1,720,969 research outputs found
Implementasi model pendidikan sufistik Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyyah dalam pendidikan Islam di Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah Surabaya
INDONESIA:
Jika kita mencermati media massa, baik cetak maupun elektronik, akhir-akhir ini banyak fenomena yang menunjukkan bahwa kita warga bangsa ini seakan-akan bukanlah bangsa yang berpendidikan dan beradab. Penghujatan, penghinaan, saling fitnah, iri hati, tindak kriminal, korupsi, saling bunuh, pemerkosaan, narkoba, tawuran antar pelajar, dan hilangnya rasa kemanusiaan, menjadi sajian utama media massa yang tiada habisnya. Barangkali salah satu penyebabnya adalah model pendidikan di negeri ini yang orientasinya mengedepankan kecerdasan otak dan kepintaran akal semata sedang kecerdasan batin diabaikan. Akibatnya kemampuan dan aplikasi terhadap ilmu yang diperoleh tidak maksimal. Untuk menjawab persoalan tersebut maka di Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah Surabaya menawarkan Model Pendidikan Sufistik Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyyah. Oleh sebab demikian peneliti melakukan penelitian dengan fokus penelitian sebagai berikut: (1) Bagaimana implementasi model pendidikan sufistik tarekat qadiriyyah wa naqsyabandiyyah dalam pendidikan Islam? (2) Apa saja metode pendidikan sufistik tarekat qadiriyyah wa naqsyabandiyyah? (3) Apa saja model pendidikan sufistik tarekat qadiriyyah wa naqsyabandiyyah?
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis fenomenologi Naturalistic. Penelitian dalam pandangan fenomenologi bermakna memahami peristiwa dalam kaitannya dengan orang dalam situasi yang ada di Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah Surabaya. Dalam proses pengumpulan data, maka instrument utamanya adalah peneliti itu sendiri, namun demikian peneliti tetap menggunakan pedoman wawancara, pengamatan dan dokumentasi sebagai alat pengumpul data. Sedangkan teknik analisis data peneliti menggunakan proses analisis data deskriptif melalui 4 alur kegiatan yang berlangsung secara bersama yaitu: (1) Reduksi data, (2) Paparan atau sajian data,(3) Penarikan kesimpulan, dan (4) Triangulasi dengan mendiskusikan paparan data dan hasil temuan yang telah ditemukan dilapangan.
Hasil temuan penelitian di Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah Surabaya ini: (1) Implementasi Model Pendidikan Sufistik Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyyah terhadap pendidikan Islam di Pondok Pesantren Assalafi Al- Fithrah Surabaya sudah berlangsung sejak didirikannya pondok tersebut. Oleh sebab itu pondok ini menjadi maju dan banyak diminati oleh kalangan modern untuk mengasah kecerdasan spiritual atau kecerdasan hati. (2) Metode Pendidikan Sufistik Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyyah, yaitu; Pertama, metode Ta’lim, Kedua, Metode Ta’dzib, dan Ketiga metode Uswah. (3) Model pendidikan orientasinya lebih pada pendidikan rohani yang terkonsep menjadi tiga komponen model; Pertama, Kewadhifahani, yaitu seluruh aspek kegiatan ‘ubudiyyah dalam sehari-hari, Kedua, Tarbiyyah, yaitu kegiatan pembelajaran dan penanaman ilmu yang diutamakan pada Pendidikan Sufistik baik di lembaga formal maupun lembaga non formal. Ketiga, Syi’ar Islam, ialah, seluruh kegiatan keagamaan seperti manaqiban, dzikir khususi, dan haul Akbar. Dari ketiga komponen tersebut, terbentuklah sebuah bangunan konseptual atau model Pendidikan Sufistik dengan adanya elemen-elemen, mata rantai spiritual (asanid keilmuan), tujuan, fungsi, materi/kurikulum, strategi perkembangan, dan metode pengajaran Pendidikan Sufistik Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyyah.
