1,720,963 research outputs found

    Model Pembelajaran IPA Berbasis Pendekatan Konstruktivisme untuk Meningkatkan Karakter Peserta Didik

    Get PDF
    Pendidikan, sains menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Salah satu tujuan pembelajaran IPA pada aspek sosial untuk siswa adalah siswa menunjukkan perilaku disiplin dan tanggung jawab, Sedangkan pada aspek pengetahuan siswa diharapkan mampu memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu. Sayangnya kondisi di sekolah masih banyak dijumpai pembelajaran IPA dengan metode ceramah. Jika melihat tujuan pembelajaran yang demikian tentu pembelajaran ceramah tidak mampu mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Pembelajaran IPA di sekolah dasar seharusnya memberikan kesempatan siswa untuk memupuk rasa ingin tahu secara alamiah. Salah satu paradigma terbaru yang dapat digunakan adalah dengan pendekatan konstruktivisme. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deksriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan observasi, dan self assessment atau penilaiain diri oleh siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi model pembelajaran berbasis konstruktivisme terbukti mampu meningkatkan karakter rasa ingin tahu, disiplin, dan tanggung jawab siswa dilihat dari skor rata-rata penilain diri dan observasi guru adalah 2,84 termasuk kategori baik dan mengalami peningkatan sebesar 0,33 atau 33%

    PENGEMBANGAN KURIKULUM DI SD ISLAM AL AZHAR 38 BANTUL YOGYAKARTA

    Get PDF
    Abstract:  Curriculum is a set of plans and arrangements that contain objectives, content, and lesson materials and used as guidelines for the implementation of learning activities so that the learning process can run smoothly. The current 2013 curriculum is defined as a national curriculum, which means all schools are required to use it. However, schools are allowed to develop the curriculum to suit their needs. SDI Al Azhar 38 Bantul is one of the primary schools in Yogyakarta that has developed a curriculum in its education. Al Azhar School uses a mixed curriculum of the national curriculum and curriculum from Al Azhar Central Foundation which is then supplemented with a curriculum of development from school and local potential. Curriculum of Al Azhar is called the Kurikulum Pengembangan Pribadi Muslim (KPPM). KPPM curriculum aims to hone akhlakul karimah in students. In addition Al Azhar 38 Bantul also has a curriculum Education Al Qur\u27an is an additional curriculum to optimize the ability of children in reading the Qur\u27an. This curriculum consists of reading material of the Qur\u27an and recitation juz 30. Keywords: Curriculum Development, Al AzharAbstrak:  Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan yang berisi tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran agar proses belajar mengajar dapat berjalan secara lancar. Saat ini kurikulum 2013 ditetapkan sebagai kurikulum nasional, yang berarti semua sekolah wajib menggunakannya. Namun demikian sekolah diperbolehkan untuk mengembangkan kurikulum tersebut untuk disesuaikan dengan kebutuhan. SDI Al Azhar 38 Bantul adalah salah satu sekolah dasar di Yogyakarta yang telah mengembangkan kurikulum dalam pendidikannya. Sekolah Al Azhar menggunakan kurikulum perpaduan dari kurikulum nasional dan kurikulum dari Yayasan Pusat Al Azhar yang kemudian ditambah dengan kurikulum pengembangan dari potensi sekolah dan daerah. Kurikulum Al Azhar disebut dengan Kurikulum Pengembangan Pribadi Muslim (KPPM). Kurikulum KPPM bertujuan pembiasaan akhlakul karimah pada diri siswa. Selain itu Al Azhar 38 Bantul juga memiliki Kurikulum  Pendidikan Al Qur’an yakni kurikulum tambahan untuk mengoptimalkan kemampuan anak dalam membaca Al Qur’an. Kurikulum ini terdiri dari materi membaca Al Qur’an dan hafalan juz 30. Kata kunci: Pengembangan Kurikulum, Al Azhar

    Kesesuaian Materi IPA Dalam Buku Ajar Tematik Edisi Revisi 2017 Kelas IV SD/MI Dengan Standar Isi Kurikulum 2013

