1,721,026 research outputs found

    BETUTURU STORY AND SOCIAL PRACTICES OF MARRIAGE IN SERAWAI ETHNIC GROUPS OF BENGKULU

    No full text
    This paper is intended to discuss the plot and content of the Betururu oral story in relation to marriage custom, and to discuss the narrative of the story in relation to the maintenance of social function of the ketua adat in the marriage practices in Serawai ethnic groups in Bengkulu. In this discussion the Betuturu story seen as a symbolic sign that used intentionally to convey knowledge in social communication. This story living in a very limited environment, spoken at a certain time with a certain audience anyway. From the data available, it can be concluded that the parts and episodes of this story symbolizes knowledge and principles which its manifestation can be found in the actions during a marriage social practices of Serawai ethnic groups in Bengkulu. Part [B] episode [B2], [B3] and [B4] of the story symbolizes begadisan, berasan, and ngulang ghunut in a series of customary marriage. Part [A] episodes [A1] and [A2] symbolizes the principles of adat kulo in the practice of marriage. The storytelling tradition of Betuturu which is limited and closed indicating the maintenance of ketua adat access on marriage and their authority over the legality of the social actions of Serawai ethnic individuals in the practice of marriage

    MANUSCRIPTS AND SOCIAL PRACTICE

    Full text link
    Abstract: This research is based on discourse analysis, aims to explain the manuscripts as a cultural knowledge production and distribution processes. The research materials are ulu manuscripts preserved in the State Museum of Bengkulu and in the community as well. The analysis is carried out by utilizing the principles of discourse analysis and social semiotics, through text descriptions, interpretations, and explanations. Description is the analysis of text and the production process, while interpretation is the analysis of the text as a social practice, and the explanation is a social analysis of the text. Based on internal and external evidence of the text, the following findings were obtained: (1) ulu texts are generally codex unicus, there is not enough evidence of a genealogical relationship between one manuscript with other manuscripts of one type/kind; (2) ulu texts are produced not through text transmission rather through transformation of the texts in oral tradition and in social practice as well, i.e. the corpus of texts in oral tradition and the social practices as a sources of text production; (3) the text in the manuscripts, thus, constitutes a certain degree of social practice. Keywords: manuscripts, texts, social practice, discourse analysi

    TEKS-TEKS ULU ADAT PERNIKAHAN PADA KELOMPOK ETNIK SERAWAI DI PROVINSI BENGKULU : REPRESENTASI FUNGSI SOSIAL KETUA ADAT ATAS TINDAKAN DALAM PRAKTIK PERNIKAHAN

