1,720,985 research outputs found

    PELUANG PENGEMBANGAN SMART CITY UNTUK MEWUJUDKAN KOTA TANGGUH DI KOTA SEMARANG (Studi Kasus: Penyusunan Sistem Peringatan Dini Banjir Sub Drainase Beringin)

    No full text
    Kota tangguh menjadi metafora baru yang banyak diperdebatkan oleh para perencana dan peneliti kota dalam upaya menjamin keberlanjutan. Konsep ini mengusulkan 2 kerangka konsep yaitu model ekuilibrium dan model non-ekuilibrium. Perbedaan kedua model ini adalah cara kota untuk beradaptasi terhadap bahaya yang dihadapi. Di model keseimbangan/ ekuilibrium, sistem kota harus memiliki titik acuan sebagai orientasi tujuan pembangunan kota. Jika terdapat gap antara dokumen perencanaan dan hasil pembangunan, perencana kota dapat mengembalikan proses perencanaan sesuai tujuan perencanaan dan pembangunan. Di sisi lain, model non-ekuilibrium menawarkan sistem adaptasi. Dalam perspektif non-ekuilibrium, ketahanan diartikan sebagai kemampuan sistem kota untuk beradaptasi dan menyerap perubahan dari internal maupun eksternal. Terdapat kebutuhan baru dalam mengelola kota yaitu respon cepat, data yang akurat dan real time. Konsep kota pintar/ smart city menawarkan sebuah solusi melalui penyediaan data real time dan menjadi penghubung antara intervensi top-down dengan partisipasi bottom-up. Kota pintar tidak hanya menyediakan sistem informasi dan teknologi, namun juga mendukung modal intelektual. Artikel ini menggunakan studi literature melalui perbandingan 2 konsep literature yaitu smart city dan kota tangguh/ resilience city. Dari pembahasan diketahui bahwa smart city dapat mendukung kota untuk bisa bertahan melalui sistem peringatan dini. Sistem ini dapat meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengetahui bahaya dan mendukung upaya yang harus dilakukan secara mandiri.[The Opportunities of Smart City Development to Realize the Resilient City in Semarang (Case Study: Flood Early Warning System in Beringin Sub-Drainage] City of resilience become to a new metaphor that debated by researcher and urban planner to manage its city in order to ensure sustainability. This concept suggests 2 conceptual frameworks: equilibrium or isolation model and non-equilibrium model. The differences of both models are the way of city to adapt from disturbance. In equilibrium model, urban system must own end point or terminal as city orientationor goal. If any gap between planning document and development result, urban planner has to restore the development process into its plan or end point. On the other hand, non-equilibrium model offers adaptation system. In non-equilibrium perspective, resilience is the ability of an urban system to adapt and adjust to changing internal or external processes. There is a new necessity to manage city i.e. quick response, adequate data and correct according real time data. Smart City offers a solution to provide real time data and bridging between top-down intervention and bottom-up participation. Smart city doesn’t only provide information system and technology, yet its concept can support intellectual capital. This article used literature study through compare 2 conceptual theoretical framework i.e. smart city and resilience city. From this discuses found out that smart city can support city to be resilience with early warning system. This system can improve human ability to know a circumstance and action to evacuation. </p

    MENGATUR DESA WISATA: PERAN TOKOH MASYARAKAT MEMBANGUN INISIATIF KOLEKTIF DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA BERBASIS KOMUNITAS

    Full text link
    The phenomenon of the continuous development of rural tourism in Indonesia is not balanced by skill capacity and professional knowledge on the managers. By self-taught and learning by doing they proceed to realize the rural tourism to capitalize local resources in order to improve their welfare. Community leaders as key figures in village development have an important role in mobilizing people to marketing (the village). The importance of community leaders is the goal of this article, focusing on the role of community leaders in the management of community-based tourism. The case study was taken from the management of Kaligono Tourism Village in Purworejo Regency which is one of the best national rural tourisms according to the Ministry of Tourism and Creative Economy in 2014. Using qualitative methods by selecting interviewees as the informants through snowballing, this article provides information on the role of community leaders in managing the rural tourism, learning and building collective initiatives for rural tourism management. Despite the the low skill and professional knowledge, the community is able to manage the rural tourism by relying on the power of social cohesion to create collective initiatives

