansi p<0,050. Sedangkan setelah satu minggu dilakukan amatan ulang
skor BDI penderita nyeri sendi mengalami penurunan tingkat depresi yang
signifikan dengan nilai sebesar 0.016 dengan p<0.050. Hasil ini menunjukkan
adanya penurunan yang signifikan terhadap tingkat depresi antara sebelum
pelatihan dengan sesudah pelatihan. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan
bahwa pelatihan humor efektif menurunkan depresi pada penderita nyeri sendi.
Berdasarkan hasil uji beda Wilcoxon diketahui bahwa skor BDI penderita nyeri
sendi pada kelompok kontrol saat post test tidak mengalami penurunan tingkat
depresi yang signifikan dengan nilai sebesar 0.138 dengan p>0.050. Berdasarkan
hasil uji Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan skor post test yang
signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dengan nilai 0.017
dengan p<0.050. berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa
Pelatihan Humor dapat menurunkan depresi penderita nyeri sendi dengan
signifikan
HUBUNGAN AKTIVITAS LANSIA DENGAN NYERI SENDI DI PANTI WERDHA MOJOKERTO
Aktivitas fisik adalah pergerakan anggota tubuh yang menyebabkan
pengeluaran tenaga yang sangat penting bagi pemeliharaan bagi kesehatan fisik
dan mental. Nyeri sendi adalah peradangan pada satu atau lebih dari sendi-sendi
tubuh. Yang disertai dengan gejala nyeri, kaku, bengkak pada sendi, pembentukan
tulang yang berubah atau berkurangnya lingkup gerak sehingga anggota tubuh
tertentu.tujian penelitian ini untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik lansia
dengan nyeri sendi.
Desain penelitian yang digunkan adalah Korelasional dengan
menggunakan pendekatan Cross Sectional.Populasi Semua lansia yang tidak
mengkonsumsi obat anti nyri dan tidak mempunyai kekurang untuk melalukan
akivitas fisik di Panti Wardha Mojokerto sejumlah 39 orang lansia. Besar sempel
sebanyak 25 responden Penelitian ini mengunakan menggunakan Nonprobalitiy
sampling dengan teknik purposive sampling.Intrumen penelitian ini
menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan pearson.
Dari hasil uji korelasi statistik rank spearman tingkat kemaknaan p =0,002
< α (α=0,05). Hal ini menunjukkan HO ditolak yang berarti terdapata hubungan
yang sangat kuat antara aktivitas fisik lansia dengan nyeri sendi pada lansia dan
nialai r = -0,593 memiliki hubungan keeratan korelasi sedang dengan arah
hubungan positif aritinya aktivitas lansia menurangi nyeri sendi..
Hasil ini menunjukkan bahwa semakain lansia melakukan aktivitas fisik
maka resiko nyeri sendi semakin besar . lansia yang sudah mengalami nyeri sendi
akan bertambah nyeri bila beraktivitas dikarnakan terjadinya gesekan antar tulang.
Kata kunci: Aktivitas Fisik, Nyeri, lansi
EFEKTIFITAS LATIHAN RANGE OF MOTION (ROM) AKTIF TERHADAP PENINGKATAN RENTANG GERAK SENDI DAN KEKUATAN OTOT KAKI PADA LANSIA DI DESA KORENG KECAMATAN TARERAN
Pada lansia, sistem muskuloskeletal termasuk didalam persendian dan otot mengalami perubahan. Pada sendi lansia terjadi perubahan pada jaringan ikat sekitar sendi seperti tendon, ligamen, dan fasia yang mengalami penurunan elastisitas. Kartilago dan jaringan periatikular juga mengalami penurunan daya lentur dan elastisitas. Terjadi degenerasi, erosi dan klasifikasi pada kartilago dan kapsul sendi. Sendi kehilangan fleksibilitasnya sehingga terjadi penurunan luas gerak sendi. Upaya menjaga dan memperbaiki kenormalan pergerakan persendian, tonus otot dan mengurangi masalah fleksibilitas pada lansia adalah dengan Latihan rentang gerak atau Range of Motion (ROM). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas latihan Range of Motion (ROM) aktif terhadap peningkatan rentang gerak sendi dan kekuatan otot kaki pada lansia di Desa Koreng Kec Tareran. Penelitian ini menggunakan desain Pre eksperimental dengan metode pre dan post eksperimen (One grup pre test & post test). Sampel yang di ambil dari populasi sebanyak 42 orang yang diambil dengan metode purposive sampling. Data dianalisa dengan menggunakan uji T berpasangan. Hasil penelitian diperoleh lewat observasi awal dan akhir luas rentang gerak sendi dan kekuatan otot kaki. Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh p value= 0,000 untuk lutut, p value=0,000 untuk ankle dengan gerakan plantar fleksi, p value= 0,000 untuk ankle dengan gerakan dorso fleksi, dan p value= 0,000 untuk kekuatan otot kaki. Dengan demikian disimpulkan bahwa ada pengaruh signifikan latihan ROM aktif terhadap peningkatan rentang gerak sendi dan kekuatan otot kaki pada lansia di Desa Koreng Kecamatan Tareran. Melalui penelitian ini, peneliti mengharapkan agar Pengurus kelompok lansia di Desa Koreng Kecamatan Tareran dapat memprogramkan latihan ROM aktif bersama secara rutin ataupun kegiatan-kegiatan yang bisa mempertahankan kesehatan lansia agar kesehatan lansia tetap dipertahankan dalam keadaan baik khususnya pada sistem muskuloskeletal.
