6,014 research outputs found

    JUAL BELI HASIL PERTANIAN JAGUNG DENGAN SISTEM “PINJAM BIBIT” DI DESA SEBA-SEBA KECAMATAN WALENRANG PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM

    No full text
    ABSTRAK Rahmayani, 2017 “Jual Beli Hasil Pertanian Jagung Dengan Sistem "Pinjam Bibit" Di Desa Seba-Seba Kec. Walenrang Perspektif Ekonomi Islam”. Skripsi, Program Studi Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palopo. Pembimbing (1) Dr. Muhammad Tahmid Nur, M.Ag. (2) Ilham, S.Ag., M.A. Kata Kunci: Jual Beli, Hasil Pertanian dan Ekonomi Islam. Permasalahan pokok yang di bahas dalam skripsi ini adalah: (1) Jual beli hasil pertanian jagung dengan sistem "Pinjam Bibit" di Desa Seba-Seba. (2) Jual beli hasil pertanian jagung dengan sistem "Pinjam Bibit" di Desa Seba-Seba menurut ekonomi Islam. Data yang dikumpulkan dalam penelitian skripsi ini adalah melalui data riset kajian lapangan atau metode field research. Kemudian untuk memperoleh data yang lebih rinci penulis secara langsung melakukan wawancara dengan para petani (pihak penjual) dan distributor(pihak pembeli), serta para tokoh masyarakat yang ada di Desa Seba-Seba. Data yang diperoleh dari penelitian dianalisis menggunakan analisis kualitatif. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sistem jual beli hasil pertanian jagung dengan sistem "pinjam bibit" di Desa Seba-Seba Kecamatan Walenrang di dalamnya terdapat unsur penzaliman seperti adanya persyaratan atau aturan yang diterapkan oleh pihak Distributor/Pembeli kepada pihak petani sehingga menyebabkan beberapa kerugian di pihak petani seperti penelantaran jagung saat musim panen tiba dan cuaca yang tidak menentu, dan ketidakpuasan petani dengan harga beli jagung. Karenanya ajaran Islam secara tegas melarang segala bentuk penzaliman sebagaimana prinsip hukum Islam adalah “tidak menzalimi dan tidak dizalimi”. Dengan demikian sistem jual beli tersebut tidak dibolehkan

    TRADISI DAN PENSAKRALAN: Upacara Seba di Kabuyutan Ciburuy Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut Tahun 1980-2005

    No full text
    Skripsi ini berjudul TRADISI DAN PENSAKRALAN: Upacara Seba di Kabuyutan Ciburuy Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut Tahun 1980-2005. Adapun masalah yang diangkat dalam skripsi ini adalah: Bagaimanakah keberadaan upacara seba di Kabuyutan Ciburuy Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut Tahun 1980-2005? Untuk memfokuskan penelitian, penulis membuat tiga buah pertanyaan seperti berikut: (1) Bagaimanakah latar belakang upacara seba di Kabuyutan Ciburuy Kabupaten Garut?; (2)Bagaimanakah proses perkembangan pelaksanaan upacara seba di Kabuyutan Ciburuy Kabupaten Garut?; (3)Bagaimanakah sikap masyarakat Kabuyutan Ciburuy Kabupaten Garut dalam mempertahankan keberadaan upacara seba? Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode historis, yaitu meliputi pengumpulan sumber baik lisan maupun tulisan, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Untuk lebih memahami permasalahan yang dikaji, penelitian ini menggunakan beberapa konsep yang relevan melalui pendekatan ilmu sosial yang lain seperti ilmu Sosiologi dan ilmu Antropologi. Dalam melakukan penelitian, penulis menggunakan teknik penelitian seperti, studi kepustakaan dan wawancara. Hal ini dilakukan karena terdapat sumber tertulis yang dapat digunakan untuk mengkaji permasalahan di atas, sedangkan teknik wawancara yang penulis lakukan untuk membandingkan apakah terdapat kesesuaian antara data yang terdapat di lapangan dengan sumber tertulis serta karena terbatasnya sumber tertulis untuk mengkaji permasalahan di atas. Upacara seba di Kabuyutan Ciburuy Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut, berawal dari kepercayaan masyarakat Kabuyutan Ciburuy terhadap mitos dari para leluhur mereka. Upacara seba diartikan sebagai penyerahan diri dengan cara membersihkan rohani dan jasmani dan memohon ampunan serta petunjuk dari leluhur agar menemukan kehidupan yang damai dan diberkahi serta tidak keluar dari tetekon (aturan atau tradisi) yang sudah diwariskan sejak dahulu. Jika dilihat dari tata cara upacaranya, terdapat pula di dalamnya upaya untuk memperoleh kontak dengan para leluhur yakni dengan cara roh leluhur yang kemudian merasuki raga salah seorang peserta upacara dari keluarga kuncen. Di dalam upacara seba juga terdapat penghormatan terhadap benda-benda pusaka peninggalan Prabu Siliwangi dan Prabu Kiansantang. Selain itu, upacara seba juga mempunyai fungsi sosial, yaitu sebagai pengendali sosial dan sebagai wadah masyarakat untuk berinteraksi. Dalam perkembanganya upacara seba mengalami perubahan tempat pelaksanaan. Kelestarian suatu kebudayaan tradisional tentunya berada di tangan masyarakat pendukungnya dan menjadi tanggung jawab semua pihak. Termasuk pelestarian upacara seba merupakan tanggung jawab semua masyarakat dan pihak pemerintah setempat. Untuk itu diperlukan kesadaran yang lebih pada masyarakat pada khususnya untuk lebih memperhatikan upacara seba agar tetap bertahan. Serta dari pemerintah daerah setempat yang harus lebih giat lagi untuk membantu pelestarian yang telah dilakukan masyarakat dalam mempertahankan keberadaan upacara seba di Kabuyutan Ciburuy Kecamatan Bayongbong Kabupaten Garut

