23 research outputs found
Penerapan Konsep Arsitektur Industrial pada Bangunan Masjid Jami Al Hurriyah Jakarta Selatan
Masjid merupakan bangunan tempat beribadah bagi umat muslim yang tersebar di seluruh dunia. Bangunan masjid sangat banyak di temui di Indonesia karena mayoritas penduduknya yang beragama muslim. Keberadaan masjid di indonesia tak lepas dari ciri khas arsitektur yang unik dan beragam. Berbagai macam konsep arsitektur diterapkan pada desain masjid untuk menciptakan bangunan yang berkualitas. Konsep arsitektur yang baik akan menciptakan pengalaman arsitektur yang mengesankan. Masjid di indonesia identik dengan permainan ornamen, kaligrafi, atap kubah, serta warna yang terang. Masjid Jami Al Hurriyah merupakan masjid di indonesia yang menerapkan konsep unik dan berbeda yakni konsep arsitektur industrial. konsep arsitektur industrial sangat mengedepankan fungsional dan kejujuran penggunaan material. Konsep arsitektur industrial sendiri muncul pada era modern seiring dengan banyaknya bekas pabrik di tahun tersebut yang sudah tidak produktif dan terbengkalai kemudian difungsikan kembali tanpa merubah keaslian nya. Masjid Jami Al Hurriyah memiliki pendekatan yang unik dengan memberi pengalaman bentuk, ruang dan suasana yang berbeda dengan masjid lainnya. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh informasi dan mempelajari penerapan arsitektur industrial pada bangunan masjid. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi terkait sudut pandang baru pada perancangan masjid. Kesimpulan yang didapat pada penelitian ini berupa penerapan elemen khas arsitektur industrial yang terlihat pada eksterior maupun interior masjid
TINJAUAN KONSTRUKSI BANGUNAN RUMAH TINGGI DI KAMPUNG ARAB AL-MUNAWAR PALEMBANG
Indonesia is a country that has traditional houses in almost every province. The architecture of traditional houses in Indonesia is identical to houses that use local materials obtained from the natural surroundings. The durability of the structure and construction of traditional houses is an essential concern, considering the materials used are constantly being consumed by the times. Rumah Tinggi is part of the typical Palembang pyramid house with the use of materials that are dominated by wood. Rumah Tinggi still survives today during the progress of the times. The review of high-rise construction is interesting to study considering the age of the building is more than 250 years, with occupants from the 7th generation. The research is located in the Arabian village of Al-Munawar, Palembang, with the object of Rumah Tinggi. The method used is qualitative with an observation and interview approach. This study aims to identify the existence of traditional houses called high houses against the development of the times. The study results show that using wood materials still dominates the structure and construction of Rumah Tinggi. Rumah Tinggi still survives to this day. Residents of the house still apply building maintenance by replacing damaged wood components and paint to rejuvenate the atmosphere of Rumah Tinggi. Adjustments in high houses do not fade the authenticity and characteristics of Rumah Tinggi.Abstrak_Indonesia merupakan negara yang memiliki rumah adat hampir di setiap provinsi. Arsitektur rumah tradisional yang berada di indonesia identik dengan rumah yang menggunakan material lokal yang diperoleh dari alam sekitar. Ketahanan struktur dan konstruksi rumah tradisional menjadi perhatian penting mengingat material yang digunakan terus termakan oleh zaman. Rumah Tinggi merupakan bagian dari rumah limas khas Palembang dengan penggunaan material yang didominasi oleh kayu. Rumah Tinggi masih bertahan hingga saat ini di tengah kemajuan zaman. peninjauan konstruksi Rumah Tinggi menjadi menarik untuk diteliti mengingat umur bangunan yang lebih dari 350 tahun dengan penghuni dari generasi ke-7. Penelitian berada di Kampung Arab Al-Munawar kota Palembang dengan objek Rumah Tinggi. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan observasi dan wawancara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi eksistensi konstruksi rumah tradisional yang disebut Rumah Tinggi terhadap perkembangan zaman dan teknologi konstruksi terbarukan meliputi konstruksi sub structure, super structure, dan upper structure. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa struktur dan konstruksi Rumah Tinggi masih didominasi dengan penggunaan material kayu. Konstruksi Rumah Tinggi yang didominasi oleh material kayu masih tetap bertahan sampai saat ini. Konstruksi kayu yang umumnya digunakan pada rumah tradisional terdahulu ternyata mampu bertahan hingga saat ini. Pemilihan jenis kayu yang tepat oleh masyarakat lokal dan dengan ilmu pertukangan masa lampau menjadikan konstruksi rumah yang kokoh. Pemeliharaan khusus pada material lokal seperti kayu harus terus dilakukan guna memperpanjang masa pakai dari kayu tersebut. Pemeliharaan bangunan tetap dilakukan oleh penghuni rumah dengan melakukan pergantian komponen kayu yang rusak, serta melakukan pengecatan untuk memberikan peremajaan pada suasana Rumah Tinggi. Penyesuaian yang terjadi pada Rumah Tinggi tidak membuat keaslian serta ciri khas Rumah Tinggi pudar.