    No full text
    Penelitian ini bertalian dengan pengetahuan pernikahan pada kelompok etnik Serawai sebagaimana yang tertulis dalam 7 (tujuh) manuskrip Ulu, cerita lisan Sang Betuturu, dan praktik pernikahan. Tujuh manuskrip Ulu tersebut masing-masing berupa satu ruas gelondong bambu adalah koleksi Museum Negeri Bengkulu dengan nomor MNB 07.55, MNB 07.49, MNB 07.20, MNB 07.48, MNB 07.70, MNB 07.30, dan dan MNB 07.18 (selanjutnya disebut teks BG-T, teks RK-T, teks BB-T, teks JM-T, teks R-T, RJ-T, dan teks KBR-T). Ketujuh manuskrip tersebut merupakan manuskrip sub-scriptorium Serawai-Seluma dan ditulis oleh orang yang sama yang beridentitas sosial sebagai ketua adat pada kira-kira pertengahan abad XX. Ketujuh teks tulis tersebut ditulis dalam aksara Ulu varian Serawai-Seluma dengan bahasa Serawai varian o. Adapun cerita lisan Sang Betuturu (selanjutnya disebut teks SB) adalah cerita lisan yang hidup pada kalangan yang sangat terbatas, yaitu hanya di lingkungan ketua-ketua adat Serawai. Teks SB direkam pada Mei 2001 dari seorang informan, Bapak Rohani, ketua adat desa Karang Anyar Kabupaten Seluma. Selanjutnya, penuturan teks ini berlangsung tidak pada sembarang waktu, melainkan pada masa yang relatif tertentu, yakni pada akhir musim panen padi dan menjelang musim tanam berikutnya. Dewasa ini, teks lisan tersebut sudah tidak dituturkan lagi. Adapun praktik pernikahan adalah serangkaian aktivitas sosial yang meliputi begadisan, berasan betunang, berasan bekulo dan bimbang atau pesta penikahan dan pertunjukan tari adat dan merejung, serta ngulang ghunut. Penelitian ini dilakukan pertama-tama dimaksudkan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan ketujuh teks tulis Ulu, makna penulisan ketujuh teks itu dan makna kelembagaan tradisi tulis Ulu bagi penulis teks-teks Ulu dalam kerangka semiotika sosial. Ketujuh teks tulis Ulu, teks lisan SB, dan praktik sosial pernikahan pada kelompok etnik Serawai memperlihatkan pertautan baik pada tataran teks maupun praktis. Ketujuh teks tulis Ulu, teks lisan SB, dan praktik pernikahan dapat dipandang sebagai tanda, dalam ekspresi yang berbeda-beda atas isi kandungan yang sama. Ketujuh teks tulis Ulu, teks lisan SB, dan tindakan-tindakan (termasuk tindakan berbahasa) dalam praktik pernikahan adalah maujud ekpresi bahasa tulis, lisan, dan tindakan-tindakan menunjuk kepada isi kandungan yang sama, yaitu pengetahuan pernikahan. Dengan kata lain, ketiganya adalah penanda yang berbeda atas petanda yang sama. Petanda yang dimaksud, yaitu pengetahuan pernikahan, adalah pengetahuan yang dikonstruksi secara sosial melalui tradisi tulis dan tradisi lisan pada kalangan ketua-ketua adat (kelompok elit), serta melalui tindakan-tindakan pada kalangan kebanyakan (kelompok kebanyakan). Teks lisan SB memiliki konteksnya yang spesifik, yaitu disampaikan oleh ketua adat kepada ketua-ketua adat lainnya, pada malam bulan purnama dan berlangsung pada akhir musim panen padi dan menjelang musim tanam berikutnya. Selama penuturan teks lisan ini berlangsung, baik penutur teks maupun pendengar teks memaknai dan mengkonstruksi pengetahuan pernikahan melalui peristiwaperistiwa, tokoh-tokoh, dan tindakan tokoh-tokoh cerita. Penuturan teks SB pada dasarnya merupakan lembaga sosial bagi kelompok ketua adat yang memungkinkan mereka membentuk dan membangun makna-makna, pengertian-pengertian secara bersama. Makna dan pengertian-pengetian teks lisan SB terbentuk tidak hanya berdasarkan pada aspek kohesi tekstualnya, berdasarkan relasi dan kesatuan unsurunsur teks SB, melainkan berdasarkan koherensi wacananya, yang tersedia dan berada di luar teks SB. Tanda-tanda simbolik berupa peristiwa, tokoh-tokoh, dan tindakan tokoh-tokoh, dalam teks SB menjadi bermakna pengetahuan adat ketika dihubungkan dengan hal-hal di luarnya. Berbeda halnya dengan tradisi lisan, penulisan teks Ulu tidak dimaksudkan untuk pembaca. Dalam tradisi tulis Ulu tidak dijumpai adanya tradisi membaca teks tulis baik untuk tujuan pembelajaran pengetahuan budaya maupun untuk keperluan lainnya. Teks-teks tulis Ulu tidak berada dalam kerangka komunikasi dan interaksi sebagaimana halnya teks lisan SB, yang memungkinkan penutur dan pendengar berada dalam waktu dan tempat yang sama yang memungkinkan mereka secara bersama memaknai cerita dan mengkonstruksi pengetahuan pernikahan. Dalam kaitan tradisi tulis Ulu, menuliskan teks berarti menyampaikan kembali, memaknai kembali, atau mengkonstruksi kembali pengetahuan pernikahan oleh ketua adat penulis teks. Demikianlan, meskipun karakteristiknya berbeda, tradisi lisan SB dan tradisi tulis Ulu hanya bisa diakses oleh ketua adat. Dalam kaitan ini, pengetahuan pernikahan sebagaimana yang diproduksi dan dikonstruksi melalui tradisi lisan SB dan tradisi tulis Ulu (terutama yang bertalian dengan teks BG-T, teks RK-T, teks BB-T, teks JM-T, teks R-T, RJ-T, dan teks KBR-T) hanya bisa diakses oleh kelompok elite ketua adat. Adapun kelompok kebanyakan mengakses pengetahuan pernikahan melalui tindakan individu-individu dalam dan selama pelaksanaan