376 research outputs found

    Coastal erosion problems at Nusa Dua Beach, Bali

    No full text
    In the period from 22 October up till 16 November 1985 a visit was paid to Indonesia by the author ir. G. van Bochove. The main objective of the visit of the Dutch coastal engineering expert to Bali, was to advice on the best suitable solution for the erosion problems at Nusa Dua Beach, Bali. As well short term solutions as permanent solutions had to be taken into consideration. The mission has resulted in an advice concerning the best solution for the beach erosion problems at Nusa Dua beach. Scope of work 1. Study all previous reports on coastal erosion problems and coastal behaviour in Bali 2. Carry out site observations 3. Establish the reasons for the occurring erosion and the main acting processes in the coastal zone 4. Give a judgement on the different suggested alternative solutions for the existing erosion problems 5. Carry out studies and develop ideas and advice in close cooperation with the departments involved, in order to make the visit more fruitful and the advices better understood. General conclusions: a) The dominant influence for the beaches at southern Bali is the ocean swell coming from the South. b) The main sources of sediment for the beaches of southern Bali are the shells transported by the swell towards the coasts and the material coming from the eroding cliffs of Bukit peninsula. c) The main reason for the erosion of the Nusa Dusa beach north of Nusa Kecil is the blocking of the north going littoral drift, by the peninsula of Nusa Kecil. Near lot N5 and N6 the tidal and wave induced ripcurrent becomes a very important feature that can not be neglected. d) All structures build on the beach have decreased the attractivity of the beach, however they have not solved the eros ion problem. e) The solution for the erosion problem of Nusa Dua as accepted during a meeting of the 15th of October 1985 will not solve the erosion problem either. f) When different solutions are Tourdevco Svasek and ADC gives compared, the suggested plan by without any doubt most "value for money" g) In case this plan can not be carried out within a couple of years a sandsuppletion could be considered as a temporary measure. h) Design and project preparation should be cooperation between Tourdevco Svasek and order to increase the knowledge with BPMA

    Pengembangan Model Optimasi Simpang Bersinyal Pada Atcs (Area Traffic Control System )