    PERGESERAN POLA MOBILITAS PENDUDUK AKIBAT INTERAKSI KOTA SALATIGA DAN KOTA SEMARANG

    Full text link
    Pertumbuhan kota-kota yang semakin pesat ditandai dengan adanya “tekanan” urbanisasi yang berupa makin padatnya daerah-daerah slums, kongesti lalu lintas, adanya pengangguran di kota-kota, dan banyaknya perumahan liar di daerah pinggiran kota. Persoalan ini menunjukkan perlunya keseimbangan antara daerah urban dan daerah rural (Soegijoko, 1997). Keseimbangan tersebut diperoleh melalui interaksi, dan di dalam interaksi terdapat proses “transfer” baik berupa penduduk SDM, SDA, dan komponen pendukung lainnya (Pontoh dan Kustiwan, 2009)

    PENGARUH KEGIATAN PARIWISATA GOA PINDUL TERHADAP PERUBAHAN MATA PENCAHARIAN DI DESA BEJIHARJO, KABUPATEN GUNUNGKIDUL

    Full text link
    Pariwisata merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.Pariwisata saat ini telah menjadi sebuah industri yang menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar sebuah negara.Pariwisata berkembang dengan cepat seiring berjalannya waktu.Hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai sumber daya yang dimiliki dan meningkatnya minat masyarakat untuk berwisata.Salah satu bentuk pariwisata yang dibuat oleh masyarakat desa adalah desa wisata.Desa wisata terbentuk dan berkembang dikarenakan adanya kemauan dari masyarakat dan didukung oleh sumber daya yang tersedia.Aktivitas yang dilakukan masyarakat dalam mengembangkan desa wisata dapat bermanfaat bagi meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat desa itu sendiri

    PENILAIAN KINERJA OBJEK WISATA TAMAN MARGASATWA MANGKANG BERDASARKAN PERSEPSI PENGUNJUNG

    Full text link
    Kota Semarang memiliki banyak potensi pariwisata dengan kinerja cukup baik yang ditunjukan oleh peningkatan jumlah kunjungan wisatawan setiap tahunya. Taman Margasatwa Mangkang menjadi salah satu objek wisata andalan Kota Semarang yang dikembangkan dengan fungsi utama konservasi dan edukasi melalui atraksi penangkaran hewan, serta rekreasi sebagai fungsi pendukungnya. Pengembangan Taman Margasatwa Mangkang memiliki potensi yang cukup besar, karena belum terdapat kebun binatang di wilayah utara Jawa Tengah. Motivasi utama wisatawan mengunjungi kebun binatang adalah untuk rekreasi keluarga dan melihat berbagai macam hewan, sehingga lingkungan kebun binatang sangat mempengaruhi persepsi pengunjung. Persepsi dapat diukur melalui kepuasan pengunjung sebagai salah satu indikator keberhasilan dalam kinerja pariwisata. Terdapat permasalahan pada pengembangan, pengelolaan, serta implementasi pembangunan di Taman Margasatwa Mangkang yang berpengaruh terhadap kinerja Taman Margasatwa Mangkang sehingga terjadi fluktuasi jumlah pengunjung setiap tahun

    PERAN LOCAL CHAMPION DALAM PENGEMBANGAN COMMUNITY BASED TOURISM DI DESA WISATA CANDIREJO, MAGELANG

    Full text link
    Desa Wisata Candirejo merupakan salah satu desa wisata yang menerapkan konsep pariwisata berbasis masyarakat. Keterlibatan masyarakat, pemerintah, dan stakeholder menjadi sangat penting. Pihak yang secara aktif dalam pengembangan desa wisata disebut local leader/local champion sehingga muncul pertanyaan “bagaimana peran local champion dalam pengembangan desa wisata Candirejo?” Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam (depth interview) kepada narasumber. Metode snowballing dianggap sebagai metode yang sesuai, karena sampel yang digunakan adalah masyarakat/pihak yang benar-benar dinilai memiliki pengetahuan lebih terhadap objek yang diteliti. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan ada 2 yaitu:  1) pengumpulan data primer, dengan melakukan observasi dan wawancara; 2) pengumpulan data sekunder, yaitu dengan melakukan kajian literatur, telaah dokumen. Hasil penelitian yang diperoleh peran Local Champion pada pengembangan pariwisata berbasis komunitas di Desa Wisata Candrejo yaitu sebagai motivator, mobilisator, mediator, dan fasilitator. Peran Local Champion pada desa wisata yang menerapkan community of development tampak pada pengembangan sumberdaya alam dan sumber daya manusia. Kekayaan sumber daya alam dan budaya menjadi salah modal utama dalam pengembangan desa wisata. Masyarakat dituntut menciptakan usaha baru guna meningkatkan perekonomian. Dengan adanya kegaitan wisata, perekonomian masyarakat meningkat, interaksi sosial semakin erat, serta lingkungan semakin terjaga, sekaligus melestarikan budaya.  