ENGLISH:
If we were to pay close attention to the public news, the written on the electronics, recently there are many phenomena that show us, As the one nation and its citizens, seem to be not a nation that has educated people lack of morals. Cursing, humaniting, told lies to one and another, feeling unsafe, criminal actions, corruptions, killing each other, raping, drugs, fighting among studens, and the lost of humanity, has been becoming the main topic in Media that just does not seem to have maybe one of causes of this is that the education model in this nation only depends matters, meanwhile, the religious matters are being thrown away. Consequently, the ability and applications to the knowledge that has been gained are not to its kullest, to answer this matter, Boarding Schools Assalafi Al-Fithrah Surabaya. Offers a model education called sufistic Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyyah. For that, the focus of this research is as such: (1) How does the Implementation of sufistic education called Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyyah? (2) what are the sufistic of Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyyah education method? What are the education models of Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyyah?
This research was using the qualitative approach with the type of fenomenology naturalistic. This research in the perspective of fenomenology, it is meant to under stand an event in its relations with the people in a particular situation exited in Boarding Schools Assalafi Al-Fithrah Surabaya. In the process of data collection, the main instrument used was the researcher itself, but then the researcher also used interviews, observation and documentation as the tool collecting data. Meanwhile for the data an alysis technique, the researcher use the descriptive of data analysis process through a 4 step of activities that went all to gether: (a) data reduction, (b) given data, (c) conluding, (d) Triangulation by discussing results that were found in field.
The results of this research in Pondok Pesantre Assalafi Al-Fithrah Surabaya were as such : (1) The implementation of educational mode l called Sufistik Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyyah to the Islamic education in Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah Surabaya has been going for the time when the Islamic boarding school was built. For that reason, this school has become developed and many people in this modern era apply for that school to empowered their religious smartness and the heart smartness. (2) The educational method called Sufistik Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyyah : First, the Ta’lim method, second, Ta’zib method, and third the Uswah method. (3) the educational model tends to be more like in the religious education that has been very conceptual and devided into three components model; First, Wadhifahani, that is all the activities aspect of ‘ubudiyah in daily activities. Second, Tarbiyyah, that is the learning activity and the beginning of teaching for sufistic education either in the formal institution or non formal institution. Thirdly, the Syi’ar of Islam, all the activities for religious purposes such as manaqib, dzikir khususi, and haul Akbar. From all those three components, it would be eventually making such concept or a model of sufistic educational system with the existence of the elements, the links of religious, objective, function, material/curriculum, strategy of development, and teaching method of Sufistik Tarekat Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyyah for education purpose
Implementasi Hasil Belajar PAI Dalam Lingkungan Keluarga di Desa Kertagena Tengah Kecamatan Kadur Pamekasan