    No full text
    Permasalahan kemacetan lalu lintas di wilayah perkotaan di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Lokasi yang menjadi titik rawan terjadinya kemacetan lalu lintas adalah persimpangan. Hal ini disebabkan sebagian besar persimpangan yang ada merupakan simpang sebidang, dimana kendaraan yang melintas di satu pendekat dengan kendaraan dari pendekat lain harus melintasi ruang yang sama pada persimpangan sehingga terjadi konflik antar kendaraan dari arah yang berbeda tersebut. Pada saat ini system pengendalian simpang sebidang dalam mengatasi konflik antar kendaraan yang bergerak pada arah yang berbeda adalah dengan memasang alat pengendali simpang berupa alat pemberi isyarat lampu lalu lintas. Permasalahan yang sekarang terjadi di wilayah perkotaan adalah peningkatan volume lalu lintas yang cukup besar sehingga persimpangan-persimpangan yang sebelumnya tidak perlu dikendalikan dengan lampu isyarat lalu lintas harus dipasang lampu isyarat lalu lintas. Hal ini mengakibatkan simpang bersinyal menjadi lebih banyak dan jarak antar simpang juga banyak yang berdekatan. Permasalahan yang sering terjadi adalah pengaturan waktu sinyal lampu isyarat lalu lintas pada persimpangan yang jaraknya berdekatan tidak optimal. Antar simpang bersinyal yang dipasang dengan jarak berdekatan tidak dilakukan koordinasi sinyal, sehingga kendaraan harus berhenti berulang-ulang akibat terhalang oleh sinyal lampu merah. Pada beberapa penelitian sebelumnya, optimasi sinyal hanya dilakukan pada jalan poros (arterial) saja, namun dengan bertambahnya jumlah simpang yang harus dikendalikan dengan lampu isyarat lalu lintas maka simpangsimpang bersinyal tidak hanya terpasang pada jalan poros saja tetapi juga pada jalan samping, hal ini menjadikan simpang bersinyal akan membentuk jaringan yang berbentuk grid. Untuk itu perlu pengembangan metode optimasi sinyal pada kawasan pengendalian simpang yang berbentuk grid. Metode optimasi sinyal lampu isyarat lalu lintas yang ada pada literatur dapat dikelompokkan atas dua kategori utama yaitu: pertama menggunakan metode maksimasi green bandwidth dan yang kedua menggunakan metode minimasi tundaan. Kedua metode optimasi sinyal dengan koordinasi sinyal tersebut memiliki asumsi dan pendekatan yang berbeda, namun kedua metode tersebut dapat diterapkan untuk kondisi arus tidak melampaui kapasitasnya (kondisi undersaturated). Sedangkan permasalahan yang ditemui pada persimpangan untuk jam jam tertentu adalah terjadinya volume lalu lintas kondisi oversaturated. Oleh karena itu dikembangkan metode yang dapat digunakan pada volume lalu lintas kondisi undersaturated dan kondisi oversaturated. Metode baru yang dikembangkan untuk dapat mengatasi kondisi ini adalah menggunakan model transmisi sel (cell transmission model). Pada penelitian sebelumnya telah dilakukan penerapan formulasi transmisi sel (Cell Transmission formulation) untuk mengoptimalkan sinyal lampu isyarat lalu lintas yang terpasang pada suatu jalan poros. Model tersebut yang dikembangkan berdasarkan hasil penelitian di ruas jalan poros di Amerika yang tentunya memiliki karakteristik lalu lintas yang berbeda dengan di Indonesia. Pada penelitian ini, dikembangkan metode optimasi sinyal yang terpasang pada suatu kawasan pengendalian simpang (areal traffic control system) berbentuk grid, jadi tidak hanya untuk jalan poros saja. Hal ini untuk melakukan antisipasi pada masa akan datang, simpang bersinyal yang terpasang dengan jarak berdekatan membentuk jaringan berbentuk grid. Pada penelitian ini dilakukan pengembangan model optimasi sinyal pada jaringan ATCS berbentuk grid dengan 9 simpang bersinyal yang jarak antar simpang berdekatan. Pengembangan model optimasi sinyal, dilakukan dengan perumusan pergerakan lalu lintas pada jaringan ATCS dengan menggunakan model transmisi sel. Pergerakan lalu lintas pada ruas dimodelkan dengan perambatan antar sel yang dalam fungsi waktu yang dinyatakan dalam clock tick. Untuk menghitung tundaan yang terjadi pada jaringan ATCS maka dirumuskan besar offset antar simpang bersinyal dengan simpang bersinyal acuan adalah persimpangan-1. Besar offset disimulasikan mulai dari nilai 0 hingga besaran panjang siklus koordinasi dalam satuan clock tick, selanjutnya dihitung jumlah lalu lintas pada masing-masing sel sebagai fungsi waktu dalam clock tick. Berdasarkan simulasi offset tersebut akan didapatkan besar tundaan yang terjadi pada setiap nilai offset sinyal yang didapatkan. Selanjutnya dikembangkan algoritma untuk mendapatkan offset sinyal antar simpang acuan dengan simpang lainnya yang meberikan tundaan minimum. Dengan cara demikian akan didapatkan pengaturan sinyal yang optimum pada jaringan ATCS tersebut. Untuk memudahkan perhitungan maka dibuat algoritma program menghitung offset optimum serta program komputer menggunakan Compaq Visual Fortran Versi 6.6. Hasil eksekusi program optimasi offset sinyal menggunakan data artificial pada ATCS dengan 9-simpang berbentuk grid didapatkan offset optimum sebagai berikut : Offset_1_2 sebesar 12 detik, Offset_1_3 sebesar 39 detik, Offset_1_4 sebesar 33 detik, Offset_1_5 sebesar 3 detik, Offset_1_6 sebesar 120 detik, Offset_1_7 sebesar 72 detik, Offset_1_8 sebesar 9 detik, Offset_1_9 sebesar 120 detik dengan tundaan total sebesar 51033 detik Hasil penerapan model optimasi sinyal yang dikembangkan menggunakan model transmisi sel (Cell Transmission Model) pada ruas jalan Nasional di Kota Malang (Ruas Jl. Sunandar Prio Sudarmo) yaitu pada persimpangan Jl. Sunandar Prio Sudarmo-Jl. Sulfat dengan Persimpangan Jl. Sunandar Prio Sudarmo – Jl. Ciliwung, didapatkan selisih besar tundaan hasil model dengan hasil survey didapat perbedaan ± 3%, sehingga model dapat diterima. Selanjutnya hasil simulasi pengaruh jarak terhadap besar manfaat koordinasi menujukan bahwa koordinasi efektif dilakukan hingga jarak 800 m, namun sepanjang ruas jalan tersebut tidak boleh ada akses keluar/masuk kendaraan. Sedangkan besar nilai coupling index untuk dilakukan koordinasi sinyal bernilai lebih besar dari 1,22. Hasil analisis manfaat optimasi offset sinyal antar simpang dengan koordinasi sinyal dibandingkan dengan kondisi eksisting tanpa koordinasi sinyal yang dilakukan pada ruas jalan Sunandar Prio Sudarmo (Jalan Nasional) yaitu Persimpangan Jl. Sunandar Prio Sudarmo-Jl. Sulfat dengan Persimpangan Jl. Sunandar Prio Sudarmo-Jl. Ciliwung menunjukkan hasil bahwa besar manfaat koordinasi sinyal dapat menurunkan besar tundaan sebesar 16.15 %, dan penghematan biaya bahan bakar sebesar Rp. 214.845.000 per tahun, sedangkan pada Ruas Jalan Basuki Rachmat (Jalan Kolektor Sekunder) yaitu Persimpangan Jl. Basuki Rachmat-Jl. Semeru-Jl. Kahuripan dengan Persimpangan Jl. Brigjen Slamet Riadi-Jl. Jaksa Agung Suprapto-Jl. Basuki Rachmat, besar manfaat koordinasi sinyal dapat menurunkan tundaan sebesar 6,2 % dan diprediksi besar penghematan bahan bakar Rp. 316.650.000 per tahun

