Jurnal Fisika Unand
Not a member yet
    7255 research outputs found

    Norm-attaining composition operators on Lipschitz spaces

    No full text
    Every composition operator C_{\varphi} on the Lipschitz space Lip_0(X) attains its norm. This fact is essentially known and we give in this paper a sequential characterization of the extremal functions for the norm of C_{\varphi} on Lip_0(X). We also characterize the norm-attaining composition operators C_{\varphi} on the little Lipschitz space lip_0(X) which separates points uniformly and identify the extremal functions for the norm of C_{\varphi} on lip_0(X). We deduce that compact composition operators on lip_0(X) are norm-attaining whenever the sphere unit of lip_0(X) separates points uniformly. In particular, this condition is satisfi ed by spaces of little Lipschitz functions on Hölder compact metric spaces (X,d^{\alpha}) with 0<\alpha<1

    Analisis Spatiotemporal Dinamika Garis Pantai Dan Pemetaan Zona Bahaya Tsunami Di Kota Padang Menggunakan Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis

    Full text link
    The city of Padang is one of Indonesia's coastal areas that is highly vulnerable to tsunamis due to its location directly facing the Mentawai–Sumatra megathrust subduction zone. This study aims to analyze coastal dynamics using multitemporal satellite imagery and examine its relationship with tsunami hazard zoning based on the physical characteristics of the area. The methodology includes digitizing the coastline for 2013 and 2025, analyzing the rate of coastline change using the Digital Shoreline Analysis System (DSAS), and combining spatial parameters such as elevation, slope, distance from the coastline, and proximity to rivers to produce a tsunami hazard zone map. Overlay analysis indicates that areas with low elevation, gentle slopes, and proximity to river mouths and coastlines fall into the category of high tsunami vulnerability. The results of the study show spatial variations in coastal dynamics in Padang City, with significant abrasion observed in Koto Tangah District (-1.754 m/year) and Padang Selatan (-1.051 m/year), while notable accretion was recorded in Bungus Teluk Kabung (+1.470 m/year). This study proves that the integration of remote sensing data and Geographic Information Systems (GIS) provides a comprehensive spatial framework to support coastal disaster mitigation efforts and risk-based spatial planning.Kota Padang merupakan salah satu wilayah pesisir di Indonesia yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap bahaya tsunami akibat letaknya yang langsung berhadapan dengan zona subduksi megathrust Mentawai–Sumatra. Studi ini bertujuan untuk menganalisis dinamika garis pantai menggunakan citra satelit multitemporal dan mengkaji hubungannya dengan zonasi bahaya tsunami berdasarkan karakteristik fisik wilayah tersebut. Metodologi meliputi digitasi garis pantai untuk tahun 2013 dan 2025, analisis laju perubahan garis pantai menggunakan Digital Shoreline Analysis System (DSAS), serta penggabungan parameter spasial yakni elevasi, kemiringan lereng, jarak dari garis pantai, dan kedekatan dengan sungai untuk menghasilkan peta zona bahaya tsunami. Analisis overlay mengindikasikan bahwa area dengan elevasi rendah, lereng landai, dan kedekatan dengan muara sungai juga garis pantai masuk dalam kategori dengan kerentanan tsunami tinggi. Hasil penelitian menunjukkan variasi spasial dalam dinamika garis pantai di Kota Padang, dengan abrasi yang signifikan teramati di Kecamatan Koto Tangah (-1,754 m/tahun) dan Padang Selatan (-1,051 m/tahun), sementara akresi yang mencolok tercatat di Bungus Teluk Kabung (+1,470 m/tahun). Studi ini membuktikan bahwa integrasi data penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) menyediakan kerangka spasial yang komprehensif untuk mendukung upaya mitigasi bencana pesisir dan perencanaan spasial berbasis risiko

    Penerapan Sistem Monitoring Suhu dan Kelembaban Ruangan Berbasis IoT untuk Optimalisasi Pengujian Di Laboratorium Riset UPT Laboratorium Sentral Universitas Andalas

