1,721,357 research outputs found
Peranan Ki Sarmidi Mangunsarkoro Dalam Bidang Pendidikan Tahun 1926-1957
Ki Sarmidi Mangunsarkoro merupakan tokoh pendidikan yang memiliki peran penting dalam perkembangan Tamansiswa dan tokoh pertama yang mengesahkan Undang-undang No. 4 Tahun 1950, beliau adalah perintis Udang-Undang Pendidikan Nasional pertama di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk, (1) mendiskripsikan latar belakang kehidupan Ki Sarmidi Mangunsarkoro, (2) mendiskripsikan pemikiran Ki Sarmidi Mangunsarkoro dalam bidang pendidikan, (3) mendiskripsikan peranan Ki Sarmidi Mangunsarkoro dalam bidang pendidikan.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah kritis yang terdiri dari beberapa tahapan. Tahap pertama adalah menentukan topik penelitian, tahap kedua adalah heuristik atau pengumpulan sumber, tahap ketiga adalah verifikasi atau kritik sumber, tahap keempat adalah interpretasi yaitu proses menafsirkan fakta-fakta sejarah yang ditemukan dan tahap kelima adalah historiografi atau penulisan sejarah. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologi, politik dan pendekatan pendidikan.
Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut, (1) Ki Sarmidi Mangunsarkoro lahir pada tanggal 23 Mei 1904, di Mangkoenegara Surakarta, Jawa Tengah. Ki Sarmidi Mangunsarkoro lahir dari hasil pernikahan Mangunsarkoro dan Eyang Wiryo Didjojo. Keluarga Ki Sarmidi Mangunsarkoro termasuk golongan Priyayi rendah, semasa kecil Ki Sarmidi Mangunsarkoro hidup di lingkungan kraton. Ki Sarmidi Mangunsarkoro memiliki peran dalam pendididikan dan organisasi masa pergerakan, (2) Ki Sarmidi Mangunsarkoro berpendapat bahwa pendidikan adalah sebuah pimpinan kearah menuju kemajuan untuk memenuhi kebutuhan lahir dan batin yang lebih baik karena pada dasarnya semua orang menginginkan hidup yang lebih baik dan banyaknya ragam cita-cita manusia ada yang menginginkan kekayaan, dan ada juga untuk memperbaiki diri, (3) Ki Sarmidi Mangunsarkoro memiliki peran penting dalam kemajuan Tamansiswa. Ki Sarmidi Mangunsarkoro mendirikan Tamansiswa cabang Jakarta pada tahun 1929 dengan izin Ki Hadjar Dewantara dan dukungan masyarakat Kemayoran Jakarta yang menginginkan sebuah pendidikan. Ki Sarmidi Mangunsarkoro memiliki peran penting dalam sejarah perjalanan pendidikan di Indonesia. Keberhasilan yang dicapai Ki Sarmidi Mangunsarkoro antara lain, Ki Sarmidi Mangunsarkoro tokoh pertama yang mengesahkan Undang-Undang Pendidikan Nasional, mempelopori berdirinya Akademi Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta.
Kata Kunci : Ki Sarmidi Mangunsarkoro. Pendidikan
PERANAN KI SARMIDI MANGUNSARKORO DALAM BIDANG PENDIDIKAN TAHUN 1926-1957
Ki Sarmidi Mangunsarkoro merupakan tokoh pendidikan yang memiliki peran penting dalam perkembangan Tamansiswa dan tokoh pertama yang mengesahkan Undang-undang No. 4 Tahun 1950, beliau adalah perintis Udang-Undang Pendidikan Nasional pertama di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk, (1) mendiskripsikan latar belakang kehidupan Ki Sarmidi Mangunsarkoro, (2) mendiskripsikan pemikiran Ki Sarmidi Mangunsarkoro dalam bidang pendidikan, (3) mendiskripsikan peranan Ki Sarmidi Mangunsarkoro dalam bidang pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah kritis yang terdiri dari beberapa tahapan. Tahap pertama adalah menentukan topik penelitian, tahap kedua adalah heuristik atau pengumpulan sumber, tahap ketiga adalah verifikasi atau kritik sumber, tahap keempat adalah interpretasi yaitu proses menafsirkan fakta-fakta sejarah yang ditemukan dan tahap kelima adalah historiografi atau penulisan sejarah. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologi, politik dan pendekatan pendidikan. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut, (1) Ki Sarmidi Mangunsarkoro lahir pada tanggal 23 Mei 1904, di Mangkoenegara Surakarta, Jawa Tengah. Ki Sarmidi Mangunsarkoro lahir dari hasil pernikahan Mangunsarkoro dan Eyang Wiryo Didjojo. Keluarga Ki Sarmidi Mangunsarkoro termasuk golongan Priyayi rendah, semasa kecil Ki Sarmidi Mangunsarkoro hidup di lingkungan kraton. Ki Sarmidi Mangunsarkoro memiliki peran dalam pendididikan dan organisasi masa pergerakan, (2) Ki Sarmidi Mangunsarkoro berpendapat bahwa pendidikan adalah sebuah pimpinan kearah menuju kemajuan untuk memenuhi kebutuhan lahir dan batin yang lebih baik karena pada dasarnya semua orang menginginkan hidup yang lebih baik dan banyaknya ragam cita-cita manusia ada yang menginginkan kekayaan, dan ada juga untuk memperbaiki diri, (3) Ki Sarmidi Mangunsarkoro memiliki peran penting dalam kemajuan Tamansiswa. Ki Sarmidi Mangunsarkoro mendirikan Tamansiswa cabang Jakarta pada tahun 1929 dengan izin Ki Hadjar Dewantara dan dukungan masyarakat Kemayoran Jakarta yang menginginkan sebuah pendidikan. Ki Sarmidi Mangunsarkoro memiliki peran penting dalam sejarah perjalanan pendidikan di Indonesia. Keberhasilan yang dicapai Ki Sarmidi Mangunsarkoro antara lain, Ki Sarmidi Mangunsarkoro tokoh pertama yang mengesahkan Undang-Undang Pendidikan Nasional, mempelopori berdirinya Akademi Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta. Kata Kunci : Ki Sarmidi Mangunsarkoro. Pendidikan
Guru patriot : biografi Ki Sarmidi Mangunsarkoro
Keberhasilan Ki Sarmidi Mangunsarkoro menjadi seorang guru tidak lantas membuatnya berpuas diri. Ia pun tidak mencukupkan pengabdiannya hanya dalam bidang pendidikan. Sebagai bagian dari kaum muda terpelajar yang tercerahkan, ia aktif dalam dunia pergerakan politik kebangsaan untuk mencapai cita-cita kemerdekaan. Ia mengawali kiprah di dunia pergerakan ketika masuk dalam organisasi kepemudaan Trikoro Dharmo. Selanjutnya, sejumlah organisasi yang pernah mendjadi media bagi Ki Sarmidi untuk mewujudkan semangat pergerakan antara lain Young Theosoophical Society, Kridho Watjono, Islam Studie Club, dan Partai Nasional Indonesia (PNI), baik versi sebelum maupun pascakemerdekaan. Dalam buku ini kisah dan kiprah seorang Ki Sarmidi Mangunsarkoro dalam keikutsertaanya membangun bangsa dijabarkan secara runut mulai dari awal perjalanannya hingga wafatnya sang guru
Diksi Dan Citraan Puisi-Puisi Facebook Karya Gatot Sarmidi
Puisi merupakan bentuk karya sastra yang berisi suatu ungkapan perasaan dan pikiran dari penyair. Pikiran dan perasaan dalam puisi Gatot sarmidi memiliki karakteristik yang sederhana dan pemilihan kata yang digunakan lebih kepada pemilihan kata yang mengambarkan tentang lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemilihan kata dan citraan puisi facebook karya Gatot Sarmidi, Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data yang digunakan berupa pemilihan kata dan citraan puisi facebook karya Gatot Sarmidi. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sebagai instrumen utama, alat tulis, tabel sebagai instrument pendukung. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari memilih puisi yang ada di dinding facebook, membaca secara keseluruhan, mendokumentasikan, menemukan kata-kata yang berkaitan diksi dan citraan, dan mendeskripsikan data. Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui bahwa adanya penggunaan diksi dan citraan puisi-puisi facebook karya Gatot sarmidi. Diksi yang digunakan itu antara lain diksi konotasi, denotasi, kata umum, kata khusus. Pemilihan kata konotasi dalam penelitian ini memiliki temuan sangat banyak berdasarkan hasil penelitian. ,Sedangkan pada citraan banyak mengggunakan citraan penglihatan. Penelitian diksi dan citraan puisi-puisi facebook ini sangat bermanfaat untuk mengembangkan kekahasan teori sastra, khususnya berkaitan diksi dan citraan. Selain itu, dapat dijadikan inspirasi bagi peneliti lanjut yang akan melakukan penelitian sejenis dalam hal ini adalah diksi dan citraan
KEBIJAKAN PENDIDIKAN DI INDONESIA PADA MASA MENTERI SARMIDI MANGUNSARKORO (1949-1950)