praktik pernikahan berlangsung. Selama praktik pernikahan berlangsung, setiap individu Serawai menyaksikan tindakan-tindakan, ujaran, dan percakapan berbagai pihak yang terlibat dan berpartisipasi dalam praktik pernikahan itu. Setiap indvidu dalam dan selama praktik pernikahan berlangsung memaknai dan membangun pengertianpengertian, membangun pengetahuan yang melandasi pelaksanaan pernikahan. Alur dan isi teks lisan SB memperlihatkan rangkaian begadisan, berasan dan ngulang ghunut. Peristiwa-peristiwa dalam teks lisan ini mengisahkan secara simbolik peristiwa-peristiwa sebagaimana diperlihatkan dalam rangkaian praktik prnikahan. Bagian peristiwa [B2], [B3], dan [B4] teks SB menunjukkan rangkaian praktik begadisan, praktik berasan (baik berasan betunang maupun berasan bekulo dan pelaksanaan pesta penikahan), serta praktik ngulang ghunut. Sementara itu, peristiwa-peristiwa sebagaimana dikisahkan dalam bagian perisiwa [A1] dan [A2] menunjukkan prinsip-prinsip adat kulo sebagaimana berlaku dan melandasi pelaksanaan pernikahan bagi kelompok etnik Serawai. Demikian halnya dengan ketujuh teks tulis Ulu. Secara keseluruhan, ketujuh teks tulis Ulu merepresentasi pengetahuan pernikahan pada kelompok etnik Serawai di Bengkulu. Yang tertulis dalam teks BG-T adalah penanda yang menunjuk kepada pengetahuan yang mengandung aturan yang diacu oleh atau sebagaimana terejawantah dalam tindakan-tindakan individu-individu etnik Serawai dalam praktik begadisan. Adapun yang tertulis dalam bagian teks RK-T[2] menunjuk kepada pengetahuan yang menunjuk kepada hal-hal atau ejawantahnya dapat ditemukan dalam praktik berasan. Berasan dalam pengertian ini mencakup berasan betunang dan berasan bekulo. Bagian teks BB-T[1] menggambarkan pelaksanaan bimbang pernikahan, dan dengan demikian mengandung pengetahuan yang menunjuk kepada aturan-aturan yang diacu oleh atau terejawantah dalam tindakan individu-individu selama pelaksanaan bimbang atau pesta pernikahan. Bagian-bagian teks BB-T[2] dan JM-T[4] secara eksplisit menjelaskan praktik ngulang ghunut. Dalam kaitan ini, teks-teks itu mengandung pengetahuan yang menandai sistem yang diacu oleh individu-individudalam praktik ngulang ghunut. Sementara itu, keseluruhan teks RT dan RJ-T, serta sebagian teks KBR-T[2] berisi teks-teks rejung yang lazim dibawakan oleh bujang dan gadis secara berbalasan dalam tari adat. Dalam kaitan ini, teks-teks tersebut pada dasarnya mengandung pengetahuan mengenai merejung dalam tari adat sebagai bagian dari bimbang atau pesta pernikahan. Demikianlah, ketujuh teks tulis Ulu BG-T, RK-T, BB-T, JM-T, R-T, RJ-T, dan KBR-T menandai pengetahuan yang menunjuk kepada aturan atau sistem bertalian dengan rangkaian praktik begadisan–berasan–ngulang ghunut sebagai satu kesatuan rangkaian praktik pernikahan pada kelompok etnik Serawai di Bengkulu. Adapun teks RK-T[2] dan JM-T[3] secara tersurat menjelaskan soal jenisjenis adat kulo, yang mencakupi kulo jujugh, kulo tambik anak, dan kulo semendo. Jenis adat kulo tersebut adalah pilihan-pil ihan ba gi ‘or an g S er aw ai’ dal am menetapkan status perkawinan anak-anak mereka. Pada tataran praktis, pilihan-pilihan itu dimusyawarahkan dalam praktik berasan betunang dan dikukuhkan kembali dalam praktik berasan bekulo. Implikasi dari pilihan jenis adat kulo tersebut terejawantah dalam praktik bimbang pernikahan dan dalam praktik ngulag ghunut. Demikianlah, teks-teks RK-T[2] dan JM-T[3] adalah representasi prinsip-prinsip yang melandasi praktik pernikahan pada kelompok etnik Serawai. Penting dicermati ialah bahwa ketua adat memiliki peran penting dalam pelaksanaan praktik pernikahan. Selama praktik berasan berlangsung misalnya, kehadiran, kesaksian, dan keterlibatan ketua adat bersifat wajib. Praktik pernikahan hanya akan bermakna adat, bermakna secara sosial jika dilaksanakan sepengetahuan dan seizin ketua adat, serta disahkan oleh ketua adat. Demikianlah, dalam kerangka semiotik sosial, pengetahuan adat dalam fungsi sosialnya menunjuk kepada hal yang sama dengan fungsi sosial ketua adat. Pengetahuan pernikahan sebagaimana dikonstruksi oleh kelompok etnik Serawai, selain menjadi acuan dalam pelaksanaan praktik pernikahan, juga menjadi acuan kebermaknaan secara sosial atau kesahan secara adat tindakan individu-individu dalam praktik pernikahan. Dalam hal yang demikian, baik tradisi lisan maupun dalam tradisi tulis Ulu memiliki fungsi yang sama bagi ketua-ketua adat. Tradisi lisan dan tradisi tulis Ulu merupakan lembaga sosial yang menyediakan wadah bagi ketua adat merepresentasi pengetahuan pernikahan, di samping menjadi wadah bagi ketua-ketua adat memelihara dan mempertahankan pengetahuan pernikahan. Dalam kerangka semiotik sosial, hal yang demikian menandai bahwa penulisan keenam teks tulis Ulu merupakan representasi fungsi sosial ketua adat dalam praktik pernikahan. Adapun kelembagaan tradisi tulis Ulu dapat dimaknai sebagai lembaga sosial yang tersedia bagi ketua-ketua adat memelihara dan mempertahankan fungsi sosial atas tindakantindakan dalam praktik pernikahan