    Full text link
    The quality of &nbsp;laboratory test results is strongly influenced by temperature and humidity conditions, therefore monitoring these parameters is essential to ensure compliance with ISO/IEC 17025:2017 standards. This study aims to develop an Internet of Things (IoT)-based temperature and humidity monitoring system accessible via the Adafruit IO platform. The system is designed using a DHT22 sensor for temperature and humidity detection, with data processing carried out by the ESP32 microcontroller, which transmits the information in realtime to Adafruit IO. The experimental results indicate that the system performs reliably in recording laboratory room conditions, with an average measurement error of 1.873% for temperature and 3.743% for humidity, while the overall accuracy reached 98,127% for temperature and 96,257% for humidity. furthermore, the ESP32 successfully transmitted data to the Adafruit IO dashboard and activated the LED and buzzer as warning indicators when the measured values exceeded the predefined thresholds.Kualitas hasil pengujian laboratorium sangat dipengaruhi oleh kondisi suhu dan kelembaban, sehingga pemantauan kedua parameter tersebut menjadi sangat penting untuk memastikan kesesuaian dengan standar ISO/IEC 17025:2017. Penelitian ini bertujuan membuat suatu sistem monitoring&nbsp;suhu dan kelembaban berbasis Internet of Things&nbsp;(IoT) yang dapat di akses melalui plaftform&nbsp;Adafruit IO.&nbsp;Sistem &nbsp;dirancang menggunakan sensor DHT22 sebagai pendeteksi suhu dan kelembaban, dengan pengolahan data dilakukan oleh mikrokontroler ESP32 yang mengirimkan informasi secara realtime&nbsp;ke Adafruit IO. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem mampu berfungsi dengan baik dalam merekam kondisi ruangan laboratorium dengan perrsentase kesalahan 1,873% untuk suhu dan 3,743% untuk kelembaban, serta ketepatan rata-rata mencapai 98,127% untuk suhu dan 96,257% untuk kelembaban. Selain itu, ESP32 berhasil mengirimkan data ke dashboard&nbsp;Adafruit IO serta mengaktifkan LED dan buzzer sebagai indikator peringatan ketika parameter melebihi ambang batas yang telah ditentukan

    Verifikasi Dosis Titik pada Perencanaan Pengobatan Radioterapi Teknik IMRT Berdasarkan Kasus Uji C-Shape dan Mock Prostate Standar AAPM TG-119: Indonesia

    Full text link
    Verifikasi dosis titik merupakan tahap krusial dalam Quality Assurance (QA) radioterapi Intensity-Modulated Radiation Therapy (IMRT) yang berfungsi memastikan kesesuaian antara dosis radiasi yang dihitung oleh Treatment Planning System (TPS) dengan dosis yang diterima secara aktual. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi deviasi dosis titik dengan menggunakan slab phantom, mengikuti protokol uji standar American Association of Physicists in Medicine Task Group 119 (AAPM TG-119), yaitu C-Shape Test dan Mock Prostate Test. Evaluasi dilakukan dengan memvariasikan dua parameter utama: jumlah arah lapangan penyinaran (5, 7, dan 9 arah) dan lebar segmen (segment width) (5 mm, 7,5 mm, dan 10 mm). Hasil studi menunjukkan bahwa seluruh nilai perbedaan dosis yang diukur pada lokasi target maupun Organ at Risk (OAR) untuk kedua skenario uji berada di bawah batas toleransi klinis 3% yang telah ditetapkan oleh AAPM TG-119. Berdasarkan analisis, konfigurasi perencanaan terbaik untuk Mock Head and Neck Test adalah 7 arah lapangan penyinaran segment width 5 mm dengan ΔD OAR 0,076% dan jumlah MU 978,34, sedangkan untuk Mock Prostate Test adalah 5 arah lapangan penyinaran segment width 5 mm dengan ΔD OAR 0,027% dan jumlah MU 515,27. Hasil ini diharapkan dapat menjadi acuan awal dalam menentukan strategi perencanaan IMRT yang efektif dan efisien dalam praktik klinis.Verifikasi dosis titik merupakan tahap krusial dalam Quality Assurance (QA) radioterapi Intensity-Modulated Radiation Therapy (IMRT) yang berfungsi memastikan kesesuaian antara dosis radiasi yang dihitung oleh Treatment Planning System (TPS) dengan dosis yang diterima secara aktual. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi deviasi dosis titik dengan menggunakan slab phantom, mengikuti protokol uji standar American Association of Physicists in Medicine Task Group 119 (AAPM TG-119), yaitu C-Shape Test dan Mock Prostate Test. Evaluasi dilakukan dengan memvariasikan dua parameter utama: jumlah arah lapangan penyinaran (5, 7, dan 9 arah) dan lebar segmen (segment width) (5 mm, 7,5 mm, dan 10 mm). Hasil studi menunjukkan bahwa seluruh nilai perbedaan dosis yang diukur pada lokasi target maupun Organ at Risk (OAR) untuk kedua skenario uji berada di bawah batas toleransi klinis 3% yang telah ditetapkan oleh AAPM TG-119. Berdasarkan analisis, konfigurasi perencanaan terbaik untuk Mock Head and Neck Test adalah 7 arah lapangan penyinaran segment width 5 mm dengan ΔD OAR 0,076% dan jumlah MU 978,34, sedangkan untuk Mock Prostate Test adalah 5 arah lapangan penyinaran segment width 5 mm dengan ΔD OAR 0,027% dan jumlah MU 515,27. Hasil ini diharapkan dapat menjadi acuan awal dalam menentukan strategi perencanaan IMRT yang efektif dan efisien dalam praktik klinis