    Sistem Informasi Akomodasi Pariwisata Nusa Dua Berbasis Android

    No full text
    There are lots of Nusa Dua tourism accommodation and it is interesting to be visited by domestic and foreign tourists. The author considers the need for a special portal to provide information about geography Nusa Dua tourism accommodation, in addition to this, it can also increase the interest of foreign tourists to travel with complete information without worrying. An android-based Nusa Dua tourism accommodation information system was created to provide broad information about the availability of the accommodation places in Nusa Dua. This geography information system was built using the waterfall method starting with the needs analysis, system design, coding, and testing stages. The information system built can run and function well in accordance with the needs of tourists, where the system can support tourism activities. The system is able to provide information in the form of writing, pictures and payments to increase the interest of foreign tourists visiting, especially in Nusa Dua

    STUDI PENYEBAB KERUSAKAN LAPISAN PERMUKAAN PERKERASAN LENTUR PADA TIKUNGAN RUAS JALAN BATU-PUJON KABUPATEN MALANG

    No full text
    Banyak ruas-ruas jalan di Indonesia dibangun beberapa puluh tahun yang lalu, sebagian dibangun pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda. Permasalahan yang muncul adalah perkembangan teknologi transportasi dimana karakteristik kendaraan pada waktu dibangun jalan berbeda dengan kendaraan yang ada sekarang, khususnya kecepatan kendaraan. Hal ini berdampak terhadap bagian tikungan jalan yang cenderung mengalami kerusakan. Hasil pengamatan ruas jalan propinsi segmen Batu-Pujon menunjukkan bahwa terdapat kerusakan permukaan perkerasan di sekitar tikungan, sementara di bagian lain kondisi permukaan perkerasan dalam keadaan baik. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui penyebab terjadinya kerusakan dan melakukan usaha pencegahan terhadap terjadinya kerusakan. Metode studi dilakukan dengan survey yang dilaksanakan dalam 2 tahap, selama 3 hari dalam kurun 12 jam/hari dengan pencatatan jumlah kendaraan dalam interval waktu 15 menit. Volume lalulintas, kecepatan, dan kapasitas ruas jalan dianalisa dengan menggunakan MKJI Ditjen Bina Marga 1997. Sedangkan survei geometrik dilakukan selama 2 hari dalam waktu 6 jam/hari. Hasil pengukuran geometrik eksisting pada jalan-jalan tikungan (jari-jari tikungan, superelevasi, kecepatan rata-rata lalulintas) dan perhitungan nilai koefisien gesek menunjukkan bahwa upaya mengurangi tingkat kerusakan jalan dapat dilakukan dengan memperbesar jari-jari tikungan dan membuat kecepatan rata-rata kendaraan sekitar 50 km/jam. Dengan demikian, maka kerusakan permukaan perkerasan dapat dikurangi sebesar 22% sampai 32%

    STUDI EVALUASI KINERJA PELAYANAN DAN TARIF MODA ANGKUTAN SUNGAI SPEEDBOAT Studi Kasus: Jalur Angkutan Sungai Kecamatan Kurun ke Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah

    No full text
    Transportasi timbul dari adanya usaha manusia untuk melawan jarak. Speedboat merupakan salah satu moda angkutan yang paling dominan yang digunakan oleh masyarakat Kecamatan Kurun. Studi ini dilaksanakan di sepanjang jalur angkutan sungai Kecamatan Kurun ke Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Evaluasi ini dilakukan untuk mengidentifikasi tingkat dampak yang ditimbulkan dengan pendekatan sudut pandang penumpang (tingkat pelayanan). Metode survei yang digunakan ialah survei dinamis, survei statis, wawancara dengan operator, dan wawancara dengan penumpang. Survei dinamis dilakukan dengan cara surveyor langsung menumpang kendaraan yang akan diteliti mulai pukul 06.00 - 11.00 dan survei statis berupa pengamatan di dermaga pemberangkatan penumpang. Metode perhitungan menggunakan standarisasi dari Departemen Perhubungan. Hasil evaluasi kinerja pelayanan menunjukkan: tingkat operasi kendaraan sebesar 100%, faktor muat (load factor) sebesar 102,68%, frekwensi pelayanan sebanyak 4 kendaraan per hari, waktu tunggu selama 30 menit, headway selama 60 menit, waktu tempuh selama 5 jam dengan kecepatan perjalanan selama 32,40 km/jam. Hasil evaluasi tarif menunjukkan: biaya operasional kendaraan sebesar Rp. 10.669,07, pendapatan per hari sebesar Rp. 2.880.000, keuntungan per hari sebesar Rp. 1.151.610,66, dan tarif sebesar Rp. 102.943,23. Berdasarkan hasil evaluasi kinerja pelayanan yang diberikan menunjukkan bahwa pelayanan belum dapat disebut baik, sehingga perlu dipertimbangkan untuk penambahan jumlah armada

    Modern Architectural Design and Architect Performance in Terms of Intellectual Capital and Competence Through Leadership

    No full text
    This study aimed to analyze the impact of intellectual capital and competence on leadership and analyze the impact of intellectual capital and competence and leadership on the performance of architects. The sample in this study was 200 architects. The data analysis technique used structural equation modeling (SEM) analysis. The results of the analysis showed that intellectual capital and competence had an impact on leadership. Intellectual capital and competence had an impact on the performance of an architect. Leadership had an impact on the performance of an architect. Intellectual capital and competence had an impact on the performance of the Architect through leadership. Keywords: leadership, architect performance, competence, intellectual capita

    ANALISA DESAIN KARAKTER PADA KOMIK “NUSA FIVE”

    No full text
    In the development of the digital world today, comics have become one of the most rapidly developing works of art, because the increasingly depleted problem of comic artists in publishing their work, many new comic artists have sprung up abroad and in the country. It is "Nusa Five" which is the latest work from Sweta Kartika. The comic that combines the theme of enriching the Japanese superhero team with the cultural elements of the archipelago becomes a fresh style in the world of Indonesian comics. In this research, the author aims to analyze the character design found in the "Nusa Five" comic

    ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESADARAN BERKOPERASI PADA KOPERASI WANITA NUSA INDAH BEKASI

    No full text
    ABSTRACT RATRI PURWASIH. “The Analysis of Factors that Influence the Cooperative Awareness in Women Cooperative of Nusa Indah Bekasi”. Concentration of Cooperative Economics Education, Study Program of Economics Education, Department of Economics and Administration, Faculty of Economics, State University of Jakarta, 2015. Lecturer Advisor: Dra. Endang Sri Rahayu, M.Pd dan Karuniana Dianta A. Sebayang, S.IP, M.E This research aims to determine analyze the factors that influence the cooperatives awareness in Women Cooperative of Nusa Indah Bekasi. This research used survey method with the correlational approach. Data collection using the questionnaire technique. The data analysis technique used is the classical assumption test, multiple regression analysis and hypothesis testing using software SPSS 17.0. Based on analysis of the data shows there is positive social environment with awareness of cooperatives with the results of t count (2,132) > ttable (1,978), there is a positive influence between image cooperative and to the awareness of cooperatives with the results tcount (2,210) > ttable (1,978), and there is a positive influence between educational level, social environment, image cooperative and to the awareness of cooperatives with Fcount (5,434) > Ftable (3,065). Variations influence of two independent variables can be determined based on the value of R2 of 0,076. So 7,6% of the variation awareness of cooperatives is influenced by social environment and image of cooperatives and the rest influenced by other factors outside the research model. Simultaneously the relationship between the variables educational level, social environment, the image of cooperatives and cooperative awareness is weak at 0,276. Keywords: Social Environment, the Image of Cooperatives, Cooperative Awareness