    Betuturu Story and Social Practices of Marriage in Serawai Ethnic Groups of Bengkulu

    Full text link
    This paper is intended to discuss the plot and content of the Betururu oral story in relation to marriage custom, and to discuss the narrative of the story in relation to the maintenance of social function of the ketua adat in the marriage practices in Serawai ethnic groups in Bengkulu. In this discussion the Betuturu story seen as a symbolic sign that used intentionally to convey knowledge in social communication. This story living in a very limited environment, spoken at a certain time with a certain audience anyway. From the data available, it can be concluded that the parts and episodes of this story symbolizes knowledge and principles which its manifestation can be found in the actions during a marriage social practices of Serawai ethnic groups in Bengkulu. Part [B] episode [B2], [B3] and [B4] of the story symbolizes begadisan, berasan, and ngulang ghunut in a series of customary marriage. Part [A] episodes [A1] and [A2] symbolizes the principles of adat kulo in the practice of marriage. The storytelling tradition of Betuturu which is limited and closed indicating the maintenance of ketua adat access on marriage and their authority over the legality of the social actions of Serawai ethnic individuals in the practice of marriage. Keywords: Betuturu story, marriage practice, Serawai ethnic group of Bengkulu

    Alih Wahana untuk Pengembangan Folklore Lisan Bengkulu

    Full text link
    Kesenian sering juga dimaknai sebagai folklore (atau bagian dari folklore), sementara folklore sering diberi makna sama atau lebih kurang sama dengan kebudayaan.  Demikianlah, kesenian dalam arti luas dapat dimaknai sebagai kebudayaan atau sekurang-kurangnya bagian dari kebudayaan suatu kolektif (Danandjaja 1994).  Sebagai folklore atau bagian folklore, kesenian memiliki fungsi, misalnya sebagai sistem proyeksi, sistem kontrol atau pengendali bagi perilaku dan aktivitas masyarakat suatu kebudayaan (Bascom 1984; Gaster 1984; Malinowski 1984).  Dalam kaitan ini, kesenian mengejala dan tampil dalam keseharian kehidupan suatu masyarakat budaya.  Kesenian memperlihatkan identitas suatu masyarakat budaya.  Kesenian juga menunjukkan makna, fungsi atau kegunaannya bagi suatu masyarakat budaya.  Aneka macam fungsi kesenian tampak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakatnya, misalnya ekonomi, sosial, politik, pendidikan, agama, keyakinan atau kepercayaan.  Sifat dinamis dalam kesenian tampak pada keluwesannya memanfaatkan unsur-unsur baru untuk menggantikan unsur-unsur lama yang dipandang kurang relevan atau tidak sesuai lagi dengan tuntutan kebutuhan zaman (Sedyawati 2014)