    Klasifikasi Tanaman Menggunakan Metode Deep Learning Residual Network (ResNet) Berbasis Data Time Series Penginderaan Jauh di Desa Girimulyo, Lampung Timur

    Full text link
    Most Indonesians work in agriculture, making crop-type maps essential for food security. This study evaluates time-series classification using Residual Network (ResNet) for crop mapping. Sentinel-2A imagery from May 2021 to May 2022 was used with 120 samples across five classes: Corn, Coconut, Non-crop, Banana, and Other Crops. The data were processed into a regularized Earth Observation (EO) data cube and trained using samples filtered with Self-Organizing Map (SOM) under two schemes: single clustering (SC) and double clustering (DC). The ResNet model was trained with filtered data and tested with varying epochs. The study produced a crop-type map of Girimulyo, East Lampung, smoothed with the Bayesian method. Accuracy assessment showed that SC at 100 epochs achieved 87%, exceeding the 85% threshold, while DC yielded lower accuracy due to reduced training data. These results confirm that ResNet-based time-series classification is effective for crop-type mapping in the study area.Sebagian besar penduduk Indonesia bekerja di sektor pertanian, sehingga peta jenis tanaman penting untuk mendukung ketahanan pangan. Penelitian ini mengevaluasi klasifikasi time series berbasis Residual Network (ResNet) untuk pemetaan tanaman. Data yang digunakan berupa citra Sentinel-2A periode Mei 2021–Mei 2022 dengan 120 sampel pada lima kelas: Jagung, Kelapa, Non-tanaman, Pisang, dan Tanaman Lain. Data diolah menjadi Earth Observation (EO) data cube terregulerisasi, kemudian dilatih menggunakan sampel melalui dua skema Self-Organizing Map (SOM), yaitu single clustering (SC) dan double clustering (DC). Model ResNet dilatih dengan data tersaring dan diuji dengan variasi epoch. Hasil penelitian menghasilkan peta jenis tanaman wilayah Girimulyo, Lampung Timur, yang dismoothing menggunakan metode Bayesian. Uji akurasi menunjukkan skema SC pada epoch ke-100 mencapai 87%, melampaui ambang minimum 85%. Sebaliknya, skema DC memberi hasil lebih rendah akibat berkurangnya data pelatihan. Dengan demikian, klasifikasi time series berbasis ResNet efektif untuk pemetaan jenis tanaman di daerah penelitian

    Pemetaan Potensi Panas Bumi Menggunakan Penginderaan Jauh dan Analisis Multikriteria Berbasis AHP di Surian, Kabupaten Solok, Sumatera Barat