Kata kunci: Arsitektur Tradisional; Rumah Tinggi; Kampung Arab Al-Munawar; Palembang.
Abstract_ Indonesia is a country that has traditional houses in almost every province. The architecture of traditional houses in Indonesia is identical to houses that use local materials obtained from the natural surroundings. The durability of the structure and construction of traditional houses is an essential concern, considering the materials used are constantly being consumed by the times. Rumah Tinggi is part of the typical Palembang pyramid house with the use of materials that are dominated by wood. Rumah Tinggi still survives to this day during the progress of the times. The review of the construction of Rumah Tinggi is interesting to study, considering the age of the building is more than 350 years, with occupants from the 7th generation. The research is located in the Arabian Village of Al-Munawar, Palembang city, with the object of the Rumah Tinggi. The method used is qualitative, with an observation and interview approach. This study aims to identify the existence of traditional house construction called Rumah Tinggi against the times and renewable construction technology, including the construction of substructure, superstructure, and upper structure. The study results show that the use of wood materials still dominates the structure and construction of the Rumah Tinggi. The construction of Rumah Tinggi, dominated by wood materials, persists to this day. The wooden construction, which is generally used in the previous traditional houses, has been able to survive until now. The selection of the correct type of wood by the local community and past carpentry knowledge makes for solid house construction. Special care on local materials such as wood must continue to be carried out to extend the wood’s service life. Residents of the house still maintain building maintenance by replacing damaged wood components and paint to rejuvenate the Rumah Tinggi atmosphere. The adjustments that occurred in the Rumah Tinggi did not make the authenticity and characteristics of the High House fade.
Keywords: Traditional Architecture; Rumah Tinggi; Arabian Village of Al-Munawar; Palembang
Analisis Hindcasting Gelombang Terhadap Perubahan Garis Pantai di Perairan Pesisir Pantai Padang Menggunakan Data Angin Permukaan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gelombang pecah dan mengetahui perubahan garis pantai di sepanjang Pantai Padang, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang. Metode yang digunakan berdasarkan data angin di masa lampau (hindcasting) yaitu menggunakan data angin 10 tahun (2010-2019) yang diperoleh dari Stasiun Meteorologi Maritim Teluk Bayur untuk mendapatkan tinggi dan periode gelombang yang signifikan. Untuk mengetahui perubahan garis pantai yang terjadi digunakan metode tumpang susun (overlay) citra satelit Landsat 5 TM tahun 2011 dan Landsat 8 OLI/TIRS tahun 2019, kemudian dianalisis menggunakan metode Digital Shoreline Analysis System (DSAS) untuk menghitung laju perubahan garis Pantai Padang. Hasil penelitian menunjukkan gelombang di perairan Pantai Padang didominasi oleh gelombang dari arah Barat Daya dengan tinggi gelombang 1,58 m dan periode gelombang 5,27 s. Tinggi gelombang pecah yang diperoleh adalah 1,1 m dan pecah pada kedalaman 3 m dari bibr pantai. Gelombang pecah yang terjadi secara terus menerus menyebabkan garis Pantai Padang mengalami kemunduran (abrasi) dengan laju abrasi 3,50 m/tahun. Abrasi terbesar terletak di daerah Muaro Lasak, Purus. Penumpukan-penumpukan sedimen yang dibawa oleh gelombang dan kembali ke pantai menyebabkan terjadinya akresi (penumpukan sedimen) dengan laju akresi sebesar 3,89 m/tahun. Akresi terbesar terletak di belakang Hotel Pangeran Beach, Rimbo Kaluang.</jats:p
Strategi Pemasaran Pengembang Perumahan Saat Pandemi Covid-19 di Kota Bandar Lampung
Lampung is in the top ten lowest positive cases of Covid-19 in Indonesia from June 2020. Even so, the Covid-19 pandemic still affects people\u27s interest in buying a house. Amid the pressure of the pandemic, real estate developers must be able to maintain their business continuity through a good marketing strategy. The study aims to determine the marketing strategies carried out by housing developers during the Covid-19 pandemic in Sukarame, Bandar Lampung. The research method used is qualitative with descriptive analysis techniques. Four aspects of the marketing mix theory, namely product, price, promotion, and place, are used as variables in the study. Of the four aspects, only product aspects are not affected by pandemic conditions. Developers are still using the same marketing strategies as before the pandemic. Even so, developers are still carrying out new marketing strategies through online media to get consumers during the Covid-19 pandemic
Kenyamanan Sirkulasi Bangunan Kampus Berdasarkan Persepsi Pengguna (Studi Kasus Gedung E ITERA)