The issue of implementing Islamic Religious Education learning outcomes in a family environment is a familiar thing, even we can find it almost every day. This problem is a complex problem, so it is necessary to look for any obstacles they face. If the constraints are known, a solution must be found. So that this problem does not become a prolonged problem and will lead to other problems. Actualization of Islamic Religious Education learning outcomes in Kertagena Tengah Village Kadur Subdistrict Pamekasan Regency in the family environment is not in line with the expectations of parents. This is caused by factors of the child's self and environmental factors. As can be seen from the declining morals and morals of students/ children, the lack of respect for children to parents at home, as well as the fading attitude of empathy and feeling of time for the suffering of others. For this reason, researchers look for factors that cause these problems. Lazy and lack of self-confidence, lack of attention and communication between children and parents, lack of motivating children towards learning and not supported by complete facilities and infrastructure is a picture of the unsuccessful implementation of Islamic religious education learning outcomes in the family environment. Provide motivation to children, provide exercises or guidance either by understanding verbally or actions (practice), providing complete facilities, and maintaining good relations/ communication with children. give praise/ prizes for children who excel, give examples of good learning, and maintain the familiarity / attention of parents with children. It is expected to be able to change the mindset of students towards their personality or behavior in the familyPersoalan implementasi hasil belajar Pendidikan Agama Islam dalam lingkungan keluaraga merupakan suatu hal yang tidak asing lagi, bahkan hampir setiap hari kita dapat menemukannya. Persoalan ini merupakan persoalan yang rumit, sehingga perlu untuk mencari kendala apa saja yang dihadapinya. Apabila kendalanya sudah diketahui maka harus dicarikan solusinya. Agar persoalan ini tidak menjadi persoalan yang berkepanjangan dan akan mengakibatkan timbulnya persoalan yang lainnya. Aktualisasi hasil belajar Pendidikan Agama Islam di Desa Kertagena Tengah Kecamatan Kadur Kabupaten Pamekasan pada lingkungan keluarga tidak sesuai dengan harapan orang tua. Hal ini disebabkan oleh faktor dari diri anak dan faktor lingkungannya. Seperti dapat dilihat dari semakin menurunnya moral dan akhlak siswa/anak, kurangnya rasa hormat anak kepada orang tua di rumah, serta memudarnya sikap empati dan rasa sempatik atas penderitaan orang lain. Untuk itu peneliti mencari faktor-faktor penyebab permasalahan tersebut. Malas dan kurangnya rasa percaya diri, kurangnya perhatian dan komunikasi antara anak dan orang tua, kurangnya memotivasi anak terhadap belajarnya serta tidak didukung oleh sarana dan prasarana yang lengkap adalah gambaran ketidak berhasilan implementasi hasil belajar pendidikan agama Islam dalam lingkungan keluarga. Memberikan motivasi pada anak, memberikan latihan-latihan atau bimbingan baik dengan cara memahami secara lisan atau tindakan (praktek), memberikan fasilitas yang lengkap, serta menjaga hubungan/komunikasi yang baik dengan anak. memberikan pujian/hadiah bagi anak yang berprestasi, pemberian contoh perbuatan belajar yang baik, serta menjaga keakraban/perhatian orang tua dengan anak. Diharapkan dapat merubah pola pikir siswa terhadap pribadi atau tingkah lakunya dalam keluarga
PENDAMPINGAN MASYARAKAT DALAM PENGUATAN MODERASI BERAGAMA DI DESA BATU KERBUY PASEAN PAMEKASAN
Realitas sosial masyarakat desa Batu Kerbuy dapat dikatagorikan sebagai masyarakat multikultural, maskipun secara keseluruhan penduduknya adalah pemeluk agama Islam. Sebab di desa ini terdapat beberapa afiliasi paham keagamaan yang berkembang dan diamalkan dalam kehidupan sehari, yaitu Nahdlatul Ulama’ (NU), Muhammadiyah, Serikat Islam, FPI, Al-Irsyad, Persis, dan Hidayatullah. Fenomena ini cendrung akan terjadi konflik atar satu kelompok dengan yang lainnya jika tidak diberikan pemahaman dan pendampingan akan pentingnya sikap saling menghomati, inklusif dan toleran. Tujuan pendampingan moderasi beragama ini adalah untuk menciptakan tatanan sosial kemasyarakatn yang rukun, damai, harmonis dengan menunjukkan sikap saling menghomati dan saling menghargai perbedaan yang terjadi di masyarakat. Metode pendampingan dalam penguatan moderasi beragama adalah metode PAR (participatory action research) yang didahului dengan sosialisasi rencana pendampingan, pelaksanaan, monitoring FGD dan evaluasi program pendampingan penguatan moderasi beragama. Hasil pengabdian menujukkan adanya perubahan sikap dan pola pikir masyarakat ke arah yang inklusif dan toleran dengan menujukkan kesediaan dan kesiapan hidup berdampingan secara damai dan harmonis dalam perbedaan