    Full text link
    This research was conducted in Surian, Solok Regency, West Sumatra, which is located in the active magmatic zone of the Barisan Mountains and is believed to have geothermal potential. The main objective of this study was to identify areas with potential geothermal resources using remote sensing data and spatial analysis methods. The parameters used included the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) from Sentinel-2 imagery, Land Surface Temperature (LST) from Landsat-8 imagery, and Fault Fracture Density (FFD) from SRTM DEM data. The data were processed using Google Earth Engine (GEE) and QGIS 3.34, and the combined analysis of the three parameters was carried out using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method. The results showed that the NDVI values ​​ranged from –0.1907 to 0.9117, the LST between 13.4 °C and 32.9 °C, and the FFD between 0.001 and 3.474. These values ​​were generally concentrated around the main fault zone, particularly in the central to western part of the study area. A geothermal potential map was successfully created, dividing the regions into three categories: low, medium, and high. This map also helped identify several areas with potential, but without clear manifestations on the surface. In conclusion, this study demonstrates that combining NDVI, LST, and FFD parameters with spatial analysis is a method that can support geothermal exploration.Penelitian ini dilakukan di Surian, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, yang terletak pada zona magmatik aktif Pegunungan Barisan dan diyakini memiliki potensi panas bumi. Tujuan utama penelitian ini adalah mengidentifikasi area yang berpotensi memiliki sumber daya panas bumi dengan menggunakan data penginderaan jauh dan metode analisis spasial. Parameter yang digunakan meliputi Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dari citra Sentinel-2, Land Surface Temperature (LST) dari citra Landsat-8, serta Fault Fracture Density (FFD) dari data SRTM DEM. Data diolah menggunakan Google Earth Engine (GEE) dan QGIS 3.34, analisis kombinasi ketiga parameter dilakukan melalui metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai NDVI berkisar antara –0,1907 hingga 0,9117, LST antara 13,4 °C hingga 32,9 °C, dan FFD antara 0,001 hingga 3,474. Nilai-nilai ini umumnya terkonsentrasi di sekitar zona sesar utama, khususnya di bagian tengah hingga barat wilayah penelitian. Peta potensi panas bumi berhasil dibuat daerah dibagi menjadi tiga kategori yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Peta ini juga membantu mengidentifikasi beberapa area yang berpotensi, namun tidak menunjukkan manifestasi jelas di permukaan. Sebagai kesimpulan, penelitian ini menunjukkan bahwa penggabungan parameter NDVI, LST, dan FFD dengan analisis spasial merupakan metode yang dapat mendukung eksplorasi tahap awal potensi panas bumi terutama di wilayah dengan keterbatasan akses lapangan

    Optimalisasi Potensi Limbah Alat Gelas sebagai Adsorben Limbah Logam Berat Fe, Cd, Pb dan Mn Skala Laboratorium

    Full text link
    Chemical laboratory activities produce liquid waste containing hazardous materials, including heavy metals such as Fe, Cd, Pb, and Mn, which have the potential to pollute the environment if not managed properly. This study aims to optimize the use of laboratory glassware waste as an environmentally friendly alternative adsorbent to reduce heavy metal levels in laboratory-scale liquid waste. The research stages include collecting glassware waste from various laboratories, grinding, sieving, and activating the adsorbent through chemical treatment (HNO₃ and HCl-HNO₃), drying, calcination, and adding NaOH to open the adsorbent pores. Material characterization was carried out using SEM, FTIR, and BET to observe the morphology and surface area of the pores. Initial results showed that the three-stage activation was able to improve the quality of the adsorbent pores so that it was ready for use in the adsorption process. In the next stage, heavy metal adsorption tests were carried out with variations in time and mass of the adsorbent, then analyzed using Flame AAS and re-characterized with SEM-EDX, FTIR, and BET. The results using FTIR can be proven that the adsorbent contains SiO2 compounds that have the potential to have pores due to the structure of the compound. The results of the BET characterization obtained a surface area value of 0, which proves that the adsorbent has a very small pore size, also called micropores. The results of Flame AAS measurements show that the adsorbent is able to adsorb heavy metals with an adsorption percentage above 85%.Aktivitas laboratorium kimia menghasilkan limbah cair yang mengandung bahan berbahaya, termasuk logam berat seperti Fe, Cd, Pb, dan Mn, yang berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan pemanfaatan limbah alat gelas laboratorium sebagai adsorben alternatif ramah lingkungan untuk mengurangi kadar logam berat pada limbah cair skala laboratorium. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan limbah alat gelas dari berbagai laboratorium, proses penggerusan, pengayakan, dan aktivasi adsorben melalui perlakuan kimia (HNO₃ dan HCl-HNO₃), pengeringan, kalsinasi, serta penambahan NaOH untuk membuka pori adosrben. Karakterisasi material dilakukan menggunakan SEM, FTIR, dan BET untuk mengamati morfologi dan luas permukaan pori. Hasil awal menunjukkan bahwa aktivasi tiga tahap mampu meningkatkan kualitas pori adsorben sehingga siap digunakan dalam proses adsorpsi. Pada tahap berikutnya, uji adsorpsi logam berat dilakukan dengan variasi waktu&nbsp;dan massa adsorben&nbsp;kemudian dianalisis menggunakan Flame AAS serta dikarakterisasi kembali dengan SEM-EDX, FTIR, dan &nbsp;BET.&nbsp;Hasil menggunakan FTIR dapat dibuktikan bahwa adsorben mengandung senyawa SiO2 yang berpotensi memiliki pori karena struktur susunan senyawanya. Pada hasil karakterisasi BET diperoleh nilai surface area 0 yang membuktikan bawa adsorben memiliki ukuran pori yang sangat kecil atau disebut juga mikropori. Hasil pengukuran Flame AAS menunjukkan bahwa adsorben mampu mengadorpsi logam berat dengan persentase adsorbsi diatas 85%