Kebijakan-kebijakan Sarmidi Mangunsarkoro pada saat menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan belum banyak diketahui publik. Penelitian ini bertujuan mengetahui: (1) Pendidikan di Indonesia pada masa awal kemerdekaan; (2) Kebijakan pendidikan yang dikeluarkan oleh Sarmidi Mangunsarkoro pada tahun 1949-1950; (3) Dampak dari kebijakan yang dikeluarkan oleh Sarmidi Mangunsarkoro pada tahum 1949-1950. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah menurut Kuntowijoyo dengan tahapan sebagai berikut: Pertama menentukan topik penelitian, kedua pengumpulan sumber baik berupa sumber primer ataupun sekunder, ketiga verivikasi atau kritik sumber, keempat interpretasi, dan terakhir historiografi atau penulisan. Hasil penelitian menunjukan: (1) Pendidikan di Indonesia pasca kemerdekaan lebih di fokuskan pada pembangunan pendidikan dengan meletakan pondasi berupa penentuan dasar pendidikan, tujan pendidikan, kurikulum dan penentuan sistem persekolahan; (2) Kebijakan yang dikeluarkan Sarmidi Mangunsarkoro tidak hanya mengeluarkan produk hukum berupa undang-undang pendidikan nasional tahun 1950 tetapi ada produk hukum lainnya seperti program Pemberantasan Buta Huruf (PBH), Kursus lanjutan PBH, dan kalender pendidikan; (3) Kebijakan yang dikeluarkan oleh Sarmidi Mangunsarkoro berdampak disegala sektor kehidupan seperti sosial budaya, ekonomi, politik dan pendidikan. Kata Kunci: Sarmidi Mangunsarkoro, Pendidikan, Kebijaka
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
EFEKTIFITAS STRATEGI PETA KONSEP ( DALAM PEMBELAJARAN LISTRIK OTOMOTIF DI KELAS XI SMK MUHAMMADIYAH PRAMBANAN
EFEKTIFITAS STRATEGI PETA KONSEP (
DALAM PEMBELAJARAN LISTRIK OTOMOTIF DI KELAS XI
SMK MUHAMMADIYAH PRAMBANAN
Tujuan penelitian ini
map) pada pembelajaran Listrik Otomotif, 2)
melalui penerapan strategi peta konsep (
Otomotif, 3) Mengetahui efekti
pada pembelajaran Listrik Otomotif di kelas XI SMK Muhammadiyah
Prambanan.
Subjek dalam penelitian ini
Prambanan. Penelitian ini menggunakan metode
Design, dengan dua kelas yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen. Kelas
eksperimen menggunakan strategi peta konsep dan kelas kontrol tanpa strategi
peta konsep. Data diperoleh dari
Nilai awal dianalisa untuk mengetahui kemampuan awal siswa pada kelom
kontrol dan eksperimen. N
penerapan strategi pembela
komparatif dengan uji t dua sampel. Ef
melalui peningkatan hasil belajar. Peningkatan ini kenaikan dari nilai
postest ditunjukkan dalam persen juga akan ditunjukkan dalam presentase nilai
siswa yang mencapai KKM.
Hasil penelitian menunjukkan
eksperimen. Siswa berlatih untuk membuat
konsep sehingga lebih mudah da
mengukuti pembelajaran.
dalam membuat ringkasan pelajaran
menggunakan teknik statistik komparatif dengan
perbedaan yang signifikan
80,22 dan kelas kontrol
pretest ke posttest sebesar 20,78 % untuk
eksperimen. Siswa pada kelas eksperimen yang tuntas KKM mencapai 69 %,
sedangkan untuk kelas kontrol hanya 27 %. 3
penelitian maka pembelajaran pada kelas eksperimen lebih baik jika dibandingkan
dengan pembelajaran pada kelas kontrol. Berdasarkan analisis tersebut dapat
ditarik kesimpulan yaitu pembelajaran dengan menggunakan strategi peta konsep
efektif jika dibandingkan dengan
Kata kunci : strategi peta konsep
vii
MIND MAP
Oleh:
SARMIDI
NIM 10504245001
ABSTRAK
adalah 1) Menerapkan strategi peta konsep (
) Mengetahui hasil belajar siswa
mind map) pada pembelajaran Listrik
engetahui efektifitas penerapan strategi peta konsep (mind map
jek siswa kelas XI SMK Muhammadiyah
Non-Equivalent Control Group
, nilai awal (pretest) dan nilai akhir (
Nilai akhir dianalisa untuk mengetahui efektifitas
pembelajaran. Analisi data menggunakan teknik
Efektifitas penerapan strategi di
an : 1) Peta konsep diterapkan
dan mempresentasikan hasil
dalam mengingat pelajaran serta termotivasi untuk
Hal ini dikarenakan siswa mempunyai teknik baru
pelajaran. 2) Hasil belajar siswa setelah dianalisa
uji t dua sampel
signifikan. Kelas eksperimen mempunyai nilai rata-rata
mempunyai nilai rata-rata 72,11. Presentase kenaikan dari
kelas kontrol dan 26,67% pada
rimen. 3) Berpijak dari beberapa hasil dalam
an tanpa menggunakan strategi peta konsep.
konsep, hasil belajar siswa
MAP)
mind
engetahui aran
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