    TINGKAT KEBERDAYAAN MASYARAKAT KELURAHAN TANDANG KECAMATAN TEMBALANG DALAM MENDUKUNG BANK SAMPAH SRIKANDHI KOTA SEMARANG

    Full text link
    Pengolahan sampah berbasis masyarakat saat ini merupakan alternatif pengelolaan sampah di bagian hulu. Pengolahan sampah oleh masyarakat tersebut dilakukan dengan menabung sampah atau disebut bank sampah. Solusi untuk mengatasi permasalahan sampah menurut salah satunya dengan menambah ketersediaan bank sampah. Menurut Semarang Dalam Angka Tahun 2015, Kota Semarang menghasilkan timbulan sampah sebanyak 1,207 m setiap harinya

    PERAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN DESA WISATA KALIGONO KABUPATEN PURWOREJO

    Full text link
    Pembangunan Desa Kaligono melalui pengembangan sektor pariwisata dengan konsep pemberdayaan masyarakat dalam desa wisata telah menunjukkan hasilnya. Dewasa ini pengembangan desa wisata tengah diunggulkan dan marak diterapkan di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Tengah, sebagai alternatif pengentasan kemiskinan di pedesaan. Konsep desa wisata ini menggunakan strategi pemberdayaan masyarakat dimana masyarakat dituntut mampu menjadi subyek pembangunan. Salah satu best practice desa wisata yang perlu dieksplorasi adalah Desa Wisata Kaligono Kabupaten Purworejo atau Dewi Kano yang telah menjadi sepuluh besar desa wisata nasional pada tahun 2014. Pengembangan desa wisata ini didukung oleh bantuan PNPM Mandiri Pariwisata dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Capaian ini menimbulkan pertanyaan peneliti “seperti apa bentuk peran masyarakat dan bagaimana sistem pengelolaan Desa Wisata Kaligono?”

    PERAN LOCAL CHAMPION DALAM PENGEMBANGAN COMMUNITY BASED TOURSM (CBT) DI DESA WISATA CANDIREJO, MAGELANG

    Full text link
    Pariwisata merupakan salah satu sektor yang memiliki pengaruh dalam peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional, hal ini ditandai dengan meningkatnya PDB Nasional, dan peningkatan jumlah tenaga kerja. Oleh karena itu pemerintah mengembangkan potensi-potensi wisata yang ada di setiap daerah. Konsep pembangunan pariwisata yang saat ini sedang digalakkan oleh pemerintah adalah pariwisata berbasis masyarakat atau dikenal dengan Community Based Tourism (CBT). Salah satu desa wisata yang menerapkan konsep tersebut adalah Desa Candirejo, Magelang dengan menawarkan berbagai daya tarik wisata alam. Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Desa Wisata Candirejo tidak terlepas dari keterlibatan pihak pihak terkait seperti masyarakat,pemerintah,dan stakeholder. Bagian dari masyarakat yang secara aktif dalam pengembangan desa wisata disebut local leader/local champion. Dalam penelitian ini akan dikaji peran local champion dalam pengembanngan pariwisata berbasis masyarakat

    PENGETAHUAN LOKAL MASYARAKAT KELURAHAN MANGKANG KULON TERHADAP BENCANA BANJIR LUAPAN SUNGAI PLUMBON KOTA SEMARANG

    Full text link
    Perhatian internasional terhadap pengetahuan lokal masyarakat makin meningkat dalam upaya mengurangi gap teori dengan apa yang terjadi dalam realita. Hal inilah yang ingin diteliti terhadap pengetahuan serta cara penanggulangan bencana yang dimiliki oleh masyarakat yang berada di Kelurahan Mangkang Kulon. Dimana realita yang dimiliki oleh masyarakat dapat menjelaskan mampu tidaknya suatu komunitas untuk menjadi masyarakat yang berdaya dalam menanggulangi bencana. Sehingga dibutuhkan adanya identifikasi pengetahuan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Kelurahan Mangkang Kulon untuk mengisi gap antara teori empiris dengan realita yang ada. Hal inilah yang mendasari tujuan dilakukannya penelitian ini. Disamping itu dalam penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi level ketangguhan Masyarakat Kelurahan Mangkang Kulon dalam menanggulangi bencana banjir
    corecore