    Sistem Kontrol Otomatis Pemberian Larutan Nutrisi untuk Tanaman Kale Pada Metode Pertanian Aeroponik Berbasis Mikrokontroler

    Full text link
    Innovation in agricultural cultivation methods continues to be developed to improve production yields, one of which is the aeroponic system that enables plants to grow without soil media. This study designs and implements a prototype of an automatic control system for nutrient solution delivery in kale cultivation using an aeroponic method. The system is equipped with a DHT22 sensor for temperature and humidity monitoring, a TDS sensor for nutrient concentration measurement, and a JSN-SR04T sensor for solution level detection. The actuators include a fan cooler, a DC water pump, and two mini DC pumps, all operating automatically based on sensor data. The fan cooler is activated at temperatures above 26 °C, the mist nozzle sprays the solution when humidity drops below 88% or periodically every 10 minutes, while the mini DC pumps maintain the nutrient concentration and solution level within optimal ranges. Testing was conducted over 29 days with data recorded at 07:15, 12:00, 16:00, and 20:00. The results show that the system can operate automatically, stably, and effectively in maintaining environmental conditions that support the growth of kale plants in an aeroponic system.Inovasi dalam metode budidaya pertanian terus dikembangkan untuk meningkatkan hasil produksi, salah satunya melalui sistem aeroponik yang memungkinkan tanaman tumbuh tanpa media tanah. Penelitian ini merancang dan mengimplementasikan prototipe sistem kontrol otomatis pemberian larutan nutrisi pada tanaman kale berbasis aeroponik. Sistem dilengkapi dengan sensor DHT22 untuk pemantauan suhu dan kelembapan, sensor TDS untuk pengukuran konsentrasi larutan, serta sensor JSN-SR04T untuk deteksi ketinggian larutan. Akuator yang digunakan meliputi fan cooler, pompa air DC, dan dua pompa miniDC yang bekerja berdasarkan data sensor secara otomatis. Fan cooler diaktifkan pada suhu di atas 26 °C, mist nozzel menyemprotkan larutan saat kelembapan turun di bawah 88 % atau secara periodik setiap 10 menit, sementara pompa miniDC menjaga konsentrasi dan ketinggian larutan pada batas optimal. Pengujian dilakukan selama 29 hari dengan pencatatan data pada pukul 07.15, 12.00, 16.00, dan 20.00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem dapat beroperasi secara otomatis, stabil, dan efektif dalam menjaga kondisi lingkungan yang mendukung pertumbuhan tanaman kale pada metode aeroponik

    Stabilitas Ukuran Nanoemulsi Parfum Campuran Minyak Atsiri Black Musk dan Lili yang Dienkapsulasi dengan Polimer Tween 80

    Full text link
    In this study, a perfume mixture of black musk and lily essential oils was nanoemulsified using a tween 80 polymer encapsulator and dispersed in water to produce a water-based perfume. Water was used as a base to replace alcohol, which often causes side effects on the skin. Its size stability was tested, both as a result of storage time and as a result of heating. The purpose of this study was to produce a water-based perfume from a nanoemulsion mixture of black musk and lily essential oils, and to test its size stability. Nanoemulsion was carried out using an atomization technique. The results showed that the average diameter and standard deviation of the nanoemulsion changed after being stored for 120 days and when heated to a temperature of 45oC. The size change during storage was mainly caused by the very small zeta potential, which did not produce sufficient electrostatic repulsion between the nanoemulsions to prevent Ostwald ripening and coalition. The size change due to heating, in addition to the above, was also caused by the increasing kinetic energy of the tween 80 polymer molecules on the surface of the nanoemulsion, which caused a reorganization (solidification) of its structure. Thus, the stability of the size of the nanoemulsion perfume mixture of black musk and lily essential oils produced in this study was greatly influenced by storage time and heating temperature.Pada penelitian ini, parfum campuran minyak atsiri black musk dan lili telah dinanoemulsi menggunakan enkapsulator polimer tween 80 dan didispersi di dalam air untuk menghasilkan parfum berbasis air. Air digunakan sebagai basis untuk menggantikan alkohol yang sering menimbulkan efek samping pada kulit. Stabilitas ukurannya telah diuji, baik sebagai akibat lama waktu penyimpanan dan sebagai akibat pemberian pemanasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan parfum berbasis air dari nanoemulsi campuran minyak atsiri black musk dan lili, dan menguji stabilitas ukurannya. Nanoemulsi dilakukan dengan teknik atomisasi. Dari hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa diameter rata-rata dan standar deviasi nanoemulsi berubah setelah disimpan selama 120 hari dan ketika dipanasi sampai temperatur 45oC. Perubahan ukuran selama masa penyimpanan, utamanya disebabkan oleh potensial zetanya yang sangat kecil, sehingga tidak menghasilkan gaya tolak elektrostatik yang memadai antar nanoemulsi untuk menghindari Ostwald ripening dan koalisi. Perubahan ukuran akibat pemanasan, selain oleh hal di atas, juga disebabkan oleh faktor meningkatnya energi kinetik molekul polimer tween 80 di permukaan nanoemulsi yang menyebabkan terjadinya reorganisasi (pemadatan) strukturnya. Dengan demikian stabilitas ukuran parfum nanoemulsi campuran minyak atsiri black musk dan lili yang dihasilkan pada penelitian ini sangat dipengaruhi oleh waktu penyimpanan dan temperatur pemanasan