Kata Kunci : Lanjut Usia, Range Of Motion (ROM) aktif, Rentang Gerak Sendi, Kekuatan otot kaki.
Kepustakaan : 10 Buku (2007-2014) dan 6 Jurnal kesehatan
Pengaruh Latihan Gerak Sendi Lutut Terhadap Nyeri Sendi Lutut Pada Lansia Yang Mengalami Osteoathritis Di Wilayah Kerja Puskesmas Pengasih 1 Kulon Progo Yogyakarta
Latar Belakang: Osteoarthritis merupakan penyakit sendi yang paling banyak
ditemukan di dunia, termasuk di Indonesia. Penyakit ini menyebabkan nyeri dan
disabilitas pada penderita yang dapat mengganggu aktifitas sehari-hari,menghambat
tugas-tugas fungsional. Maka dalam rangka meningkatk an aktivitas fungsional
tindakan keperawatan adalah latihan gerak sendi lutut.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan gerak sendi
lutut terhadap nyeri sendi lutut pada lansia yang mengalami osteoatritis.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode Quasi Eksperimental: Time
Series Design. dengan pre and post test design. Sebanyak 44 sampel, tehnik
pengambilan sampel non probability sampling sedangkan penetuan kelompok
intervensi menggunakan perposive sampling Latihan dilakukan selama 6 hari pretes
di lakukan pada hari ke 2 dan posttes di lakukan ada hari terakhir yaitu hari ke 8,
dengan frekuensi latihan 2 kali sehari yaitu pagi dan malam hari selama 6 hari. Alat
ukur yang di gunakan menggunakan pedoman latihan gerak sendi lutut.
Hasil: Uji normalitas data menggunakan shafiro wilk dengan hasil 0,00 (p<0,05)
yang di mana hasilnya data tidak terdistribusi normal. uji hipotesis mengguakan
friedman test hasil 0,00 (p<0,05).
Simpulan: ada pengaruh latihan gerak sendi lutut terhadap penurunan nyeri sendi
lutut pada lansia yang mengalami osteoatritis.
Saran: Diharapkan responden dapat melakukan latihan gerak sendi terus menerus
ketika mengalami nyeri sendi untuk menurunkan skala nyeri
Hubungan obesitas dan aktivitas fisik dengan nyeri sendi lutut pada usia lanjut
LATAR BELAKANG
Nyeri sendi lutut merupakan keluhan fisik tersering pada usia lanjut. Menurut Hyung-Joon Jhun dkk tahun 2013, prevalensi nyeri sendi lutut sebesar 23,1%. Salah satu penyebab tersering nyeri sendi lutut pada usia lanjut adalah osteoartritis. Penyebab osteoartritis multifaktorial, antara lain obesitas dan aktivitas fisik sebagai yang dianggap paling penting dan terkait. Prevalensi obesitas di Indonesia menurut WHO tahun 2014 sebesar 5,7% dan menurut Riskesdas 2013, 26,1% menjalani hidup sedentari, terutama pada kelompok usia lebih dari 65 tahun. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mencari hubungan obesitas dan aktivitas fisik dengan nyeri sendi lutut pada usia lanjut.
METODE
Penelitian merupakan studi observasional analitik dengan desain potong lintang pada 139 usia lanjut 60-80 tahun di Panti Werdha “X” Jakarta Selatan. Kuesioner WOMAC digunakan untuk penilaian nyeri sendi lutut, kuesioner IPAQ untuk menilai aktivitas fisik serta timbangan dan meteran untuk penentuan indeks massa tubuh.