    Get PDF
    Buku mempunyai peranan penting dalam dunia pendidikan, sehingga proses pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari adanya media pembelajaran bentuk buku ajar. Buku ajar merupakan salah satu sarana pendidikan yang sangat penting dan strategis untuk menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar siswa di sekolah. Sehubungan dengan hal tersebut seharusnya buku ajar yang digunakan dapat menunjang dalam peningkatan hasil belajar dan mencerdaskan bangsa, dalam hal ini adalah peserta didik.  Mengingat dari pentingnya buku ajar bagi keberlangsungan pembelajaran dan implementasi kurikulum 2013 yang terkesan terburu-buru serta banyaknya revisi dari buku ajar yang diterbitkan pemerintah inilah kemudian muncul pertanyaan terkait dengan kesesuaian isi buku ajar tematik dengan standar isi kurikulum 2013. Dari penelusuran yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa dari Sembilan ruang lingkup materi untuk kelas IV yang telah ditetapkan kemendikbud ada empat materi yang belum tersampaikan di kelas IV dan ada dua materi tambahan yang tidak tercantum dalam ruang lingkup materi yang telah ditentukan. Selain itu juga ditemukan bahwa ada penulisan kompetensi dasar dalam buku guru yang tidak sesuai dengan standar isi dalam beberapa buku

    Implementasi Pembelajaran Tematik Terpadu Berdasarkan Kurikulum 2013 di MIN Tempel Sleman Yogyakarta

    No full text
    In general, this study aims to describe the implementation of the 2013 curriculum seen from the integrated thematic learning planning process, the implementation of the learning process and the results seen from the assessment process based on the 2013 curriculum carried out by teachers at Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tempel Sleman Yogyakarta. This research is a qualitative field research, that is, research that uses information obtained from the research objectives, hereinafter referred to as informants or respondents through data collection instruments such as in-depth interviews, participatory observation and documentation methods. As for the qualitative data analysis process in this study using data analysis proposed by Miles and Hubermen, namely activities in qualitative data analysis are carried out interactively and continue to completion, so that the data is saturated. The results of this study indicate that the preparation and implementation of integrated thematic learning based on the 2013 curriculum at Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tempel Sleman Yogyakarta is broadly in accordance with government regulations, namely the preparation is designed in the form of RPP, where the learning planning includes the preparation of lesson plans, media preparation and learning resources, and learning assessment tools. For the implementation of the learning process in general, learning with a scientific approach consists of observing, asking questions, gathering information, associating, and communicating. Meanwhile, the results of the implementation of integrated thematic learning can increase student learning outcomes seen from the aspects of attitudes, knowledge, and skills. Besides that, it is also able to create conducive learning, namely a pleasant learning atmosphere, increase student activity and motivation, and foster student discipline