    Identification Of Subsurface Lithological Units Using Electrical Resistivity Modelling In A Landslide-Prone Area Of Dlingo, Bantul, Yogyakarta

    Full text link
    The Dlingo area in Bantul Regency, Yogyakarta, is characterized by steep slopes and volcanic deposits that contribute to high landslide susceptibility, as evidenced by destructive events in 2021. This study aims to characterize subsurface conditions controlling slope instability using electrical resistivity modeling. Geoelectric data were acquired using the Wenner configuration along four survey lines, consisting of three slope-parallel profiles and one slope-perpendicular profile, each 225 m long with 15 m electrode spacing. Apparent resistivity data were processed and inverted using Res2Dinv to generate two-dimensional (2D) resistivity sections. The results consistently reveal three principal resistivity zones across all profiles: (1) a high-resistivity unit (approximately 33,9–642 Ωm) interpreted as relatively compact to slightly weathered tuff, (2) a moderate-resistivity layer (1.79–33.9 Ωm) corresponding to weathered volcanic deposits, and (3) a low-resistivity zone (&lt;1.79 Ωm) interpreted as water-saturated or highly conductive material developed along the lower slope. The recurrent resistivity contrast between the weathered layer and the underlying conductive zone suggests a hydrogeological boundary that may facilitate pore-water accumulation and contribute to slope instability. These findings provide a geophysically constrained conceptual model of subsurface controls on slope instability in volcanic terrains.Daerah Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, memiliki kondisi topografi terjal dan tersusun dari endapan vulkanik yang berkontribusi terhadap tingginya tingkat kerawanan longsor, sebagaimana ditunjukkan oleh kejadian longsor pada tahun 2021. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi litologi bawah permukaan dan bidang gelincir yang mengontrol terjadinya longsor menggunakan metode geolistrik. Akuisisi data geolistrik dilakukan dengan Konfigurasi Wenner pada empat lintasan pengukuran, terdiri atas tiga lintasan sejajar lereng dan satu lintasan tegak lurus lereng, masing-masing sepanjang 225 m dengan spasi elektroda 15 m. Data resistivitas semu diolah dan diinversi menggunakan Res2Dinv untuk menghasilkan penampang resistivitas dua dimensi (2D), yang selanjutnya dimodelkan secara tiga dimensi (3D) menggunakan RockWorks17. Hasil interpretasi menunjukkan keberadaan tiga lapisan utama bawah permukaan, yaitu lapisan lempung dengan resistivitas rendah (0,01–7,78 Ωm), lapisan batupasir dengan resistivitas menengah (7,78–395 Ωm), dan lapisan batuan dasar berupa tuff atau batuan vulkanik dengan resistivitas tinggi (395–4038,5 Ωm). Lapisan lempung diinterpretasikan sebagai bidang gelincir utama karena sifat permeabilitasnya yang rendah dan kerentanannya terhadap peningkatan tekanan air pori akibat infiltrasi air hujan. Pemodelan 3D memperlihatkan geometri bidang gelincir berbentuk cekung ke atas yang mengindikasikan mekanisme longsor rotasional

    875

    full texts

    7,255

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Fisika Unand
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