    The Dual-SEBA approach.

    No full text
    Evolving individual, contextual, organizational, interactional and sociocultural factors have complicated efforts to shape the professional identity formation (PIF) of medical students or how they feel, act and think as professionals. However, an almost exclusive reliance on online learning during the COVID-19 pandemic offers a unique opportunity to study the elemental structures that shape PIF and the environmental factors nurturing it. We propose two independent Systematic Evidence-Based Approach guided systematic scoping reviews (SSR in SEBA)s to map accounts of online learning environment and netiquette that structure online programs. The data accrued was analysed using the clinically evidenced Krishna-Pisupati Model of Professional Identity Formation (KPM) to study the evolving concepts of professional identity. The results of each SSR in SEBA were evaluated separately with the themes and categories identified in the Split Approach combined to create richer and deeper ‘themes/categories’ using the Jigsaw Perspective. The ‘themes/categories’ from each review were combined using the Funnelling Process to create domains that guide the discussion. The ‘themes/categories’ identified from the 141 included full-text articles in the SSR in SEBA of online programs were the content and effects of online programs. The themes/categories identified from the 26 included articles in the SSR in SEBA of netiquette were guidelines, contributing factors, and implications. The Funnelling Process identified online programs (encapsulating the content, approach, structures and the support mechanisms); their effects; and PIF development that framed the domains guiding the discussion. This SSR in SEBA identifies the fundamental elements behind developing PIF including a structured program within a nurturing environment confined with netiquette-guided boundaries akin to a Community of Practice and the elemental aspect of a socialisation process within online programs. These findings ought to be applicable beyond online training and guide the design, support and assessment of efforts to nurture PIF.</div

    Membaca Indonesia dalam Orang-Orang Bawah Tanah: Kumpulan Naskah Drama

    No full text
    Sebagai institusi sosial, karya sastra menghadirkan kehidupan dan masalah-masalah realitas sosial dalam rnasyarakat yang memengaruhi kehidupannya. Itulah sebabnya mengapa karya sastra memiliki fungsi sosial sebagai reaksi, penerimaan, kritik, atau ilustrasi tentang keadaan tertentu sebagaimana llham Zoebazary menggambarkan Indonesia sejak Orde Baru hingga reformasi dalam kumpulan naskah dramanya. Kritik yang diketengahkan berhubungan dengan pelayanan pemerintah, perilaku aparat pemerintah, kehidupan rakyat kecil, dan persoalan- persoalan sosial lainnya&#x0D; &#x0D; Abstract:&#x0D; As a social institution, a literary work presents a life and consists of-mostly-social realities that influence life. That is why literary works have social functions as a reaction, conception, criticism, or illustration about certain situation. As llham Zoebazary describes Indonesia since new era government until reformation period in his collection of drama texts. Criticisms that are presented interrelated with governments service, behavior and attitude of government official, proletariat's life, and so on.&#x0D; &#x0D; Keywords: the collection of drama, underground people. and proletariat</jats:p

    Digitale Editionsformen. Zum Umgang mit der Überlieferung unter den Bedingungen des Medienwandels. Teil 1: Das typografische Erbe.[Preprint-Fassung]