HASIL
Responden mengalami obesitas sebanyak 46,8%, melakukan aktivitas fisik ringan (35,3%), sedang (64,7%), mengalami nyeri sendi lutut ringan (42,4%), sedang (50,4%) dan berat (7,2%). Terdapat hubungan bermakna antara obesitas dan nyeri sendi lutut (p=0,000), dan hubungan tidak bermakna antara jenis kelamin (p=0,888), usia (p=0,079), dan aktivitas fisik (p=0,214) dengan nyeri sendi lutut.
KESIMPULAN
Obesitas berhubungan dengan nyeri sendi lutut. Usia, jenis kelamin, dan aktivitas fisik tidak berhubungan dengan nyeri sendi lutut
Pengaruh Latihan Fisik Gerak Sendi (Rom) Terhadap Penurunan Nyeri Sendi Pada Lansia (Middle Age) Penelitian Quasy-Experiment Di Desa Wajak Kabupaten Malang
Nyeri sendi merupakan masalah utama yang akan mempengaruhi aktivitas sehari-hari pada lansia. Salah satu cara untuk mengurangi nyeri sendi pada lansia adalah dengan melakukan latihan fisik gerak sendi (ROM). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh latihan fisik gerak sendi (ROM) terhadap penurunan nyeri sendi dengan menggunakan desain quasy experimental. Populasi penelitian ini adalah lansia yang berusia 45-59 yang tinggal di Desa Wajak Kabupaten Malang dengan sampel yang yang diambil menggunakan teknik purposive sampling berjumlah 10 orang kelompok perlakuan dan 10 orang kelompok kontrol yang telah memenuhi kriteria inklusi.
Variabel independen dalam penelitian ini adalah latihan fisik gerak sendi (ROM), dan variabel dependen adalah lansia dengan keluhan nyeri sendi. Sebelum latihan fisik dilakukan, di dahului dengan pemanasan selama 5 menit, kemudian dilanjutkan dengan latihan gerak sendi yang dilakukan secara berurutan dari ekstremitas atas sampai bawah 5-10 ulangan. Data diambil dengan menggunakan lembar observasi dan kuesioner, untuk mengetahui tingkat nyeri sendi dengan skala nyeri Bourbonais, analisa data menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test untuk menilai perbandingan antara pre perlakuan dan post perlakuan dan uji Mann Whitney test untuk menilai perbandingan keluhan nyeri sendi pada kelompok perlakuan dan kontrol pre perlakuan dan post perlakuan dengan nilai signifikansi p<0,05, dari 20 lansia, 9 orang pada kelompok perlakuan dan 3 orang pada kelompok kontrol mengalami penurunan nyeri sendi.
Hasil uji statistik Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan ada perbedaan yang signifikan setelah olahraga jalan kaki (p = 0,006),dan uji Mann Whitney test menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan dan kontrol (0,015) sehingga dapat disimpulkan bahwa latihan fisik gerak sendi (ROM) dapat menurunkan nyeri sendi pada lansia. Penelitian perlu dilakukan lebih lanjut dengan menggunakan lebih banyak responden dan waktu lebih lama sehingga hasil yang didapat lebih akurat
Hubungan Faktor Risiko Osteoartritis Dengan Derajat Manifestasi Klinis Osteoartritis Sendi Lutut Di Rumah Sakit Kota Samarinda
Osteoartritis (OA) adalah penyakit sendi non-inflamasi yang bersifat degeneratif kronis. Sebanyak ±528 juta orang di dunia menderita OA pada tahun 2019. Berbagai kombinasi faktor risiko dapat memengaruhi OA dan perkembangannya pada tiap individu. OA pada sendi besar, yaitu sendi lutut dan pinggul, menimbulkan disabilitas yang lebih buruk dan beban penyakit yang lebih signifikan. OA pada sendi lutut menyebabkan tahun hidup dengan disabilitas (YLDs) paling tinggi dibandingkan OA pada sendi lainnya. Tatalaksana yang diberikan pada tiap individu dengan OA berbeda-beda tergantung kepada faktor risiko, letak lesi, dan tingkat keparahannya. Tingginya prevalensi OA, beban penyakit dan heterogenitas OA sendi lutut menjadi dasar bagi peneliti untuk melakukan penelitian mengenai hubungan antara faktor risiko OA dengan derajat manifestasi klinis OA sendi lutut. Penelitian ini merupakan cross-sectional study observasional analitik menggunakan sampel data primer pasien OA sendi lutut di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda dan RS Dirgahayu Samarinda. Sebanyak 52 sampel diperoleh melalui total sampling. Data penelitian dianalisis menggunakan uji Pearson Chi-square. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara usia (p = 0,662), jenis kelamin (p = 0,738), obesitas (p = 0,711), riwayat keluarga (p = 1,000), riwayat trauma (p = 0,254), dan deformitas (p = 1,000) dengan derajat manifestasi klinis OA sendi lutut
- …