    ANALISIS MANAJEMEN RISIKO PADA PERENCANAAN PENGGANTIAN JEMBATAN OESAPA BESAR DI KOTA KUPANG – NUSA TENGGARA TIMUR

    No full text
    ABSTRAK Angeline Grace Allo, Program Studi Magister Teknik Sipil, Program Pascasarjana, Institut Teknologi Nasional Malang, Juli 2025, Analisis Manajemen Risiko Pada Perencanaan Penggantian Jembatan Oesapa Besar di Kota Kupang – Nusa Tenggara Timur, Tesis, Pembimbing: (1) Dr. Ir. Nusa Sebayang, MT, (II) Dr. Erni Yulianti, ST, MT. Pembangunan Jembatan Oesapa Besar di Kota Kupang perlu dilaksanakan karena adanya penurunan kualitas struktur yang signifikan. Pada tahap perencanaan berpotensi menghadapi berbagai risiko yang berasal dari faktor teknis, keuangan, lingkungan, dan sosial. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi risiko yang mungkin muncul selama tahap perencanaan serta mengevaluasi efektivitas strategi mitigasi yang diusulkan untuk mengurangi tingkat risiko tersebut. Penelitian ini menerapkan metode Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) untuk mengidentifikasi kegagalan potensial dan mengevaluasi risiko pada tahap perencanaan penggantian Jembatan Oesapa Besar di Kota Kupang. Data diperoleh dari kuesioner berisi 13 indikator risiko yang disebarkan kepada 35 responden ahli. Hasil penelitian menunjukkan seluruh variabel mengalami penurunan nilai Risk Priority Number (RPN) setelah strategi mitigasi diterapkan. Strategi yang dilakukan meliputi peningkatan akurasi estimasi biaya, optimalisasi efisiensi anggaran sesuai kebijakan, serta perbaikan rancangan teknis seperti penyediaan outlet saluran air yang memadai. Total RPN awal sebesar 2.394,63 turun menjadi 1.504,26, atau berkurang 37,18%. Penurunan signifikan terjadi pada risiko estimasi biaya, efisiensi anggaran, dan outlet saluran air. Namun, beberapa risiko eksternal tetap tinggi, khususnya terkait kebijakan, keterlibatan masyarakat, dan koordinasi antarinstansi. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk mengembangkan strategi mitigasi yang lebih komprehensif pada aspek sosial dan kebijakan, serta memanfaatkan metode analisis risiko lain guna memperkuat hasil evaluasi. Kata kunci: Manajemen Risiko, FMEA, RPN, Strategi Mitigasi ABSTRACT Angeline Grace Allo, Master Program in Civil Engineering, Graduate Program, Institut Teknologi Nasional Malang, July 2025. Risk Management Analysis in the Planning of the Oesapa Besar Bridge Replacement in Kupang City – East Nusa Tenggara. Thesis. Advisors: (1) Dr. Ir. Nusa Sebayang, MT, (2) Dr. Erni Yulianti, ST, MT. The construction of the Oesapa Besar Bridge Replacement in Kupang City must be conducted due to a significant decline in structural quality. The planning stage is dealing with many risks stemming from technical, financial, environmental and social factors. Therefore, this study aims to analyze the potential risks which may arise during the planning stage and evaluate the effectiveness of the proposed mitigation strategies to reduce these risks. This study applies the Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) method to identify potential failures and evaluate risks in the planning stage of the Oesapa Besar Bridge replacement project in Kupang City. Data were obtained through a questionnaire with 13 risk indicators distributed to 35 expert respondents. The results show that all risk variables experienced a reduction in their Risk Priority Number (RPN) after mitigation strategies were implemented. These strategies included improving cost estimate accuracy, optimizing budget efficiency in line with government policies, and enhancing technical design by providing more adequate drainage outlets. The total RPN decreased from 2,394.63 to 1,504.26, or 37.18%. Significant reductions occurred in risks related to cost estimation, budget efficiency, and drainage outlets. However, several risks remained relatively high, particularly those influenced by external factors such as policy changes, community involvement, and inter-agency coordination. Further research is recommended to develop more comprehensive mitigation approaches for social and policy-related risks and to apply alternative risk analysis methods to strengthen evaluation results. Keywords: Risk Management, Failure Mode Effect Analysis, RPN, Mitigation Strategy

    The Influence of Intellectual Capital and Competency to Architects’ Workperformance Through Training in Malang City

    No full text
    This study aims to describe intellectual capital, competence, training and workperformance of architects, to analyze the influence of intellectual capital and competence on training, to analyze the effect of intellectual capital and competency on the architects’ workperformance, to analyze the effect of training and competency for the architects’ workperformance, and to analyze the the effect of intellectual capital and competency to architects’ workperformance through training. Total sample of this study was 186 architects and the analysis technique applied for this study was a structural equation modelling/SEM with result analysis showed the intellectual capital and competency affect the architects’ workperformance. Training also affects on the architects’ workperformance because it is able to mediate the influence of intellectual capital and competency to architects’ workperformanc
    corecore