    No full text
    Digitale Editionsformen müssen auf dem Methodenstand der gedruckten Editionen aufbauen. Hier sind der Lachmannsche Ansatz der Textrekonstruktion und die Verfahren der historisch-kritischen Ausgabe im Laufe der Zeit zwar dominant geworden, aber nicht alternativlos geblieben. Die Kritik an diesen Methoden ist so alt wie diese selbst, und viele andere Schulen haben sich neben ihnen etabliert. Die verschiedenen Ansätze lassen sich als Produkt ihrer Zeit und als Funktion bestimmter theoretischer Grundbegriffe und Grundannahmen beschreiben. Vor allem aber sind sie nicht nur historisch und theoretisch, sondern immer auch "technisch relativ", weil Typografie und Druckkultur unsere Theorien vom Text und unsere Methoden der Edition beeinflussen. Ein Verständnis dieser Abhängigkeit unserer scheinbar "natürlichen" Editionsvorstellungen von einer bestimmten Technik ist ein wichtiger Ausgangspunkt für die Entwicklung neuer Editionsformen

    Nik Nur Madihah: a rising literary star in the Malay world

    No full text
    In a globalized and fast-developing world, where the internet and social media play a vital role in our daily lives, people of all ages are increasingly sharing their views and opinions in writing. This is particularly true for young people, who are computer- and smartphone-savvy and often communicate through written means. As a result of this shift, new writers are emerging in Malaysia every day, much like stars on the horizon. Many of these budding writers are interested in creating novels that reflect the social climate of the country. In this article, I would like to highlight some of the interesting aspects of the life and achievements of a young Malaysian author named Nik Nur Madihah

    الإعراب التقديري في اللغة العربية ونماذجه في القرآن الكريم

    No full text
    Arabic is a language that has many features compared to other languages ​​in this world. Among the privileges is I’rab. I'rab is a condition of the change in the last line of a word in a sentence due to the variety of amyl or its amendment Without Arabic I’rab, it would be difficult to sort out the meaning of words arranged in a discourse. With I'rab known easily words that are located as mubtada’ (subject in the number of ismiyyah), Khabar (predicate) etc. and will not cause misunderstanding of meaning. I’rab consists of three types namely Lafzhi, Taqdiri and Mahalli. I’rab Taqdiri is the final change of words in an invisible sentence caused by the letter ‘Illat. This research was conducted by the method of library research or the study of literature sourced from the books of syntax (nahwu) and al-Qur’an al-Karim. The author looks at the theoretical places I'rab taqdiri in Nahwu's book and sees an example in the Qur'an

    Sketsa Karya Ari Nur Utami: Arsitektur Urban dalam Perspektif Ekokritisisme

    No full text
    Kota adalah ruang kompleks bagi siapa pun yang berada di dalamnya. Saat ini, penghuni ruang kota terancam oleh menurunnya kualitas ekologis kota akibat pembangunan gedung, berbagai fasilitas. dan infrastruktur kota yang masif. Salah satu novel yang memotret eksploitasi ekologi kota tersebut adalah Sketsa karya Ari Nur Utami. Sebagai novel berlatar belakang arsitektur, Sketsa menceritakan pembangunan gedung di Jakarta oleh pengembang bernama PT Semesta Sentosa. Menggunakan teori ekokritisisme, fokus diskusi dalam artikel ini adalah cara penulis memasukkan nilai dan asumsi ekokritik dalam arsitektur urban di novel Sketsa. Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan dominasi pandangan antroposentris individu terhadap alam. Melalui metode kualitatif­deskriptif dengan melakukan close­reading, hasil pembahasan menunjukkan bahwa pembangunan di Jakarta dengan berbagai proyek arsitektur urbannya masih mengabaikan kelestarian lingkungan. Ketidakpedulian terhadap lingkungan ini dapat dilihat dari orientasi etis dan linguistik antroposentris yang dipilih demi mendapatkan keuntungan besar dalam bisnis properti di Jakarta.&#x0D; &#x0D; Abstract: &#x0D; City is a space that contains complexities for anyone being part of it. Nowadays, people are threatened by the ecologically degrading city as the result of the massive development of buildings and other city’s facilities and infrastructures. A novel portraying the issues of ecological exploitation is Ari Nur Utami’s Sketsa. Being claimed as an architectural background novel, Sketsa portrays the development of buildings in Jakarta by a property developer named PT Semesta Sentosa. By applying ecocriticism theory, one point discussed in this article is how the author imputes certain ecocritical values and assumptions in presenting the urban architecture in Sketsa. The objective of this research is to elaborate the domination of anthropocentric perspective over nature. Through the qualitative­descriptive method, it is found that the development of Jakarta as an urban space is still far from ecocritical considerations. This can be seen from ethical orientation and anthropocentric linguistic chosen for the benefits of property business in Jakarta.&#x0D; &#x0D; Key Words: urban; architecture; ecocriticism</jats:p
    corecore