Institut Teknologi Sumatera (ITERA) merupakan salah satu institut teknologi yang berada di Pulau Sumatera. ITERA haruslah menyediakan fasilitas gedung yang memadai untuk menunjang kegiatan perkuliahan. Salah satu gedung perkuliahan yang disediakan oleh ITERA yakni Gedung E. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi mahasiswa terhadap kenyamanan sirkulasi Gedung E ITERA. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan observasi dan penilaian kuesioner terhadap 50 responden dengan tujuan untuk memperdalam analisa yang dilakukan antara kondisi lapangan dengan persepsi pengguna terhadap suatu fenomena yang terjadi secara apa adanya. Hasil penelitian menunjukkan lebih dari 50% sirkulasi pada area ruang dalam Gedung E ITERA masih dapat dikategorikan nyaman. Adapun berdasarkan hasil kusesioner tentang kelayakan, kesesuaian, kenyamanan, kebisingan, dan keamanan gedung E menunjujukkan hasil yang masih dirasakan nyaman oleh penghuni. Beberapa hal yang masih dirasa kurang oleh pengguna Gedung E adalah tingkat kesesuaian ruang kelas yang dinilai kurang oleh pengguna
Analisis materi pembelajaran pendidikan fiqh di SMP Muhammadiyah Palangka Raya
Learning material in learning textbooks is always used as a source or main reference in retrieving information and knowledge. Therefore, learning material in textbooks is very important. The problem in this study is whether the learning materials of VII Class Fiqh Education of Muhammadiyah Middle School published by the Basic and Secondary Education Board of Muhammadiyah Central Leadership are in accordance with the ISMUBA Curriculum.
This study uses qualitative research on learning material in textbooks for Fiqh Education in class VII at Muhammadiyah Middle School. Data collection techniques, namely the documentation method, and data analysis techniques using content analysis (Content Analysis) means that the author analyzes the material or content contained in primary data (learning material in learning textbooks). Data analysis begins with reading, reviewing all available data, especially primary data. Then proceed with adjusting learning materials for VII grade jurisprudence in Muhammadiyah Middle School with ISMUBA Curriculum, describing data, and discussing research and drawing conclusions.
The results showed that the learning materials of Class VII Fiqh Education at Muhammadiyah Middle School were appropriate and could be used in the learning process. Therefore according to the authors of the learning material in the textbooks of Fiqh Education VII in SMP Muhammadiyah can be used as a source and teacher's handbook in the learning process.
ABSTRAK
Materi pembelajaran dalam buku teks pembelajaran selalu dijadikan sumber atau rujukan utama dalam mengambil informasi dan pengetahuan. Oleh karena itu, materi pembelajaran dalam buku teks sangat penting. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana kesesuaian materi pembelajaran Pendidikan Fiqh kelas VII SMP Muhammadiyah terbitan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Pusat Muhammadiyah sudah sesuai dengan Kurikulum Al-Islam, Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab (ISMUBA).
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif pada materi pembelajaran dalam buku teks pembelajaran Pendidikan Fiqh kelas VII di SMP Muhammadiyah. Teknik pengumpulan data yaitu dengan metode dokumentasi, dan teknik analisis data menggunakan analisis konten (Conten Analisis) artinya penulis melakukan analisis terhadap materi atau isi yang ada dalam data primer (materi pembelajaran dalam buku teks pembelajaran). Analisis data dimulai dengan membaca, menelaah seluruh data yang telah tersedia, terutama data primer. Kemudian dilanjutkan dengan menyesuaikan materi pembelajaran Pendidikan Fiqh kelas VII SMP Muhammadiyah dengan Kurikulum ISMUBA, memaparkan data, dan pembahasan penelitian dan menarik kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa materi pembelajaran Pendidikan Fiqh kelas VII SMP Muhammadiyah sudah sesuai dan dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Maka dari itu menurut penulis materi pembelajaran pada buku teks pembelajaran Pendidikan Fiqh kelas VII di SMP Muhammadiyah dapat digunakan sebagai sumber dan buku pegangan guru dalam proses pembelajaran
Factors in Selecting Rental Housing Based on ITERA Student Preferences
The development of higher education institutions in Indonesia is increasing rapidly, one of which is at the Sumatran Institute of Technology or ITERA. One of ITERA’s significant developments is the increase in the number of students. The increasing number of ITERA students certainly impacts increasing the need for supporting facilities around the ITERA campus. One of them is the increasing number of housing needs, in this case, rental housing. Because not a few ITERA students come from outside Lampung Province, rental housing is vital in the ITERA area. The rental housing around the ITERA campus has its type and criteria, so ITERA students have different preferences in choosing rental housing. This study aims to find out what factors are why ITERA students choose rental housing. Research data was collected through a survey process through online questionnaires using a mix-method method, namely a mixture of qualitative and quantitative methods. Meanwhile, data analysis uses content analysis and distribution analysis methods. The research results show a tendency for specific reasons toward the preference for choosing rental housing. ITERA students tend to choose boarding houses for privacy reasons, House in multiple occupation for facilities, and dormitory types for financing reasons. In general, ITERA students tend to choose rental housing for financial reasons