    PELATIHAN PENULISAN PROPOSAL PENELITIAN SKRIPSI BAGI MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA FKIP UNIVERSITAS BENGKULU

    Full text link
    Tujuan kegiatan pengabdian (1) memberi pelatihan menulis proposal penelitian skripsi kepada mahasiswa semester VII Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Bengkulu agar memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang cara menulis proposal penelitian skripsi  dan (2) memberi kemampuan, pemahaman, dan keterampian kepada mahasiswa semester VII Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Bengkulu dalam menulis proposal penelitian skripsi sesuai dengan kaidah penulisan proposal penelitian skripsi yang baik. Kegiatan pengabdian kepada mahasiswa semester VII Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Bengkulu mulai secara daring pada tanggal 2-3 November 2020 di Universitas Bengkulu. Khalayak sasaran yang dilibatkan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah mahasiswa semester VII Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Bengkulu. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini adalah sosialisasi dan pendampingan. Rancangan evaluasi untuk mengukur kebermanfaatan pelatihan menulis proposal dengan angket dan untuk mengukur kemampuan menulis proposal dengan pemberian tugas menulis proposal penelitian skripsi. Indikator untuk mengukur kebermanfaatan pelatihan penulisan proposal skripsi dan kemampuan mahasiswa menulis proposal penelitian skripsi  dengan mencocokkan tabel rubrik yang berisi tentang kelengkapan dalam penulisan judul, masalah dan rumusan masalah, manfaat penelitian, kerangka teori dan kajian pustaka, dan metodologi penelitian. Hasil capaian pengabdian menunjukkan bahwa pelatihan menulis proposal penelitian skripsi bermanfaat bagi mahasiswa semester VII Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Bengkulu dan mahasiswa memiliki kemampuan mereka dalam menulis proposal penelitian skripsi dengan baik. Kegiatan pengabdian perlu dilanjutkan dengan pendampingan yang lebih intensif agar mereka lebih mampu dalam menulis proposal pada saat menyusun skripsi yang dibimbing oleh pembimbing utama dan pembimbing pendamping yang telah di-SK-kan oleh Dekan FKIP Universitas Bengkul

    Traditional Medicine Knowledge in the ULU Manuscripts of Bengkulu

    Full text link
    This study aims to describe the codex, text, and social aspects of the ulu manuscripts of traditional medicine preserved in the State Museum of Bengkulu. This research is based on philology, which methodologically utilizes the principles of codicology and paleography for analysis purposes. The research results are as follows: First, there are 13 manuscripts of traditional medicine in the State Museum of Bengkulu that belong to the Serawai and Pasemah ethnic groups based on the characteristics of the codex. These texts generally contain information about (a) various diseases, (b) characteristics or symptoms of a disease, (c) medicinal plants, (d) the method of mixing medicinal ingredients, (e) treatment methods, and (f) post-treatment activities, usually in the form of sedekah (offering). Second, the ulu writing tradition plays a role in documenting and preserving cultural knowledge, including knowledge of traditional medicine. The writing of the ULU manuscripts was meant as a practice guide both for the writer and for the readers of texts, assumed to have the same cultural background. Keywords: Bengkulu, traditional medicine texts, ulu manuscript DOI: 10.7176/RHSS/13-19-01 Publication date: December 31st 202

    Telaah Makna Gramatis dan Psikologis dalam Syair Abdul Muluk Karya Raja Ali Haji

    Full text link
    The purpose of this study was to describe the meanings obtained from the results of grammatical interpretation and psychological interpretation of the author towards Syair Abdul Muluk by Ali Haji using Schleiermacher Hermeneutics. The research approach uses a qualitative approach with the hermeneutic method. The data collection technique uses documentation techniques in the form of Syair Abdul Muluk text by Ali Haji. The data analysis technique is done by reading poetry, identifying each event, interpreting the meaning, analyzing the relationships between the elements of poetry, and concluding meaning. Based on the from the research shows that the meaning contained in Syair Abdul Muluk by Ali Haji is that women can play a role like men in maintaining loyalty and achieving goals. Women can also be powerful even though they must condition themselves outside their nature as women. For Raja Ali Haji in the perspective of national culture and society, religion is a binding knot for various social levels in fostering culture
    corecore