MODERNISASI KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM DALAM PERSPEKTIF AZYUMARDI AZRA
Ide pembaharuan kurikulum Pendidikan Islam di Indonesia menurut Azyumardi Azra perlu melihat dari input-output dunia pendidikan islam. Input dari masyarakat ke dalam sistem pendidikan yang terdiri dari idiologis-normatif, mobilisasi politik, mobilisasi ekonomi, mobilisasi sosial, dan mobilisasi kultural. Kesemuanya ini merupakan sistem pendidikan yang pokok atau bisa disebut konvensional. Penelitian ini termasuk dalam kategori penelitan kepustakaan (library research) dengan menggunakan metode dan pendekatan kualitatif-diskriptif; menggunakan metode pengumpulan data berupa dokumentasi; dan menggunakan analisis isi (content analysis) sebagai pisau analisis berbagai data yang dieksplorasi dari berbagai karya Azyumardi Azra yang kemudian dirangkai dalam berbagai narasi yang sistematis. Walhasil Tawaran gagasan modernisasi Kurikulm pendidikan Islam Azyumardi Azra lebih banyak terfokus di pendidikan Tinggi Islam, khususnya IAIN dan UIN yang dirumuskan dalam empat langkah fundamental, yakni(1) reformulasi tujuan perguruan tinggi, (2) restrukturisasi kurikulum, (3) simplifikasi beban belajar, (4) dekompartementalisasi. Sehingga pendekatan dalam pembaharuan kurikulum, maka kurikulum yang diimplementasikan adalah tidak lagi diarahkan pada subject matter melainkan kepada child oriented dan keadaan sosial yang dikembangkan dalam kerangka integrasi ilmu agama dengan ilmu umum, sains, dan teknologi.</p
Implementation of Merdeka Curriculum Based on Multicultural in Fiqh Learning: (Case Study at Madrasah Aliyah Darul Ulum II Middle Bujur Batumarmar Pamekasan)
The application of the Merdeka curriculum in fiqh learning is a form of response to the presence of the era of society 5.0, which invites every individual to continue to develop their potential independently adapted to technological sophistication. The purpose of this study is to examine and study the application of the Merdeka curriculum in fiqh learning. The research method used is a qualitative approach based on phenomenology with the intention of collecting data through observation, interviews, and document studies. Research data obtained through interviews, observation, and document study were then analyzed using Miles and Huberman's interactive analysis techniques. The results of the study show that the implementation of the Merdeka curriculum based on multiculturalism in conceptually learning fiqh in madrasas has formulated fiqh material through integration with the study of classical books (the yellow book). Students are given freedom and flexibility in studying and dissecting various literature that contains the study of fiqh. The structure of the Merdeka curriculum in fiqh learning implemented by this Madrasah is centered on the study of worship fiqh, mu'amalat fiqh, munakahat fiqh, roses fiqh, and jinayat fiq
Wasiat Pendidikan Sufistik dalam Naskah Tanbih Mursyid Tarekat Qodiriyyah Naqsyabandiyah Suryalaya (Telaah Pemikiran Guru Mursyid Tqn Suryalay)
Pendidikan sufi ini menjadi sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh individu dan masyarakat. Karakter moral masyarakat yang lemah perlu dikembangkan lebih jauh melalui berbagai cara yaitu pendidikan sufi secara vertikal adalah moral dan penyembahan kepada Allah, dan secara horizontal merupakan moral yang baik bagi sesama makhluk. Beberapa contoh hal yang dapat meningkatkan tingkat moral dan karakter adalah; Pertama, pendidikan awal dalam keluarga menanamkan karakter sejak dini oleh orang tua dan lingkungan sekitar seperti kejujuran, tanggung jawab, keberanian, sopan santun, rendah hati, murah hati dan sebagainya. Kedua, mengadakan kegiatan spiritual seperti pembacaan rutin, Kelahiran Nabi, habituasi zikir / wird setelah sholat. Ketiga, mengadakan pelatihan (Riyadlah) dalam bentuk munajat kepada Allah SWT. Murshid Tanbih TQN Suryalaya pada dasarnya menawarkan rangkaian solusi untuk mewujudkan pendidikan yang menekankan nilai-nilai penciptaan manusia yang sempurna.
 
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