    KESIAPAN MADRASAH IBTIDAIYAH DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN KURIKULUM MERDEKA

    No full text
    This research aims to describe how prepared Madrasah Ibtidaiyah is in implementing the Merdeka curriculum. This descriptive-analytic research was conducted at MI Ma\u27arif NU Banjarparakan Rowalo and MI Ma\u27arif NU Beji in Banyumas Regency. The readiness of madrasah ibtidaiyah in implementing the Merdeka curriculum is seen in three aspects, namely in terms of human resources, facilities and infrastructure, and the programs carried out. The research results show that: 1) in terms of human resources, both MIs have minimal readiness; 2) in terms of facilities and infrastructure, both MIs are equally limited in terms of the books used by students. Meanwhile, basic infrastructure such as classrooms and in-focus is more complete at MI Ma\u27arif NU Beji; 3) preparations from the program aspects of MI Ma\u27arif NU Beji and MI Ma\u27arif NU Banjarparakan have made maximum efforts to prepare themselves for the implementation of the Merdeka curriculum; 4) The preparations at MI Ma\u27arif NU Beji and MI Ma\u27arif NU Banjarparakan have at least given an initial idea or begun to recognize key terms in the Merdeka curriculum. Keywords: Madrasah Readiness, Implementation, Independent CurriculumPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana kesiapan madrasah ibtidaiyah dalam mengimplementasikan kurikulum Merdeka. Penelitian deskriptif-analisis ini dilakukan di MI Ma’arif NU Banjarparakan Rowalo dan MI Ma’arif NU Beji di Kabupaten Banyumas. Kesiapan madrasah ibtidaiyah dalam mengimplementasikan kurikulum Merdeka dilihat dari tiga aspek yakni dari segi sumber daya manusia, sarana dan prasaran dan Program yang dilakukan, Adapun hasil penelitian menunjukkan; 1) dari segi sumber daya manusia kedua MI memiliki kesiapan yang minim; 2) Dari segi sarana dan prasarana kedua MI sama-sama terbatas dalam aspek buku yang digunakan oleh siswa. Sedangkan sarana prasarana dasar seperti ruang kelas dan in focus lebih lengkap di MI Ma’arif NU Beji. 3) persiapan dari aspek program MI Ma’arif NU Beji dan MI Ma’arif NU Banjarparakan sudah berupaya secara maksimal untuk mempersiapkan diri dalam implementasi kurikulum Merdeka 4) persiapan di MI Ma’arif NU Beji dan MI Ma’arif NU Banjarparakan, setidaknya telah memiliki gambaran awal atau mulai mengenali istilah-istilah kunci dalam kurikulum Merdeka.   Kata kunci: Kesiapan Madrasah, Implementasi, Kurikulum Merdek

    PENDAMPINGAN SERTIFIKASI HALAL DENGAN SKEMA SELF-DECLARE PADA PELAKU USAHA KECIL PINGGIRAN DI WONOSOBO

    Get PDF
    Sertifikasi halal adalah suatu keniscayaan yang harus dilakukan oleh pelaku usaha sebagai salah satu cara meningkatkan daya jual kepada Masyarakat. Hal ini dikarenakan produk yang bersertifikasi halal lebih dipilih dan dipercaya oleh Masyarakat terutama bagi Masyarakat muslim. Namun di lapangan banyak dijumpai pelaku usaha belum memiliki sertifikasi halal pada produknya, begitu pula pada Masyarakat kecil yang berada di wilayah Wonosobo. Oleh karena itu, dalam kegiatan pengabdian ini, tim pengabdi membuat program pendampingan sertifikasi halal pada pelaku usaha kecil di Wonosobo dengan skema self-declare. Wonosobo dipilih karena merupakan salah satu kota di jawa Tengah yang banyak dikunjungi wisatawan baik local maupun nasional karena memiliki wisata alam yang terkenal seperti dataran tinggi dieng. Dalam pengabdian ini, tim memberikan pendampingan secara langsung kepada pelaku usaha yang masuk dalam kategori pelaku usaha kecil pinggiran yang belum mendapat akses dan mengetahui tentang sertifikasi halal. Kegiatan pendampingan dilakukan selama kurang lebih lima bulan. Tahap pendampingan dimulai dari pendampingan awal, workshop aplikasi sertifikasi halal, simulasi penyusunan system jaminan produk halal dan pendampingan lanjutan. Dari proses pendampingan ini dari Sembilan pelaku usaha yang menjadi subjek dampingan terdapat empat pelaku usaha yang sudah terbit sertikat halalnya, sedangkan lima pelaku usaha lain masih proses siding fatw

    Kreativitas Guru Kelas Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

    Get PDF
    Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana kreativitas guru Bahasa Indonesia dalam melaksanakan pembelajaran. Hal ini menjadi penting untuk diteliti karena tidak semua guru mampu dan memiliki kreativitas dalam melaksanakan pembelajaran sehingga proses pembelajaran menjadi membosankan. Penelitian ini merupakan penelitian studi lapangan berjenis deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan di MI Muhammadiyah Karanglewas Kidul, Kabupaten Banyumas. Adapun subjek dalam penelitian ini yakni kepala madrasah, guru kelas IV dan siswa kelas IV MI Muhammadiyah Karanglewas Kidul. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan yakni wawancara, observasi dan dokumentasi. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kreativitas guru kelas IV dalam melaksanakan pembelajaran bahsa indonesia yakni meliputi, pertama kreativitas guru dalam menggunakan metode pembelajran seperti metode tanya jawab, metode proyek/kegiatan, metode demonstrasi dan belajar kelompk. Kedua, kreativitas guru dalam menggunakan media pembelajaran seperti menggunakan media lcd proyektor, media gambar, dan media audio (speaker). Ketiga, krativitas guru dalam pengelolaan kelas seperti pengaturan pola tempat duduk peserta didik.