Ventilation Performance of Air Duct in Double Loaded Corridor Building: A Case Study
Buildings with double-loaded corridor types are often found in Indonesia and generally function as offices or lecture rooms. This type of building is popular because of its efficient circulation path to accommodate the movement of occupants. However, a wall separating the room from the corridor makes it impossible to put windows to implement a cross-ventilation system due to acoustic problems. Hence, to achieve indoor thermal comfort, this type of building relies on using an air conditioning (AC) system. However, with the WHO's call to reduce the use of AC during the COVID-19 pandemic, it is necessary to evaluate cross-ventilation in double-loaded corridor buildings to meet comfort standards while still preventing acoustic problems due to noise from corridors and other spaces. The study proposes a new natural ventilation system using air ducts placed above the corridor ceiling to create cross-ventilation in lecture buildings. The E-ITERA building was chosen as a case study in this research. The building has a glass facade with several small windows that can be opened outside. The corridor of this building is designed with openings at both ends, allowing for direct connection to the outside air. The walls facing the passage have a single door and four small ventilations on the aisle's upper side. Simulations were carried out in two classrooms on the 3rd floor using CFD (Computational Fluid Dynamics) software. Experiments were carried out to change the size of the air duct and the size of the ventilation on the wall that leads to the corridor. The results showed that the air duct was able to create cross-ventilation. Ventilation performance is improved when the WWR air duct is the same as the WWR window. The highest air velocity in the centre of the room is 0.6 m/s. Doi: 10.28991/CEJ-2023-09-10-06 Full Text: PD
Budaya Pepadun dan Saibatin dalam Rencana Pengembangan Taman di Kota Bandar Lampung
Pengembangan taman saat ini begitu masif di Indonesia. Namun, pengembangan tersebut baru dari segi kuantitas, belum banyak di kualitas dan identitas. Banyak taman yang mengadopsi desain, bentukan, dan nilai-nilai dari taman yang sudah ada di daerah lain bahkan di luar negeri. Padahal, Indonesia dengan suku bangsa yang besar memiliki kekayaan budaya lokal yang dapat menjadi keunikan dan identitas tersendiri dalam pengembangan taman di wilayah Indonesia, termasuk Budaya Pepadun dan Saibatin di Lampung. Pepadun dan Saibatin merupakan dua kelompok masyarakat adat di Lampung yang memiliki beberapa motif dan unsur budaya yang berbeda. Masyarakat adat Pepadun juga cenderung mendiami area daratan sedangkan Masyarakat adat Saibatin cenderung tinggal di area pesisir Lampung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi dan rencana pengembangan taman di Kota Bandar Lampung berdasarkan area geografis dan unsur penciri masyarakat adat lampung Pepadun dan Saibatin. Metode penelitian ini adalah kualitatif-deskriptif melalui kajian data sejarah-budaya dan observasi lapang. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa peninggalan budaya masyarakat adat Lampung berupa motif dan unsur identitas budaya lainnya dapat diintegrasikan dan diterapkan dengan rencana pengembangan taman. Peta geografis masyarakat adat Lampung di Kota Bandar Lampung menjadi salah satu penemuan dari penelitian ini
Study of Pedestrian Path Comfort Evaluation in Campus Environment of Institut Teknologi Sumatera
Pedestrian paths or commonly referred to as pedestrian paths are public facilities that must exist in every place and one of them must be found in the campus area. If the pedestrian path on campus does not make it comfortable and safe, it will have an impact on the psychology of students in walking activities and prefer to use motorized vehicles. In improving the evaluation of the quality of campus environmental infrastructure that is comfortable and safe for its users, the comfort of pedestrian paths is very important for pedestrians. In this case, the comfort evaluation for pedestrian paths was held. The methods used in collecting data for this research are Descriptive Quantitative and Qualitative Methods, namely by observing directly to the research site and interviewing in private for convenience and further expressing views on pedestrian paths in the ITERA campus environment. Based on an assessment of 7 aspects, pedestrian paths or pedestrians at ITERA are lacking in terms of condition and comfort. The arrangement of the trees is also good and pedestrians also feel safe when walking. Cleanliness on the pedestrian path is clean with free space for movement. The zone that is less comfortable when traveling is in zone C because many students attend classes in the area. The expected facilities are vegetation, seating for resting and also road crossing markers