    Imam Ghazali's Educational Philosophy and Its Relevance to Scocial Science Learning In Primary School

    Get PDF
    This article aims to reveal the relevance of Imam Ghazali's educational philosophy to elementary/MI social studies learning. Through a literature study using documentation techniques as a collecting technique, the findings are (1) Imam Ghazali's educational philosophy focuses on the final goal of humans, namely the afterlife with worldly media. Apart from that, the key concept that must be understood is that teachers have a heavy responsibility towards students because they are not only responsible for student learning outcomes but also for students' morals, morals and character; (2) SD/MI social studies learning has more contextual characteristics so that the learning process prioritizes direct experience gained by students; (3) the relevance of Imam Ghazali's educational philosophy to elementary/MI social studies learning can be done through the interconnection integration method without dichotomizing its epistemological aspects into the two poles of religious knowledge and general science; and (4) there are two ways to connect Imam Ghazali's educational philosophy and SD/MI social studies learning, namely making Imam Ghazali's spirit or perspective on education the content of social studies learning in elementary/MI indirectly or as a hidden curriculum and reconceptualizing elementary/MI social studies learning MI which is in accordance with Imam Ghazali's views on education

    Analisis Kebijakan Pendidikan Inklusif di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah: Perspektif Keadilan dan Pemerataan Akses Pendidikan

    No full text
    Pendidikan inklusif menjadi isu strategis dalam upaya mewujudkan keadilan sosial di bidang pendidikan dasar, namun pelaksanaannya di Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah masih menghadapi kesenjangan antara regulasi dan praktik. Ketimpangan sumber daya, kapasitas guru, serta persepsi sosial terhadap anak berkebutuhan khusus memperlihatkan bahwa prinsip keadilan yang diamanatkan belum sepenuhnya terwujud. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan pendidikan inklusif di Indonesia dari perspektif keadilan distributif dan substantif guna menilai kesetaraan dan pemerataan akses pendidikan. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan data primer berupa regulasi nasional dan daerah seperti Permendiknas No. 70 Tahun 2009, KMA No. 1 Tahun 2024, dan Perda Jateng No. 2 Tahun 2023. Data sekunder diperoleh dari hasil penelitian relevan dan publikasi ilmiah, kemudian dianalisis dengan teknik content analysis melalui tahapan reduksi, kategorisasi, dan interpretasi berbasis teori justice as fairness (Rawls) dan pluralism and equality (Walzer). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan inklusif di Indonesia baru mencapai tahap normatif-administratif dan belum menyentuh keadilan substantif, karena masih terdapat ketimpangan distribusi sumber daya antarwilayah serta lemahnya koordinasi lintas lembaga. Selain itu, banyak sekolah dan madrasah belum mampu menerapkan kurikulum adaptif serta asesmen diferensiatif karena keterbatasan pelatihan guru dan dana afirmatif. Budaya sekolah yang masih sarat stigma terhadap peserta didik disabilitas juga menjadi penghalang terciptanya ekosistem pembelajaran yang benar-benar inklusif. Penelitian ini merekomendasikan reformasi kebijakan melalui pendekatan equity-oriented policy design dengan strategi needs-based funding, penguatan kapasitas guru, serta pembentukan National Inclusive Education Council sebagai wadah koordinasi lintas kementerian. Reformasi ini diharapkan mampu mengubah pendidikan inklusif dari sekadar mandat hukum menjadi instrumen nyata bagi keadilan sosial yang berkelanjutan
    corecore